Sheen, Bunga Matahari yang Merunduk

Iqne zakiah
Chapter #4

Kedewasaan di Café Luko

Hari minggu turun perlahan ke dalam rumah itu — seperti embun yang jatuh ke daun-daun di kebun belakang. Suara burung kecil terdengar dari sela ventilasi tinggi, mengiringi aroma samar melati dari dapur yang sunyi.

Sheen duduk di sofa besar berwarna krem, satu kakinya tertekuk naik ke dudukan, mengenakan sweater abu tipis dan celana rumahan. Di meja kaca depan TV, ada mug cokelat hangat yang mulai kehilangan uapnya. Ruang keluarga itu sejuk dan tenang, hanya dihiasi suara kipas plafon dan sesekali angin dari jendela terbuka.

Ruindah sedang keluar, mampir ke rumah putri ke tiganya, Bila, di blok belakang.

Ponsel Sheen bergetar. Layar menyala: “Opa Papa – Pallanchu”

“Assalamualaikum, My Little Angel.” Suara berat itu muncul dari balik getaran elektronik, bersih dan tenang. Seperti biasa — suara yang membuat Sheen menegakkan duduknya tanpa sadar.

“Waalaikumsalam, Opa Papa,” jawab Sheen, suaranya langsung melembut. “Sheen kangen banget sama Opa Papa dan Oma Papa.”

Terdengar tawa rendah di seberang. “Haruskah Opa Papa utus seseorang untuk jemput kamu ke Elcollome? Kamu tahu, kamu selalu punya tempat di sini.”

“No, Sheen harus sekolah,” ujar Sheen cepat, sedikit geli. Ia tahu Opa Papa cukup berkuasa untuk melakukannya betulan.

“Pagi ini Elcollome cerah?” tanya Sheen, mengalihkan topik.

“Sejuk. Kabut tipis, langit perak.” Lalu jeda pendek. “Kau sudah di Ranumbang?”

“Sudah dari tiga hari lalu. Oma Mama langsung suruh makan sup tahu tiap pagi,” ujar Sheen sambil tersenyum kecil.

“Heh… besanku percaya sup bisa menghapus trauma dunia, sangat tak terduga.”

Sheen tertawa pendek. “Setidaknya bisa bikin aku lupa soal hasil ujian.”

Opa Papa tak langsung menanggapi. Suaranya terdengar menjauh sebentar, lalu kembali dekat — lebih pelan.

“Sheen, tadi pagi Opa buka laci tua. Ada foto kamu umur lima tahun… masih pakai rok merah kesayanganmu. Lucu sekali. Ternyata kamu sudah besar ya sekarang.”

Sheen terdiam sebentar, bibirnya mengulas senyum. Tapi Sheen tau, kalimat yang dia dengar barusan hanyalah pengantar.

“Ngomong-ngomong,” lanjut Victor, “ada yang ingin Opa tanyakan, kalau kamu tak keberatan.”

Sheen menegakkan tubuh sedikit. “Hm?”

“Opa sudah dengar dari Papamu… Katanya Sheen mau memberikan kontribusi nyata untuk perusahaan. Apa benar?”

Pandangan Sheen meleset ke titik kosong di anyaman kayu plafon. “Benar” jawabnya nyaris berbisik. “Maksud Opa Papa tentang pernikahan dengan keluarga Diatmajaya, kan?”

“Kau tahu, Sheen,” suara Victor pelan namun tegas, “gurauan yang dibawa ke meja makan diplomasi bukan lagi sekadar gurauan. Dan almarhum kakek Bagas itu sahabat lama Opa. Aku kenal betul keluarganya. Baik, bersih, dan tahu tata krama.”

“Opa…” Suara Sheen mengambang di antara yakin dan ragu.

“Cucu Opa bukan komoditas diplomasi. Ini bukan lelang, sayang,” ujar Victor lebih lembut. “Tapi kalau kamu memang ingin berkontribusi… keluarga mereka akan sangat menghargai. Dan Bagas — anak itu sopan, cerdas, berkarakter. Akan Opa izinkan menghubungimu… kalau kamu tak keberatan.”

Sheen mengusap sudut matanya yang mulai hangat. Ia tidak menangis. Hanya saja jiwanya terasa seperti meja tua yang diusap minyak kayu.

“Boleh aku tidak jawab hari ini, Opa?” Pinta Sheen.

“Tentu. Tapi diam… kadang terdengar lebih nyaring dari ‘tidak’.”

Sheen hanya diam, menimbang. Lalu, dari latar belakang, terdengar suara lain.

“Victor, kamu bicara sama Sheen?” Suara Kartika — Oma Papa — terdengar hangat dan menggoda.

“Oma Papa.” Suara Sheen naik satu oktaf, manja dan nyaring.

“Sheen, sayang! Bagaimana kabarmu?” ucap Oma Papa.

“Happy and healthy, just like you taught me to be. Oma sendiri bagaimana?”

“I’m wonderful! Just missing my little pink bunny.” Ada nada manja dalam jawaban Oma Papa.

“Em... I miss you too, Oma.” ucap Sheen dengan nada memelas.

“Sheen…” suara Kartika melembut. “Jangan biarkan papamu atau suamiku ini menekanmu, ya. Dunia ini bukan cuma tentang pewaris dan aliansi keluarga.”

“Tenang, Oma...” Sheen tertawa kecil. “Sheen masih belum memutuskan.”

“Bagus. Soalnya kami baru ganti taplak meja di ruang makan. Jangan sampai kamu datang bawa kabar yang bikin kami ganti semua dekorasi.”

Mereka bertiga tertawa. Lalu percakapan itu mereda perlahan — seperti senja di Elcollome yang turun tanpa suara.

Setelah sambungan terputus, Sheen termenung dengan mata yang terpaku di layar ponsel yang kembali gelap. Ruang keluarga itu tetap sunyi, tapi rasanya tidak benar-benar sepi. Di luar, terdengar suara sepeda melintas. Seekor burung pipit hinggap sebentar di teralis.

Sheen memeluk bantal kecil di sofa dan bergumam pelan, “Kalau diam bisa jadi ‘ya’... Apakah ragu bisa disebut penolakan?”.

***

Udara sore menggantung di kamar itu — lembut, hangat, dan terlalu diam. Cahaya kekuningan matahari mengintip dari balik tirai carnation pink, membentuk pola-pola lembut di dinding berwarna krem. Boneka Dango duduk manis di ujung tempat tidur, matanya bundar memandangi Sheen yang sedang bersandar pada tumpukan bantal, ponsel di tangan kanan, hening di tangan kiri.

Sudah seminggu sejak percakapan dengan Opa Papa. Dan pagi tadi, kabar singkat masuk:

“Nomormu sudah Opa berikan ke Bagas.”

“Mereka sangat antusias, Sheen.”

“Opa tak ingin menolak orang yang akan menjadi partner AREH di Scrubel…”

Sheen tak langsung membuka pesan itu. Ia membiarkannya mengendap dulu di notifikasi — seperti embun di jendela pagi, menunggu jatuh atau menghilang sendiri.

Baru sore ini ia menggulir layar. Tampilan percakapan kosong — hanya satu pesan yang menanti dibaca.

Bagas D.

Halo, Sheen. This is Bagas.

My parents mentioned that we’re on a promising path.

I look forward to aligning with you — both personally and strategically.

Let’s take this journey with dominance tempered by rationale.

I’m available for a call whenever convenient. Cheers.

Sheen membacanya pelan. Sekali. Dua kali. Lalu mengerjap kecil.

“Dominance tempered by rationale?”

“Aligning personally and strategically?”

Rasanya... seperti membaca proposal merger yang dikirim ke tempat yang salah.

Ia melirik meja belajar putih di sudut ruangan — penuh catatan ujian, sticky notes, dan sebuah kalimat kecil yang ditulis dengan spidol merah “Bahasa adalah jendela jiwa.”

Detak jam terdengar lebih jelas dari biasanya, seolah menyela napas Sheen yang pendek-pendek.

Sheen menutup layar. Menunduk sebentar. Lalu meletakkan ponsel ke dalam laci meja rias, gerakannya setenang menutup pintu musim.

Bukan marah. Bukan takut. Tapi karena tahu — jika seseorang memulai sesuatu dengan kata yang salah, maka langkah selanjutnya jarang berjalan ke arah yang benar.

Di luar jendela, daun jeruk sunkis bergerak pelan diterpa angin. Aroma tanah basah dari kebun belakang menyelinap masuk, mengisi ruang. Boneka Dango masih duduk di tempat yang sama. Diam — tapi mengerti. Seperti Sheen.

***

Siang hari di SMA Unggul Ranumbang terasa lengang. Matahari menyusup dari sela jendela kelas Kartini 3 IPA 1, menciptakan bayangan panjang di lantai yang baru dipel. Udara terasa hangat, tapi tidak riuh—seolah sekolah ikut menahan napas.

Sheen duduk bersandar di kursi pojok dekat jendela. Jilbab putihnya tampak menyatu dengan sinar matahari, dan totebag cokelat lembut bertuliskan Serven Coffee Club tergantung rapi di samping kursinya. Di depannya, selembar kertas ujian Bahasa baru saja dikembalikan—nilai nyaris sempurna. Tapi wajahnya tak memantulkan kemenangan.

Rerose duduk di samping, tangan menopang dagu, pandangannya sesekali meleset ke jendela—mencari celah untuk melarikan diri, setidaknya dalam pikirannya.

Hira datang terakhir. Rambutnya dikuncir rapi, membawa dua botol minuman dari kantin. Ia meletakkan satu di meja Sheen.

“Minum. Biar gak pingsan mikirin nilai bagusmu itu,” selorohnya ringan.

Sheen tersenyum samar. “Makasih…”

“Kenapa mukamu kayak lagi diputusin pacar? Kamu kan gak punya pacar,” goda Hira cepat.

Rerose menoleh. Sorot matanya penuh perhatian.

“Ada yang mengganggu kamu, Sheen?”

Butuh beberapa detik sebelum Sheen menjawab. Ia membuka tutup botol, meneguk sedikit, lalu mengarahkan pandangannya ke papan tulis kosong di depan mereka.

“Kak Bagas,” ucapnya pelan.

Hira langsung mengangkat alis.

“Bagas yang waktu itu ngechat kamu?”

Sheen mengangguk.

“Bagas yang rencana mau dijodohin sama kamu?” Mata Hira membelalak.

Sheen kembali mengangguk.

“Tiga hari lagi, aku dijadwalkan ketemu dia.”

“Tiga hari?” ulang Rerose sambil menghitung dengan jarinya.

Lihat selengkapnya