Sheen, Bunga Matahari yang Merunduk

Iqne zakiah
Chapter #7

Rencana Tanpa Peta

Suara tembakan Metal Gear Solid memantul di dinding. Proyektor di langit-langit menyorot layar besar, menggantikan TV tabung tua di sudut ruangan—yang kini lebih mirip artefak nostalgia daripada alat elektronik.

Key menjatuhkan diri ke bean bag hijau, stik PS3 di tangan, satu kaki menggantung seenaknya.

“Gue udah bilang,” katanya sambil ngakak. “Masuk lewat ventilasi itu bunuh diri.”

Redho duduk di karpet abu kehijauan, punggung bersandar pada kasur single tipis. Ekspresinya datar, fokus—seperti biasa.

“Itu bukan ventilasi,” jawabnya tenang. “Itu jalur alternatif.”

“Alternatif menuju kematian, bro,” sela Key cepat.

Kyu tidak ikut debat. Ia duduk bersila di depan meja snack, punggung lurus—kebiasaan yang nggak pernah benar-benar hilang sejak kecil. Jemarinya bergerak presisi di atas stik, wajahnya tetap netral. Lalu—tanpa mengubah ekspresi—Kyu menumbangkan satu musuh yang mengendap di belakang Redho.

Key langsung bersorak, berdiri setengah melompat. “Mantap, Yu!”

Redho menepuk bahu Kyu ringan. “Nice.”

Kyu cuma mengangkat kepalan tangan satu detik ke udara, angguk kecil. Bangga versi dia.

Rak buku besar di belakang mereka penuh—One Piece berderet hingga volume terbaru, Conan komplet, Doraemon dengan sampul mengelupas, Sinchan yang mulai menguning. Di rak paling atas, novel klasik berdampingan dengan CD lawas dan kaset milik Nabilah. Di sisi lain, teleskop dan mikroskop profesional tersimpan rapi, seolah menunggu disentuh kembali.

“Bang,” kata Key tanpa mengalihkan pandangan dari layar. “Kalau libur gini, lo masih jemput Rosie tiap hari?”

Redho mengangguk kecil. “Iya.”

Key mengangguk-angguk. “Kemarin kita jemput Sheen—walau niatnya bukan jemput juga. Anak-anak sekolah pada heboh. Dia jadi ngambek.”

“Pasti kalian datangnya banyak gaya,” kata Redho singkat.

“Enggak,” Key membela diri. “Kita datang biasa aja. Bahkan kemarin naik BMW, bukan Ferrari. Biar nggak terlalu mencolok.”

Redho melirik layar sekilas. “Kalian kira BMW di Ranumbang itu biasa? Secara statistik, mungkin cuma keluarga kalian yang punya. Wajar kalau mereka heboh.”

“Gitu ya?” Key terdiam sebentar. Nada suaranya turun satu tingkat. Kyu tidak menyela. Ia hanya menimbang, seperti biasa—mencatat informasi, bukan emosi.

Key melirik Redho lagi. “Tapi jemput Rosie tiap hari emang nggak capek?”

“Enggak.” Jawab Redho

Kyu akhirnya bicara, datar. “Rutinitas itu menenangkan. Terutama kalau yang dijemput penting.”

Key mengerjapkan mata. Ia tak yakin komentar itu pujian untuk Redho atau sindiran halus untuk dirinya sendiri—karena ia dan Kyu nyaris tak pernah menjemput Sheen, kecuali kemarin.

Redho tidak menanggapi. Tapi bahunya bergerak sedikit—nyaris tak terlihat, kecuali bagi orang yang sudah lama mengenalnya.

Beberapa menit permainan berlalu sebelum Key tiba-tiba menekan pause.

“Eh, Yu,” katanya ringan, meski matanya lebih serius. “Soal Kedo.”

Kyu mengangkat pandangan. “Hm.”

“Dua minggu lagi, kan. Acara akhir tahun Shirakawa sama ulang tahun ibunya Kana.”

“Iya.”

Redho menoleh tipis. Mendengar, bukan ikut bicara.

“Papa Mama kayaknya nggak bisa datang,” lanjut Key, nadanya berubah lebih serius. “Opening AREH di Scrubel bentrok.”

Kyu mengangguk kecil. “Udah dengar. Gue datang sendiri juga nggak apa-apa.”

Key menoleh ke Redho, senyum setengah nakal terbit lagi. “Atau… ngajak Bang Redho.”

Redho terdiam sejenak. Bukan ragu—lebih ke menimbang. “Aku? Ke Kedo?”

“Iya,” jawab Key santai. “Lo belum pernah ke sana, kan?”

Redho menggeleng.

“Bagus.” Key tampak puas. “Biar nemenin Kyu. Daripada dia keliatan kayak tamu kehormatan yang anti sosial.”

Kyu melirik tajam ke arah Key—sekilas saja—lalu berkata tenang, “Ide bagus. Kana juga pernah bilang ingin kenalan sama Bang Redho.”

Nama itu—Kana—menggeser udara ruangan sedikit. Tidak berat, tapi jelas terasa.

“Soal tiket dan lain-lain,” kata Key santai, “bilang aja ke Kyu.”

“Soal itu bukan masalah,” jawab Kyu singkat.

Redho menimbang sebentar. “Kalau waktunya cocok… mungkin gue bisa ikut.”

“Pasti cocok,” sahut Key cepat. “Gue atur.”

Permainan berlanjut. Tidak ada sorak, tidak ada tensi. Hanya bunyi tombol, tarikan napas yang stabil, dan keakraban yang tidak perlu dibuktikan.

Di dinding, pola geometrik warna-warni—biru, oranye, hijau, kuning, merah muda—bertemu tanpa saling menutupi. Seperti mereka bertiga: ritme berbeda, cara bertahan berbeda, tapi ruangnya tetap sama. Dan sore itu, di lantai dua Kediaman Rahkafina, tanpa direncanakan, arah langkah mereka pelan-pelan mendekat ke titik yang sama.

***

Gerbang besi hitam terbuka penuh. Melati dan kenanga menyisakan wangi tipis di udara sore. Pancuran bambu menetes pelan, ritmenya sama seperti pagi-pagi sebelumnya—seolah tak tahu bahwa hari ini ada yang akan berpisah. Ferrari F12 Berlinetta warna bianco avus sudah terparkir sejak tadi di sisi halaman. Mesin mati. Pintu tertutup. Menunggu.

Redho berdiri tidak jauh dari teras, di luar mobilnya sendiri. Ketika Oma Ruindah muncul membawa satu tas kain berisi bingkisan, Redho segera melangkah mendekat.

“Biar saya, Oma,” katanya sopan, menerima tas itu dengan dua tangan.

Oma mengangguk kecil. “Terima kasih, Nak.”

Ia berbalik lagi ke dalam—lalu keluar lagi beberapa saat kemudian membawa kantong lain. Lalu satu lagi. Seperti selalu lupa bahwa perpisahan tidak bisa disiapkan dengan cukup.

Key berdiri di dekat tangga, memegang duffel bag hitam dan dua bingkisan besar. “Kalau Oma nambah lagi, aku pindah karier jadi kuli angkut,” gumamnya.

“Udah bawa aja,” sahut Oma tanpa marah. “Itu buat Mama kamu. Sama buat Rafid.”

Key langsung mengangguk patuh—patuh versi dia: sambil mendesah dramatis.

Kyu keluar terakhir. Ia hanya membawa satu duffel bag, sederhana. Pandangannya menyapu halaman sebentar—taman, kolam, teras—lalu berhenti pada Sheen.

Sheen berdiri dekat kolam koi. Tas kecil disampirkan di bahu. Ia menatap air yang beriak kecil, seolah mencoba menyimpan suasana ini tanpa kata-kata.

“Oma,” katanya pelan ketika akhirnya melangkah mendekat.

Oma menggenggam tangan Sheen erat—cukup lama. “Hati-hati di jalan,” ucapnya sederhana. “Kalau capek… istirahat.”

Sheen mengangguk, menelan sesuatu yang nyangkut di tenggorokan.

“Iya, Oma.”

Kyu menoleh, suaranya tenang. “Oma yakin nggak mau ikut? Sekalian kumpul ulang tahun di Griya.”

“Iya ikut aja, Oma,” timpal Key cepat. “Kita bikin pesta barbeque. Aku yang bakar. Kalau gosong, itu namanya smoky flavor.”

Sheen ikut mengangguk-angguk membujuk. “Iya, Oma. Ikut aja…”

Oma menggeleng tegas, tapi matanya lembut. “Enggak. Oma udah tua. Nggak kuat kalau jalan jauh lagi.”

Kyu mengangguk, menerima keputusan itu tanpa drama. Key kelihatan kecewa sebentar—tapi menahan diri.

Sheen memeluk Oma dari belakang, menempelkan dagunya di bahu Oma. “Oma jangan ngangkat barang berat ya selama Sheen nggak ada. Kalau mau ngerjain proyek apa pun… tunggu Sheen pulang. Vitamin sama obat jangan lupa diminum. Sama—”

“Iya, iya,” potong Oma, tapi suaranya bergetar tipis. “Oma tahu. Udah sana berangkat. Nanti kalian ketinggalan pesawat.”

Key menyalami Oma, lalu mencium tangannya. “Nggak akan, Oma. Pesawatnya nggak bisa jalan kalau kita belum di dalam,” katanya sambil tertawa, gaya sok-yakin.

Kyu ikut menyalami, lebih pelan. “Oma jaga kesehatan. Nanti sebelum Kyu balik ke Serven, Kyu usahain mampir dulu.”

“Nggak usah maksa,” jawab Oma. “Kamu sibuk. Yang penting kalian semua sehat. Itu udah cukup.”

Redho maju terakhir, menyalami Oma dengan sopan. “Kami berangkat ya, Oma.”

“Iya,” jawab Oma. “Makasih ya, Redho. Tolong diantar dengan selamat.”

“Iya, Oma.”

Sheen menyalami Oma paling akhir. Suaranya kecil, tapi jelas. “Sheen berangkat, Oma.”

Oma mengangguk. “Iya. Hati-hati. Nurut sama abang dan kakakmu.”

Key tersenyum. “Tuh dengerin, Sheen.”

Oma melirik Key tanpa senyum. “Dan kamu… jangan jail sama adekmu!”

Sheen menahan napas, nyaris ketawa. Key memasang wajah tersinggung palsu. “Oma, aku ini pemuda baik.”

Sheen melangkah menuju Ferrari. Kyu sudah berdiri di sana, membukakan pintu penumpang. Ia menunggu sampai Sheen duduk dengan tenang, baru menutup pintu.

Di sisi lain halaman, Key meletakkan duffel bag ke mobil Redho.

“Bang,” katanya, nada kembali ringan, “tolong jaga aku dari kebosanan selama perjalanan.”

Redho mengangguk. “Naik aja.”

Mesin Ferrari menyala lebih dulu. Mobil putih itu bergerak perlahan melewati gerbang. Beberapa detik kemudian, mobil Redho menyusul.

Oma Ruindah berdiri di teras sampai kedua mobil itu hilang dari pandangan. Angin sore menggerakkan bunga telang di lengkung kayu kecil. Kolam koi kembali menjadi cermin yang tenang. Oma menarik napas, lalu berbalik masuk ke rumah—membiarkan halaman depan tetap hangat, meski langkah-langkah baru saja pergi.

***

Ferrari meluncur meninggalkan halaman rumah Rahkafina. Gerbang besi hitam menutup pelan di belakang mereka, dan suara kota kecil Ranumbang perlahan menipis, digantikan dengung mesin yang halus dan stabil.

Sheen duduk menyamping sedikit, punggung bersandar penuh. Tangannya bertumpuk di pangkuan, jari-jarinya saling mengait tanpa sadar.

Lihat selengkapnya