She

Yunda pramukti
Chapter #4

MY SWEET SEVENTEEN DAN DIANTARA PILIHAN

She dan Dya tetap berteman cukup baik, komunikasi cukup baik walaupun tidak sering, hanya sesekali untuk menanyakan kabar, hingga masa kuliah tiba. Dya kuliah di Jogja, dan aku di Bandung. Karena dia kakak kelas ku, dia sudah bertolak untuk kuliah terlebih dulu. Move on, sudah. Tapi Dya tetap menjadi kenangan indah.

Aku menjalin cinta kembali dengan seseorang yang berbeda sekolah di kelas 3 ini, cukup serius. Perkenalan kami dimulai dengan pertemuan di rumah sahabat semasa SMP ku. Aku datang, dia pun ada disana. Mulailah kami curi-curi pandang, mencoba untuk dekat, saling bertukar nomor telepon genggam, mengajak jalan bersama, nonton bersama sampai akhirnya kita pacaran. Dia membawa ku ke sebuah bukit, lalu dia menyatakan rasanya. Beberapa hari setelah jadian, tiba-tiba datang laki-laki lain, teman satu sekolah yang mendekat padaku. Aku ingin dekat, tapi aku ragu karena aku sudah sayang dengan pacarku, Fero. Tapi laki-laki yang datang itu sempat membuatku diambang kebimbangan. Suatu hari, laki-laki itu melihat Fero sering menjemputku dengan motor gede nya, dan dia memutuskan untuk berteman. Fero adalah my sweet seventeen. Seperti judulnya, dia sweet. Romantis, sering sekali datang ke rumah seharian, keluarga sangat welcome. Tapi semakin lama aku dekat dengannya, aku jadi mengetahui salah satu kekurangannya yang sulit aku terima dan menjadi agak kurang nyaman dengan hal itu. Kita pacaran saat usia ku akan menginjak tujuh belas tahun.

Aku akan mengadakan private sweet seventeen party. Aku menyiapkan segala sesuatunya sendiri, salah satunya adalah ide acara, dekor, dan tempatnya. Aku merayakan pesta ulang tahunku pada malam ini di sebuah restoran yang berada di pinggir kolam. Saat ulang tahun ke 17, dia memberikan surprise, saat aku turun dari lantai atas gedung pesta itu, dia menyambutku dengan memberikan bouqet bunga cantik. Dia juga memberi ku perhiasan sebagai hadiah. Padahal saat itu, aku baru saja jadian dengan nya. Hobinya naik motor gede, suka mengajak aku melihat pemandangan indah di kotaku sepulang sekolah. Sambil sekedar minum coklat panas yang dibeli di salah satu restoran langganan sebelumnya. Kami sering menghabiskan waktu bersama, hampir setiap hari. Kalau sedang bosan main di rumahku, kami kadang pergi menonton bioskop, ke mall untuk sekedar nongkrong, ke rumah teman, bahkan sampai menonton konser bersama. Hubungan kami cukup serius. Dia bahkan yang meyakinkan mama ku agar aku bisa berkuliah di Bandung karena kebetulan dia pun akan berkuliah di Bandung juga walapun berbeda universitas. Berkuliah di Bandung bukan mauku, tapi prinsip orang tuaku adalah berkuliah di tempat yang bagus yang bisa diraih dengan PMDK atau tanpa tes dengan biaya lebih murah. Aku mendaftar ke beberapa universitas, dan universitas di Bandung yang menerimaku. Jadi, aku dan mama ku butuh diyakinkan, bahwa untuk merantau itu juga hal yang baik. Dan akhirnya kami yakin. Oya, Fero juga orang rantau, dia mulai merantau sejak SMA. Jadi mungkin dia selangkah lebih mengerti tentang dunia rantau.

Setelah beberapa waktu berlalu, yang mungkin sebenarnya aku sudah mulai bisa melupakan rasa dengan Dya, lagi-lagi, sosok Dya yang sebenarnya sangat jarang menghubungi aku, hanya sesekali untuk menanyakan kabar, datang kerumahku saat Fero dan orang tua nya akan datang kerumahku. Dya selalu menghantui ku dan pikiranku. Saat aku terdiam, dia juga diam. Saat aku bergerak, dia juga bergerak seolah ingin terus di dekatku dengan berbagai alasan. Alasan nya, dia ingin datang kerumahku, untuk bersilahturahmi dan bermain piano. Dan kami menyepakati waktu untuk bertemu. Modus memang. Tapi, aku senang Dya masih menyempatkan untuk memperhatikan keadaanku. Mungkin karena ada rasa yang masih menggantung, rasa yang belum usai. Namun betapa kagetnya aku, karena tepat disaat hari dimana aku ada janji dengan Dya tanpa sepengetahuan Fero karena itu hari libur sekolah, Fero tiba-tiba memberi kabar bahwa dia ingin berkunjung ke rumah lengkap dengan orang tuanya untuk berkenalan. Jelas seperti disambar petir di siang hari karena aku tidak bisa menolaknya karena orang tuanya jauh dari luar kota. Fero pun sempat kaget setiba nya di rumah karena ada tamu lain, tapi beruntung nya, saat itu menerima keadaanku, Fero yang akhirnya mengenal Dya lewat pertemuan yang tak terduga, dia cemburu, tapi tidak sampai melakukan hal bodoh. Aku mengajak Fero ke halaman belakang, aku dan Fero sempat mengobrol sebentar untuk menjelaskan kejadian ini dan Fero mengerti. Dy, yang terkesan santai saat melihat Fero, sungguh, aku sulit membaca hati dan pikirannya. Aku tidak tahu bagaimana perasaan nya saat melihat Fero dengan ku. Dya juga pernah, datang menjemputku kerumah, untuk mengenalkan pacar barunya. Dya bicara ke pacarnya kalau aku ini adalah saudaranya. Aku yang duduk dimobil depan, bukan pacarnya. Jujur aku bingung, apa maksud dia membawa aku, tapi aku seolah terhipnotis dengan pesona nya.

Yang meruntuhkan kisah cinta She dan Fero adalah karena salah satu kekurangannya itu. Aku mencoba bertahan, tapi kejadian demi kejadian, beberapa kali terus berulang, dan sampai dititik aku lelah dengannya. Maaf karena aku sulit untuk menerima hal itu. Ketika aku baru putus dengan Fero, kali ini aku yang memutuskan, yang biasanya selalu diputuskan, aku dikejutkan dengan Dya yang datang kembali. Kita tidak pernah bicara mengenai perasaan kita lagi sebenarnya, dan aku bingung apa arti semua ini. Mengapa Dya lakukan ini? Dya, yang berusaha menjelaskan lewat tindakan tanpa omongan nya. Dan aku, yang berusaha untuk mencerna semuanya, berusaha menerima dengan ikhlas tanpa bicara, karena tidak bisa berkata apa-apa lagi.

2008.

Dya datang menghubungiku untuk datang ke Bandung. Bahkan dia sampai pindah kuliah di Bandung. Terlihat seperti drama korea. Aku masih belum punya pacar, karena ini belum ada satu bulan aku putus dengan Fero. Dya meminta ijin kepadaku untuk bertemu dengan aku setiap hari, selama lima hari. Hampir seminggu, kami menghabiskan waktu bersama. Tidak ada bahasan apapun, tidak ada bahasan tentang hati kita, tidak ada bahasan tentang perasaan kita, hanya bercerita tentang dua tahun yang terlewati, walaupun kita sempat bertemu sekali saat Fero dan orang tuanya datang, tapi kita tidak banyak bercerita. Dya hanya ingin kita mempunyai waktu berdua, waktu yang bahagia berdua. Bahkan saat aku belum cerita, dia sudah mengetahui kejadian yang kurang mengenakkan untukku. Ternyata, dia masih memperhatikan aku, apa saja yang terjadi di sekolah.

Singkat cerita, aku dituduh mencuri telepon genggam milik teman yang kuanggap sebagai sababat aku sendiri sampai mengundang paranormal untuk membaca siapa yang mengambil. Yang pada akhirnya terungkap dia hanya bermain-main. Bermain-main yang sama sekali tidak lucu. Mengapa? Karena aku dibenci hampir satu angkatan, tidak ada yang menemani aku, guru-guru pun entah berada di dalam posisi netral atau tidak. Padahal kala itu hampir waktunya untuk ujian akhir nasional yang menentukan kelulusanku. Sungguh kelam masa itu. Dan persahabatan di masa SMA itu pun berakhir. Kata prom night yang biasanya berakhir dengan cerita indah seperti di FTV pun tidak terjadi padaku. Semua terjadi dengan kaku, hanya duduk, dengar, dan pulang. Saling tegur sapa, tapi ada rasa yang berbeda, yang hilang.

Lihat selengkapnya