Ruang makan keluarga Alghani malam itu temaram oleh cahaya lampu gantung klasik. Di atas meja panjang kayu jati, hidangan sederhana terhidang: sup ayam kampung, sambal terasi, tamagoyaki, capcay, dan semangkuk kecil kerupuk udang. Namun bukan makanan yang menyatukan mereka malam itu—melainkan diam.
Rafid duduk di ujung meja dengan peta lokasi bencana terbentang di samping piringnya. Yohan di sebelahnya sesekali mengecek buku catatan kecil berisi daftar kebutuhan logistik.
Inara menyuapi Sheen, sementara Emi memotong sayur tanpa benar-benar melihat apa yang ada di tangannya.
“Aku sudah dapat izin dari relawan pusat,” ucap Rafid akhirnya, memecah hening. “Besok aku berangkat. Kita akan distribusi logistik langsung ke zona dua.”
“Aku ikut,” kata Yohan tenang. Ia menutup catatannya. “Kalau kita bisa bangun dapur umum, pos medis, dan tempat tinggal darurat dalam tiga hari… itu bisa jadi penyambung nyawa.”
Tak ada yang langsung menjawab. Lalu sebuah suara kecil terdengar dari sisi meja. “Aku juga mau ikut.”
Semua kepala menoleh.
Seorang gadis kecil duduk di samping Emi—rambut sebahunya diikat dua, mengenakan kaus biru dan jaket abu-abu, kaki menggantung dari kursinya. Matanya besar dan jernih.
Yohan tersenyum kecil. “Sayang, tempat yang akan Oto-san kunjungi bukan tempat untuk anak-anak.”
“Aku janji nggak akan nyusahin,” gumamnya.
“Nana…” suara Emi lembut tapi tegas. “Di sana banyak lumpur. Bisa kotor. Bisa bahaya.”
“Aku cuma mau lihat,” bisik Nana. Ia menunduk sebentar. “Cuma mau tahu rasanya bantu orang.”
Tak ada yang berbicara. Nana mengangkat wajahnya lagi. “Mungkin ada teman yang perlu diajak ketawa.”
Rafid meletakkan sendoknya perlahan. Di sisi lain meja, Key dan Kyu saling melirik.
Inara berkata pelan. “Sayang… tubuh kamu nggak boleh terlalu lelah.”
Nana menggigit bibirnya sebentar. “Tapi Nana mau bantu orang.”
Jari-jemarinya saling memintil. Ia menarik napas kecil. “Kalau Nana bisa bantu… Nana senang.”
Ruangan kembali sunyi. Emi menggenggam tangan anaknya erat.
Yohan menunduk beberapa saat sebelum akhirnya berkata pelan, “Apa Dokter Sakamoto akan ikut?”
“Iya,” jawab Rafid. “Beliau standby di Rumah Sakit Universitas Buffor.”
Yohan menatap Emi. Pertanyaan tanpa kata berpindah di antara mereka. Beberapa detik berlalu sebelum Emi mengangguk perlahan.
Yohan menarik napas panjang. “Tapi kamu harus janji, Nana.”
“Janji!” jawab Nana cepat. Senyumnya langsung merekah.
Yohan ikut tersenyum melihat semangat Nana. Lalu kembali melanjutkan kalimatnya, “Kalau capek, kamu bilang. Kalau sakit, langsung istirahat.
Dan harus makan tiga kali.”
“Siap, Oto-san!”
Key langsung mengangkat sendoknya tinggi-tinggi. “Untuk ekspedisi pertama Geng Jelly Laut!”
Nana tertawa. “Geng Jelly Laut membantu dunia!”
Kyu menggeleng pelan, setengah tak percaya, setengah tersenyum.
Di luar rumah, malam turun perlahan. Dan di tengah tragedi besar yang baru saja mengguncang dunia, seorang gadis kecil telah memutuskan sesuatu yang sangat sederhana: ia ingin membantu.
***
Ruang keluarga Alghani diselimuti cahaya lampu kuning lembut. Angin malam menyusup pelan lewat jendela yang sedikit terbuka. Dari kejauhan, suara jangkrik terdengar samar.
Rafid berdiri di dekat meja teh, memeriksa beberapa lembar kertas yang baru saja ia bawa dari ruang kerja. Peta Buffor terbentang di atas meja—dengan beberapa titik yang ditandai tinta merah.
Inara duduk di sofa sambil memeluk Sheen kecil yang sudah tertidur. Ia membetulkan selimut putrinya perlahan agar tidak terbangun.
“Truk logistik pertama berangkat subuh,” kata Rafid pelan. “Air bersih, selimut, dan obat-obatan dasar.”
Inara mengangguk. “Zona dua masih paling parah?” tanyanya.
“Iya.” Rafid menunjuk salah satu titik di peta. “Tim relawan pusat sudah membuka dapur umum di sini. Kita akan bantu bangun pos medis tambahan dan tempat tinggal darurat.”
Ia menarik napas pelan. “Kalau cuaca bersahabat… tiga hari pertama ini yang paling menentukan.”
Di lantai dekat meja, Key duduk diam sambil memeluk lututnya. Sejak tadi ia mendengarkan tanpa menyela. Setelah beberapa saat, ia berdiri dan berjalan mendekat ke sofa.
“Ma…” suaranya pelan.
Inara menoleh. “Iya, Sayang?”
Key mulai memijat kaki ibunya seperti biasa—gerakan kecil yang sudah sering ia lakukan sejak kecil. Ia menarik napas sebentar. “Boleh Key ikut juga ke Buffor?”
Inara sedikit terkejut. “Key…”
“Aku harus melindungi Nana,” katanya mantap. Tak ada nada main-main dalam suaranya.
Rafid yang berdiri di dekat meja berhenti sejenak. Ia bertukar pandang dengan Inara. Keduanya tahu kalimat itu bukan sekadar keinginan ikut-ikutan.
Inara menatap putranya beberapa detik. “Tempat bencana bukan tempat bermain, Sayang.”
“Aku tahu.” Key mengangguk cepat. “Aku bisa bantu angkat barang. Atau bantu anak-anak di sana. Aku nggak akan nakal.”
Ia menunduk sedikit. “Lagipula… Nana pasti butuh teman.”
Ruangan kembali sunyi beberapa saat. Akhirnya Inara menghela napas kecil. “Baiklah.”
Key langsung mengangkat kepala.
“Tapi kamu harus jaga sikap,” lanjut Inara. “Jangan sembarangan lari-larian. Dengarkan orang dewasa. Dan yang paling penting—perhatikan Nana.”
Key mengangguk cepat.
Rafid menambahkan dengan nada tenang, “Kalau ada apa-apa, langsung lapor ke Papa. Jangan sok jadi pahlawan sendirian.”
Key langsung memberi hormat dengan wajah serius. “Siap, Sir!” Matanya berbinar.
“Aku packing dulu!” Ia berlari ke arah kamar. “Geng Jelly Laut siap membantu dunia!”
Langkah kecilnya menghilang di koridor. Inara tersenyum kecil, lalu menoleh ke sofa panjang di dekat jendela. Kyu duduk di sana sejak tadi, memeluk bantal kecil sambil menatap lantai. Ia jelas mendengar semua percakapan itu.
“Kamu tidak mau ikut, Kyu?” tanya Inara lembut.
Kyu menoleh perlahan. Matanya tenang, tapi dalam. Beberapa detik berlalu sebelum ia berdiri.
“Aku ikut.” Suaranya pelan, tapi pasti. “Aku harus menjaga Key dan Nana.”
Inara menatap putranya sebentar, lalu mengangguk. “Baiklah, Sayang.” Ia tersenyum lembut. “Mama titip mereka, ya.”
Kyu mengangguk kecil, mencium pipi Inara, lalu berjalan menuju kamarnya. Langkahnya ringan—sedikit lebih cepat dari biasanya. Tak lama kemudian, terdengar suara koper dibuka dan tawa kecil Key dari dalam kamar.
Rafid duduk di samping Inara. Ia merangkul bahu istrinya pelan. “Apa boleh mereka pergi ke tempat bencana? Bukankah itu bisa memengaruhi mental mereka?” tanyanya lirih.
Inara terdiam beberapa saat. Tatapannya jatuh ke arah peta Buffor yang terbentang di meja. Di kepalanya, berbagai kemungkinan berputar pelan. Key dan Kyu sudah melewati ujian kemandirian keluarga Alghani—ujian yang tidak pernah mudah bagi siapa pun yang menjalaninya. Mereka terbiasa menghadapi situasi tak terduga, membaca bahaya, dan mengambil keputusan sendiri.