Sheen, Bunga Matahari yang Merunduk

Iqne zakiah
Chapter #14

Paus yang Terdampar

Langit mulai menguning di balik kaca jendela besar kamar 712. Tirai linen bergoyang lembut diterpa aliran ventilasi internal. Ruangan itu senyap dan mewah dalam kehangatan warna netral—seolah setiap detailnya dirancang untuk memberi ketenangan bagi jiwa-jiwa kecil yang sedang berjuang.

Di sisi kanan tempat tidur, monitor medis menyala lembut. Grafik denyut jantung, saturasi oksigen, dan tekanan darah berpijar dalam cahaya hijau pucat—tanpa suara.

Di sisi kiri tempat tidur, sebuah vas mawar putih berdiri tenang. Di sampingnya, sebuah boneka paus rajut kecil: Momo. Boneka kembar dari yang Nana berikan kepada Kana.

Kyu duduk di kursi dengan ransel di pangkuan. Key bersandar santai di sisi kanan tempat tidur. Keduanya tampak ceria, berusaha menarik Nana kembali ke dunia luar yang penuh warna.

“Raporku semuanya dapet A,” kata Kyu sambil mengangkat satu jari. “Eh… tapi juga dapet satu C.”

“Karena kamu ngelupain PR bahasa tiga kali,” sambung Key tanpa ampun.

Nana terkekeh pelan.

“Cuma satu C? Hebat…” kata Nana. Lalu ia menoleh perlahan. “Kalau Key…?”

Key mengangkat bahu. “Enam A. Tiga B. Satu… nilai yang tidak boleh disebut.”

Kyu menyeringai. “Nilai itu ada karena dia ketiduran pas ujian listening bahasa Nihashira.”

“Mereka muter rekaman jam delapan pagi!” protes Key. “Siapa yang bisa fokus dengerin logat Nihashira asli yang cepat kayak peluru?”

Nana tertawa kecil. Namun tawa itu berubah menjadi batuk pelan. Emi segera bangkit dari kursinya. Ia memeriksa selang oksigen dan mengusap pundak putrinya perlahan. “Pelan saja ya, Sayang…”

“Aku baik-baik saja, Oka-san…” bisik Nana, masih tersenyum.

Beberapa saat kemudian Nana kembali berbicara. “Jadi kalian mau liburan ke mana?”

Kyu tampak ragu sesaat—seolah takut menyinggung sesuatu. “Papa bilang… liburan semester ini kita ke rumah Oma Mama di Ranumbang.”

Mata Nana langsung berbinar. “Yang punya pohon rambutan besar itu?”

Key mengangguk. “Dan kolam ikannya. Paman bungsu udah beliin joran sama jaring kecil buat mancing.”

“Pasti seru…” ucap Nana pelan. Ia menatap langit-langit kamar sebentar. “Aku jadi mau ikut…”

Key langsung meraih tangan Nana. “Boleh. Tapi kamu harus sembuh dulu.” Ia tersenyum lebar. “Biar bisa ikut.”

Nana mengangguk kecil. Namun bayangan sendu sempat melintas di wajahnya—begitu cepat hingga hampir tak terlihat.

Menjelang pukul enam sore, Kyu dan Key pun pamit. Key menepuk punggung tangan Nana dengan lembut. “Besok kita datang lagi. Bawa gambar laut dan pantai, oke?”

Nana mengangguk lemah. “Dan… kalau sempat… cari mochi rasa stroberi…”

“Siap!” jawab Key.

Pintu kamar tertutup perlahan. Langkah kaki dua saudara itu menghilang di lorong rumah sakit. Suasana kamar kembali seperti semula. Lampu gantung dinyalakan, tidak terang, tapi cukup untuk mengusir gelap yang mulai datang. Emi duduk di sisi tempat tidur. Ia memperbaiki selimut Nana dan membetulkan posisi diffuser aroma di dekat kepala tempat tidur.

“Oka-san…” bisik Nana.

“Hm?”

“Bagaimana dengan Kana…?”

Emi menoleh.

“Apa keluarga aslinya sudah ketemu?”

Emi menghela napas pelan. Ia menggenggam tangan Nana erat. “Tim pencarian sudah kirim informasi ke jaringan nasional dan internasional,” katanya lembut.

“Kita juga hubungi kementerian sosial dan organisasi penyintas Buffor.” Ia berhenti sejenak. “Tapi… sampai sekarang belum ada hasilnya, Sayang.”

“Jadi…” suara Nana bergetar. “Nggak ada yang nyari dia?”

Emi menunduk sedikit. “Belum.”

Ia mengusap tangan Nana perlahan. “Mungkin keluarga aslinya… tidak selamat. Atau mungkin mereka belum bisa ditemukan.”

Nana menatap langit-langit kamar. Beberapa detik berlalu. Lalu ia berkata pelan, “Kalau… tidak ada yang datang untuk Kana… Bolehkah dia tinggal saja di sini?”

Suara Nana hampir seperti bisikan. “Bersama kita?” Matanya berkaca-kaca. “Nana ingin Kana ada di rumah kita.”

***

Langit sore di Distrik Tomawa masih menyisakan warna jingga pucat ketika mobil keluarga Shirakawa berhenti di depan lobi timur Hygeia Hospital.

Kana melangkah turun dengan hati-hati. Jaket rajutnya terlalu besar untuk bahunya yang kurus. Di dadanya, boneka paus rajut berwarna biru pudar, Momo, dipeluk erat, seolah menjadi satu-satunya benda yang membuat dunia terasa sedikit lebih stabil.

Di dalam lift, ia hampir tidak berbicara. Hanya anggukan kecil yang menjawab pertanyaan Emi ketika ia bertanya apakah Kana sudah siap. Ketika pintu lift terbuka, koridor lantai tujuh yang sunyi menyambut mereka. Lampu-lampu dinding menyala lembut. Bau antiseptik bercampur dengan aroma bunga dari vas-vase kecil di sepanjang lorong. Napas Kana mulai terasa lebih cepat. Namun ia tetap berjalan.

Kamar 712 hanya setengah menyala. Cahaya lampu gantung diredupkan menjadi temaram hangat. Nana terbaring dengan selang oksigen kecil di hidungnya. Matanya setengah terbuka. Di tangannya tergenggam selembar kertas bergambar yang baru saja ia warnai pagi tadi.

Ketika pintu terbuka perlahan dan Emi masuk lebih dulu, Nana menoleh pelan. “Kana…” bisiknya.

Kana berdiri di ambang pintu. Matanya tak berkedip, menatap sahabat kecilnya yang kini tampak jauh lebih lemah daripada terakhir kali mereka bertemu di Buffor.

Nana tersenyum tipis. “Kamu datang…”

Emi menyentuh bahu Kana dengan lembut. “Oka-san tunggu di luar, ya…”

Kana mengangguk—pelan sekali. Ia melangkah masuk tanpa suara, lalu duduk di kursi di samping tempat tidur. Boneka Momo masih ia peluk erat, seperti jimat kecil yang tak boleh dilepaskan. Untuk beberapa menit, mereka hanya diam.

Nana menatap wajah Kana. Cahaya matanya tenang—namun dalam, seolah semua kata yang penting sudah ia simpan sejak lama.

“Aku… simpan Momo-ku juga,” bisik Nana. Matanya bergerak pelan ke arah bantal di sisi kiri. “Di situ…”

Kana menoleh. Di atas bantal kecil, boneka paus rajut lain terbaring rapi.

“Sekarang ada dua Momo,” lanjut Nana pelan. “Kembar.”

Kana tidak menjawab. Ia hanya menatap boneka itu beberapa detik. Lalu perlahan, ia mengangkat boneka Momo yang ia bawa dari Buffor dan meletakkannya di samping boneka milik Nana.

“Dia… mau tidur di sini juga,” bisiknya lirih. Suaranya nyaris tak terdengar.

Nana tersenyum, lalu menepuk sisi bantalnya pelan. “Dua Momo… jagain kita, ya?”

Kana mengangguk. Bibirnya tetap tenang, tapi sorot matanya menjadi lebih lembut. Nana menarik napas pelan. Lalu ia mengangkat sebuah foto kecil yang tadi diterimanya lewat surat.

“Tadi… Key dan Kyu kirim gambar,” katanya. Ia memperlihatkan foto itu kepada Kana. “Kolam ikan di Ranumbang.”

Nana menatap Kana. “Kamu suka ikan?”

Kana mengangguk kecil.

“Aku mau kamu ikut ke sana nanti,” lanjut Nana. Suaranya lembut, tapi jelas. “Harus ikut. Janji?”

Kana menunduk. Beberapa detik berlalu. Lalu perlahan, ia mengangkat tangannya—dan menyentuh jemari Nana yang pucat. Ia menggenggamnya lembut.

“Kalau kamu pergi ke sana duluan…” bisik Kana. “…aku nyusul nanti.”

Mata Nana sedikit membesar. Lalu perlahan tertutup. Senyum kecil masih tersisa di bibirnya. Jemarinya membalas genggaman itu—tipis, namun nyata.

“Janji ya,” bisik Nana pelan. Kana mengangguk. Kali ini lebih mantap.

***

Langit Kedo cerah pagi itu. Di kamar 712, sinar matahari menerobos jendela dan menyentuh lantai kayu yang mengilap. Aroma lembut dari diffuser bunga mimosa mengisi ruangan.

Nana duduk tegak di tempat tidur. Piyama putihnya rapi, selang oksigen masih menempel di hidungnya, tapi matanya bening dan wajahnya cerah. Di sebelahnya, Kana duduk diam di kursi. Ia memeluk boneka paus rajut kecil, Momo, dan sesekali melirik buku gambar yang tergeletak di pangkuan Nana.

Lihat selengkapnya