Pagi merambat pelan di balik tirai tipis jendela kamar Sheen. Cahaya pertama belum sepenuhnya hadir, tapi udara sudah membawa harum embun dan bayangan hari baru
Di atas sajadah yang masih hangat oleh doa, Sheen duduk diam. Mukena putih masih menyelimuti tubuh rampingnya, seperti tirai tipis antara malam dan pagi—antara masa lalu dan sesuatu yang akan berubah.
Hari pertama kelas 3. Tahun terakhir, sebelum semuanya terasa asing. Sebelum waktu dan jarak menyusun ulang hidupnya secara perlahan.
"Bismillah…" bisiknya lirih.
Ia bangkit. Gerakannya pelan, seolah ingin merekam setiap detik pagi ini dalam ingatan yang takkan pudar. Tangannya melipat mukena hati-hati, lalu meletakkannya di atas lemari kayu. Saat ia melangkah menuju jendela, aroma nasi goreng putih khas Oma mulai merambat ke seluruh rumah—bersama suara sendok dan piring beradu, diselingi lantunan Al-Ma'tsurat dari radio tua di dapur.
Sheen membuka jendela. Udara Ranumbang menyentuh kulitnya yang kuning langsat dengan sejuk lembut. Aroma tanah basah, kayu tua, dan embun daun menyapa, seperti salam dari dunia luar. Langit mulai terang—biru muda bercampur jingga pucat, perlahan mengusir sisa-sisa gelap semalam.
Pintu kamarnya terbuka pelan.
"Sheen, cucu Oma… sarapan dulu, ya. Nasi gorengnya masih hangat," suara Oma Ruindah terdengar lembut.
"Iya, Oma… Sheen siap-siap dulu," jawab Sheen sambil tersenyum.
Ia duduk di tepi ranjang, mengambil HP-nya. Dua pesan belum dibaca.
Dari Mama:
Selamat masuk kelas 3, sayang. Menurutmu mama, senyummu hari ini jauh lebih penting daripada nilai pelajaran pertamamu. I love you.
Sheen tersenyum kecil. Pesan Mama selalu terasa seperti pelukan dari jauh. Ia membalas pelan:
Aamiin Mama… Sheen akan coba. Tapi seragam Sheen makin sempit, Ma. Sama rambut Sheen seperti kawat jemuran, hahha. Bdw, I Love you too.
Lalu dari Kakak Key:
Kata Mama kamu hari ini udah kelas 3 ya? Wah, Putri Pinky Griya Baytara yang manja udah siap dewasa ternyata. Sudah siap pakai sepatu hak dua senti? Atau masih pakai kaus kaki Hello Kitty?
Sheen mengetik cepat:
Kaaaak… Sheen mau blokir nomor Kakak. Sumpah deh, nyebelin banget.
Balasannya langsung muncul:
Boleh. Tapi ingat dulu satu hal... meskipun udah kelas 3, dimata kakak kamu tetap si gadis kecil dengan kaus kaki kartun dan mimpi-mimpi pink.
Sheen memukul bantal kecilnya pelan. "Moon-Key…" gumamnya, sebal tapi geli. Tapi senyumnya malah melebar. Dunia memang terasa sedikit lebih ringan ketika seseorang tahu bagaimana cara bercanda pada waktunya.
Ia berdiri di depan cermin. Rambut blonde kecoklatannya tergerai seenaknya, matanya masih setengah mengantuk. Ia hanya menatap wajahnya sendiri sebentar — tidak lama, tidak dengan cara yang berusaha menemukan sesuatu. Hanya memeriksa apakah ia sudah cukup siap untuk menghadap hari pertama.
Ternyata cukup.
"Ayo Sheen… Afsheena Shanum Alghani…" bisiknya pada diri sendiri. "Bismillah…"
***
Sekolah SMA Ranumbang berdiri di atas bukit kecil, bangunan tuanya menjulang gagah dengan sentuhan modern. Pagi masih segar. Embun menempel di daun flamboyan, udara sejuk menyapu halaman luas, dan langkah sandal serta sepatu beradu seperti irama awal tahun terakhir.
Gedung perempuan dan laki-laki terpisah, berdiri berhadapan dengan halaman tengah. Kelas Kartini 3 IPA 1 berada di sayap kanan lantai dua. Sheen menapaki tangga perlahan, seragam putih abu-abunya rapi, jilbab putih bersih menjuntai lembut. Di tangannya, totebag Serven Coffee Club dengan tag kecil: To Sheen, from Kyu dan Redho. Hati Sheen selalu terasa lebih hangat setiap kali melihat tulisan itu.
Papan pengumuman di depan kelas dipenuhi siswa. Daftar tempat duduk tertempel rapi — tulisan tangan Bu Indah, guratannya tegas namun lembut.
"Sebangku lagi, Sheen. Alhamdulillah." Suara Nyimas terdengar pelan di sampingnya.
Sheen menoleh, tersenyum. "Hai, Nyimas. Gimana Averaya?"
"Bising," jawab Nyimas singkat, tapi matanya berbinar. "Tapi toko buku pada diskon banyak."
"Kamu pasti pulang bawa satu koper buku," goda Sheen.
Nyimas tersipu, pipinya bersemu merah. Gadis berkacamata bundar itu memang jarang membantah kalau sudah soal buku.
Mereka masuk ke kelas. Meja-meja tersusun rapi, lantai berkilat, aroma kapur tulis bercampur pewangi ruangan. Jam tua di dinding berdetak lambat, seakan enggan ikut terburu-buru.
"Nomor dua dari depan, paling kiri dekat jendela. Posisi favoritmu kan, Sheen? Silakan duluan," kata Nyimas.
Sheen duduk, merapikan alat tulis satu per satu. Gerakannya tenang, seperti ritual kecil yang membuatnya siap.
Beberapa menit kemudian, pintu berderit.
"Assalamualaikum…" suara lembut itu membuat kepala-kepala menoleh.
Rerose melangkah masuk, kerudung putih membingkai wajah tenangnya. Hira menyusul, seragamnya rapi tapi sedikit longgar, rambut sebahunya diikat seadanya.
"Waalaikumsalam," jawab Sheen dan Nyimas.
Mereka kembali duduk di formasi lama: Sheen dan Nyimas di depan, Rerose dan Hira tepat di belakang.
"Aku kira kalian liburan ke luar kota," sapa Sheen sambil menoleh.
"Enggak. Kita se-Ranumbang sejati," jawab Hira cepat, matanya jenaka. "Kamu malah yang nggak kelihatan. Ke Eldeland, ya?"
Sheen mengangguk. "Mama lagi nyusun cerita baru, katanya mau pakai latar sana."
"Anak Griya Baytara mana bisa libur beneran," cibir Hira, separuh menggoda.
"Wah… keren banget," timpal Nyimas. "Itu negara impianku."
Sheen hanya tersenyum. Eldeland memang indah: negeri di mana alam dijaga, teknologi tumbuh, dan manusia hidup berdampingan dengan seimbang. Ia menatap ke luar jendela. Sekilas, Ranumbang terasa jauh lebih kecil dari dunia yang sudah pernah ia jelajahi.
"Jadi, Nona Muda Sheen yang terhormat," Rerose menatapnya setengah bercanda, "negara mana yang belum kamu kunjungi?"
"Sebentar... biar aku pikirkan." Sheen mengangkat alis, pura-pura berpikir. "Mungkin… tidak ada."
Mereka tertawa kecil. Tidak keras, tapi cukup untuk membuat dua murid di dekat pintu berbisik.
"Itu Kak Rerose ya?"
"Iya. Sama Kak Sheen dan Kak Hira. Trio legendaris SMA Ranumbang."
Sheen menunduk sejenak. Tahun terakhir… sorotan itu akan selalu ada.
"Semuanya…" suara Rerose mengalun lembut, "ini tahun terakhir kita SMA, semoga kita semua sukses. Dapet jurusan yang terbaik."
"Aamiin," sahut Nyimas.
"Dan mungkin juga bisa dapat pacar terbaik," seloroh Hira cepat.
Sheen menoleh, wajahnya memerah malu melihat tingkah sahabatnya. "Hira…"
Tawa kecil pecah. Kehangatan sederhana yang mengisi pagi pertama kelas tiga.
***
Bel pelajaran berdentang. Jam-jam bergulir. Hingga akhirnya, suara kursi bergerak dan tas diseret menandai berakhirnya sesi.
Istirahat. Angin pelan menggoyang flamboyan di halaman belakang. Kelopaknya jatuh ke bangku panjang di bawah bayang teduh. Sheen duduk di sana bersama Rerose, Hira, dan Nyimas.
"Jadi gimana liburannya?" tanya Hira sambil menggigit roti isi.
Sheen mengangkat bahu, tersenyum kecil. "Biasa aja. Sibuk cari lokasi buat novel mama. Tapi Mama sempat nanya soal kuliah."
Tak ada yang menertawakan. Tidak ada yang menyepelekan. Mereka diam, lalu menunggu.
"Abis itu Sheen malah jadi bingung sendiri," lanjut Sheen pelan, matanya ke tanah. "Aku suka baca, suka nulis, suka bahasa. Tapi nggak tahu apakah itu bisa jadi… sesuatu."
"Kalau belum tahu," ujar Rerose pelan, "itu berarti kamu masih proses berjalan. Bukan sedang berhenti, Sheen."
"Kamu mungkin bukan tipe yang berlari," lanjutnya, "tapi kamu hadir. Dan kadang… hadir lebih penting daripada tiba lebih dulu."
Hira menyandarkan kepala di bahu Sheen. "Aku ada ide. Aku psikolognya, kamu penyairnya. Gabung aja sama aku."
Sheen tertawa kecil, tapi matanya masih menerawang.