Sheen, Bunga Matahari yang Merunduk

Iqne zakiah
Chapter #5

Bunga Matahari yang Layu

2 bulan lalu, saat suasana sore di kampus Serven Institute of Technology & Science (SITS) dipenuhi dengung sepeda listrik, obrolan mahasiswa, dan kehebohan mahasiswa yang sedang berolahraga. Di antara ratusan wajah yang berlalu-lalang, satu sosok pria melangkah keluar dari gedung Fakultas Komputer dan Informatika dengan ritme yang tenang, nyaris hening.

Redho Hafeez Haidar.

Namanya cukup dikenal di kampus—bukan karena tampil di panggung, tapi karena ia selalu hadir di tempat yang penting, dan selalu menuntaskan apa yang ia mulai.

Wajahnya oval dengan rahang kuat, hidung mancung dengan bridge halus, kulit cerah dengan rona hangat, dan sorot mata coklat gelap nampak jernih namun sulit dibaca. Ia bukan jenis pria yang banyak bicara, tapi tak sekali pun terdengar kasar atau acuh.

"Hi, Professor Cooper.” ucapnya pelan saat berpapasan dengan dosen senior di koridor.

“Oh hi, Redho. Makasih laporan kemarin, ya. Sangat rapi.”

Redho hanya tersenyum dan sedikit menunduk.

Ia mengenakan jaket varsity jurusan computer science dengan ransel abu tua di punggung, berjalan lurus ke arah sekretariat organisasi tempat ia menjadi kepala divisi teknis. Bukan jabatan yang sering terlihat di panggung, tapi justru yang memastikan seluruh sistem berjalan lancar.

“Bang Redho, ini daftar peserta yang lolos oprec batch 2,” kata seorang mahasiswa tahun kedua, menyerahkan map kertas.

“Terima kasih. Sudah dicek ulang jumlahnya?”

“Sudah, Bang.”

“Bagus. Tolong langsung unggah hari ini.” Suaranya lembut, tapi langsung dituruti.

Banyak yang segan padanya — bukan karena keras, tapi karena ia tak pernah memberi alasan untuk diragukan. Nilainya selalu konsisten. Tugasnya selesai sebelum deadline. Ucapannya ringkas, tapi tidak pernah menggantung.

Di pojok kafe kampus, dua mahasiswi berbisik terkagum-kagum memandangi siluetnya yang menjauh.

“Dia ganteng banget ya… tapi susah didekati.”

“Udah punya pacar?”

“Kayaknya enggak. Dia gak pernah kelihatan jalan bareng cewek. Katanya dia juga jarang banget jawab chat yang nggak penting.”

“Karena sibuk?”

“Karena prioritas.”

Redho tak mendengar semua itu, tapi celotehan seperti itu sering menggiringi langkahnya. Ia sudah turun ke arah halte belakang, tempat bus kampus berhenti setiap setengah jam. Ia duduk sebentar di bangku kayu, membuka tablet dan membaca email dari dosen pembimbing.

Lalu terdengar bunyi dering pendek. Pesan dari Kyu. “Pulang jam berapa? Rencana mau masak nasi goreng buat makan malem, Mau gak?”

Redho mengetik balasan singkat, “Mau, 20 menit lagi sampai. Jangan tambahin kecap.”

Angin sore menyapu rambutnya yang sedikit lembap. Di kejauhan, terdengar lonceng kelas bergema dari gedung barat.

Redho diam sesaat. Mengatur napas. Seperti biasa. Bukan karena lelah. Tapi karena ia selalu memastikan dirinya tidak membawa beban yang salah ke tempat yang benar. Dan rumah — sekecil apapun bentuknya — adalah tempat yang paling ingin ia jaga tetap tenang.

Bus kampus melaju tanpa suara berlebihan, hanya dengung halus mesin listrik yang menemani kursi-kursi kosong di dalamnya. Redho duduk di dekat jendela, tablet tersandar di paha, tapi layarnya gelap. Ia tidak membuka apa pun. Kota Serven lewat seperti slide sunyi di balik kaca. Lampu, trotoar, pohon, lalu hilang. Rutinitas selalu berjalan seperti itu—rapi, fungsional, dan tanpa gangguan.

Ia tidak merasa kesepian. Tapi juga tidak merasa ditemani.

***

Ruang tengah apartemen terisi suara lembut dari sistem audio yang memutar musik jazz instrumental. Cahaya kota Serven memantul dari dinding kaca lantai dua puluh dua. Aroma chamomile menguar dari teko teh yang baru saja Redho angkat dari pemanas.

Redho menyerahkan satu cangkir ke tangan Kyu, lalu duduk di sofa seberangnya.

“Libur kenaikan semester nanti… gue rencananya balik sebentar ke Ranumbang,” ucapnya santai, seolah hanya menyelipkan rencana kecil di sela obrolan. “Abis itu gue langsung lanjut ke Averaya.”

Kyu berpaling sebentar dari tabletnya. “Oh?”

“Alhamdulillah, Nava Tech nerima magang enam bulan,” lanjut Redho pelan. “Program dari Yayasan juga yang bantu nyambungin.”

Kyu tidak langsung menjawab. Tatapannya sempat turun ke cangkir teh di tangannya.

“Berarti… gue bakal kehilangan roommate akhir semester ini?” tanyanya.

Redho mengangguk tipis. “Iya.”

Ada jeda singkat. Tidak heboh. Justru terlalu tenang untuk sesuatu yang besar.

“Udah dapet tempat di Averaya?” tanya Kyu lagi.

“Udah diatur sama pihak yayasan,” jawab Redho sederhana.

Kyu mengangguk-angguk tanpa suara. Hening merayap pelan di antara mereka. Jazz mengalun pelan, seperti mengisi ruang yang tiba-tiba terasa lebih luas.

Kyu meletakkan tabletnya pelan. Matanya menatap ke arah balkon, ke cahaya kota yang berkedip dari lantai 22.

“Gue harus lulus cepet, bang,” ucapnya tiba-tiba, seperti mengingatkan diri sendiri. “Kana nunggu.”

Redho menoleh. “Kana gimana? Skripsinya?”

“Udah beres. Bulan depan dia mulai magang di Shirakawa Group.” Jawab Kyu tanpa berpaling dari layar.

“Wah… anak orang kaya emang punya kecepatan yang beda ya.”

Kyu tertawa kecil. “Itu memang posisinya sejak awal. Tapi Kana pengen kuliah dulu baru terjun ke kerjaan.”

Redho menyandarkan tubuh ke sandaran sofa. “Tapi kyu, jangan tersinggung ya… Kalau kalian jadi nikah, artinya Shirakawa Group bakal lo pegang?”

“Bisa dibilang gitu. Tapi gue milih Kana bukan karena dia putri Shirakawa. Gue milih dia karena... dia Kana.”

“Iya, tau. Lu cinta mati sama dia,” jawab Redho, setengah senyum.

Kyu membalas senyuman itu. “Shirakawa tetap akan jadi milik Kana. Kecuali dia mundur dan titip ke gue.”

Redho menyesap tehnya, “Lu bakal bolehin Kana kerja?”

“Pengennya sih Kana di rumah aja, kayak Mama." Kyu terdiam 1 detik. "Tapi gue gak bisa maksain. Kalau pilihan gue bikin sayap dia patah, gue gak rela.”

Kyu terdiam lagi sejenak, sorot matanya turun ke uap teh yang melayang di antara mereka.

“Papa pernah cerita... awal nikah sama Mama, dia pengen banget Mama di rumah terus. Saking sayangnya, sampai kepikiran bangun Griya Baytara semegah dan secanggih itu — biar Mama betah, biar gak ke mana-mana. Tapi waktu Mama sakit... Papa sadar. Dia lebih suka kalau Mama di luar dan tertawa, daripada di rumah tapi murung dan melemah.”

Kyu mengusap tengkuknya, mencari pegangan di tengah pikirannya yang kusut. “Dulu kupikir itu lebay. Tapi sekarang, makin deket sama Kana, gue jadi ngerti. Rasanya pengen banget melindungi. Tapi kalau perlindungan itu malah jadi kurungan… apa masih layak disebut cinta?”

Redho menatap teman serumahnya itu. Tak menjawab. Tapi mendengarkan.

“Dan sekarang Sheen mulai ngomong soal kontribusi ke perusahaan,” lanjut Kyu.

Redho mengernyit. Sekilas, hanya sekilas, nadanya berubah. “Kenapa?”

“Dia bilang ingin ikut bantu perusahaan. Tapi gue tahu... Sheen gak bisa jujur sama hatinya sendiri. Dia terlalu baik buat terjun ke dunia yang penuh intrik dan tekanan.”

Mata Kyu bergerak cepat, namun memilih diam pada cangkir di tangannya. “Papa sempat bilang... kalau Sheen beneran mau kontribusi, salah satu opsinya ya pernikahan. Entah dengan siapa, mungkin nanti didiskusiin. Tapi lo tau kan bang... Sheen tipe yang sangat peduli sama pandangan orang-orang yang dia sayangi. Kalau dia merasa pernikahan itu jalan terbaik buat bikin Papa bangga, gue takut dia bakal setuju — walau hatinya nolak.”

Percakapan itu padam, menyisakan jeda yang menggantung di udara. Hanya terdengar suara LED strip yang mengubah warna perlahan di sepanjang tepi langit-langit.

Redho menyorotkan pandangannya ke arah balkon, ke cahaya kota yang berkedip dari lantai 22. Ia tidak berkata apa-apa. Tapi pikirannya berpendar — nama Sheen muncul lagi di kepalanya — bukan sebagai sesuatu yang baru, tapi sebagai sesuatu yang tiba-tiba terasa lebih nyata dari biasanya.

Kyu melanjutkan, suaranya nyaris berbisik. “Gue gak mau Sheen tumbuh dalam kurungan impian orang lain. Dia berhak buat pilih jalannya. Tapi sayangnya, dunia kita gak semudah itu. Karena terlalu banyak tuntutan. Karena terlalu banyak yang harus dijaga. Bahkan dari orang yang paling kita sayangi.”

Redho menggenggam cangkir teh yang mulai mendingin. Ia tidak menjawab. Dalam dadanya ada sesuatu yang mengencang pelan — bukan karena ia tidak mengerti situasinya, tapi justru karena ia terlalu mengerti. Dan itu, entah kenapa, terasa lebih berat dari yang ia bayangkan.

***

Suara sorak-sorai komentator sepak bola memenuhi ruang tengah apartemen Kyu. Dari layar TV besar, pertandingan Piala Dunia sedang berlangsung sengit. Di lantai dua puluh dua Vierra 88—kawasan elit Serven—suasana terasa hangat. Pencahayaan temaram, sofa abu-abu bersih, kopi hangat tersisa di meja, dan pintu balkon yang terbuka sedikit membiarkan angin malam masuk perlahan.

Redho dan Kyu duduk santai, mata terpaku ke layar. Di meja, kentang goreng dan cola menjadi teman setia begadang.

Tit. Tit. Tit.

Suara tombol password pintu depan berbunyi.

Kyu dan Redho saling bertukar pandang. Redho refleks berdiri, hendak mengintip atau membukakan pintu—namun pintu sudah lebih dulu terbuka. Keduanya mematung sepersekian detik, naluri siaga aktif.

“Assalamualaikum, everybody!” suara itu nyaring dan terlalu ceria untuk jam segini.

Kyu langsung tersenyum. “Waalaikumsalam,” jawabnya ringan, lalu kembali fokus ke TV.

Redho berjalan ke arah pintu menyambut tamu dadakan mereka malam itu—Key.

Key masuk sambil menyeret koper kabin dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya menenteng dua kotak pizza bertingkat.

“Key,” sapa Redho.

“Bang Redho!” Key membentangkan tangan, siap memeluk.

Namun Redho hanya menyambar pizza dari tangannya dan kembali duduk di samping Kyu.

Wajah Key tertekuk. Tapi ia tidak tersinggung. Sudah terlalu sering ia diperlakukan seperti ini di apartemen kembarannya sendiri. Ia menyeret koper ke kamar Kyu, meninggalkannya begitu saja, lalu menyambar kaus milik Kyu dari lemari. Beberapa menit kemudian, ia kembali dan duduk tepat di antara mereka.

“Brother,” ujar Kyu tanpa mengalihkan pandangan dari layar, “bisa setidaknya kirim pesan dulu kalau mau datang?”

“Why?” Key menuangkan cola ke gelas. “Kalian menyembunyikan perempuan di apartemen ini?”

“Perempuan? Maksudmu makhluk kromosom XX? Ada si—” Ucap Kyu.

Redho dan Key menegang.

“Kucing betina tetangga yang sering menyelinap ke sini,” lanjut Kyu tenang.

Redho tersedak cola dan terbatuk-batuk. Untuk sepersekian detik, ia benar-benar mengira ada wanita—mungkin Kana—di sini tanpa sepengetahuannya.

Key menepuk jidatnya. “Tolong jangan bercanda begitu. Kamu itu tipe serius yang jarang ngelucu. Tanpa kode, kami bisa salah paham.”

Lihat selengkapnya