Tiga belas tahun kemudian, sore di Kedo datang dengan langit yang lebih cerah. Kereta cepat dari Buffor melambat halus saat memasuki stasiun pusat Kedo. Di balik jendela lebar, kota itu tampak rapi dan tenang—bangunan berwarna netral, jalur hijau yang tertata, dan arus manusia yang bergerak tanpa gaduh. Tidak ada hiruk-pikuk berlebihan. Semua tampak berjalan dalam ritme yang teratur, seperti kota yang sudah terlalu lama akrab dengan disiplin dan kesunyian.
Jam di layar digital menunjukkan 12.50. Redho berdiri lebih dulu saat pintu kereta terbuka. Ia merapikan tas selempang di bahunya, lalu menoleh ke belakang, memastikan koper mereka ikut turun. Kyu berjalan di sampingnya seperti biasa—tenang, tidak tergesa, tapi juga tidak lambat.
Udara Kedo jauh berbeda dari Buffor. Lebih kering. Lebih dingin. Dan entah kenapa, terasa lebih rapi bahkan dari cara anginnya menyentuh wajah. Mereka berjalan melewati gerbang kedatangan. Beberapa orang menunggu dengan papan nama, sebagian lagi berdiri sambil memegang ponsel dan melirik arus penumpang yang keluar.
Redho sempat mengira akan ada staf keluarga Shirakawa yang menjemput mereka. Namun di antara kerumunan yang tertata itu, Kyu langsung berhenti. Redho mengikuti arah pandangnya.
Seorang perempuan berdiri beberapa meter dari pintu keluar, memegang tas tangan kecil dengan kedua tangan di depan tubuhnya. Pakaiannya sederhana—blouse krem lengan panjang, rok lurus warna abu muda, dan sepatu flat hitam tanpa detail mencolok. Semuanya jatuh rapi, nyaman, dan tenang. Rambutnya panjang lurus, dibiarkan tergerai sampai melewati punggung, bergerak pelan saat angin dari pintu otomatis menyapu area kedatangan.
Wajahnya anggun, tapi tidak dibuat-buat. Cantik dengan cara yang diam. Sorot matanya lembut, namun jelas menyimpan ketenangan yang terlatih. Dan saat melihat Kyu, perempuan itu tersenyum kecil. Bukan senyum lebar. Hanya senyum tipis yang cukup untuk menghangatkan seluruh wajahnya.
Redho tidak perlu diberi tahu dua kali. Dia tahu, gadis itu Kana.
Kyu melangkah lebih dulu. “Assalamu’alaikum.”
Kana mengangguk kecil, lalu menjawab dengan suara lembut yang nyaris setenang ekspresinya. “Wa’alaikumsalam.”
Tak ada pelukan. Tak ada adegan berlebihan. Hanya tatapan singkat yang terasa akrab, seperti dua orang yang tidak perlu banyak kata untuk memastikan bahwa semuanya baik-baik saja.
“Kamu nyetir sendiri?” tanya Kyu.
Kana mengangguk. “Iya. Hari ini aku yang jemput.”
“Sendirian?”
“Mm.” Sudut bibir Kana naik sedikit. “Aku masih bisa loh bedain stasiun dan rumah.”
Redho menahan senyum kecil. Jawaban itu sangat singkat, sangat datar, dan entah kenapa sangat terasa seperti versi perempuan dari Kyu.
Kana lalu mengalihkan pandangannya pada Redho. Ia membungkuk kecil dengan sopan. “Halo. Aku Kana.”
Redho segera membalas dengan anggukan hormat.
“Redho. Senang akhirnya bisa ketemu langsung.”
Kana mengangguk lagi. “Aku juga.”
Jeda singkat jatuh di antara mereka, tapi tidak terasa canggung. Lebih seperti ruang yang memang diberikan Kana agar orang lain bisa masuk pelan-pelan.
“Kyu sering cerita tentang Bang Redho” lanjutnya.
Redho melirik Kyu sekilas. “Semoga yang diceritain baik-baik.”
Kana menoleh pada Kyu sebentar, lalu kembali pada Redho. Kali ini ada senyum tipis yang sedikit lebih jelas.
“Sejauh ini... baik.”
Redho menghela napas pendek. “Alhamdulillah.”
Kana menambahkan datar, “Kalau tidak, aku tidak akan datang menjemput.”
Redho benar-benar harus menahan tawa sekarang. Ia belum genap lima menit bertemu Kana, tapi sudah sangat jelas kenapa Kyu dan gadis ini bisa saling memahami.
Mereka bergerak menuju area parkir. Kana berjalan di sisi kiri Kyu, sementara Redho beberapa langkah di belakang, cukup dekat untuk mendengar percakapan ringan mereka.
“Perjalanan lancar?” tanya Kana.
“Lancar,” jawab Kyu. “Kereta tiba tepat waktu.”
Kana mengangguk. “Baguslah.”
Lalu, setelah jeda pendek, ia menambahkan dengan suara lebih pelan,
“Buffor gimana?”
Pertanyaan itu membuat langkah Kyu melambat sepersekian detik.
“Tenang,” jawabnya. “Kemarin kami ke monumen.”
Kana menunduk sebentar, menerima jawaban itu seperti seseorang yang sudah tahu lapisan makna di baliknya. “Terima kasih,” katanya.
Kyu tidak menjawab. Hanya menoleh sebentar padanya.
Mereka tiba di mobil beberapa saat kemudian. Sebuah sedan warna hitam dengan interior bersih dan wangi lembut seperti linen kering.
Kana membuka bagasi sendiri sebelum Kyu sempat mengambil koper.
“Aku bisa,” katanya singkat.
Kyu tetap mengambil satu koper dari tangan Kana tanpa membantah.
Redho memperhatikan itu diam-diam. Bukan pertengkaran. Bukan juga romantisme yang mencolok. Hanya dua orang tenang yang sama-sama terbiasa mandiri, lalu secara refleks saling membantu.
Setelah koper masuk ke bagasi, Kana menutupnya perlahan. Ia lalu menoleh pada Redho. “Maaf kalau hari ini jemputannya sederhana. Harusnya aku bawa orang rumah, tapi aku pikir… lebih enak begini.”
Redho menggeleng cepat. “Justru enak begini. Lebih santai.”
Kana mengangguk kecil, tampak lega. “Bagus.”
Lalu ia membuka pintu kursi pengemudi. “Kalau begitu, ayo pulang.”
Dan di tengah sore Kedo yang tenang, untuk pertama kalinya Redho melihat Kana bukan sebagai nama dalam cerita masa kecil Kyu, melainkan sebagai seseorang yang nyata: perempuan yang tumbuh dari luka, tetap lembut, dan berdiri dengan tenang di dalam hidup yang tak pernah benar-benar mudah.
***
Mobil Kana berhenti di depan lobi AREH Hotel Kedo. Bangunan itu berdiri anggun di sudut jalan utama distrik Himabane, Kedo. Fasad kaca tinggi dengan garis arsitektur sederhana, rapi dan modern. Tidak mencolok, tetapi jelas dirancang untuk tamu yang terbiasa dengan standar tinggi.
Seorang petugas valet segera membuka pintu mobil. Kyu turun lebih dulu, lalu membantu mengeluarkan koper dari bagasi. Redho berdiri di sampingnya, menatap bangunan hotel itu sekilas. “MasyaAllah,” gumamnya pelan.
Kana menutup bagasi perlahan. “Kalian istirahat dulu. Aku harus kembali ke rumah sebentar. Ada beberapa hal yang harus disiapkan.”
Kyu mengangguk. “Oke. Aku juga harus cek beberapa hal.”
Kana menatap keduanya sebentar. “Acara besok akan diadakan di ballroom,” katanya tenang. “Nanti sore aku ke sini lagi buat cek persiapan. Sekalian jemput kalian untuk makan malam.”
“Makan malam?” tanya Redho.
Kana mengangguk kecil. “Di rumah.” Ia menatap Redho sopan. “Bang Redho bersedia datang, kan?”
Redho langsung mengangguk. “Tentu.”
Kyu menatap Kana sebentar, lalu berkata singkat, “Nanti malam kami datang.”
Kana mengangguk. Senyum kecil kembali muncul di wajahnya.
Ia masuk kembali ke mobil. Mesin menyala pelan, lalu kendaraan itu bergerak meninggalkan halaman hotel.
Redho memperhatikan mobil itu sampai menghilang di ujung jalan. “Dia benar-benar versi perempuan kamu,” katanya.
Kyu tersenyum tipis, tapi tidak menjawab. Ia hanya mengangkat koper dan berjalan masuk ke lobi.
***
Beberapa saat kemudian, mereka sudah berdiri di depan kamar 2309. Manajer hotel mengetuk pintu tiga kali, lalu membuka dengan kartu akses. “Silakan, Tuan.”
Pintu terbuka. Manajer masuk lebih dulu, diikuti Kyu dan Redho. “Selamat datang di suite room 2309,” ucapnya.
Redho melangkah masuk, dan tanpa sadar, langkahnya melambat.
Bukan karena terkejut. Lebih karena ruang itu… luas dengan cara yang tenang. Seorang bellboy meletakkan koper di dekat meja kerja, lalu berdiri di sisi pintu. Manajer menjelaskan beberapa hal, tapi suara itu seperti lewat saja di telinga Redho. Perhatiannya tertahan pada ruangan di depannya.
Ruang tamu yang lapang, tapi tidak berlebihan. Sofa panjang, meja rendah, semuanya tertata rapi tanpa terasa dipaksakan. Jendela besar di ujung ruangan memperlihatkan kota Kedo dari ketinggian—tenang, teratur, hampir seperti gambar. Di sisi kanan, meja kerja sudah siap digunakan. Dokumen, alat tulis, semuanya ada di tempatnya.
Dan di bagian dalam, dua pintu. Dua kamar.
Redho menarik napas pelan. “Ini… luas dan nyaman.”
Manajer tersenyum.
“Standar AREH,” kata Kyu singkat.
Beberapa saat kemudian, manajer dan bellboy pamit keluar. Pintu tertutup. Dan ruangan itu menjadi hening.
Redho tidak langsung bergerak. Ia berdiri beberapa detik, lalu berjalan pelan ke dalam. Bukan melihat dengan rasa kagum berlebihan—lebih seperti menyesuaikan diri.
“Mirip apartemen Serven,” katanya akhirnya.
Kyu melirik sekilas. “Iya. Cuma lebih luas.”
Redho mengangguk kecil. Ia baru ingin berbalik ke kamar saat matanya menangkap sesuatu di sisi kiri ruangan. Sebuah rak gantung. Dan di sana—beberapa set pakaian sudah tersusun rapi. Jas, kemeja, celana, sepatu. Bahkan jam tangan. Semua sudah dipadukan.
Redho mendekat. “Untuk besok?”
Kyu ikut berdiri di sampingnya. “Ya.”
Redho menyentuh salah satu jas sebentar, merasakan bahannya, lalu mengembalikannya seperti semula. “Pantas saja kopermu kecil.”
Kyu menghembuskan napas pendek, hampir seperti senyum yang ditahan. “Aku jarang bawa pakaian untuk acara. Biasanya sudah disiapkan.” Ia berhenti sebentar. “Kadang Mama yang atur.”
Redho mengangguk. Ia menatap lagi deretan pakaian itu. “Rapi banget,” gumamnya.
Kyu menoleh sedikit. “Pilih, Bang.”
Redho langsung menggeleng. “Ini buat kamu.”
“Buat perwakilan Alghani,” jawab Kyu tenang. “Abang juga bagian dari itu.”
Redho terdiam. “Aku… harus datang ya?”
Kyu menatapnya. “Tentu.” Tidak memaksa. Tapi jelas. “Aku butuh Abang,” tambahnya pelan.