Sheen, Bunga Matahari yang Merunduk

Iqne zakiah
Chapter #6

Rumah di Punggung Matahari

Pagi di Griya Baytara dimulai seperti biasa—dengan aroma kopi hangat dari dapur, sinar matahari menembus jendela kaca besar, dan suara Byghani yang tenang, “Selamat pagi. Suhu luar ruangan 25 derajat. Menu sarapan telah tersedia.”

Inara sudah duduk di ruang makan. Rambut panjangnya diikat rendah, wajahnya lembut namun letih. Di samping piringnya, beberapa lembar laporan dari tim internal keluarga terbentang rapi.

Di meja panjang dari kayu walnut, sarapan tersaji lengkap: roti panggang, scrambled egg, salad buah, juga kolak perenggi kesukaan anak-anak. Key datang duluan, hoodie abu terang, wajahnya masih agak bengkak karena kurang tidur. Kyu menyusul dengan kemeja santai, membawa tablet dan segelas air lemon hangat.

“Ini laporan terbaru dari tim internal,” ucap Inara pelan, mengetuk lembut berkas di depannya. “Tentang kejadian kemarin.”

Key dan Kyu saling pandang, lalu duduk. Suasana hening sejenak, sampai langkah lambat terdengar dari arah tangga.

Rafid turun dengan piyama navy tipis. Mata merah, seolah malam tadi milik layar dan rekaman, bukan tidur.

“Sudah baca?” tanyanya sambil duduk di kursi kepala meja.

“Kami baru mau mulai, Pa,” jawab Kyu.

“Papa sudah selesai…” Rafid menatap kosong cangkir kopinya. “Dua kali. Plus rekaman CCTV dari tim keamanan café yang dikirim lewat Byghani.”

Inara menoleh, suaranya halus namun berisi. “Dan menurutmu?”

Rafid menarik napas panjang. “Menurut Papa…” ia terdiam, lalu bersuara pelan tapi tajam, “Bunga Matahari Papa berdiri terlalu lama di depan seseorang yang tak pantas menatapnya.”

Seketika ruang makan terasa menyempit—dingin, gelap, dan berbahaya.

Key menunduk, Kyu mengepal tangan di bawah meja. Ada sesuatu yang menegang di udara.

Inara tersenyum samar, getir. “Sheen tetap sopan, tetap jaga wibawa… bahkan di hadapan orang seperti Bagas. Aku bangga sekali.”

“Tapi tetap saja, Ma.” Rafid mengepal jemari. “Papa mau hancurkan bisnis keluarga mereka sampai tak bisa bangkit lagi.”

Key meringis, seperti menyaksikan masa depan yang suram untuk keluarga Bagas.

“Sheen melakukan persis seperti yang kita khawatirkan,” lanjut Rafid. “Dia jaga tutur kata, jaga mimik, jaga nama keluarga. Sampai satu titik, Papa gak tahu lagi bedanya: dia sedang menjaga kita… atau sedang melukai dirinya sendiri.”

Inara menatap lembar laporan di depannya. “Ini kesalahan kita juga,” ucapnya pelan. “Kita tahu Bagas bukan lelaki baik, karena itu juga kita memilihnya dalam ujian ini. Kita sengaja biarkan pintu terbuka sedikit, berharap Sheen melihat sendiri bahwa jalan itu bukan untuk dia.”

“Kita kira bisa kendalikan risikonya,” sambung Rafid lirih. “Kita lupa bahwa sebelum Sheen diuji sebagai ‘Alghani’… dia anak bungsu kita.”

Kyu mengangguk. “Bagaimanapun, kami juga salah. Kami bagian dari rencana awal, Pa,” akunya jujur. “Kami sepakat Sheen perlu lihat sisi dunia yang dia kira bisa ia tanggung."

Key bersandar, suaranya kesal. “Lihat tatapan Bagas di rekaman itu… aku pengen masuk ke layar dan banting kepalanya ke meja. Serius, Pa. Itu orang gak pantes dekat siapa pun."

“Apa kata Oma Papa?” tanya Inara lembut. “Beliau nggak bilang apa-apa?”

Wajah Rafid menegang. “Aku dan Papa kena marah habis-habisan karena membiarkan Sheen bertemu pria seperti itu.”

Inara tertawa kecil. “Seharusnya kamu bilang kalau ini bagian dari ujian tahunan untuk Sheen.”

Rafid menghembuskan napas berat. “Aku udah bilang, tapi masih kena marah.”

Key kemudian bertanya hati-hati, “Kalau begitu… bagaimana relasi bisnisnya?”

“Sedang dievaluasi,” jawab Rafid. “Sejak awal kualitas mereka menurun, harga tetap tinggi. Vendor Nihashira yang masuk bulan lalu jauh lebih stabil dan efisien.”

Key mengangguk. “Jadi memang cepat atau lambat akan diputus.”

"Benar" Jawab Rafid Singkat.

Inara menambahkan lembut, “Perjodohan itu memang pematik. Tapi… ini lebih intens dari bayanganku. Bagaimanapun hal ini terjadi karena Sheen mengizinkan. Ini risiko dari pilihannya—dan kita gagal memastikan risikonya tidak melukai dia sedalam ini.”

Rafid menatap Inara dalam-dalam. “Sedih membayangkan dia harus melalui itu sendirian, secara nyata.”

Inara mengangguk pelan. “Aku bersyukur Redho ada di sana kemarin.”

Key langsung mengacungkan tangan, antusias. “Bang Redho keren banget, Ma. Dia diem, tapi langsung berdiri, ambil tas Sheen, dan ajak pulang. Gak bikin rusuh, tapi jelas dan tegas.”

“Aku suka caranya,” ujar Inara sambil tersenyum. “Kalem, tapi bisa menempatkan diri.”

Rafid tak menjawab. Tapi tatapannya mengarah ke satu kalimat dalam laporan tertulis:

Intervensi Tuan Redho Hafeez Haidar berlangsung tepat waktu, stabil, dan tanpa menimbulkan keributan. Respons Nona Muda Alghani menunjukkan kepercayaan penuh kepadanya.

Key langsung menimpali, sedikit lebih cerah, “Benar. Dia gak teriak-teriak, tapi tegas. Kayak bilang ke dunia, ‘cukup’.”

Kyu tersenyum tipis. “Sheen sendiri bilang ke kami… waktu Bang Redho berdiri, rasanya kayak ada pegangan di ruangan yang pengap.”

Inara memejamkan mata sebentar. “Aku rindu putri kecilku. Rindu dengar ia cerewet soal tokoh-tokoh fiksi dan cinta yang ia bayangkan.”

Rafid menegakkan punggung. Keputusan sudah matang di matanya. “Itu sebabnya,” ucapnya, “semalam Papa minta disiapkan pesawat.”

Key mengangkat alis. “Pesawat?”

“Kalian berdua berangkat ke Ranumbang pagi ini,” jelas Rafid. “Pesawat dan mobil sudah siap. Bawa Sheen pulang. Sisa libur sekolah—Papa ingin dia di rumah.”

Key tersenyum lebar. “Asik. Aku juga kangen Oma Mama!”

Kyu mengangguk. “Dan aku kangen Sheen.”

Inara menatap mereka bergantian, penuh kasih. “Katakan padanya… tidak ada lagi yang perlu ia buktikan dengan menyakiti diri sendiri.”

Rafid menambahkan, lembut namun tegas, “Dan bilang pada Sheen… kami yang seharusnya menjaga dia. Bukan sebaliknya.”

Tak lama setelah sarapan, Key dan Kyu bersiap berangkat ke Ranumbang untuk menjemput Sheen. Sementara itu, Inara melangkah perlahan menuju Sunken Area. Ia duduk di pojok sofa kesayangannya, membuka tablet, lalu menatap satu nama di daftar kontak:

Rinai — Bunda Redho dan Rerose.

Ia menekan tombol panggil. Saat suara di seberang tersambung, Inara berkata pelan, “Assalamualaikum, Rinai… aku ingin bercerita. Tentang Sheen. Dan… tentang Redho juga.”

Dalam hatinya, Inara tahu—ini bukan sekadar tentang insiden kemarin. Tapi tentang langkah kecil menuju sesuatu yang jauh lebih besar. Sesuatu yang pelan-pelan akan menyentuh takdir dua keluarga… dengan caranya sendiri.

***

Jam delapan pagi. Matahari Ranumbang belum terlalu tinggi, tapi cukup hangat untuk mengeringkan embun di sela-sela daun. Suara ayam tetangga bersahutan di kejauhan.

Di halaman belakang rumah Rahkafina, Sheen sedang jongkok di antara kangkung dan bayam. Ujung celana katunnya sedikit basah terkena tanah yang baru disiram. Kaos putih longgar membalut tubuh rampingnya, rambut diikat tinggi, wajahnya masih pucat tapi ada sisa-sisa tenang yang baru ia temukan semalam.

“Rosie, lihat ini deh... aku bisa cabut kangkung tanpa rusak akarnya,” katanya pelan, tapi tetap memberi nada bangga pada suaranya.

Rerose yang sedang memetik kemangi hanya menoleh sekilas, tersenyum tipis. “Bagus, Tuan Putri Alghani. Pelan, tapi bersih sampai akar.”

“Mirip aku?” tanya Sheen, mencoba menggoda, meski matanya masih menyimpan bayangan yang belum hilang.

“Ya... mirip kangkung,” jawab Rerose datar.

Sheen mendengus kecil. “Kurang ajar.”

Rerose tersenyum kecil lalu kembali fokus ke tanamannya. Di belakang mereka, Oma Ruindah—dengan topi rotan tipis dan daster batik biru—sedang memeriksa batang serai yang baru tumbuh. Meski usianya sudah lebih dari tujuh puluh, langkahnya masih gagah, tangannya cekatan, dan matanya tajam membaca daun yang tumbuh miring.

“Kalian tahu,” ucap Oma sambil berdiri di dekat jalur paving kecil yang membelah kebun, “kalau nanam itu bukan soal cepat tumbuh. Tapi soal kuat bertahan waktu hujan datang terus-menerus. Prosesnya jelas, harus sabar, rajin siram, kasih pupuk, dan ngerawat sampai berakar.”

Sheen menoleh, lalu duduk di tikar kecil yang digelar di bawah pohon jeruk sunkis yang sedang berbuah. Rerose ikut menyusul, membawa segenggam kemangi yang wangi.

“Kayak orang hidup, ya, Oma?” tanya Sheen pelan.

“Kayak perempuan juga,” sambung Oma. “Kalau setiap kali kena hujan sedikit langsung patah… gimana mau berbuah?”

Rerose menatap Sheen sekilas. Ada sesuatu di mata Sheen yang seperti menahan pertanyaan sejak semalam.

“Oma Mama,” suara Sheen mengecil, “kalau tanaman… dari awal ditanam di tempat yang salah, itu salah tanamannya, atau salah yang nanam?”

Oma terdiam sebentar, lalu duduk perlahan di bangku kayu pendek. Ia memandang kebun, bukan Sheen.

“Tanaman cuma tahu satu hal,” jawab Oma tenang. “Dia akan berusaha hidup di mana pun dia diletakkan. Dia bakal cari cahaya, meski sedikit. Yang punya kebun lah yang harus mikir: ‘tempat ini cocok apa enggak, tanahnya sehat apa enggak’.”

Sheen menggenggam ujung tikar. “Kalau ternyata… tanahnya terlalu keras? Terlalu panas?”

“Ya dipindahkan,” jawab Oma, seolah itu hal paling wajar di dunia. “Bukan disalahkan tanamannya. Bukan disuruh minta maaf karena gak kuat.”

Rerose menurunkan pandangannya, menyembunyikan reaksi kecil di matanya. Sheen terdiam lama, menelan kata-kata itu pelan-pelan.

“Tapi kalau tanamannya… diam aja?” Sheen mencoba lagi. “Gak bisa bilang ‘aku kepanasan, aku keberatan’... itu gimana, Oma?”

Oma menghela napas, lembut. “Diam itu macam-macam. Ada diam yang pasrah, ada diam yang lagi ngumpulin napas. Kalau dia masih berdiri, masih berakar, masih bisa kamu pindah… berarti dia belum menyerah.”

Ia menoleh pada Sheen untuk pertama kalinya, sorot matanya lembut tapi tajam. “Dan yang punya kebun… seharusnya cukup peka untuk ngerti, bahkan kalau tanamannya gak bisa ngomong.”

Sheen menunduk. Tenggorokannya terasa mengganjal.

“Dulu waktu muda,” lanjut Oma, suaranya pelan, “Oma sering kira… perempuan yang baik itu yang diam saja. Nurut. Gak bikin repot. Lama-lama Oma baru paham, banyak daun yang jatuh bukan karena badai… tapi karena terlalu lama nahan matahari sendirian.”

Rerose meremas pelan tangan Sheen di atas tikar. Tak berkata apa-apa, hanya memastikan ia ada di sana.

“Jadi… kalau aku kemarin cuma diam… itu salah?” tanya Sheen lirih.

Oma menggeleng pelan. “Yang salah itu orang yang lupa kalau di depan dia itu manusia. Bukan pajangan.” Ia tersenyum tipis. “Kamu duduk, jaga adab, jaga diri… lalu pulang. Buat Oma, itu keberanian yang cukup.”

Sheen mengerjap cepat, menahan sesuatu di matanya.

“Kalau ada yang bikin kamu takut tapi kamu tetap hadapi,” sambung Oma, “itu tandanya kamu lagi tumbuh. Bukan lemah. Tapi lain kali…” ia mengangkat satu batang serai kecil, “…kalau rasa panasnya sudah sampai akar, kamu gak apa-apa bilang ‘hentikan’. Tanaman juga butuh teduh, Sheen. Bukan cuma cahaya.”

Rerose dan Sheen terdiam. Merasakan gema pada kalimat terakhir yang diucapkan Oma Mama.

Sheen menarik napas dalam-dalam. Udara pagi membawa aroma tanah basah, kemangi, dan jeruk sunkis yang hampir matang. Rasanya sedikit lebih lega daripada semalam.

“Tapi bunga matahari kan emang ngejar cahaya, Oma?” Sheen mencoba tersenyum, mencari pegangan pada julukannya sendiri.

“Bunga matahari itu kamu di Averaya,” jawab Oma. “Tapi di sini…” ia menunjuk kebun di sekeliling mereka, “kamu boleh jadi apa saja. Mau itu Mint, sereh, kangkung – apa saja. Gak selalu tanaman tinggi yang berguna, kan?.”

Sheen tertawa kecil, kali ini benar-benar keluar dari dada, bukan sekadar formalitas.

Angin pagi menyusup di antara cabai rawit yang sedang berbunga, dan pohon rambutan di pojok halaman menjatuhkan satu dua daun kering ke tikar mereka. Di pojok belakang, gudang kecil tempat alat berkebun disimpan berdiri tenang.

Sheen bersandar di bahu Rerose. “Kalau bisa hidup kayak gini terus… enak ya, Rosie?”

Rerose menjawab pelan, “Hidup itu bukan soal enaknya, Sheen. Tapi soal tahu… kapan harus bertahan, kapan harus pindah dari tempat yang bikin kamu layu.”

Sheen memejamkan mata sebentar. Mencium aroma tanah, kemangi segar, dan suara lembut Oma yang masih mengatur pot dan daun di belakang mereka.

Lihat selengkapnya