Mobil melambat di ujung jalan pribadi yang beraspal halus, lalu berhenti tepat sebelum lereng landai menurun ke arah laut. Dari balik kaca, Laut Engelde terbentang tenang, kemilau biru tua kontras dengan pasir hitam vulkanik.
Sheen turun lebih dulu. Udara Scrubel menyentuh kulitnya dengan cara yang berbeda: hangat, tapi tidak lembap; wangi, tapi tidak manis. Ada aroma lavender tipis bercampur cedar—aroma rumah yang belum sepenuhnya jadi, namun sudah siap menerima orang.
Bangunan utama Alghani Seaside Estate berdiri menyatu dengan lereng. Garis-garisnya bersih dan tegas, tapi tidak kaku. Kayu terang dan batu alami berpadu dengan kaca besar yang membiarkan cahaya laut masuk tanpa menuntut perhatian. Di beberapa sudut, plastik pelindung masih menempel, dan suara alat kerja terdengar jauh—ritme pelan, bukan gangguan.
“Ini sudah cukup hidup,” ucap Inara pelan di sampingnya. Bukan sebagai penilaian, melainkan pengakuan.
Pintu utama terbuka sebelum mereka sempat mengetuk.
Victor de Alghani—yang lebih sering disapa Opa Papa—berdiri tegak di ambang pintu. Rambutnya perak rapi, setelan rumah berpotongan klasik menempel sempurna di tubuhnya. Bahkan di rumah, ia tetap terlihat seperti seseorang yang selalu siap menerima tamu penting. Bahunya lurus, pandangannya tenang dan menilai, seperti aristokrat tua Eldeland yang dibesarkan oleh aturan dan waktu.
“Selamat datang,” katanya, suaranya rendah dan terukur.
Inara menyalaminya lebih dulu, lalu memberi ruang bagi Sheen. Victor menatap cucunya sesaat, kemudian mencondongkan tubuh dan mencium pipi Sheen dengan lembut.
“Kamu terlihat… baik.” Ucap Victor. Itu pujian versi Victor: singkat, tanpa embel-embel, tapi jujur.
Sebelum Sheen sempat menjawab, sebuah tangan meraih lengannya dari samping.
“Ah, akhirnya sampai juga!” Kartika Noersudibyo—Oma Papa—muncul dengan senyum lebar. Ia mengenakan gaun rumah berwarna lembut dan selendang tipis yang digulung asal. Matanya berbinar, bukan karena kegembiraan berlebihan, melainkan karena kebiasaannya menemukan cahaya di momen kecil.
Kartika menarik Sheen ke pelukan singkat, lalu mencium kedua pipinya dengan hangat. “Perjalananmu lancar? Kok kamu kelihatan kurusan ya. Atau cuma penat perjalanan? Tenang saja, udara di sini bisa menyembuhkan segala jenis luka.”
Sheen tertawa kecil. “Lancar, Oma.”
Inara kemudian menyalami Kartika. “Mama sama Papa cepat juga sampainya?”
“Kami naik helikopter dari Elcollome,” jawab Kartika antusias. “Paling dua puluh sampai dua puluh lima menit. Untung cuaca cerah, jadi lancar, nggak ada turbulensi, dan—”
“Oma,” Victor berdeham halus.
“Iya, iya,” sahut Kartika ringan tanpa menoleh. “Aku tahu. Jangan langsung disergap. Tapi cucu datang jauh-jauh, masa disambut kayak rapat dewan?”
Victor menutup mulutnya rapat, menahan senyum yang nyaris lolos. Ia mengalah—seperti biasa.
Mereka masuk ke dalam. Ruang keluarga terbuka langsung menyambut, dengan jendela besar menghadap laut. Sofa berwarna netral sudah tertata, meja kayu besar di tengah ruang menunggu dengan sabar. Dapur di sisi kiri terlihat selesai sempurna—bersih, fungsional, hidup. Di sisi lain, sebuah koridor panjang menunjukkan ruang-ruang yang belum sepenuhnya rampung; bau kayu baru dan cat tipis masih menggantung halus di udara.
“Jangan kaget kalau kamu dengar suara palu,” kata Kartika sambil berjalan pelan. “Rumah ini masih belajar bernapas. Beberapa perabot juga masih menyusul.”
Sheen berhenti sejenak di dekat jendela. Laut terbentang luas, tak meminta apa-apa. Rumah ini terasa berbeda dari Griya Baytara—lebih sunyi, lebih lapang. Bukan tempat untuk membuktikan diri, tapi tempat untuk mengenal diri.
“Kamu bisa pilih kamar mana saja,” ucap Victor dari belakang. “Yang sudah selesai, tentu saja.”
Kartika meliriknya cepat. “Oma rekomendasikan kamar Sakura,” katanya ringan. “Warnanya lembut, menghadap laut. Anak muda butuh pandangan jauh. Biar nggak gampang ngerasa mentok.”
Victor mengangguk, menyetujui tanpa perdebatan. Dan Sheen ikut mengangguk pelan. Tidak ada rasa diuji. Tidak ada tuntutan. Hanya rasa… tiba.
Di kejauhan, suara laut menyatu dengan bunyi pekerjaan yang belum selesai. Rumah ini belum sempurna—dan entah kenapa, itu terasa pas. Sheen menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya sejak mendarat di Eldeland, ia merasa tidak perlu berperan apa pun. Ia hanya perlu hadir.
***
Sebuah pintu putih dengan ukiran emas terbuka, menampilkan sebuah lounge yang tidak besar, tapi terasa lapang karena cahaya. Jendela kaca penuh membentang di satu sisi, langsung menghadap Laut Engelde yang sore itu tenang—biru kehijauan, tanpa kilau berlebihan. Tirai tipis berwarna krem dibiarkan terbuka, membiarkan garis laut masuk sebagai latar yang tidak menuntut perhatian.
Sheen melangkah masuk bersama Inara. Keduanya mengenakan hijab—Inara dengan balutan yang rapi dan matang, Sheen dengan gaya sederhana yang bersih. Tidak ada upaya menonjol. Tidak perlu. Ruangan itu sendiri sudah cukup berbicara.
Sofa melingkar berwarna netral mengisi tengah lounge, menghadap meja rendah dengan susunan minuman dan kudapan ringan: air mineral dalam botol kaca, teh hangat, buah potong, dan camilan kecil yang ditata tanpa pamer. Di sudut ruangan, beberapa keranjang bunga berdiri berjajar—tidak simetris, karena jumlahnya terus bertambah. Pita-pita nama tersemat rapi: Victor de Alghani, Rafid Rafhan Alghani, Kartika Noersudibyo Alghani, Inara Rakhafina Alghani, Iftikhar Utsman Alghani.
Seorang staf masuk tanpa suara, menambahkan satu keranjang bunga lagi, lalu keluar kembali. Tidak ada salam keras, tidak ada penjelasan. Semua tahu perannya.
Sheen duduk di sisi sofa yang paling dekat dengan jendela. Ia tidak gelisah. Ia hanya… hadir. Pandangannya sempat tertahan pada pantulan cahaya di lantai marmer, lalu pada laut yang tampak jauh tapi utuh. Di ruangan ini, waktu terasa bergerak pelan—bukan karena ditahan, melainkan karena diatur.
Pintu lounge terbuka lagi. Seorang pria paruh baya masuk, mengenakan setelan formal sederhana. Ia tersenyum sopan, menyapa Inara lebih dulu.
“Selamat atas pembukaannya, Bu Inara,” ucapnya singkat. “Temanya terasa sekali.”
“Terima kasih sudah menyempatkan hadir,” jawab Inara hangat, tanpa berpanjang kata.
“Tentu. Mulai hari ini, Eldewings Airlines dan AREH akan menjadi mitra strategis,” balas pria itu ringan, profesional.
Inara menanggapinya dengan senyum kecil.
Pria itu mengangguk ke arah Sheen—bukan sebagai undangan untuk berbincang, hanya pengakuan keberadaan—lalu pamit. Langkahnya segera menghilang ke arah ballroom. Lounge kembali tenang.
Sheen menangkap polanya dengan cepat. Masuk. Sapa. Keluar. Tidak ada yang tinggal terlalu lama. Tidak ada yang mengambil ruang lebih dari yang diperlukan.
Inara duduk di sebelahnya. Tangannya merapikan ujung hijab Sheen dengan gerakan kecil yang hampir tak terasa. Tidak ada nasihat. Tidak ada pertanyaan. Hanya keberadaan yang utuh.
“Kita di sini sebentar saja,” ucap Inara pelan.
Sheen mengangguk.
Beberapa saat kemudian, Rafid masuk. Kemejanya rapi, jas belum dikenakan. Ia menyapa Inara dengan anggukan kecil, lalu duduk sebentar sambil membaca sesuatu di tabletnya—cukup dekat untuk terlihat, cukup jauh untuk tidak mendominasi. Seorang staf mendekat, membisikkan sesuatu. Rafid mengangguk singkat, lalu memeriksa jam tangannya. Segalanya tampak berjalan sesuai ritme.
Rafid menoleh ke arah Sheen. Tidak lama. Tidak tajam. Hanya satu kalimat, diucapkan seperti pengingat biasa. “Nanti ikut Mama, ya.”
Sheen mengangguk lagi. Kali ini lebih mantap.
Di luar lounge, suara ballroom mulai terasa—musik lembut, percakapan yang lebih ramai, langkah-langkah yang bergerak cepat. Dunia yang lebih besar sedang menunggu, tepat di balik pintu. Seorang staf mengetuk ringan, lalu membuka pintu sedikit.
“Bapak,” ucapnya sopan mempersilahkan.