Sheen, Bunga Matahari yang Merunduk

Iqne zakiah
Chapter #8

Ulang Tahun, Aturan, dan Cara Baru

Pagi di Griya Baytara datang tenang, tanpa tanda perayaan. Cahaya matahari masuk dari jendela tinggi ruang makan, jatuh lembut di meja kayu putih yang sudah terisi piring-piring sederhana. Tidak ada kue. Tidak ada lilin. Hanya makanan rumah—hangat dan jujur.

Jagung rebus berwarna kuning pucat masih mengepul pelan. Telur kampung rebus tersusun rapi di piring anyaman. Semangkuk besar gado-gado diletakkan di tengah meja—sayurnya segar, bumbunya kental dan harum.

“Aroma Ranumbang banget,” gumam Kyu sambil duduk dan menarik kursinya.

Inara tersenyum kecil. “Jagung, telur, sama sayurnya semua dari Oma Mama. Banyak banget kalian bawanya.”

“Oh…” celetuk Key sambil menjatuhkan diri ke kursi. “Jadi ini perbekalan yang bikin tangan aku kesemutan kemarin?”

Inara menoleh. “Tangan kamu sakit?”

“Iya, Ma. Ini barang berat, loh.”

“Berat ya?” Inara mengulang, nada suaranya datar tapi jelas menggoda.

“Iya, Ma. Tapi putra Mama ini kuat.” Key mengangkat bahu. “Ini mah kecil.”

Inara mengangguk pelan. “Mama bilangin Oma Mama ya. ‘Oma, kata Key bingkisan Oma berat banget, sampai bikin tangannya kesemutan.’”

Key langsung panik. “Jangan dong, Ma. Nanti Key nggak dibolehin request makan lagi.”

Sheen dan Kyu tertawa bersamaan. Lucu sekali melihat Key—yang biasanya paling jail—justru jadi sasaran lelucon.

Rafid muncul dari arah kamar utama dan duduk di ujung meja. Kemeja rumahnya sederhana, wajahnya tenang, tapi bayangan lelah masih tertinggal jelas. Ia makan pelan, seperti tubuhnya masih mengejar sisa-sisa waktu tidur.

“Papa baru bangun?” tanya Sheen lirih.

Rafid mengangguk. “Iya. Tadi habis subuh Papa tidur sebentar.”

Kyu melirik cepat. “Berarti… Papa lembur semalaman?”

“Iya. Sebelum subuh baru selesai. Papa langsung pulang.”

“Oh…” Sheen menatapnya. “Sheen kira Papa pulangnya tengah malam. Berarti subuh tadi Papa baru sampai rumah?”

“Iya, sayang.” Suara Rafid lembut. “Papa mau ketemu kamu. Maaf ya Papa nggak bisa sambut kamu tadi malam.”

Lalu, tanpa nada menyalahkan, Rafid menambahkan, “Papa begadang karena menyelesaikan pekerjaan kakakmu.”

“Lah?” Key spontan mengangkat kepala. “Kok jadi Key yang salah? Kerjaan apa sih? Key nggak dapat info apa-apa.”

“Memang,” jawab Rafid tenang. “Papa melarang tim ngabarin kamu. Ada masalah di pengurusan izin AREH Scrubel.”

“Waduh…” Key menghela napas. “Key nggak tahu tuh. Jadi gimana, Pa?”

“Sudah beres,” jawab Rafid singkat.

“Yah…” Key mendengus. “Itu kan karena aku lagi cuti. Kalau nggak, bisa aja aku yang beresin.”

“Kalau Papa serahkan ke kamu,” lanjut Rafid, “kemarin kamu harus bolak-balik Scrubel–Elcollome. Bisa empat sampai lima hari baru selesai.”

Rafid mengangkat wajah, ada ekspresi kesombongan di wajahnya. Ia menatap Key sebentar. “Kalau Papa yang bereskan, cukup beberapa jam.”

Key menyandarkan punggung ke kursi. “Tentu saja.” Nada suaranya santai, khas dirinya. “Siapa yang bisa nolak perintah CEO Alghani Holdings? Kalau perintah dari Papa, hal yang nggak mungkin aja bisa jadi mungkin.”

Inara menggeleng kecil sambil tersenyum, sudah sangat hafal dengan dinamika ini.

Ponsel Rafid bergetar di atas meja. “Opa Papa,” gumamnya.

Panggilan diangkat. Wajah Opa Papa muncul di layar—tegap, rapi, dengan sorot mata puas. Tak lama, Oma Papa merapat ke bingkai, senyumnya hangat.

“Assalamu’alaikum,” sapa mereka.

“Wa’alaikumussalam,” jawab semua.

“Yaumul milad, Nona Tujuh Belas,” ucap Oma Papa dengan suara penuh sayang.

“Happy birthday, my most beautiful granddaughter in the world,” sambung Opa Papa ringan.

“Tentu saja tercantik,” sela Key cepat. “Cucu Opa kan laki-laki semua, kecuali Sheen.”

Opa Papa langsung mendelik. “Kamu cucu Opa yang paling berisik.”

Sheen tertawa kecil. “Makasih, Oma. Makasih, Opa.”

“Semoga Allah jadikan Sheen cahaya bagi sekitar,” doa Oma Papa. “Allah ampuni semua dosa, dan Allah jaga selalu dalam lindungan-Nya.”

“Aamiin,” ucap mereka kompak.

“Selamat ya, sayang,” lanjut Oma Papa. “Jangan lupa memperbanyak istighfar dan bersedekah di hari ini.”

“Iya, Oma.”

“Sheen,” panggil Opa Papa.

“Iya, Opa.”

“Now you’re officially grown,” katanya dengan tenang. “The days of sitting on my lap, asking for fairy tales—that’s behind you now. Explore what interests you. Stay curious. Don’t be afraid to fail—as long as you learn from it. We trust you. The world is waiting for you. May you grow in wisdom, courage, and compassion.”

Inara menggenggam tangan Sheen.

“I will, Opa,” jawab Sheen pelan.

“Age may say you’re an adult,” sambung Oma Papa lembut, “but to us, you’ll always be our light. Keep your shine, your own way.”

Sheen tersenyum. “Especially with you as my role model, Oma.”

Oma Papa tertawa kecil. “Oh dear, almost forgot. Oma sudah kirim hadiah.”

“Hadiah?” Sheen refleks setengah berdiri.

“A horse,” jawab Oma Papa santai. “Go visit him at the stable this afternoon.”

“Oh my God—horse? For me?” Sheen menutup mulutnya, matanya berbinar.

Oma Papa mengangguk.

“Thank you, Oma. I love you,” ucap Sheen spontan.

“Kita bisa balapan nanti siang,” sela Rafid ringan.

“Kamu belum tidur, Sayang. Sangat berbahaya berkuda dengan kondisimu saat ini,” tegur Inara cepat.

“Nanti, sayang. Setelah aku tidur siang,” jawab Rafid singkat.

"Kamu belum tidur, Rafid?" Tanya Oma papa.

"Belum, Mom. Aku baru pulang tadi subuh." Jawab Rafid.

“You owe me a thank you,” kata Opa Papa terkekeh. “Without me, you wouldn’t be home before dawn.”

“Thanks for helping me, Dad,” jawab Rafid.

“Opa Papa turun tangan juga ya?” tanya Key.

Opa Papa tersenyum puas. “Of course. Urusan Scrubel itu selesai karena power Opa. Opa ini orang hebat di Eldeland.”

Key langsung nyeletuk, refleks. “Kata Papa tadi, bisa selesai karena Papa yang kerjain.”

Opa Papa mendengus pura-pura tersinggung. “Mana bisa selesai secepat itu kalau Opa nggak turun tangan. Kalau cuma mengandalkan Rafid, mungkin dua atau tiga hari baru beres.”

Key menoleh ke arah Rafid dengan ekspresi kecewa berlebihan. “Pa… katanya Papa hebat.”

Inara tertawa kecil. Sheen ikut tertawa—ringan dan jujur. Bahkan Kyu yang biasanya tenang ikut tersenyum tipis.

“Oh, jadi ini berkat bantuan Opa Papa ya,” ucap Kyu sopan. “Terima kasih, Opa.”

Inara dan Sheen ikut mengangguk sambil cekikikan kecil. “Terima kasih, Opa.”

Rafid tetap makan, tenang, seolah drama kecil itu tidak menyentuhnya.

Opa Papa menatap Sheen dari layar, suaranya melunak. “Tentu saja Opa harus bantu. Supaya Papa dan kakakmu bisa kumpul di hari ulang tahunmu.”

Ia berhenti sejenak. “Sheen, maaf Opa belum bisa ke Griya Baytara. Tapi sebagai gantinya, urusan Scrubel Opa yang handle. Biar hari penting ini tetap milikmu.”

Sheen menelan napas. “Nggak apa-apa, Opa. Terima kasih.”

“Alright then,” ucap Opa Papa. “Once again, happy birthday, Sheen.”

“Selamat ulang tahun, sayang,” tambah Oma Papa. “Jangan lupa kirim Oma nama kuda barumu.”

“Siap, Oma.”

Panggilan ditutup. Meja makan kembali hening. Hangat.

Beberapa detik kemudian, Rafid meletakkan sendoknya. “Sheen.”

Sheen mengangkat wajah. “Iya, Pa.”

“Hari ini kamu tujuh belas,” ucap Rafid. Nada suaranya tenang. Tidak seremonial. Tidak mengancam. “Kamu tahu artinya, kan?”

Sheen mengangguk pelan. “Sheen tahu.”

“Mulai hari ini,” lanjut Rafid, “uang saku dan biaya operasional rutin dari keluarga dihentikan.”

Tidak ada yang terkejut.

“Bukan karena kami berhenti peduli,” sambungnya, “tapi karena keluarga ini tidak membesarkan anak untuk bergantung.”

Inara menyambung, suaranya lembut tapi jelas. “Kami berhenti menopang,” katanya, “supaya kamu belajar berdiri.”

Sheen menarik napas dalam.

“Biaya hidupmu,” lanjut Inara, “mulai sekarang menjadi tanggung jawabmu.”

“Termasuk kuliah,” kata Rafid. “UKT kamu bayar sendiri.”

Sheen menunduk sebentar. Lalu mengangguk.

Lihat selengkapnya