Teras belakang Alghani Seaside Estate menghadap langsung ke Laut Engelde. Malam turun perlahan, dan garis cakrawala yang tadi keemasan kini mulai berubah jadi biru tua yang tenang. Lampu-lampu taman menyala lembut di sepanjang jalur batu. Di sisi kanan, dua chef estate dan beberapa staf sibuk memanggang daging, jagung, dan sayuran di atas bara yang harum. Asap tipis naik pelan, membawa aroma rosemary, lada hitam, mentega, dan garam laut.
Meja panjang sudah ditata rapi. Piring-piring hangat, gelas, saus, salad, dan mangkuk kecil berisi buah potong tersusun nyaris sempurna. Semuanya tampak seperti malam keluarga yang seharusnya santai.
Tapi tak seorang pun benar-benar duduk dengan tenang.
Rafid berdiri di ujung meja, satu tangan memegang ponsel, satu lagi sesekali menyentuh layar tablet yang diletakkan terbuka di dekat piringnya. Inara duduk, tapi baru menyentuh minumannya sekali. Tatapannya berkali-kali jatuh ke laut, lalu kembali ke layar kecil di depannya. Kyu tampak membaca beberapa data sambil sesekali menjawab singkat pesan masuk. Kana duduk di sampingnya, ponsel di atas meja, jemarinya tenang tapi siap bergerak kapan saja. Redho duduk dengan tenang, tapi pandangannya jauh menembus lautan. Key, untuk ukuran dirinya, terlalu diam. Bahkan Eiden yang biasanya santai pun cukup peka untuk tidak banyak bicara.
Sheen duduk di antara Kana dan Inara, memandangi semuanya bergantian.
Ia mencoba tersenyum.
“Kalau begini terus,” katanya pelan, berusaha ringan, “chef-chef itu bisa tersinggung. Mereka masak sebanyak ini, tapi semua orang kayak lagi ikut rapat pajak.”
Key mengangkat wajah sebentar. “Rapat pajak lebih menyeramkan.”
Sheen mendengus kecil. “Aku serius.”
“Dia juga serius,” gumam Kyu tanpa mengangkat kepala.
Kana tertawa kecil, sangat kecil. Hanya itu. Lalu matanya turun lagi ke layar ponsel.
Sheen menoleh pada Inara. “Ma, makan dulu.”
Inara mengangguk tipis. “Iya, Sayang.”
Tapi tangannya tidak bergerak.
Sheen memandang piringnya sendiri, lalu memotong kecil daging panggang di hadapannya. Ia bahkan baru mau mengangkat garpu ketika suara Kyu masuk, tenang, datar, tapi cukup jelas untuk membuat semua orang otomatis mendengarkan.
“Aquin sudah siap buka emergency allocation malam ini.”
Rafid mengangkat mata. “Berapa besar?”
Kyu menyebut angkanya tanpa dramatisasi. Cukup besar untuk membuat Key berhenti menyandarkan tubuh.
“Fase pertama?” tanya Rafid.
Kyu mengangguk. “Likuid. Bisa langsung dilepas untuk kebutuhan respons awal. Fokusnya bukan donasi simbolik. Ini untuk membangun jalur operasi.”
Ia menggeser tabletnya sedikit agar Rafid dan Inara bisa melihat.
“Prioritasnya emergency logistics, temporary shelter support, mobile medical unit, water supply chain, basic sanitation, dan buffer untuk fuel corridor. Kalau kerusakan infrastruktur lebih luas dari estimasi awal, angka ini masih bisa dinaikkan.”
“Dari Aquin saja?” tanya Inara.
“Tidak.” Kyu menggeser lagi satu file. “Ghavina juga bisa menahan distribusi komersial non-esensial dan mengalihkan armada untuk household essentials, hygiene products, packaged food, dan cooking supplies. Kalau perlu, gudang-gudang transit bisa diubah jadi emergency staging point.”
Rafid menatap data itu beberapa detik. “Timeline?”
“Kalau legal release malam ini, deployment bisa mulai dini hari. Tapi hanya sampai titik yang aksesnya masih terbuka.”
Key akhirnya ikut masuk. “AREH juga sudah mulai hitung kapasitas.”
Semua mata beralih padanya.
Key duduk lebih tegak. Kali ini nadanya jauh lebih Executive Director daripada kakak ribut.
“Properti AREH di radius aman bisa dipakai sebagai relief nodes. Hotel di Boram yang tidak terdampak langsung bisa dipakai untuk tim medis dan relawan. Storage cold chain untuk obat dan bahan makanan juga bisa dialihkan. Aku juga sudah minta operasional cek kendaraan, linen, genset cadangan, dan kapasitas kitchen.”
“Hotel Boram masih aman?” tanya Inara cepat.
“Sejauh laporan terakhir, aman. Tapi jalur ke Tavindra kacau.”
Kana meletakkan ponselnya pelan, lalu bicara. Nadanya tetap lembut, tapi isinya rapi.
“Tim tanggap darurat Shirakawa sudah mulai bergerak. Mereka siap koordinasi dengan Yayasan Insan Alghani. Fokus awalnya hygiene kits, household essentials, emergency blankets, water containers, dan beberapa unit mobile sanitation support. Kalau data pengungsian masuk malam ini, kami bisa sesuaikan komposisi distribusi.”
Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan, “Tapi semua itu tetap butuh satu hal.”
“Lapangan,” jawab Inara pelan.
Kana mengangguk. “Dan orang yang benar-benar membaca kebutuhan di sana.”
Sunyi kecil jatuh di atas meja. Bara di sudut teras masih berbunyi pelan. Laut di depan mereka tetap sama. Tapi malam itu tidak lagi menyerupai makan malam keluarga.
Inara meletakkan gelasnya. “Aku harus ke sana.”
Tidak ada yang terkejut. Mungkin karena semua orang di meja itu, jauh di dalam hati, sudah tahu kalimat itu akan keluar juga.
Rafid mengangkat wajah perlahan. “Inara.”
“Aku serius.” Suara Inara tenang, tapi nadanya sudah final bahkan sebelum dibantah. “Skalanya terlalu besar. Aku tidak bisa memimpin YIA hanya dari laporan. Aku harus lihat sendiri.”
“Kamu bisa pimpin dari sini.”
“Tidak cukup.” Inara menoleh ke Rafid. “Data tidak pernah cukup. Aku perlu lihat pola pengungsian. Aku perlu tahu titik distribusinya bagaimana. Anak-anak, ibu hamil, lansia, kebutuhan air bersih, sanitasi perempuan, akses medis—aku tidak bisa menyusun strategi yang tepat kalau aku cuma duduk di teras ini.”
“Estate ini dibangun supaya kamu tidak perlu memaksakan tubuhmu lagi.” Nada Rafid tidak naik. Justru itu yang membuatnya kuat. “Empat bulan terakhir kamu hampir tidak keluar dari Langgarra Room. Dokter masih terus melakukan observasi padamu. Kamu belum siap masuk ke medan seperti itu.”
Inara menahan tatapannya. “Aku baik-baik saja.”
Rafid menggeleng pelan. “Kamu tidak baik-baik saja. Kamu membaik. Itu beda.”
Tak seorang pun di meja ikut bicara.
Rafid melanjutkan, masih tenang. “Kamu lupa kenapa aku membangun estate ini di Scrubel? Tempat ini dibuat untuk pemulihanmu. Dokter standby. Sistem medis lengkap. Rumah sakit di sini siap. Alam di sini dijaga untuk tubuhmu pulih. Jangan minta aku membiarkanmu masuk ke wilayah banjir aktif dalam kondisi seperti sekarang.”
Inara tidak memotong.
“Belum lagi medan lapangan,” lanjut Rafid. “Banjir susulan masih mungkin. Akses belum stabil. Kalau komunikasi di titik terdampak masih mati, tim yang masuk tanpa struktur justru membebani operasi.”
“Aku tidak akan masuk tanpa struktur.”
“Dan aku tidak akan membiarkanmu masuk dalam keadaan tubuhmu masih dipantau.” Nada Rafid tetap rendah. “Setidaknya bersabarlah sampai aku pulang dari Ordora. Akan kuusahakan tiba di lokasi dalam lima hari.”
Inara menoleh tajam. “Lima hari terlalu lama, Rafid.”
“Aku tahu. Tapi—"
“Tidak. Ada banyak nyawa yang bisa ditolong dalam lima hari. Kita tidak boleh terlambat.”
Key menurunkan pandangannya. Kyu berhenti menyentuh layar tablet. Kana diam, tapi wajahnya berubah lebih serius.
Rafid menarik napas pelan. “Kalau jaringan bisa dipulihkan, kamu bisa memimpin dari sini. Kita bangun command channel dari estate.”
“Kalau.” Itu hanya satu kata. Tapi di mulut Inara, kata itu terdengar seperti benturan.
Rafid menoleh ke Kyu. “Bagaimana status komunikasi?”
Kyu menjawab tanpa ragu. “Buruk.”
Ia menggeser data yang lain. “Beberapa area blackout total. Menara relay di beberapa titik tidak bisa dijangkau. Cellular network down di klaster paling parah. Sat relay portable bisa jadi solusi, tapi tetap butuh tim lapangan untuk penempatan dan sinkronisasi. Data yang masuk sekarang masih fragmentary.”
“Navatech?” tanya Inara cepat.
“Bisa bantu,” jawab Rafid. “Tapi tetap perlu waktu untuk setup. Tanpa power restoration minimal dan field relay, command dari sini tidak akan cukup.”
“Dan itu sebabnya aku harus pergi.” Suara Inara kali ini lebih pelan. Justru lebih berat. “YIA tidak boleh datang terlambat. Kita bukan donor pasif. Kita harus hadir.”
Tidak ada yang langsung menyahut.
Bara masih menyala. Salah satu chef melihat ke arah mereka, lalu segera mengalihkan pandangan dan pura-pura sibuk membalik daging panggang.
Sheen, yang sejak tadi diam, menatap meja di depannya. Tangannya ada di pangkuan. Jemarinya saling menggenggam pelan. Wajahnya tenang, tapi terlalu tenang untuk dianggap tidak memikirkan apa-apa.
Semua orang masih memandang Inara dan Rafid ketika suaranya akhirnya masuk.
“Kalau Mama tidak bisa pergi…”
Kalimat itu tidak keras. Tapi semua orang langsung menoleh.
Sheen mengangkat wajah. “...biar aku yang mewakili Yayasan.”
Tak ada yang bicara. Bahkan suara laut di depan terasa seperti mundur satu langkah. Inara menatap putrinya, dan untuk satu detik ekspresinya benar-benar kosong—bukan karena tidak mengerti, tapi karena terlalu mengerti.
“Sheen,” katanya pelan.
Tapi Sheen sudah telanjur berdiri di jalur pilihannya sendiri.
“Aku serius, Ma.” Suaranya tidak gemetar. “Kalau YIA harus ada di lapangan, biar aku yang pergi.”
“No.” Jawaban Inara datang terlalu cepat. “Kamu tidak akan pergi.”