Chapter 1
Blaire baru saja keluar dari supermarket tempatnya bekerja ketika langkahnya terhenti di dekat halte bus yang hampir selalu kosong itu. Kabut biru ke abu-abuan menggantung rendah, menelan jalanan yang basah dan gelap.
Langkah Blaire pelan menyusuri trotoar terdengar seperti denting kecil yang putus asa. Jam kerja yang panjang baru saja berakhir dan gajinya yang tidak seberapa kembali mengingatkannya betapa keras ia berlari hanya untuk tetap berdiri di tempat yang sama. Angin malam menyentuh wajahnya memberinya rasa sepi yang menusuk tulang.
Toko-toko sudah tutup, lampu jalan berkedip seperti sedang mempertimbangkan untuk padam. Di tangan Blaire ada amplop tipis berisi upah mingguannya, ringan sekali, seakan menertawakan seluruh waktu yang ia habiskan hari ini. Ia memasukkannya ke dalam tas, tidak sanggup melihatnya lebih lama.
Dan di sanalah ia melihatnya. Seorang anak kecil berdiri sendirian di depan halte bus yang kosong.
Usianya sekitar sembilan tahun, rambutnya diikat dua, pakaiannya sederhana, dan tubuhnya terlihat memeluk dirinya sendiri untuk melawan dingin. Ia menoleh ke sekeliling.
Tidak ada siapa pun. Tidak ada orang dewasa yang tampak mencari. Hanya mereka berdua di jalan kosong itu. Blaire membetulkan topi kupluk yang hampir menutup setengah wajahnya, lalu melangkah mendekat.
“Hey…kau sendirian?” suaranya lirih dan menunjukkan nada khawatir.
Gadis kecil itu menoleh. Matanya bulat dan jernih, namun ada sesuatu di sana. Sesuatu yang terlalu familiar baginya.
“Apa kau sedang menunggu seseorang?” tanya Blaire lagi, setengah terdorong oleh naluri.
Gadis kecil itu hanya menatapnya dengan tatapan malas. Blaire mengerutkan kening. Sepertinya gadis kecil itu justru terganggu dengan kehadirannya.
Pandangannya kemudian jatuh pada hoodie oversize berwarna abu-abu yang dikenakan gadis itu. Di dada sebelah kiri, terdapat sablon gambar bebek berwarna hijau. Hoodie itu terlihat tidak asing untuknya.
Warna bebek yang unik.
Napas Blaire terhenti.
Ia ingat betul riwayat mengapa bebek itu berwarna hijau dan bukan kuning. Saat itu ia sedang memiliki hobi baru untuk menyablon bajunya. Dan bebek itu menjadi percobaan pertamanya. Mencuri hoodie milik kakak pertamanya, Stella, Blaire nekat mencetak gambar bebek itu di mesin cetak butut miliknya. Hasilnya, bukan berwarna kuning bebek itu justru berwarna hijau tua. Blaire masih ingat bagaimana Stella membuatnya dikurung di kamar mandi oleh ayah saat itu.
“Dari mana kau mendapatkan hoodie itu?” tanyanya.
Untuk pertama kalinya gadis itu menjawab pertanyaan dari Blaire, “Ini milikku.” Gadis itu menjawab dengan raut wajah kesal yang sama sekali tidak ia sembunyikan.
Blaire melebarkan matanya kaget. Ekspresi kesal gadis kecil itu mengingatkannya akan seseorang yang ia kenal. Jantung Blaire berdegup kencang. Ini tidak mungkin. Tapi semua kemiripan ini bukan kebetulan semata.
“B-blaire?”
Gadis itu menatapnya heran lalu mengangguk kecil. “Ya?”
“Namamu Blaire?” tanyanya lagi tak percaya. Suaranya meninggi dan sedikit serak. Ia sangat terkejut dengan suaranya yang terdengar asing memanggil namanya sendiri.
Gadis itu memandanginya dengan tatapan curiga. “Ya. Namaku Blaire.”
Blaire dewasa menarik napas panjang. Ia menggosok kedua matanya, perlahan namun putus asa—seolah berharap gerakan itu mampu membantunya memahami pemandangan di hadapannya: sosok dirinya sendiri, versi yang lebih kecil, berdiri menatapnya tanpa berkedip.
“Kau siapa dan dari mana kau tahu namaku?”
“Aku-“ suara Blaire gemetar dengan sangat memalukan. “Ehem-aku adalah kau versi dewasa.”
Gadis itu memiringkan kepala, dari jarak sedekat ini, kemiripan mereka tak bisa disangkal. Alis yang terangkat miring saat bingung. Mata yang masih berukuran begitu besar meskipun ia berusaha menyimpitkannya. Bahkan rahang yang mengeras dengan cara yang sama, seperti sedang mengunyah imaginary dendeng.
“Wow.” Gadis kecil itu memperhatikan Blaire dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Aku di masa depan terlihat buruk. Apa kita sedang sakit parah?” tanyanya dengan nada prihatin dan sama sekali tidak menunjukkan rasa kaget atau takut.
Blaire dewasa terlalu terperangah untuk segera menjawab. Ia tertegun oleh betapa mudahnya Blaire kecil menerima keberadaan dirinya yang lebih tua, yang kini berdiri tepat di hadapannya. Ia memang tahu, sejak kecil dirinya selalu matang sebelum waktunya—lebih tenang dan lebih cepat memahami banyak hal dibanding anak seusianya. Namun apa yang terjadi malam ini jelas bukan sesuatu yang wajar. Ini terasa mustahil dan tidak bisa diterima akal sehat.
“Hello? Apa aku di masa depan punya penyakit serius? Kenapa kau terlihat seperti orang kurang tidur?” tanyanya lagi.
Tidak ada nada panik sedikit pun. Blaire kecil terlihat tenang dan justru fokus ke perubahan fisik yang ia alami ketika sudah tumbuh dewasa.
Blaire menghela napas kecil. “Tidak,” katanya pelan. “Kita tidak sakit.”
Gadis itu mengerutkan kening, jelas tidak percaya. “Kalau begitu kenapa kau terlihat seperti itu?”
Seperti apa? Blaire hampir bertanya. Seperti seseorang yang terkikis habis oleh tahun-tahun yang tak pernah berniat lembut dan menghajarnya tanpa ampun? Atau seperti seseorang yang belajar bertahan hidup tanpa perlengkapan dan persiapan? Ia menelan ludah.
“Aku hanya sibuk bekerja dan jarang memiliki hari libur,” jawab Blaire akhirnya.
Blaire kecil menatap wajahnya dengan keseriusan yang mengusik, seolah sedang menghafal setiap garis dan bayangan di wajahnya. “Sepertinya masa depanku sama sekali tidak cerah,” katanya datar.
Blaire mendengus pelan. “Memang.”
Mereka berdiri di sana sejenak, malam menyelimuti seperti napas yang ditahan. Lampu jalan di atas mereka berkedip, berdengung pelan, memantulkan bayangan mereka ke aspal, dua siluet, satu tinggi dan membungkuk sedangkan yang satu lagi kecil namun berdiri tegak dengan keras kepala.
“Kau tidak kaget atau takut bertemu dengan dirimu sendiri di masa depan?”
Blaire kecil berpikir sejenak, lalu mengangkat bahu ringan.
“Kenapa harus?”
“Kenapa?” Blaire dewasa mengulanginya, nyaris tertawa tak percaya. “Kau bertanya kenapa?” Ia menekan pelipisnya. “Tunggu, sepertinya aku perlu duduk. Ini terasa seperti mimpi yang terlalu nyata.”
Dengan langkah sedikit sempoyongan, Blaire dewasa berjalan cepat menuju kursi di halte bus yang kosong. Blaire kecil mengikutinya, lalu duduk tepat di sebelahnya. Wajahnya tetap tenang, sama sekali tak terusik oleh keanehan yang baru saja terjadi.
“Kau mau pingsan?” tanyanya datar, nyaris mencemooh.
“Tidak,” jawab Blaire dewasa sambil menghembuskan napas panjang. “Aku hanya perlu duduk sebentar. Kejadian ini terlalu berat untuk dicerna.”
Blaire kecil meliriknya sekilas tapi itu cukup membuat Blaire dewasa merasakan pandangan tajam itu lantas ganti bertanya. “Kenapa kau memandangiku seperti itu?”
“Kau terlihat sangat ringkih. Kau belum makan atau kondisi fisikmu memang…lemah?” tanyanya dengan nada yang masih terdengar seperti ejekan.
“Jangan bicara sembarangan.” Blaire menghembuskan napas kesal. “Aku baru pulang kerja dari shift panjang yang menguras tenaga. Bertemu dirimu versi kecil di tengah jalan seperti ini jelas membuatku kaget. Aku rasa reaksiku sangat wajar.”
Blaire kecil mengangguk pelan, seolah memahami penjelasan itu. “Oh,” katanya singkat.
Mereka berdua kembali terdiam. Meskipun tidak berlangsung lama karena Blaire kecil kembali menembakkan pertanyaan yang sepertinya sangat mengganggu otak kecilnya. “Berapa usiamu?” tanya Blaire kecil dengan nada curiga.
“Dua puluh delapan tahun.”
“Kita masih sangat muda tapi sudah sejompo ini?”
Blaire dewasa menutup wajahnya dengan satu tangan. Tidak cukup rasanya ia bekerja seharian, sekarang ia juga harus menghadapi dirinya sendiri versi kecil. Versi dirinya yang masih penasaran dengan banyak hal dan bukan versi dirinya yang sekarang yang sudah pasrah dengan suratan takdir.
Sebenarnya ia ingin sekali meraih botol minum di dalam tasnya. Tenggorokannya begitu kering dan dia butuh energi tambahan untuk menghadapi dirinya dari masa lalu. Tapi ia urungkan niatnya itu, ia tidak mau Blaire kecil mengejeknya lagi dengan istilah jompo.
“Tolong jangan terlalu jujur. Itu menyakitkan.”
“Maaf. Tapi aku di masa depan terlihat tidak bahagia.”
Mendengar itu, Blaire merasa bersalah. Mungkin seharusnya ia pura-pura sedikti bahagia sehingga Blaire kecil tidak merasa buruk akan masa depannya.
“Hei, ini tidak seburuk itu,” Blaire mendesah. “Nanti juga ada titik di mana kau akhirnya akan ikhlas menerima semuanya dan maju ke depan seperti tidak terjadi apa-apa.”
“Apa kita menyerah di tengah jalan?” komentar Blaire kecil cepat.
“Justru karena kita terlalu keras berusaha, makanya aku terlihat seperti ini.”
Mereka kembali terdiam. Blaire kecil mengayun-ayunkan kakinya yang belum menyentuh tanah, sementara Blaire dewasa menatap jalan kosong di depan mereka.
“Bagaimana kau bisa sampai di sini?” tanya Blaire dewasa.
“Kau lihat ini?” Blaire kecil menunjuk poninya.
Blaire dewasa mengamati dalam diam. Ia ingat betul poni miliknya adalah salah satu hal yang ia sukai. Rambutnya tidak terlalu tebal, tapi poninya selalu indah tertata di dahinya. Namun malam ini, poni itu terlihat basah dan lepek seperti belum keramas berhari-hari.
“Aku tadi tidak sengaja menaikkan suaraku ketika berbicara dengan ibu di tengah makan malam. Ayah marah lalu menyiram kepalaku.”
“…dengan milk tea.” Blaire dewasa melanjutkan. Ia masih teringat jelas dengan insiden milk tea ini. Begitu menyakitkan dan membuatnya trauma.
Blaire kecil mengangguk. “Aku begitu marah. Tapi aku bersumpah aku tidak sengaja. Ayah tidak mau dengar lalu aku berlari keluar rumah menuju ke halte bus. Kemudian seorang perempuan tua menghampiriku dan memberikanku dua tiket.” Blaire kecil mengeluarkan satu tiket bus berwarna hitam dari saku hoodienya. “Satu tiket sudah kugunkan untuk ke sini. Dan yang ini aku yakin untuk tiket pulang.”
Blaire menatap tiket hitam di telapak tangan kecil gadis itu. Tiket itu terlihat tua, jenis yang sudah tidak lagi digunakan, dengan tepi sedikit usang.
“Kau tidak seharusnya mengikuti orang asing,” kata Blaire refleks.
“Pikiranku sedang kalut dan tidak tahu harus pergi ke mana,” balas gadis itu tanpa ragu.
Blaire dewasa terdiam lalu ia tertawa pelan. “Tapi ada baiknya juga kau nekat seperti tadi. Akhirnya kita bisa bertemu.”
Blaire kecil mengamati Blaire dewasa yang terlihat dan terdengar sangat dewasa di usianya yang belum tiga puluh tahun. Ia tidak tahu mengapa dirinya versi dewasa bisa sebijaksana ini.
“Boleh kulihat tiketmu lagi?”
Blaire kecil menyerahkan tiket di tangannya.
“Tiket ini untuk kepulanganmu besok malam. Jam 8 malam di halte bus yang sama. Kau harus menginap di tempatku malam ini,” kata Blaire sambil memegang tiket hitam itu di antara jemarinya.
Anak itu mendongak, matanya menyipit tipis. “Rumahmu?”
“Iya.”
“Ayo. Kau bisa segera menghangatkan diri di sana.”
Mereka meninggalkan halte bus bersama. Blaire dewasa berjalan lebih pelan dari biasanya, tanpa sadar menyesuaikan langkah dengan tubuh kecil di sampingnya. Kota terasa berbeda saat dilihat bersama dirinya yang lebih muda. Dirinya yang tidak terlalu kejam, lebih rapuh, seperti dirinya yang berpura-pura baik-baik saja.