Sheen, Bunga Matahari yang Merunduk

Iqne zakiah
Chapter #11

Bidak yang Tidak Terduga

Angin laut bergerak pelan di lereng selatan Scrubel, membawa aroma garam yang tipis ke teras Alghani Seaside Estate. Di bawah langit yang terang, rumah itu berdiri tenang menghadap Laut Engelde. Bangunannya tidak terlihat seperti vila pameran atau resort mewah. Garis-garisnya bersih dan alami—kaca lebar, batu terang, kayu hangat—seolah rumah itu tumbuh dari lereng tanahnya sendiri.

Beberapa bagian luar masih dalam tahap akhir penyelesaian. Dua pekerja terlihat memasang panel kayu di jalur taman, sementara sebuah mobil logistik berhenti di area servis, menurunkan peti dekorasi yang baru tiba.

Namun bangunan utamanya sudah hidup. Di dalam, dapur terbuka menghadap ruang keluarga besar yang langsung memandang laut. Cahaya siang masuk dari jendela tinggi, memantul lembut di lantai kayu terang.

Kartika berdiri di dekat meja dapur, memeriksa potongan buah yang baru disiapkan staf.

“Jangan makan terlalu banyak, nanti perut Papa tidak nyaman,” katanya sambil melirik Victor yang sedang menikmati potongan mangga dengan lahap.

Victor duduk di kursi dekat jendela, tablet di tangannya. Mendengar ucapan itu, ia sempat tersentak dan mengangkat kepala. “Papa tidak selemah itu.”

Kartika tersenyum. “Papa juga bilang begitu waktu makan tiga potong kue kemarin.”

Victor menutup tablet, lalu menusuk satu potong mangga lagi. “Baik. Ini potongan terakhir.”

Di sisi lain ruangan, Key duduk di depan piano. Jemarinya bergerak ringan di atas tuts, menyenandungkan Clair de Lune dengan nyaris sempurna. Nada-nada lembut itu masih mengalun ketika Seaghani, AI Alghani Seaside Estate, berbicara pelan dari sistem rumah. “Sebuah mobil hitam telah tiba di pelataran depan.”

Permainan piano berhenti sebelum bagian akhirnya. Key menutup tutup tuts perlahan, lalu berdiri dari bangku piano. Ia menoleh ke arah pintu depan dengan senyum yang sudah setengah menertawakan sesuatu.

“Dia datang,” ucapnya antusias.

Kartika langsung menepuk tangan kecil. “Bagus! Anak itu datang tepat waktu.”

Pintu depan terbuka beberapa detik kemudian. Seorang staf mempersilakan tamu masuk. Eiden muncul di ambang pintu. Ia mengenakan kemeja linen terang dan celana panjang sederhana—jauh dari citra panggung yang biasa dilihat orang. Rambutnya sedikit tertiup angin laut, dan ia membawa senyum santai yang tidak terlalu formal.

“Selamat siang.” Ucap Eiden.

Key langsung berjalan menghampiri. “Lama juga perjalananmu.”

Eiden menepuk bahu Key ringan. “Macet, bro.”

Kartika sudah mendekat sebelum mereka selesai berbicara. “Hi, Eiden!” Nada suaranya hangat seperti menyambut keponakan lama.

Eiden segera sedikit membungkuk sopan. “Oma Kartika, apa kabar?.”

Kartika memegang lengannya sebentar. “Very good. Eiden, kamu kurusan? Kamu sehat kan, Eiden? Kamu tidak lupa makan selama tur dunia itu, kan?”

Eiden tertawa kecil. “Saya sehat, Oma. Malah saya banyak makan selama tur.”

Victor berdiri dari kursinya dan berjalan mendekat. “Welcome.”

Eiden memberi salam hormat kecil. “Senang akhirnya bisa bertemu langsung dengan Opa Victor.”

Di dekat meja dapur, Inara dan Rafid berjalan mendekat setelah tadi berbicara dengan seorang desainer interior mengenai tata letak studio melukis.

Ketika melihat Eiden, Inara tersenyum hangat. “Wah, lihat siapa yang datang. Sang bintang yang sedang bersinar terang.”

Eiden langsung sedikit menunduk. “Saya malah merasa tersanjung bisa dipuji oleh orang yang saya kagumi.”

Ia berjalan mendekat. “Tante Inara—”

Tangannya terangkat untuk bersalaman. Namun sebelum sempat menyentuh tangan Inara, sebuah tangan rafid bergerak lebih dulu.

Gerakannya cepat, tapi sama sekali tidak kasar. Dalam satu gerakan ringan, tangan Eiden sudah lebih dulu bersalaman dengannya.

Rafid tersenyum tipis. “Selamat datang, Eiden.”

“Terima kasih, Pak Rafid.”

Inara tertawa kecil, lalu menggandeng lengan suaminya. “Kapan terakhir kita bertemu, ya? Kalau tidak salah di Griya Baytara waktu kalian kelas tiga SMA, kan?”

“Betul, Tante.”

Key mengangkat alis. “Kamu masih ingat itu?”

“Tentu,” jawab Eiden.

“Bisa datang ke Griya Baytara saja sudah menyenangkan. Sekarang malah bisa melihat langsung Alghani Seaside Estate.”

Inara tersenyum. “Kamu bisa saja, Eiden. Kami justru senang kamu mau datang.”

Key mengangkat tangan memotong. “Bagaimana kalau kita duduk saja? Kalau pembicaraan ini diteruskan, makan siang kita keburu dingin.”

Kartika tertawa.

Di tengah percakapan ringan itu, Eiden menoleh ke sekeliling ruangan. Matanya menyapu ruang keluarga, dapur, lalu koridor kamar.

“Key.”

“Hmm?”

“Adikmu tidak di sini?”

Key mengedip. “Sheen?”

Eiden mengangguk. “Memang kamu punya adik lain?”

Key menyengir dan menunjuk ke arah koridor kamar. “Mungkin masih tidur.”

Kartika ikut menoleh. “Adikmu bangun lebih awal darimu, Key.”

Seolah mendengar namanya disebut, pintu koridor terbuka. Langkah ringan terdengar di lantai kayu. Sheen keluar dari arah kamar Sakura. Hijabnya sederhana, gaun rumah berwarna lembut jatuh rapi. Ia berhenti sejenak di ujung koridor, memperhatikan ruang keluarga yang kini sedikit lebih ramai.

Key mengangkat tangan. “Sheen.”

Sheen berjalan mendekat, sedikit terkejut melihat wajah yang familiar.

Key menepuk bahu Eiden. “Kalian belum pernah bertemu, kan? Ini Eiden—wakil kapten basket SMA Averaya International School dan seorang idol berbakat. Teman kakak.”

Eiden tersenyum hangat dan mengulurkan tangan untuk bersalaman. Sheen memperhatikan sejenak.

“Oh… iya. Saya Sheen.” Ia tersenyum ringan dan menunduk sopan.

Tangan Eiden masih menggantung di udara. Key menepuk lengannya. “Bukan mahram.”

Eiden mengangguk sambil tertawa kecil. “Benar juga.” Lalu menatap Sheen dengan ramah. “Jadi kamu Sheen.”

Sheen mengangguk sopan. “Iya.”

“Senang akhirnya bisa bertemu.”

“Senang bertemu juga.”

Percakapan itu sederhana. Tanpa kejutan. Namun entah kenapa, suasana ruang keluarga terasa sedikit berubah—seperti ada satu kursi lagi yang akhirnya terisi. Di luar jendela besar, Laut Engelde bergerak pelan di bawah matahari siang.

***

"Tolong segera sajikan sup hangatnya," ucap Kartika kepada staf sambil menunjuk ke arah ruang makan.

Meja panjang dari kayu terang sudah tertata rapi di sisi lain ruang keluarga. Serat alaminya membentang hampir sepanjang ruangan, sementara jendela kaca besar di sampingnya membuka pemandangan langsung ke Laut Engelde — airnya hari ini tenang, hampir seperti kaca.

Beberapa hidangan sudah tersaji: ikan panggang dengan saus lemon, sayuran panggang, sup ringan, nasi hangat, dan beberapa lauk kecil yang tampak sederhana tapi disiapkan dengan presisi.

Semua duduk tanpa banyak formalitas. Victor mengambil kursi di ujung meja yang menghadap laut. Kartika di sampingnya. Rafid dan Inara di sisi tengah, sementara Key menarik kursi di seberang mereka. Eiden duduk di samping Key. Sheen memilih kursi yang sedikit lebih dekat ke jendela. Angin laut masuk tipis melalui celah ventilasi, membawa aroma asin yang lembut.

Beberapa menit pertama diisi dengan suara peralatan makan dan percakapan ringan.

Kartika menuangkan sup ke mangkuk Eiden. "Cobalah. Ini makanan tradisional Scrubel."

Lihat selengkapnya