Sheen, Bunga Matahari yang Merunduk

Iqne zakiah
Chapter #2

Perta yang Tumbuh dari dalam Dada

Halaman sekolah berangsur ramai. Beberapa siswa berlarian dijemput, sebagian berjalan kaki menuruni jalan bukit. Matahari Ranumbang mulai miring, memantulkan cahaya keemasan ke dinding tua sekolah.

Sheen melangkah bersama Rerose, Hira, dan Nyimas. Percakapan ringan masih menggantung di antara mereka.

“Anak-anak, novel yang baik tidak terburu-buru menyampaikan konflik. Seperti hidup... tidak semua yang penting terjadi di awal,” ucap Hira, menirukan Bu Desi.

“Kalau hidupku novel,” gumam Hira, “aku minta editor ganti alur tengahnya.”

Sheen tertawa kecil. “Kamu belum sampai epilog, sabar dulu.”

“Epilogku pasti plot twist,” sahut Nyimas, matanya berbinar. “Tapi lebih bagus kalau ada soundtrack.”

Rerose, yang sejak tadi diam, akhirnya bicara. “Kadang bab yang paling sunyi… justru yang paling menyakitkan.”

Tiga pasang mata menoleh padanya.

“Komentar yang terlalu nyelekit untuk kalimat pertama setelah sepuluh menit diam,” celetuk Hira.

Rerose hanya menutup tangannya di dada. “Novel yang bagus tahu kapan harus diam.”

Langkah Sheen melambat lebih dulu dari yang lain. Di depan Gerbang, Akbar sudah menunggu.

“Paman bungsu?” bisiknya.

Akbar menunduk tipis. “Nona muda Alghani.”

“Kenapa semua orang kelihatan seperti lagi nunggu sesuatu yang serius?” tanya Sheen, nadanya menegang.

“Kami menunggumu,” jawab Akbar tenang.

Bu Indah melangkah setengah ke depan. “Sheen, Pamanmu sudah mengurus semua izin. Kamu akan ke Averaya hari ini.”

“Sekarang?”

“Iya.” Suara Akbar tetap stabil. “Mama dan Papa menunggu.”

“Mama dan Papa?” Sheen memejamkan mata sejenak. Hatinya bergetar, tidak tenang.

Tatapan Akbar menekannya lebih jauh. Terlalu tenang untuk disebut biasa. Terlalu diam untuk dibilang kebetulan.

“Ini bukan hal buruk, kan?” suaranya nyaris berbisik.

“Tidak buruk,” jawab Akbar lembut. “Tapi sangat penting. Kau dipanggil karena dianggap siap.”

Sheen menunduk. Ada desiran aneh dalam dadanya. Bukan takut—lebih seperti seseorang yang dipanggil naik ke panggung yang sudah lama disiapkan. Tapi tanpa naskah di tangannya.

Ia menoleh sekilas ke Rerose, Hira, dan Nyimas. Tak ada kata, hanya pandangan yang terasa seperti doa.

Dalam hati Sheen berkata: Kadang, novel dimulai di halaman yang tidak kita pilih.

Tanpa banyak kata, ia mengikuti Akbar masuk ke mobil hitam itu.

***

Bandara Harun Sohar malam itu sepi. Tidak ada protokol yang mencolok—hanya langkah cepat, check-in singkat, dan penerbangan yang terasa seperti jeda napas. Ketika roda pesawat menyentuh landasan Averaya, Sheen baru sadar: ia benar-benar sudah jauh dari Ranumbang. Di pintu keluar, sebuah Bentley menunggu—sunyi, rapi, seperti kota ini.

Bentley Continental Flying Spur melaju tenang di antara jalan-jalan Averaya yang mulai meredup oleh malam. Lampu kota berpendar lembut di balik kaca, menciptakan bayangan samar di wajah Sheen yang bersandar tenang, meski pikirannya belum benar-benar diam.

Di sampingnya, Akbar memegang kemudi dengan santai. Kemeja putihnya tergulung sedikit di lengan, dan jam logam di pergelangan kirinya sesekali berkilau tertangkap lampu jalan. Tidak ada formalitas malam ini—setidaknya bukan di antara mereka.

“Kamu masih suka lihat keluar jendela, ya?” Akbar membuka percakapan dengan nada ringan. “Dulu waktu kecil, Yuk Nara suka cerita, kamu bisa diam berjam-jam cuma buat lihat awan.”

Sheen tersenyum kecil, matanya tetap menatap ke luar. “Awan nggak pernah berhenti berubah, Paman. Jadi rasanya kayak... ada yang selalu bergerak, walau aku sendiri diam.”

Akbar tertawa pelan. “Dasar kamu Filsuf kecil, dari dulu memang begitu, penuh kata."

Mobil terus melaju, tenang dan tanpa terburu-buru. Tidak ada protokol khusus di bandara tadi, hanya perjalanan biasa—setidaknya begitu tampaknya. Tapi di dada Sheen, sesuatu berdesir.

“Setelah ini,” ujar Akbar, pelan, “Divisi Internal bakal dapat momen

favoritnya lagi.”

Sheen menoleh, alisnya terangkat. “Maksud Paman?”

Akbar menatap jalan, matanya teduh. “Ujian kamu. Yang terakhir.”

Sheen menghela napas. “Klasik, ya... penculikan model lama.”

“Model lama yang masih mujarab,” Akbar menyahut sambil tersenyum tipis. “Empat tahun lalu kamu juga kayak gini. Dijemput tiba-tiba, dibilang mau makan siang bareng Mama kamu. Eh, malah disuruh ngomong soal relativitas.”

Sheen terkekeh. “Konsep ruang tertutup dan detak jam. Aku masih ingat. Tapi... Mama nangis, katanya?”

Akbar mengangguk. “Mama mu diam-diam denger jawaban kamu. Waktu kamu bilang ‘ruang itu bukan soal batas, tapi soal bagaimana kita mengisinya.’ Dia bilang, ‘anak ini mulai tumbuh.’”

Keheningan menyusup lembut, tak canggung.

Sheen menatap tangannya yang terlipat. Suaranya lirih, jujur, seperti sedang bicara ke dalam: “Kak Key udah kerja penuh waktu. Abang Kyu kuliah di bidang energi, bantu masa depan perusahaan. Aku... cuma ingin belajar bahasa, sastra. Tapi itu... rasanya terlalu kecil dibanding semua yang keluarga ini lakukan.”

Akbar tak langsung menjawab. Ia membiarkan mobil melaju beberapa detik dalam diam, sebelum akhirnya berkata, “Kamu tahu kenapa Mama kamu nulis, Sheen?”

Sheen menggeleng pelan. Mata menoleh, penasaran.

“Karena dia butuh ruang. Ruang buat bernapas. Buat menjadi Inara, bukan cuma istri atau ibu. Dan melalui napasnya, dia ingin memberikan

kehangatan pada para pembacanya, bukan hanya perusahaan tapi semua orang.”

Sheen menoleh, menatap wajah Akbar yang kali ini terasa lebih seperti paman, bukan lagi kepala divisi internal keluarga.

“Mungkin kamu nggak akan bantu perusahaan,” lanjut Akbar lembut, “tapi kamu sedang bantu diri kamu sendiri. Dan itu, Sheen... itu jauh lebih penting sekarang.”

Sheen menarik napas panjang. “Apa nggak terlalu mewah, Paman? Kalau aku milih yang kayak gitu?”

Akbar menoleh sebentar, mata penuh makna. “Yang terlalu mewah itu... hidup jadi Alghani, tapi nggak pernah jadi Afsheena.”

Mobil terus berjalan, menembus malam yang tak sepenuhnya gelap. Di dalam mobil itu, Sheen merasa... ia tak sedang pulang. Tapi sedang menjemput dirinya sendiri, yang lama tersimpan di sudut terdalam keluarga ini.

***

Bentley Continental Flying Spur berhenti perlahan di depan gerbang besar Griya Baytara. Gerbang itu membuka otomatis dengan suara halus, menyambut Akbar dan Sheen ke dalam jalur kendaraan panjang yang sepi. Gerbang kecil di sisi kiri tetap tertutup rapat, menjaga privasi seperti biasa.

Lampu-lampu taman menyala satu per satu, mengikuti langkah mereka hingga ke pelataran depan. Aroma malam Averaya membawa jejak vanila dan jasmine, aroma khas Mama, yang selalu mengisi rumah ini dengan kehangatan... tapi malam ini terasa berbeda—lebih pekat, lebih sunyi.

Akbar turun lebih dulu, membukakan pintu untuk Sheen. Tidak ada pembicaraan, hanya anggukan kecil. Pintu rumah menyambut mereka

dengan ayunan lembut, dan suara sistem yang tak asing langsung terdengar:

“Selamat datang kembali di rumah, Nona Muda. Semoga harimu menyenangkan.” Byghani menyapa.

Sapaan itu, biasanya, membuat Sheen tersenyum. Tapi sekarang, rasanya seperti protokol—bukan sambutan.

Mereka melewati area utama menuju sunken area ruang keluarga. Dua anak tangga menurun membawa mereka ke ruang yang hangat secara desain, namun malam ini terasa dingin oleh waktu.

Sofa besar warna abu muda menanti mereka, membentuk setengah lingkaran di atas karpet cream yang tebal. Meja kayu natural di tengah hanya dihiasi vas bunga segar dan tempat aroma terapi—vanila, tentu saja. Di dinding depan, TV besar mati, hitam, membisu.

Jendela kaca besar di sisi kiri memperlihatkan halaman belakang, di mana angin malam hanya menggerakkan bayangan pohon-pohon kecil. Pintu besar ke halaman tertutup rapat. Di kanan ruangan, tangga melengkung berdiri tenang, menghubungkan ke Langgarra Room di lantai atas.

Akbar menatap Sheen, tersenyum lembut. “Mulai dari sini... kamu sendiri, Sheen,” ucapnya pelan. “Tapi aku percaya, kamu nggak datang ke sini dengan tangan kosong.”

Sheen menatap wajah paman bungsunya itu, penuh rasa yang belum terucap. “Terima kasih, Paman.”

Akbar mengangguk, kemudian melangkah keluar. Langkahnya tidak tergesa, namun tegas. Ia tidak menoleh, tidak lagi. Hingga sunyi kembali mengisi ruang.

Beberapa saat kemudian, suara langkah lain terdengar—pelan, beraturan.

Tangga melengkung itu menyambut Inara dan Rafid, yang turun perlahan dari Langgarra Room.

Inara muncul lebih dulu, mengenakan pakaian rumah berwarna putih lembut, dengan selendang tipis yang hampir selalu menyertainya. Wajahnya tenang, namun tak ada senyum.

Di belakangnya, Rafid—tegap, rapi, dan diam. Wajahnya menyimpan sesuatu yang berat, namun bukan kemarahan. Hanya... harapan yang disimpan dalam diam.

Sheen menegakkan tubuh. Tangannya gemetar sedikit, tapi ia tak menunduk. Biasanya, ada pelukan Mama. Biasanya, ada tepukan hangat Papa di bahu. Tapi malam ini...

“Selamat malam,” ucap Inara, suaranya jernih, namun datar.

“Selamat malam, Papa... Mama,” jawab Sheen pelan.

Rafid menatapnya, matanya tajam namun tidak menusuk. Ia hanya melihat, dalam-dalam, seolah mencari sesuatu di balik mata putri bungsunya itu.

Sheen berdiri di tengah sunken area, merasakan karpet cream di bawah kakinya yang tetap hangat, namun malam ini tidak mampu menenangkan debar jantungnya.

Inara berdiri beberapa langkah di depannya, Rafid di sisi kanan, diam namun hadir. Cahaya dari lampu warm white menyorot lembut wajah mereka, menciptakan bayangan tipis di dinding putih yang selama ini melindungi setiap tawa dan tangis keluarga ini.

Inara mendekat, dan kali ini, senyum kecil menghiasi wajahnya. “Selamat, Sheen... malam ini, kamu menjalani ujian tahunan terakhirmu. Ujian yang... membuka jalan, bukan lagi untuk kami lihat, tapi untuk kamu lalui.”

Sheen menelan ludah, matanya mencari kepastian. “Ujian masa depan?” bisiknya. Jujur saja, ia takut. Ujian tahunan ala Alghani tak pernah sederhana.

Lihat selengkapnya