Sheen, Bunga Matahari yang Merunduk

Iqne zakiah
Chapter #12

Laut Buffor

Pesawat keluarga Alghani mulai menurunkan ketinggian menjelang sore. Dari jendela oval di sisi kursinya, Redho melihat garis pantai di kejauhan—laut yang memantulkan warna perak di bawah langit mendung tipis.

Awalnya ia mengira itu hanya pemandangan kota pesisir biasa. Dalam perjalanan keluarga besar seperti Alghani, rute sering berubah. Kadang mereka mendarat di kota lain sebelum melanjutkan perjalanan.

Namun ketika roda pesawat menyentuh landasan dengan getaran lembut, lalu melambat perlahan di samping bangunan terminal kaca bertuliskan BUFFOR INTERNATIONAL AIRPORT, alis Redho langsung berkerut.

Ia menoleh ke kursi di sebelahnya. “Kyu.”

Kyu yang sejak tadi duduk tenang dengan headphone di lehernya membuka mata perlahan. “Hm?”

Redho menunjuk ke luar jendela. “Kita mendarat di Buffor.”

Kyu menoleh sebentar, lalu kembali duduk santai. “Iya.”

Redho menatapnya beberapa detik, lalu terkekeh pendek. “Bukannya acara keluarga Shirakawa di Kedo?”

“Iya.”

“Sejak kapan Kedo pindah ke Buffor?”

Kyu menjawab datar. “Kedo tetap Kedo, Bang. Buffor tetap Buffor. Jaraknya sekitar tiga ratus kilometer.”

Redho menyandarkan punggung ke kursi. “Oke. Jadi kita sengaja mendarat di Buffor?”

Kyu tidak langsung menjawab. Ia meraih ranselnya dari kursi seberang ketika salah satu kru memberi isyarat bahwa mereka sudah bisa turun. “Ya.”

Redho menghela napas kecil. “Boleh aku tahu kenapa?”

Kyu sudah berdiri. “Sebentar lagi juga abang bakal tahu.”

Jawaban itu membuat Redho mendesah pelan, tapi ia tidak mengejar lagi. Mereka turun dari pesawat lewat tangga portabel ke landasan yang mulai diselimuti angin asin. Udara Buffor lebih lembap daripada Averaya. Dan entah kenapa terasa sedikit lebih sunyi.

Mobil yang sudah menunggu di area privat segera mendekat. Seorang sopir turun lebih dulu dan menunduk sopan. “Selamat datang, Tuan Kyu. Mobil sudah siap.”

Perjalanan dari bandara menuju kota berlangsung sekitar dua puluh menit. Buffor terlihat rapi. Bahkan terlalu rapi untuk kota pesisir yang pernah dihantam bencana besar. Bangunan-bangunan baru berdiri bersih di kiri kanan jalan, dengan taman kecil dan jalur pejalan kaki yang terawat. Namun di beberapa titik, Redho masih menangkap sesuatu yang berbeda.

Sebuah tugu batu dengan ukiran tanggal. Mural besar bergambar ombak yang menjulang seperti dinding air. Dan di beberapa persimpangan, papan kecil dengan tulisan sederhana: Remember Buffor.

Redho melirik ke arah Kyu. Sejak tadi Kyu tidak banyak bicara. Ia hanya menatap keluar jendela mobil, seperti sedang mencari sesuatu di antara bangunan dan jalan yang mereka lewati.

Mobil akhirnya keluar dari kawasan kota dan menuju jalan pesisir. Laut muncul di sisi kanan. Airnya tenang, memantulkan cahaya sore yang mulai memudar. Beberapa perahu nelayan tampak kecil di kejauhan. Mobil berhenti di sebuah area parkir kecil dekat pantai.

Kyu membuka pintu lebih dulu. Angin laut langsung menyapu wajah mereka begitu mereka turun. Redho menatap sekitar. Pantai itu bersih, luas, dengan pasir pucat yang memanjang hingga ke ujung cakrawala. Ombak bergerak pelan, seperti napas yang panjang dan tenang. Di kejauhan, sebuah struktur batu besar berdiri menghadap laut.

Seperti monumen.

Redho menoleh ke Kyu. “Ini tempat yang mau kamu datangi?”

Kyu mengangguk. Untuk beberapa detik ia hanya berdiri diam menatap laut. Lalu berkata pelan, “Ada seseorang yang harus aku kunjungi dulu.”

Ia mulai berjalan menuju pantai. Redho mengikuti beberapa langkah di belakangnya. Langit Buffor sore itu berwarna pucat—antara abu dan emas. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka meninggalkan Averaya, Redho mulai merasa bahwa perjalanan ini bukan sekadar perjalanan biasa.

***

Pasir di pantai Buffor terasa halus di bawah sepatu mereka. Angin laut bergerak pelan, membawa aroma asin yang bersih. Ombak datang dan pergi dengan ritme yang hampir menenangkan—seolah laut di hadapan mereka tak pernah melakukan apa pun selain bernapas perlahan sepanjang hidupnya.

Kyu berjalan beberapa langkah lebih dulu, lalu berhenti di tepi pasir. Ia menatap garis ombak beberapa saat tanpa berkata apa-apa. Redho berdiri di sampingnya.

“Tempatnya bagus,” gumamnya.

Kyu mengangguk pelan. “Sekarang sudah bagus.”

Redho menangkap nada itu. Sekarang. Ia menoleh sedikit, memperhatikan garis pantai yang panjang. Beberapa relawan tampak bekerja di kejauhan—dua orang memungut sampah plastik yang terselip di dekat batu karang. Di sisi lain, sebuah papan kecil tertancap di pasir: Keep Buffor Clean.

Kyu menunduk membuka ranselnya. Ia mengeluarkan sepasang sarung tangan kain, lalu melempar satu ke arah Redho. Redho menangkapnya refleks.

“Serius?” tanyanya.

Kyu sudah berjalan menuju garis pantai. “Kita bersihin pantai dulu yok, Bang.”

Redho menghembuskan napas pendek, lalu tertawa kecil. “Jadi ini alasan kita terbang delapan jam dari Averaya?”

“Sebagian.”

Redho akhirnya mengenakan sarung tangan itu juga. Mereka berjalan menyusuri pantai pelan. Sesekali membungkuk mengambil botol plastik yang tersangkut di antara rumput laut kering, potongan jaring nelayan, atau bungkus makanan yang terbawa arus. Tidak banyak. Pantai itu sebenarnya sudah cukup bersih. Namun Kyu tetap melakukannya dengan telaten, seolah setiap benda kecil yang ia ambil memiliki arti.

Redho memperhatikannya beberapa saat. “Kamu sering ke sini?”

“Kadang.” Jawab Kyu sembari memungut sedotan plastik.

Redho mengangguk, lalu bertanya lagi. “Sendiri?”

Kyu menggeleng pelan. “Seringnya bareng Kana.”

Redho mengangguk kecil. Mereka terus berjalan beberapa meter lagi. Di kejauhan, sesuatu mulai terlihat lebih jelas. Sebuah struktur batu besar berdiri menghadap laut. Semakin dekat mereka berjalan, bentuknya semakin tampak seperti dinding granit yang tinggi. Permukaannya dipenuhi ukiran kecil—baris demi baris tulisan yang tertata rapi.

Nama.

Tanggal.

Ratusan. Mungkin ribuan.

Langkah Redho melambat. Angin laut terasa sedikit lebih kencang di sini. Di bagian atas dinding batu itu terukir sebuah kalimat besar:

BUFFOR REMEMBRANCE MONUMENT

For those the sea took, and those who remain.

Redho berdiri beberapa langkah dari monumen itu. Ia membaca beberapa nama secara acak. Beberapa nama keluarga muncul berulang. Di sudut bawah granit, ia melihat ukiran kecil lain.

Built by Shirakawa Group & Alghani Holdings

Redho menoleh ke arah Kyu. “Ini monumen tsunami yang dibangun keluargamu?”

Kyu berdiri di depan dinding batu itu dengan tangan di saku jaketnya. “Iya.” Ia menunjuk ke arah garis pantai. “Dulu... dri sini sampai lima kilometer ke sana… hancur rata oleh gelombang setinggi tiga puluh meter.”

Redho mengikuti arah tangannya.

Kyu melanjutkan dengan suara tetap tenang. “Nama-nama yang tertulis di sini adalah dua puluh dua ribu warga Distrik Tome yang hilang.”

Ia menunjuk ke arah barat. “Tiga ratus meter dari sini ada satu dinding lagi. Berisi tiga puluh ribu nama warga Distrik Tobe.”

Pantai kembali sunyi. Hanya suara ombak dan angin yang bergerak pelan.

Redho menunggu beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan, “Aku tidak bisa membayangkannya.”

Kyu tidak langsung menanggapi. Beberapa kenangan lama bergerak perlahan di benaknya. Ia berjalan mendekati monumen, lalu berhenti tepat di depannya. Kepalanya menunduk sebentar.

“Oto-san… Okaa-san.” Suaranya lebih pelan dari sebelumnya. “Kyu datang.”

Ia menarik napas kecil. “Maaf datang tanpa Kana. Kana sedang sangat sibuk di Kedo. Nanti kami akan datang lagi.”

Angin laut meniup rambutnya sedikit. “Oto-san... Saya akan melindungi Kana.” Suaranya hampir seperti janji. “Silakan tenang di alam sana.”

Redho berdiri beberapa langkah di belakangnya. Baru sekarang ia benar-benar menyadari kepada siapa Kyu berbicara.

Kyu menoleh sedikit ketika melihat kebingungan di wajah sahabatnya. Ketika ia berbicara lagi, suaranya kembali tenang. “Tiga belas tahun lalu… ada seorang anak yang datang ke kota ini.”

Redho tidak menyela.

“Dia sakit, Bang.” lanjut Kyu. “Tapi dia tetap ingin membantu orang lain.”

Angin meniup rambut Kyu sedikit ke samping. Ia menatap laut. “Di sini dia bertemu seorang anak.” Ia berhenti sejenak. “Dan berkat orang itu… aku juga bertemu dengan anak itu.”

Redho mulai memahami arah cerita itu. “Kana?”

Kyu mengangguk. “Namanya waktu itu Hikana Tomoye.”

Redho kembali menatap dinding granit itu. Dan baru sekarang ia menyadari sesuatu. Di antara deretan nama yang terukir di batu, ada beberapa nama dengan marga yang sama. Tomoye. Potongan cerita mulai menyatu di kepalanya.

“Jadi…” Ia berhenti sejenak. Takut menyimpulkan terlalu cepat.

Kyu menoleh padanya. “Kana adalah penyintas tsunami Buffor.” Ia berhenti sebentar. “Dan satu-satunya yang selamat dari keluarganya.”

Redho terdiam. Angin laut kembali bergerak melewati mereka.

Beberapa detik berlalu sebelum Kyu berkata pelan, “Aku datang ke sini hari ini… untuk meminta izin.”

Redho mengerutkan alis. “Izin?”

Lihat selengkapnya