Sheen, Bunga Matahari yang Merunduk

Iqne zakiah
Chapter #17

Sebelum Langit Berubah

Mobil bergerak pelan menyusuri jalan yang membelah lereng selatan Scrubel.

Di sisi kanan, Laut Engelde membentang luas tanpa batas. Airnya berkilau di bawah matahari siang, berlapis biru yang berubah pelan seiring jarak. Dari jendela mobil yang sedikit terbuka, angin laut masuk tipis membawa aroma garam yang bersih.

Di sisi kiri, hamparan lapangan golf terbentang mengikuti kontur tanah. Rumputnya masih tampak baru ditata; beberapa pekerja terlihat mendorong mesin pemotong di kejauhan. Garis-garis fairway belum sepenuhnya selesai, tapi bentuk lahannya sudah mulai terbaca dengan jelas.

Redho duduk di kursi depan, di samping staf keluarga Alghani yang mengemudi. Ia tidak banyak berbicara sejak keluar dari bandara. Matanya sesekali berpindah dari jalan ke laut, lalu kembali ke bangunan utama yang perlahan muncul di kejauhan.

Alghani Seaside Estate.

Bangunan itu berdiri di lereng landai menghadap laut, garis-garisnya bersih dan alami—perpaduan kaca lebar, batu terang, dan kayu hangat. Besar, tapi tidak terasa ingin dipamerkan. Lebih seperti tempat yang sengaja dibangun untuk ditinggali lama.

“Tempatnya indah sekali,” kata Kana pelan dari kursi belakang. Nada suaranya lembut, lebih menyerupai pengamatan daripada seruan.

Kyu menoleh ke arahnya. Ada senyum kecil di wajahnya. “Belum selesai sepenuhnya,” katanya santai. “Beberapa bagian masih tahap akhir.”

Kana masih memandang ke luar jendela. “Kalau sudah selesai pasti akan lebih indah lagi.”

Kyu mengangguk kecil. “Scrubel memang bagus, terutama alamnya.”

Suara kekehan Yohan dua hari lalu seakan masih tertinggal di kepala Redho—alasan yang terus diulang Kyu seolah memang perlu didengar semua orang.

Mobil bergerak makin dekat ke bangunan utama. Sekarang detail estate mulai terlihat lebih jelas: teras lebar yang menghadap laut, jalur taman yang masih ditata, beberapa staf yang memindahkan peti dekorasi di area servis, dan kolam ikan di sisi kanan bangunan utama dengan gazebo kayu kecil di tengahnya.

Pandangan Redho berhenti di sana. Awalnya hanya dua sosok. Lalu satu di antaranya mulai terbaca lebih jelas. Sheen.

Redho menyipitkan mata sedikit. Sosok satunya lagi duduk berhadapan dengannya. Mobil terus bergerak maju. Wajah itu perlahan terlihat. Eiden.

Redho tidak mengubah ekspresi. Tapi pandangannya tidak lagi lepas dari gazebo. Dari jarak ini, ia belum bisa mendengar percakapan mereka. Namun ada sesuatu pada posisi tubuh keduanya—pada cara Sheen duduk tegak, pada cara Eiden condong ke depan—yang membuat tubuh Redho menegang tipis.

Di kursi belakang, Kana masih memperhatikan bangunan utama. “Mama Nara pasti heboh kalau tahu kita datang.”

Kyu tersenyum kecil. “Makanya aku sengaja tidak bilang.”

Kana mengangguk. “Ini akan jadi kejutan yang menyenangkan.”

Mobil melambat. Redho masih menatap gazebo. Sekarang Sheen sudah berdiri. Eiden ikut berdiri. Dan saat tangan laki-laki itu bergerak ke samping, menghalangi jalur keluar gazebo, sesuatu di dalam diri Redho berubah seketika. Mobil bahkan belum berhenti sepenuhnya ketika ia sudah melepas sabuk pengaman.

“Aku permisi sebentar,” katanya tenang.

Kana sedikit mencondongkan tubuh. “Kenapa?”

Redho membuka pintu. “Kurasa aku melihat seorang teman lama.” Ia turun tanpa tergesa, tapi juga tanpa ragu. Pintu tertutup pelan di belakangnya.

Kana mengerjap, lalu menoleh ke Kyu. “Teman lama? Key?”

Kyu masih memandang ke arah gazebo. Tatapannya tenang, tapi lebih tajam dari sebelumnya. “Bukan,” jawabnya pendek.

Kana mengikuti arah pandangnya, tapi hanya menangkap sekilas kolam dan gazebo di antara bangunan utama. “Ada siapa?”

Kyu membuka sabuk pengamannya. “Nanti juga tahu.” Lalu ia ikut membuka pintu.

Sementara itu, Redho sudah melangkah lurus ke jalur batu yang mengarah ke kolam. Tidak cepat. Tidak lambat. Tapi cukup tegas hingga tidak menyisakan ruang untuk ditahan.

Di depan, Sheen masih berdiri di dalam gazebo. Eiden berada terlalu dekat. Dan beberapa detik kemudian, Redho sudah mencapai lantai kayu itu—tepat pada saat tangannya bergerak lebih dulu daripada kata-katanya. Tangannya terangkat sedikit di antara mereka, cukup untuk memberi batas yang sopan dan jelas.

“Assalamu’alaikum.” Suara Redho tenang. Tidak keras, tidak menghakimi. Tapi cukup untuk membuat dua kepala di hadapannya menoleh bersamaan.

Sheen berkedip. “Bang Redho?”

Eiden yang semula berdiri menghadap Sheen langsung mundur setengah langkah. Wajahnya berubah cepat—dari fokus, ke terkejut, lalu hangat dalam hitungan detik.

“Wa’alaikumsalam,” jawabnya ringan. Tatapannya tertahan sebentar di wajah Redho, lalu sudut bibirnya terangkat. “Redho? Sudah lama, ya?”

Redho mengangguk kecil. Ketegangan tipis di tubuhnya sudah turun, meski matanya tetap jernih mengamati keadaan. Dari dekat ia bisa melihat: Sheen tidak tampak takut. Tidak pula terpojok seperti yang sempat ia bayangkan dari kejauhan. Gadis itu hanya terlihat kaget—dan sedikit bingung—karena semuanya terjadi begitu cepat.

“Ya, terakhir tiga bulan lalu.” balas Redho. “Aku sempat ragu itu kamu.”

Eiden tertawa pendek. “Aku juga ragu tadi. Kupikir mataku salah lihat.” Ia menoleh sebentar ke Sheen, lalu kembali ke Redho. “Sejak kapan kamu ada di Scrubel?”

“Baru sampai. Bareng Kyu dan Kana,” jawab Redho sambil menunjuk ke arah jalur batu.

“Benarkah? Kukira Kyu masih di Kedo.”

“Ya. Sengaja dirahasiakan. Mau kasih kejutan.”

“Oh,” gumam Eiden, terdengar benar-benar senang. “Itu bagus. Tante Inara pasti senang.”

Bahu Redho menurun, tidak lagi setegang beberapa detik lalu. “Kamu sendiri kok bisa ada disini?”

Eiden mengangkat bahu ringan. “Kemarin aku datang buat opening AREH, lalu diundang Key makan siang.” Senyumnya melebar sedikit. “Brand ambassador hotel, remember?”

Redho mengangguk. “Key sempat cerita.”

Eiden melirik Redho dengan mata yang lebih lembut. “Dan kamu masih sama juga. Masih kelihatan seperti orang yang paling susah diajak bikin masalah.”

“Aku anggap itu pujian,” jawab Redho datar.

“Itu memang pujian.”

Sheen, yang sejak tadi berdiri beberapa langkah dari mereka, akhirnya mengembuskan napas kecil. Ketegangan sebelumnya perlahan menguap. Ia memandang Redho, lalu Eiden, lalu kembali ke Redho.

“Bang Redho kenal Kak Eiden?” tanyanya.

Eiden menoleh cepat. “Tentu.” Ia merangkul Redho santai, tapi tidak berlebihan. “Kami satu sekolah, satu angkatan.”

Redho melepaskan rangkulan itu dengan santai, lalu meliriknya. “Eiden dulu wakil kapten basket.”

“Dan calon idol yang sering bolos sekolah,” tambah Eiden tanpa malu. “Sangat berbeda dengan sosok teladan seperti Redho.”

Sheen menahan senyum kecil.

Redho belum sempat menjawab ketika suara langkah terdengar dari jalur batu. Kyu muncul lebih dulu, tenang seperti biasa. Di belakangnya Kana berjalan pelan, memandangi gazebo dengan rasa ingin tahu yang lembut.

Mata Eiden bergerak ke arah mereka, lalu seulas senyum muncul di wajahnya. “Hi, Kyu.”

Kyu mengangguk kecil. “Eiden.”

Kana berhenti di sisi Kyu. Angin laut menggerakkan ujung rambutnya pelan. Ia baru hendak bertanya ketika sebuah suara kecil dan cerah memotong semuanya.

“Onee-san!” Seru Sheen.

Gadis itu seperti lupa pada semua orang lain dalam satu detik. Wajahnya langsung berubah terang, dan sebelum siapa pun sempat berkata apa-apa, ia sudah turun dari gazebo dengan langkah cepat, hampir berlari, lalu memeluk Kana erat-erat.

Kana sedikit terkejut. Sangat sedikit. Tangannya yang semula menggantung di sisi tubuh terangkat perlahan, lalu membalas pelukan itu dengan lembut.

“Sheen,” katanya pelan.

Ada sesuatu yang hangat dan nyaris kekanak-kanakan dalam cara Sheen menempel padanya—bukan manja berlebihan, melainkan seperti seseorang yang sungguh senang menemukan orang yang ia rindukan datang tanpa pemberitahuan.

“Kok enggak bilang kalau mau datang?” gumam Sheen, suaranya tertahan di bahu Kana. “Sheen kan bisa jemput di bandara…”

Kana tersenyum kecil, lalu mengusap punggung Sheen pelan. “Kalau bilang-bilang, jadinya bukan Surprise dong.”

Dari tempatnya berdiri, Redho memperhatikan pemandangan itu tanpa sadar melonggarkan napas.

Sheen melepaskan pelukannya perlahan, tapi tangannya masih menggenggam lengan Kana, seolah belum mau benar-benar memastikan ini nyata. Wajahnya cerah dengan cara yang tidak dibuat-buat. Matanya bahkan tampak sedikit basah, meski bibirnya tersenyum penuh.

“Mama pasti kaget banget. Tapi mungkin beberapa menit lalu sudah dikabari Seaghani,” ujar Sheen cepat.

Kana melirik Kyu sebentar. “Sepertinya belum.”

Sheen langsung menoleh ke Kyu. Matanya penuh tanda tanya.

Kyu hanya mengangkat bahu ringan. “Sudah dikondisikan. Easy.”

Sheen menyipitkan mata, lalu mengangguk kecil, seolah menerima jawaban itu walau tidak sepenuhnya puas.

Eiden menggeser langkah setengah ke samping, memberi ruang lebih lebar di gazebo dan jalur keluarnya. Ketika Kana menoleh kepadanya, ia langsung membungkuk kecil dengan gaya sopan yang santai.

“Halo. Aku Kana,” kata Kana.

“Eiden,” jawab laki-laki itu cepat. “Teman lama mereka.”

Lihat selengkapnya