Saat ini usia ku 19 tahun. Hari-hari ku di Bandung terasa begitu menyenangkan dengan kegitan perkuliahanku, kegiatan dengan teman-teman. Dulu, sebelum He datang, setiap kali aku pacaran, aku selalu teringat dengan sosok Dya, yang dulu belum terselesaikan. Mungkin itu sebabnya aku selalu gagal untuk bertahan dengan yang lain. Tapi semenjak Dya mengisyaratkan saat pertemuan terakhir di Bandung untuk menyelesaikan rasa yang terjebak dan terkunci untuk dilepas dan dibuka, dan He, yang adalah pdkt-an yang sedang aku galaukan saat ada Dya waktu itu datang, aku sudah paham. Sungguh kali ini aku mengerti. Aku harus benar-benar menempatkan Dya sebagai masa lalu yang indah. Masa laluku adalah milik mereka yang pernah bersamaku, dan He adalah masa depan yang indah. Masa depanku adalah milik He. Awalnya, antara Dya dan He mempunyai kesamaan. Karena awalnya, He pun berbeda. Itu persamaan nya, berbeda. Tapi memang jurangnya tidak sedalam Dy. Saat tahu He berbeda dan latar belakang keluarganya yang beragam dan saling menghormati, jauh sebelum He mengutarakan perasaan nya, entah kenapa aku jadi super bijak saat itu. Aku bicara dengannya, bahwa posisi aku berada di titik lelah berpacaran putus sambung. Aku lelah harus membuka hati, menutup hati, karena itu menyakitkan. Kita sama-sama tahu kalau kita berbeda, dan aku tidak memaksakan kamu, tapi, jika kita tetap berbeda, lebih baik untuk tidak melanjutkan semuanya. Karena aku sudah pengalaman sebelumnya dan itu sama sekali tidak berhasil. Tapi jika kamu memutuskan untuk meniadakan perbedaan itu, aku ingin bukan karena aku. Tapi karena penemuan dan keinginan kamu sendiri.
Ada herannya, karena ternyata, antara Fero dan He, mereka pernah kenal satu sama lain sebelumnya. Berasal dari tongkrongan yang sama saat SMA hanya tidak kenal dekat karena berbeda sekolah. Jadi, He sebenarnya awal tahu nama aku itu dari teman dia di SMA, dari salah seorang sahabat geng SMP ku yang juga menjadi sahabatnya saat SMA, namun kita saling berbeda sekolah. He tahu saat Fero pacaran denganku, Fero hendak menjemput aku di sekolahku, He tahu semuanya. Tapi, He belum kenal denganku saat itu. Satu lagi, He juga kenal bahkan teman yang sesekali main bareng dengan mantan saat SMP ku, mantan yang mengambil kembali seluruh pemberiannya. Kalian sempat main bareng saat awal-awal berkuliah di Bandung. Mantan ku itu datang dan berkumpul dengan kamu. Tapi aku pun belum mengenal kamu, karena aku masih menjalin hubungan dengan Fero. Sungguh sempit dunia ini, tapi lucunya, aku tidak dijodohkan untuk bertemu dengan kamu sewaktu SMA. Padahal, teman-temanku bisa mengenal kamu semenjak dari SMA. Kamu, adalah orang yang baik, sabar, dan penyayang. Karena ternyata, tentang paras saja tidak cukup. Dia mengerti cara memperlakukan wanita untuk merasa nyaman dan aman di dekatnya. Perkenalan kami pun lucu. Aku cuma kenal namanya, He yang semasa SMA nya menjadi ketua OSIS. Dia pun cuma kenal namaku. Kami tidak pernah bertemu sebelumnya. Kami sama-sama stalking dari jejaring sosial. Awalnya aku yang terlebih dulu mengundang pertemanan di sosial media itu, lalu dia meminta kita untuk bertukar nomor telepon genggam, mengobrol lewat telepon, dan nyambung, cocok, aku suka dengan suaranya yang membuat kangen dan akhirnya sepakat untuk bertemu. Dia mendatangi apartemen aku, disitulah pertama kali nya aku melihat dia secara langsung, begitu juga dengan He yang baru melihat aku pertama kali secara langsung. He datang setelah beberapa hari peristiwa Dya datang ke apartemen aku. Agak kikuk, aku pun tidak jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi aku mencoba untuk menjajaki. Aku diajak keluar jalan sebentar, tapi karena agak kikuk tadi, kita memutuskan pergi bertiga dengan sahabat kami. Sahabat kita sama, tapi lucunya She dan He baru saling kenal sekarang. Dia menjemputku dengan mobilnya. Ya, orang yang membuat kami sama-sama kenal cuma nama ini harus bertanggung jawab. Dia, adalah sama-sama sahabat kami. He, adalah orang yang anti romantis. Dia mengutarakan isi hatinya setelah kami beberapa kali jalan bersama dan nonton bersama, tapi aku masih butuh waktu. Padahal juga aku sempat berbohong kepadanya saat dia ajak ketemu aku, aku berkata sedang latihan menyanyi, padahal karena aku belum siap secara hati. Dia sempat meyakinkan diriku bahwa he is the one dengan dia berusaha meyakinkan aku lewat kata-katanya, dia juga rela untuk bernyanyi sambil bermain gitar via telepon. Untuk meyakinkan diriku, supaya tidak seperti mantan-mantan yang lain. Untuk yakin dengan hati dan perasaanku. Aku utarakan semua cerita lalu kepadanya tanpa ada yang aku tutupi, dia mengetahui segalanya bertahun-tahun aku yang lalu, mengetahui lebih detil dibanding tulisan ini. Aku saat itu sudah nothing to lose, jika memang dia sulit menerima masa lalu aku, ya lebih baik kita tidak usah memulai semua ini. Karena pada masa ini, aku belum bisa sayang dengan He. Tapi kamu bisa mengerti dan menerima semua masa lalu aku, dan aku mau mencoba untuk lebih dekat dengan He. Sehingga kami sepakat, seminggu tanpa kabar. Jika kami sama-sama saling membutuhkan, maka itu tanda kami mempunyai rasa yang sama. Dan aku pun yakin dengan pilihanku kali ini. Aku membuat semacam undian, untuk diberikan kepadanya, seolah-olah, jawaban yang aku ambil, adalah tergantung bagaimana dia ambil undian itu. Mungkin ini receh, tapi itu cara kami, untuk sama-sama yakin. Semakin kami khawatir, semakin terasa rasa itu. Aku mulai ada rasa suka dan sayang dengan He. She dan He pun mengikat hati di Minggu malam itu, dengan dia yang memutuskan untuk mencoba meniadakan perbedaan. Kamipun merayakan hari jadi kami ke salah satu restoran steak hits pada masanya di Bandung. Di minggu-minggu awal kita pacaran, awalnya dia mencoba mengajak aku ke katedralnya. Lalu aku pun bertanya kembali, jika memang dia tidak yakin, tidak perlu dipaksakan. Dan akhirnya semenjak saat itu, He yakin dengan keputusannya. He, adalah sosok mahasiswa aktif yang terlibat banyak dalam kegiatan MPM (majelis perwakilan mahasiswa) nya. Keluhanku cuma satu, dia sangat sibuk. Aku ingin fleksibel, tapi dia terkadang tidak bisa hadir saat dibutuhkan. Dan disaat He tidak hadir, sahabat kami berdua hadir dalam setiap kesulitanku. Saat aku butuh hiburan, dia mengajak aku jalan-jalan, ke cafe. Saat aku sulit karena kebanjiran di apartemen karena air bocor, dia tak segan menggendongku. Sahabat? Semoga karena ini memang sebatas sahabat. Dan beberapa sahabat ku di masa kuliah juga menghibur aku dengan kita jalan-jalan ke mall, nonton, nongkrong, dan sesekali nonton live music. Memang, He selalu menyempatkan mampir walaupun sudah larut dan sebentar. Dia mengajakku late dinner, dia selalu bisa meluluhkan hatiku. Dia membuktikan bahwa itu bukan masalah besar, dia mengajakku untuk melihat langsung aktifitasnya. Bahkan dia melibatkan aku dalam aktifitas pemilihan Majelis Perwakilan Mahasiswa. Dia juga orangnya nyentrik dengan caranya. Dia memang bukan orang romantis, tapi bisa jadi romantis juga. Dia suka memberikan aku compact disk lagu yang sudah di kompilasi oleh dirinya untukku, dan viola, you did it. Salah satu lagunya adalah lagu dari Artic Monkeys. Aku bahkan belum mengenal genre musik dan grup band itu. Tapi, aku benar-benar menikmati seolah dia itu selalu ada disamping aku. Banyak sekali pengalaman dan kenangan yang kita bentuk sampai saat ini. Kita menikmati waktu bersama di Bandung. Dengan mengendarai mobilnya, kami melihat indahnya Bandung pada waktu malam, menonton konser musik, berkeliling Bandung dari satu tempat ke tempat lain, makan berganti-ganti dari dipinggir jalan sampai dengan restoran, merayakan tahun baru bersama dengan kelurganya, merayakan ulang tahun keluarganya, berlibur bersama dan semua.. Aku bukan lagi terpesona, tapi aku benar-benar jatuh hati dengan kamu, yang sebelumnya tidak pernah aku lihat, aku suka kamu bukan dari pandangan pertama, tapi dari hati yang tetap bisa merasakan ketulusan cinta seseorang.
2014.
Malam ini kami berbicara cukup serius. Kami berada disebuah tempat yang cukup tenang untuk saling bicara. Sebenarnya aku yang memberanikan diri terlebih dulu untuk bertanya dan meminta kejelasan lebih lanjut dengan hubungan kami. Awalnya cukup aneh, kaku, tapi entah kenapa dorongan ini kuat untuk bertanya. Mungkin karena aku dengan dia sudah berjalan cukup jauh, mengenal satu sama lain cukup lama, dan bisa menyatukan ketidakcocokan kami menjadi kekutan. Dan awalnya pun dia memberikan jawaban yang mengambang, tidak terlalu pasti. Karena ada keinginan untuk sedikit lebih santai dengan hubungan ini, dengan lebih banyak bisa melakukan banyak hal seperti kuliah dengan waktu yang tidak terlalu dikejar waktu, bersekolah lagi, bekerja, dan menunggu mapan, lalu baru memikirkan kelanjutan hubungan kami. Namun, justru aku menanggapi dengan perbedaan pendapat, aku ingin semua tepat waktu on track, sesuai jalur. Aku ingin lulus kuliah dengan tepat, secepatnya bekerja, sambil menunggu mapan, kita bisa sambil berjalan menata bersama dari nol. Aku yang tidak bisa diberikan ketidakpastian terlalu lama, karena kami sudah cukup lama mengenal. Akhirnya kami sepakat dengan win win solution, dia dengan berani dan rela akan mengikat aku, dan aku tetap selalu mendukung keinginan nya. Dia selalu menemani hari-hari aku menulis skripsi, dari apartemen ke cafe, ke perpustakaan, sampai dengan sidang dan wisudanya, dia selalu ada untukku mendampingi aku. Di malam wisuda, kami saling mengenalkan masing-masing orang tua kami di salah satu restoran di Bandung. Aku lulus kuliah terlebih dulu, dan langsung mendapatkan pekerjaan di salah satu perusahaan swasta terkenal di Jakarta. Kami terpisah jarak, karena dia masih menyusun skripsinya. Kami bergantian untuk datang berkunjung satu bulan sekali. Kali ini dia datang berkunjung ke Jakarta. Kami menghabiskan waktu yang tidak banyak, tapi berusaha selalu berkualitas. Memang tidak senikmat pacaran semasa masih sama-sama di Bandung karena semua serba terbatas. Hanya sempat makan malam dan menonton midnight. Dan sekarang tiba saatnya aku yang harus berkunjung ke Bandung, karena dia akan sidang skripsi. Aku dan teman-teman mendukung, mengikuti sidangnya siang ini. Semua berjalan lancar. Setelah sidang selesai, kamipun melepaskan lelah dengan berjalan-jalan ke Paris Van Java. Keesokan harinya aku harus kembali ke Jakarta untuk bekerja. Dan tiba saatnya untuk hari wisudanya. Aku sedang dalam perjalanan untuk menghadiri wisudanya, dan tepat di depan pintu gerbang kampusnya, aku harus putar arah, hanya bisa menitipkan bunga ucapan kelulusan kepada keluarganya, karena keluargaku ada yang kedukaan. Dan satu hari setelahnya, dia menyusulku untuk menyampaikan bela sungkawa dan memastikan kalau aku baik-baik saja. Dan kami akhirnya semakin sering berkomunikasi antar keluarga. Dia tidak lama setelah lulus sudah mendapatkan pekerjaan di salah satu lawfirm. Tanpa ada hambatan berarti, kami meginjak lima tahun pacaran dan sepakat untuk mengikat hati dalam cincin pertunangan dan di tahun ke enam pacaran kami mengikat hati untuk sehidup semati.
Kami pun mulai mempersiapkan pernikahan kami. Kami menyiapkan segala sesuatu nya bersama-sama. Kami mengadakan rapat keluarga untuk bersepakat dan bukan hal sulit bagi kami untuk menyiapkan acara ini karena keluaga kami membebaskan kami untuk memutuskan semuanya untuk yang terbaik. Mulai dari survey tempat, list undangan, baju, venue, dekor, catering, acara, musik, mc dan lainnya kami lakukan semua jauh-jauh hari, termasuk dengan foto preweddingnya. Tiba-tiba saja keluarganya memberikan aku tiket ke Pulau Belitung untuk berjalan-jalan. Dan otomatis kami mempunyai ide untuk sekalian kami menjalankan photoshoot prewedding kami. Dengan naik pesawat kelas bisnis, kami tiba dan langsung ke hotel. Tanpa beristirahat lama-lama, kamipun langsung menuju ke daerah Gantong untuk melihat replika sekolah dan sekitarnya. Hari kedua kami menuju ke pantai, menjelajahi pantai. Hari ketiga kami ke museum dan tempat kopi, lalu hari keempat kami kembali ke Jakarta. Kamipun melakukan beberapa photoshoot indoor dan outdoor. Dan kami sangat berbahagia karena hari yang dinanti tiba, 7 Maret 2015. Berjanji untuk menyatukan hati kami selamanya.
Satu hari setelah kami menikah, kami sudah menyiapkan semuanya dan kami pergi untuk honeymoon ke Bali. Awalnya sempat terpikir untuk keluar negeri, tapi karena padatnya waktu kami bekerja, maka kami memilih Bali. Rasanya itu, campur aduk. Senang, tapi juga seperti aneh karena sudah menikah, dan kami benar-benar hanya berdua. Padahal saat masih pacaran, kami sudah terbiasa jalan berdua, tapi kali ini rasanya lebih berbeda. Hari pertama, kami full istirahat di sebuah villa. Kami menikmati waktu dengan private pool di villa kami. Hari kedua, kami mulai menjelajah Bali satu per satu. Ke pantai, ke cafe-cafe hits, salah satunya yang berada di tebing pantai. Sangat romantis. Hari ketiga, kami berpindah ke hotel yang dekat pantai, kami ke pantai yang berbeda lagi, dan ke tempat wisata lainnya. Hari keempat, hari terakhir kami berjalan-jalan, malam ini kami berjalan kaki mengitari jalanan kuta. Hari kelima, kami kembali ke Jakarta dan bersiap untuk kembali bekerja. Menjadi bahagia adalah pilihan, karena bahagia adalah milik kita masing-masing, kita bisa memilih cara untuk bahagia. Perlu dengan cara yang mudah ataupun sulit, yang penting kita harus tulus dan ikhlas untuk menerima dan menjalaninya dengan segala lika likunya, dengan segala resikonya. Itulah bahagia.