Tawa tidak langsung habis dari ruang duduk kediaman Shirakawa di Shozum Hills, Distrik Shibutaro, Kedo. Ia masih tersisa beberapa detik di udara—ringan, hangat, seperti gema kecil yang menempel di sudut-sudut rumah.
Emi masih menggeleng pelan sambil menatap surat yang tadi sempat ia lempar ke meja. “Inara benar-benar tidak berubah,” gumamnya, setengah kesal, setengah takjub.
“Syukurlah,” sahut Yohan tenang. “Kalau berubah, mungkin dunia jadi kurang menarik.”
Kana tertawa kecil. Kali ini lebih pendek, lebih lembut. Ia merapikan halaman surat yang tadi sedikit bergeser, lalu melipatnya hati-hati sebelum mengembalikannya ke dalam kotak sampo. Gerakannya pelan, seolah paham bahwa beberapa hal memang layak diperlakukan lebih tenang setelah selesai membuat semua orang tertawa.
Kyu bersandar ringan di tempat duduknya, satu tangan di paha, satu lagi memegang cangkir teh yang uapnya sudah menipis. Di wajahnya masih ada sisa senyum tipis—sangat tipis, tapi cukup untuk membuat ekspresinya tampak lebih lunak dari biasanya.
Redho duduk sedikit lebih santai daripada sebelumnya. Senyum di wajahnya sudah memudar, tapi belum benar-benar hilang. Ada rasa hangat yang masih tertinggal di dadanya; sederhana, asing, tapi tidak mengganggu. Sudah lama ia tidak duduk di tengah keluarga orang lain dan merasa… tidak berlebihan berada di sana.
Emi meletakkan kotak kecil itu di sampingnya. Tangannya masih sesekali menyentuh tepinya, seperti seseorang yang belum rela benar-benar melepas momen yang baru saja lewat.
“Terima kasih,” katanya akhirnya, memandang Kyu, lalu Redho. “Kalian selalu datang membawa terlalu banyak hal.”
“Bukan terlalu banyak, Oka-san,” kata Kyu pendek. “Cukup.”
Yohan mengangkat alis. “Definisi cukup menurut keluarga kalian memang sering berlebihan.”
Kyu mengangguk kecil, lalu tersenyum. Redho ikut tersenyum tipis.
“Lagian,” lanjut Emi, matanya beralih pada tas-tas dan kotak yang masih tersisa di meja rendah, “aku tahu setelah ini kalian semua akan sibuk lagi. Jadi... akan aku terima saja. Sebelum besok-besok kalian sudah terbang ke mana-mana.”
Kalimat itu keluar alami. Redho tidak langsung menangkap maksudnya.
Kana yang pertama menjawab. “Scrubel sangat indah. Alamnya terjaga, udaranya bersih. Aku tidak sabar ke sana lusa nanti,” katanya pelan.
“Scrubel?” tanya Redho.
Kana mengangguk kecil. “Iya. Sudah lama Oma Kartika minta aku datang berkunjung. Dan… aku juga ingin bertemu keluarga Alghani yang lain.”
Nada suaranya tetap tenang, tapi ada sesuatu yang lebih lembut saat ia menyebut keluarga Alghani—bukan formalitas, melainkan rasa dekat yang sudah tumbuh lama.
“Karena itu... aku sudah siapkan guide untuk kita selama off-road di Scrubel,” kata Kyu singkat.
“Ke Scrubel juga?” tanya Redho.
“Iya,” jawab Kyu tegas.
“Kamu ada urusan?”
Kyu menggeleng kecil, sedikit bingung mendengar pertanyaan itu. “Liburan.”
“Oh,” jawab Redho sederhana.
Kyu tetap tenang. “Alam di Scrubel bagus.”
Kana meliriknya sebentar, lalu menambahkan dengan nada halus, “Menurut Kyu, bukan bagus.”
Kyu mengangkat pandangan.
Kana melanjutkan, kali ini dengan senyum tipis, “Terbaik.”
Yohan tersenyum samar. “Nah. Itu baru terdengar seperti alasan yang tepat untuk liburan.”
“Iya. Alamnya sangat berbeda dengan Serven.” Kini Kyu bicara langsung pada Redho. “Off-road nanti kita akan melewati sungai dan pegunungan.”
Redho memandang mereka bergantian, lalu berkata pelan sambil menunjuk dirinya sendiri, “Kita? Bukannya habis ini saya pulang ke Ranumbang?”
“Pulang?” tanya Kyu singkat.
Redho mengangguk. “Iya.”
Jeda sebentar.
Lalu alis Kyu bergerak tipis. “Key belum bilang?”
Redho mengernyit kecil. “Bilang apa?”
Kyu mengangkat tangan ke keningnya sebentar, menahan rasa kesal yang datang terlambat.
Kana menunduk tipis. “Maaf,” ucapnya, lalu memandang Redho lagi. “Kupikir Key sudah bilang ke Bang Redho.”
“Kupikir juga begitu,” jawab Kyu.
Yohan menghela napas pendek yang nyaris seperti tawa. “Sudah Oto-san duga ada yang tidak beres.”
“Anak itu pasti lupa lagi. Key yang harusnya bilang kalau setelah dari Kedo kita akan ke Scrubel,” kata Kyu akhirnya. Nadanya tetap tenang, tapi kini ada rasa datar khas seseorang yang baru menyadari sumber masalahnya. “Aku kira dia sudah sampaikan.”
Redho menatapnya beberapa detik, lalu mulai paham arah percakapannya. “Jadi…” Ia menahan senyum. “Dari awal rencananya setelah Kedo ke Scrubel?”
“Iya,” jawab Kyu.
“Dan Key yang ditugaskan mengabari hal ini?”
“Iya.”
Redho menunduk sambil tertawa kecil. “Sampai detik ini, dia tidak bilang apa-apa tentang Scrubel.”
Kana akhirnya ikut tertawa ringan. “Sangat Key.”
Emi menggeleng pelan, tapi jelas terhibur. “Anak itu kalau urusan penting kadang justru paling santai.”
“Karena menurut Key semua orang pasti paham isi kepalanya,” ujar Yohan tenang. Lalu, setelah jeda singkat, ia menambahkan, “Yang penting sekarang kamu tahu. Kalau kamu ada urusan lain di Maradovira, saya bisa siapkan pesawat untukmu. Tapi saya berharap kamu bersedia ikut berlibur bersama Kana dan Kyu.”
Ruangan menjadi sedikit lebih tenang. Redho mengusap ujung hidungnya sebentar, masih mencerna informasi yang baru saja ia dapatkan. “Jadi… lusa saya benar-benar ikut kalian ke Scrubel?”
Kyu menjawab tanpa ragu. “Iya. Aku memang ingin Abang ikut.”
Kana menyambung pelan, “Kalau Bang Redho ikut, kami juga lebih tenang. Tidak perlu khawatir Bang Redho harus pulang sendiri dulu ke Maradovira.”
“Dan Scrubel bagus,” kata Emi ringan. “Kalau belum pernah lihat, sayang sekali.”
“Terutama alamnya,” kata Kyu.
Yohan langsung melirik. “Nah, ini alasan yang dari tadi ingin dia ulang.”
Redho tertawa kecil lagi. Suasana yang tadi sempat bingung kini justru terasa lebih cair. “Tapi saya takut malah merepotkan,” katanya jujur.
“Tidak,” kata Kyu cepat.
Kyu meletakkan cangkir tehnya di meja. “Abang tidak merepotkan. Aku memang ingin Abang ikut.” Ia berhenti sebentar. “Lagipula semuanya sudah kusiapkan. Kalau Abang enggak ikut, sayang sekali.”
Redho diam sebentar. Jemarinya bergeser pelan pada pegangan cangkir yang mulai mendingin. Ia tidak pernah membayangkan akan duduk di ruang keluarga seperti ini—di rumah keluarga lain, di kota asing, membicarakan perjalanan berikutnya seolah kehadirannya memang sudah diperhitungkan sejak awal.
Ia mengangkat wajah lagi. “Kalau begitu…” Ia tersenyum kecil. “Saya ikut.”
Emi tersenyum lega. Kana mengangguk kecil, jelas senang. Kyu hanya mengangguk sekali, tapi cukup untuk membuat persetujuan itu terasa selesai.
“Bagus,” kata Yohan tenang. “Sebelum semuanya benar-benar sibuk, kalian memang harus menyempatkan diri pergi bersama.”
“Tiga bulan lagi sidang akhir Kyu,” ujar Emi lembut. “Lalu setelah itu… tinggal dua bulan menuju pernikahan. Kapan lagi kalian akan liburan bersama?”
Redho menoleh pada Kyu. “Cepat sekali. Sepertinya ini akan jadi liburan terakhir sebelum kau menjadi suami.”
“Mm,” jawab Kyu singkat.
Kana menunduk kecil. Senyumnya tipis, tapi tidak hilang.
Di luar, angin malam bergerak pelan di antara dedaunan. Uap teh di atas meja sudah hampir hilang seluruhnya.