Hari ketiga.
Aroma wangi vanilla dan jasmine mengiringi langkah Sheen saat keluar dari Kamar Timur — lebih ringan dari dua hari sebelumnya, tapi belum sepenuhnya lapang. Piama carnation pink dengan lis putih tipis membalut tubuhnya, sederhana tapi manis, selaras dengan langkah pelan dan tatapan matanya yang mulai luluh dari kelam malam sebelumnya.
Tangga marmer putih yang melengkung menuntunnya naik ke lantai utama. Cahaya hangat menyala lembut di tiap anak tangga — seolah Byghani sendiri tahu bahwa pagi ini adalah pagi yang spesial.
Dari balik lorong, terdengar suara piring dan sendok saling beradu. Dan aroma yang kini memenuhi rumah bukan hanya dari diffuser khas Griya Baytara… tapi juga dari dapur. Di sana, Inara berdiri di balik island table granit hitam, sibuk mengaduk nasi goreng seafood dalam wajan besar. Rambutnya disanggul longgar, apron putih terikat rapi, dan ada setitik minyak di ujung hidungnya.
“Selamat pagi, Sayang,” sapa Inara lembut, tanpa menoleh. Ia tahu siapa yang datang. “Kau bangun lebih cepat dari dugaanku.”
Sheen hanya tersenyum kecil. “Aroma udang dan telur yang bikin aku menyerah. Kangen banget sama nasi goreng seafood buatan Mama.”
Di meja makan, Key sedang sibuk memotong semangka. Ia menyambut adiknya dengan ekspresi berlebihan, seperti biasa. “Princess Timur muncul juga! Tolong catat dalam sejarah keluarga: Sheen berhasil keluar dari mode mengurung diri selama tiga hari penuh!”
Kyu, duduk di sisi jendela besar yang menghadap ke taman belakang, tak berkata apa-apa. Tapi ia mengangkat cangkir tehnya sebagai salam kecil. Sheen membalas dengan anggukan singkat, penuh pengertian.
Rafid masuk dari pintu belakang, masih dengan jaket olahraga tipis berlogo kecil di bagian dada. Tadi pagi ia sedang berolahraga di gym, lalu mendapat kabar dari Byghani bahwa Sheen akan ikut sarapan pagi ini.
Ia mencium istrinya sayang, lalu beralih ke Sheen. “Tuan putri Papa akhirnya keluar dari gua. Papa sudah siap memanjamu seperti tamu agung.”
“Tamu agung yang bangun kesiangan,” timpal Key.
“Hey, aku hanya... ambil waktu untuk berpikir,” elak Sheen.
“Dan sekarang, waktunya makan,” potong Inara, meletakkan piring berisi nasi goreng hangat di atas meja. “Sheen suka udang, kan? Mama sengaja masakin khusus — double porsi udang untuk kamu.”
Sheen menatap ibunya sejenak, lalu mengangguk. “Terima kasih, Ma.”
Ada sesuatu di matanya — rasa rindu yang tidak diucapkan, tapi dibalas sempurna oleh perhatian kecil dari seorang ibu yang tahu caranya mencintai tanpa banyak kata.
Sarapan dimulai dalam kehangatan yang tidak dibuat-buat. Mereka bicara tentang cuaca, proyek kerja Key di luar kota, seminar kuliah yang akan Kyu bawakan bulan depan, dan film dokumenter terbaru yang ditonton Rafid tadi malam — tentang penguin di Antartika yang tersesat karena medan magnet bumi berubah.
“Penguin itu... kayak Sheen dua hari terakhir,” gumam Key.
Sheen menyipitkan mata. “Kakak harus tahu batas bercanda dengan pewaris generasi emas.”
“Kalau kamu pewaris generasi emas, aku generasi titanium!” ledek Key.
“Aku uranium,” ujar Kyu datar.
Tawa pun pecah — termasuk dari Inara, yang akhirnya duduk dan menyendok nasi gorengnya sendiri.
Rumah terasa lebih hangat pagi itu. Bukan hanya karena cahaya yang meredup lembut saat Sheen memasuki ruang makan, tapi karena semua terasa... selaras. Kompor menjaga panasnya sendiri, piring sudah hangat sebelum disentuh, dan aroma vanilla–jasmine tetap melayang ringan. Tak ada suara dari Byghani, tapi semuanya terasa dijaga — seperti rumah ini tahu: mereka sedang belajar kembali menjadi keluarga.
Pagi itu terasa seperti pagi keluarga yang utuh. Meskipun semua tahu bahwa ada ujian besar yang akan datang… pagi itu, mereka memilih untuk menundanya sejenak. Memeluk rindu. Menikmati nasi goreng hangat. Merayakan keberadaan satu sama lain, seperti dulu — sebelum semua menjadi rumit.
Dan Sheen, untuk pertama kalinya dalam beberapa hari… merasa benar-benar pulang.
***
Sekitar pukul sembilan pagi, sinar matahari menari masuk lewat atap kaca lengkung yang membentuk kubah tinggi di greenhouse Griya Baytara. Cahaya keemasan disaring dedaunan gantung dan tanaman rambat yang tumbuh anggun dari langit-langit, menebarkan kilau tenang ke seluruh ruang.
Dari lorong utara, langkah pelan terdengar menyusuri jalan setapak batu alam yang meliuk di antara petak-petak tanaman. Aroma mint, tanah lembap, dan rosemary liar seolah menyambut kehadiran Sheen — yang baru saja selesai mandi setelah sarapan.
Di sisi timur greenhouse, Inara tengah berjongkok di area tanam. Ia mengenakan celana kulot krem dan atasan tunik lembayung, rambutnya diikat sederhana. Dengan jemari telaten, ia menanam bibit edamame ke
tanah yang sudah dilunakkan pagi tadi.
Sheen menghentikan langkahnya, memperhatikan dari kejauhan. “Edamame?” tanyanya akhirnya, pelan.
Inara menoleh dan tersenyum. “Edamame. Kamu masih suka, kan?”
“Masih,” jawab Sheen sambil mendekat, melewati barisan tomat ungu dan bunga nasturtium yang menjalar ke arah jalan setapak. Ia berjongkok di samping sang ibu, ikut memandangi tanah yang baru ditaburi harapan.
“Siapa tahu kan, jauh dari Mama sekarang kamu jadi picky eating.”
“Enggak dong, Ma,” Sheen tertawa kecil. “Edamame masih enak banget kok. Oma Mama juga sering rebus buat jadi camilan sore sambil nonton.”
“Bagus deh kalau gitu. Soalnya di usia kamu segini, biasanya selera bisa berubah. Key dulu suka makan ikan kembung. Tapi sejak masuk asrama SMA, katanya amis. Sampai sekarang kalau Mama masak, dia gak mau sentuh.”
“Itu mah Kakak aja yang banyak alasan,” canda Sheen, membuat mereka tertawa.
Selesai dengan petak tanah terakhir, Inara menaruh sekop mungil ke keranjang dan berdiri sambil menepuk lembut lututnya. “Yuk, Mama istirahat dulu,” ujarnya.
Mereka berjalan ke bangku batu granit di bawah pohon zaitun kecil di tengah greenhouse. Daun-daun halus memayungi mereka, sementara kolam air di kejauhan memantulkan gemericik lembut.
“Oh iya… Kakak, Abang, sama Papa ke sirkuit ya Ma?” tanya Sheen sambil meluruskan kaki.
Inara mengangguk. “Papamu nantangin tadi pagi. Kalau ada yang bisa pecahin rekor Papa, boleh hapus satu data memalukan dari Kamar Timur.”
Sheen mendesah iri. “Waw… seandainya Sheen bisa nyetir, Sheen juga pasti ikutan.”
Inara tertawa. “Memangnya kamu mau hapus data yang mana?”
“Video liburan di Ordora,” jawab Sheen cepat.
Inara memiringkan kepala. “Yang mana tuh?”
Sheen memonyongkan bibir. “Yang Sheen umur tiga tahun, kentut terus di mobil.”
Tawa Inara meledak. “Itu kan lucu banget! Kenangan berharga dong.”
“Enggak, Ma. Itu memalukan banget.”
Inara mengusap kepala putrinya sambil tertawa. “Tapi untung Papa dan Abang-Kakak ke sirkuit. Jadi Mama bisa ngobrol tenang sama kamu kayak gini.”
Keheningan hangat turun sejenak. Cahaya matahari menyusup dari sela daun dan menyinari sebagian wajah Inara.
“Mama… soal ujian tahunan… boleh aku tanya?” tanya Sheen, nadanya berubah lembut.
Inara menatap langit kaca di atas mereka, lalu kembali menatap mata Sheen. Ia mengangguk pelan seakan sudah mengerti apa yang ingin ditanyakan putrinya.
Sheen mengambil napas dalam lebih dulu, menyiapkan hatinya. "Untuk apa divisi internal keluarga menyiapkan ujian tahunan, Ma?"
"Em..." Inara mengambil jeda sesaat, menyusun jawaban dalam benaknya kemudian melanjutkan. "Pelajaran penting yang mama dapat sepanjang hidup mama adalah bahwa dunia tidak menunggu kamu siap untuk memilih. Karena dunia punya caranya sendiri untuk membuat kamu siap, namanya kita kenal dengan pengalaman.”
Sheen terdiam. Kalimat bahwa dunia tidak menunggu kita siap tapi justru membuat kita siap punya gema yang tidak mudah hilang dari kepalanya.
"Tapi terkadang..." Lanjut Inara. "Dunia bisa memaksa dengan cara negatif dan Mama gak mau hal itu terjadi ke kalian. Itu sebabnya Mama membangun Divisi Internal Keluarga. Sebuah Payung yang Mama siapkan terbuka bahkan saat kamu tidak merasa hujan.”
Sheen masih terdiam dengan raut wajahnya bertekuk. Otaknya sibuk menjabarkan setiap pilihan kata yang diucapkan Inara.
Inara memahami bahwa dia harus menjelaskan jawabannya dengan lebih tersurat dari sebelumnya sehingga putrinya bisa mengerti dan memahami.
“Menurut Mama, Sheen...” ucap Inara, “semua perasaan yang Mama punya sebagai ibu… harus seimbang.”
Raut wajah Sheen menyimak serius.
“Rasa sayang Mama ke Sheen gak boleh lebih besar dari rasa percaya Mama ke Sheen. Rasa percaya Mama ke Sheen gak boleh lebih besar dari rasa khawatir Mama ke Sheen. Rasa khawatir Mama gak boleh lebih besar dari rasa menghargai Mama ke Sheen. Dan rasa menghargai Mama ke Sheen gak boleh lebih besar dari rasa sayang Mama ke Sheen.”
Sheen terdiam.
“Karena Mama menghargai pendapat kamu, Mama izinkan kamu sekolah jauh, tinggal cuma sama Oma Mama di Ranumbang. Karena Mama sayang, tiap pagi Mama kirim chat semangat, tiap malam Mama tanya kabar. Karena Mama percaya, Mama kasih kamu kebebasan buat berteman dan tumbuh. Tapi karena Mama juga khawatir…”
Inara menatap Sheen lurus-lurus. “…Mama kirim orang-orang terbaik untuk menjaga kamu.”
Sheen mengerutkan dahi. “Mama… maksud Mama…”
Inara menyandarkan tubuhnya ke bangku, tenang. “Kamu sudah baca laporan Divisi Internal Keluarga di Kamar Timur, kan?”
Sheen mengangguk pelan.
“Jadi sekarang kamu tahu,” lanjut Inara, “Bu Indah dan Pak Fajar adalah tim yang Mama kirim untuk menjaga kamu di Ranumbang.”
Sheen menatap ibunya tak percaya. “Buat… mata-matain Sheen?”
Inara tidak buru-buru membantah. Ia hanya menarik napas pelan, seperti orang yang memilih jujur daripada membuat anaknya tenang dengan kebohongan.
“Iya,” katanya. “Dalam bahasa yang kasar, itu namanya memata-matai.”