Sheen, Bunga Matahari yang Merunduk

Iqne zakiah
Chapter #9

Pintu yang Tidak Tertutup

Rafhan Room berada di lantai dua Griya Baytara—ruang yang tidak pernah berisik, bahkan saat rumah sedang penuh. Pintu kayu gelapnya tertutup rapat, bukan untuk mengusir, melainkan menjaga batas: siapa pun yang masuk ke sini, datang dengan kepala jernih.

Sheen berhenti sejenak di depan pintu. Bukan ragu—lebih seperti memastikan napasnya sudah kembali ke ritme yang tenang.

Ia mengetuk pelan.

“Masuk,” suara Rafid terdengar rendah dan stabil dari dalam.

Sheen mendorong pintu. Keheningan tertata langsung menyambut. Rak buku kayu gelap memenuhi satu sisi dinding, tersusun rapi—dipakai, bukan dipamerkan. Meja kerja besar berada di tengah, permukaannya bersih: beberapa berkas, tablet, dan pulpen hitam yang diletakkan sejajar sempurna. Cahaya pagi jatuh lembut ke karpet abu hangat dan sofa kulit yang menghadap meja.

Rafid duduk di kursinya, kemeja rumah berwarna netral, lengan digulung rapi. Alisnya sedikit berkerut—tanda pikirannya sedang bekerja, bukan gelisah.

Sheen masuk dan menutup pintu pelan.

“Papa sedang apa?” tanyanya ringan.

Rafid mengangkat wajah. Kerut di dahinya langsung mengendur.

“Merampungkan beberapa keputusan,” jawabnya sambil menutup berkas. “Bukan yang mendesak. Duduklah, Bunga Matahari Papa.”

Sheen duduk di sofa dengan kesadaran bahwa percakapan ini akan menjadi penting. Rafid menatapnya—bukan seperti CEO membaca laporan, melainkan ayah memastikan anaknya baik-baik saja.

“Kamu kelihatan lebih tenang hari ini,” ucapnya akhirnya.

Sheen tersenyum kecil. “Iya, Pa. Kepala Sheen nggak seberisik kemarin.”

Rafid mengangguk. “Pikiran yang terlalu bising sering membuat kita mengambil keputusan hanya supaya cepat selesai.”

Sheen menunduk sejenak, lalu mengangguk pelan.

“Ada yang mau kamu katakan?” tanya Rafid.

Sheen menarik napas. “Pa… Papa suka pekerjaan Papa?”

Rafid tidak langsung menjawab. “Suka atau tidak,” katanya akhirnya, “Papa harus menjalaninya. Jadi Papa belajar mencintai amanah di dalamnya.”

Sheen menatapnya lekat. “Bukankah melelahkan, Pa?”

“Tentu,” Rafid tersenyum tipis. “Tapi ada banyak keluarga yang bergantung pada keputusan Papa. Kalau Papa lelah, Papa istirahat. Tapi Papa tidak berhenti bertanggung jawab.”

Sheen mengangguk pelan. “Begitu ya… peran yang mulia,” katanya lirih. “Dan… keren.”

"Tuan putri..." Rafid menyandarkan punggungnya pelan. "Duduk yang nyaman. Kita ngobrol sebentar."

Sheen menegakkan punggung sedikit. “Iya, Pa.”

Rafid menautkan jari-jarinya di atas meja. “Kamu sudah tujuh belas. Secara usia, orang akan mulai menaruh banyak hal di pundakmu—ekspektasi, label, tuntutan.” Ia berhenti sejenak. “Papa tidak ingin kamu memikulnya tanpa tahu apa yang sedang kamu bawa.”

Sheen diam, menatap jemarinya sendiri.

“Setiap pilihan datang dengan konsekuensi,” kata Rafid tenang.

“Itu namanya akuntabilitas.”

Sheen mengangkat wajah. “Bertanggung jawab?”

“Lebih dari itu,” Rafid tersenyum tipis. “Bertanggung jawab itu menerima akibat. Akuntabilitas adalah sadar sejak awal bahwa akibat itu memang milikmu.”

Rafid condong sedikit ke depan. “Nama keluarga kita tidak menghapusnya. Justru memperjelasnya.”

Sheen menelan napas.

“Lalu soal sabar,” Rafid melanjutkan. “Banyak orang mengira sabar itu menunggu sambil pasrah. Padahal sabar itu menahan diri supaya pikiranmu tetap jernih.”

Sheen teringat dirinya di Café Luko. Diamnya. Dadanya menghangat—bukan oleh luka, tapi oleh pemahaman.

“Kebijaksanaan,” Rafid berkata lagi, “adalah tahu bahwa tidak semua hal harus dibalas. Tidak semua peluang harus diambil. Dan tidak semua kemenangan layak diperjuangkan.”

Ia tersenyum kecil. “Kadang, yang paling bijak justru tahu kapan harus mundur satu langkah.”

Sheen mengangguk pelan.

“Dalam hubungan dengan orang lain,” lanjut Rafid, “Berdirilah lurus. Tidak menunduk karena status siapa pun. Tidak meninggi karena nama kita.”

Rafid menatap lurus ke bola mata Sheen. “Hormati semua orang dan jaga martabatmu sendiri.”

Sheen meremas jemarinya perlahan. Kata-kata itu terasa seperti pegangan—bukan batas.

“Dan terakhir,” Rafid menarik napas, "Jangan berlebihan dalam ambisi. Jangan lalai dalam kenyamanan. Hidup itu soal keseimbangan—antara dunia yang kamu jalani dan batin yang kamu rawat.”

Ruang itu kembali sunyi. Cahaya pagi bergerak pelan di lantai.

Sheen akhirnya bicara, suaranya lembut. “Pa… Papa nggak takut Sheen salah jalan?”

Rafid tersenyum hangat. “Takut itu wajar. Tapi Papa lebih takut kalau kamu tidak melangkah.”

Ia berdiri, lalu duduk di kursi seberang sofa—jarak yang lebih dekat, lebih personal.

“Papa ini ayahmu,” ucapnya pelan. “Dan peran Papa akan Papa pertanggungjawabkan kepada Allah. Papa tidak selamanya disampingmu, tapi selagi Papa ada... Papa akan mendampingimu agar kamu tumbuh utuh.”

Sheen menunduk. Dadanya terasa penuh, tapi tidak sesak.

Rafid berdiri kembali. “Papa bisa membuka pintu untukmu,” katanya ringan. “Tapi Papa tidak ingin pintu itu menjadi sangkar yang membatasimu.”

Sheen mengangkat wajah, matanya berkaca tipis, “Aku mengerti, Pa,” ucapnya pelan.

Rafid tersenyum lembut. “Papa tahu.”

Sheen bangkit dari sofa. Ia tidak membawa keputusan. Tidak membawa rencana. Tapi ia membawa sesuatu yang lebih penting: rasa ditopang.

Saat ia melangkah ke pintu, Rafid memanggilnya sekali lagi. “Bunga Matahari Papa!”

Sheen menoleh.

“Tenang saja,” ucap Rafid tersenyum. “Papa selalu ada di belakangmu.”

Sheen tersenyum kecil. Lalu keluar dari Rafhan Room—menuju hari yang tidak lagi terasa menakutkan.

***

Nuansa putih dan navy mendominasi kamar Kyu. Rak buku memenuhi satu dinding—tersusun berdasarkan kategori, bukan ukuran. Meja belajar lebar menghadap jendela, di atasnya dua monitor, tablet grafis, dan beberapa catatan kecil yang ditempel rapi. Di sudut ruangan, ada area diskusi kecil: dua kursi sederhana, papan tulis tipis, dan meja rendah dengan kabel-kabel yang disusun sejajar.

Kyu duduk di kursinya, membaca sesuatu di layar tablet. Ia tidak terkejut ketika Sheen mengetuk pintu—seolah sudah tahu, cepat atau lambat, adiknya akan datang.

“Masuk,” ucapnya tanpa menoleh.

Sheen membuka pintu. “Bang… Sheen boleh masuk?”

Kyu mengangkat wajah. “Iya.”

Sheen melangkah masuk, berhenti sebentar. “Boleh Sheen duduk di sini?”

“Boleh.”

Sheen sudah hampir duduk, lalu ragu. “Atau… nggak jadi deh. Sheen pergi aja.”

“Silakan,” jawab Kyu datar.

Sheen menoleh cepat. “Abang penasaran, kan?”

“Enggak,” jawab Kyu singkat.

Sheen mendengus kecil, lalu akhirnya duduk di kursi seberang meja. Tidak di kasur. Tidak di lantai. Posturnya rapi, tapi tidak kaku—seperti seseorang yang datang dengan tujuan, bukan kebingungan.

Beberapa detik berlalu tanpa kata. Kyu menutup tabletnya dan meletakkannya ke samping. “Kamu mau nanya apa?” tanyanya akhirnya, langsung, tanpa basa-basi.

“Tuh kan...” gumam Sheen. “Abang penasaran.”

Kyu menghela napas tipis—lebih seperti menyerah pada pola yang ia kenal.

Sheen tertawa kecil, lalu menarik napas pelan. “Kenapa Abang memilih kuliah? Kenapa gak langsung kerja kayak Kak Key?”

Kyu tidak langsung menjawab. Ia menyandarkan punggung ke kursi, menatap langit-langit sebentar—bukan mencari jawaban, tapi menyusunnya.

“Karena otakku bekerja di situ,” katanya akhirnya. “Aku butuh ruang yang terstruktur. Sistem. Masalah yang bisa diurai.”

Sheen mengangguk. “Bukannya karena gelar?”

“Gelar itu efek samping,” jawab Kyu datar. “Kalau aku masuk ke dunia

yang terlalu dinamis, aku cepat lelah. Aku jadi versi diriku yang tidak efisien.”

Sheen melirik rak buku di belakangnya. “Terus… gimana Abang nentuin jurusannya?”

“Mudah, cukup lihat pola yang ada,” kata Kyu singkat. “Energi, sistem, dampaknya ke manusia. Aku bisa duduk berjam-jam tanpa sadar kalau sedang memikirkan itu. Kamu juga tahu kan?”

Sheen mengangguk. Sejak dulu Kyu memang selalu menyukai science. “Jadi… dari awal Abang yakin?”

Kyu menggeleng. “Enggak.”

Sheen mengangkat wajahnya terkejut. “Hah?”

“Nggak ada yang bisa yakin sepenuhnya,” lanjut Kyu tenang. “Aku cuma tahu satu indikator penting, aku tidak sedang memalsukan diri saat menjalaninya.”

Sheen mencerna kalimat itu pelan. “Kalau salah pilih?” tanyanya.

“Ya salah,” jawab Kyu jujur. “Tapi salah itu bisa dianalisis. Diperbaiki. Bukan ditutupi.”

Sheen tersenyum kecil. “Abang tuh selalu mikirnya terstruktur.”

Kyu mengangkat bahu. “Itu caraku bertahan.”

Sheen menunduk sebentar, lalu bertanya lagi—lebih hati-hati, lebih spesifik. “Kalau Abang disuruh memilih sesuatu yang kelihatan ‘berguna’, tapi sebenarnya bukan Abang banget?”

Kyu menatapnya lama. Kali ini tidak buru-buru.

“Aku akan menolak,” katanya akhirnya. “Karena hasilnya mungkin kelihatan baik, tapi biayanya terlalu mahal.”

“Biaya apa?” tanya Sheen.

“Diri sendiri,” jawab Kyu singkat.

Sheen menarik napas. Dadanya terasa lebih lapang—bukan karena mendapat jawaban pasti, tapi karena mendapat kejelasan cara berpikir.

Kyu berdiri, berjalan ke rak, mengambil satu buku tipis, lalu meletakkannya di meja—tidak disodorkan, hanya diletakkan di antara mereka.

“Kamu nggak perlu cepat,” katanya. “Dan kamu nggak perlu jadi seperti aku atau Key. Kamu cuma perlu jujur membaca dirimu sendiri.”

Sheen tersenyum lalu berdiri. “Makasih, Bang.”

Kyu mengangguk. “Kapan pun kamu mau diskusi, kamu tahu kamarku.”

Lihat selengkapnya