Sheen, Bunga Matahari yang Merunduk

Iqne zakiah
Chapter #19

Panggilan

Pesawat angkut itu belum benar-benar berhenti ketika bau lumpur sudah masuk lebih dulu.

Bukan aroma tanah basah yang akrab setelah hujan. Bukan bau sawah yang tenang. Ini lebih berat dari itu—bau air keruh yang lama terkurung, kayu basah yang patah, solar, kabel terbakar samar, dan sesuatu yang tipis namun cukup untuk membuat tenggorokan tercekat sebelum kaki benar-benar turun ke tanah.

Sheen berdiri beberapa detik di ambang pintu. Angin yang menyapu wajahnya terasa dingin, tapi tidak menyegarkan. Di bawah sana, tanah tidak lagi tampak seperti tanah. Semuanya seperti satu warna yang sama—cokelat keruh, pekat, bergerak lambat, menelan garis batas antara jalan, halaman, parit, dan sisa-sisa rumah.

“Sheen.” Suara Sania terdengar di belakangnya. Lembut, tapi tegang.

Sheen menoleh sedikit. Perempuan itu sudah mengenakan rompi lapangan Yayasan Insan Alghani, sepatu boots tinggi, rambut diikat rapi tanpa satu helai pun sengaja dibiarkan jatuh. Wajahnya tenang seperti biasa, namun matanya tidak benar-benar tenang.

“Kita turun sekarang. Jalur ini masih aman, tapi jangan terlalu jauh dari tim pendamping.”

Sheen mengangguk. Ia sudah mendengar briefing. Sudah membaca laporan singkat yang masuk semalam. Sudah tahu desa ini bahkan bukan titik yang paling parah. Ada wilayah lain yang masih lebih terisolasi, lebih lambat disentuh bantuan, lebih sulit dijangkau kendaraan. Secara teknis, ia datang ke salah satu area yang disebut “mulai terbuka.”

Tapi begitu telapak sepatunya menyentuh tanah, kata-kata itu terasa seperti bahasa dari dunia lain. Lumpur di bawahnya langsung naik hampir setengah betis, lalu terus menelan saat ia memindahkan kaki berikutnya. Berat. Lengket. Setiap langkah seperti meminta izin. Seorang petugas di depan memberi aba-aba jalur yang lebih padat, tapi bahkan jalur “aman” pun tetap membuat tubuh harus melawan.

Sheen tidak langsung melihat manusia. Yang pertama kali dilihatnya justru serpihan hidup. Pintu kayu tersangkut di batang pohon. Kain kasur yang mengering setengah di atas pagar yang nyaris rebah. Sepeda kecil tanpa roda depan. Panci penyok. Foto keluarga yang menempel miring di dinding sisa rumah yang hanya tinggal separuh. Boneka kain berlumur cokelat, telungkup di dekat genangan hitam.

Langkah Sheen melambat. Di sebelah kiri, sebuah rumah panggung yang seharusnya masih berdiri kokoh hanya menyisakan lantai miring dan satu tiang yang retak di bagian tengah. Di belakangnya, atap seng terlipat seperti kertas. Di kanan, rumpun pisang tumbang menimpa puing-puing yang tak lagi bisa dibedakan milik siapa.

“Ini baru desa transisi,” ucap seseorang dari tim lokal, setengah berteriak kepada petugas lain sambil mengangkat jeriken kosong. “Yang atas masih lebih parah.”

Baru desa transisi. Kalimat itu menghantam lebih keras daripada angin.

Sheen menelan ludah. Mulutnya terasa kering, padahal udara di sekitarnya lembap dan kotor. Ia menatap ke depan lagi—dan saat itulah ia melihat deretan itu.

Tubuh-tubuh yang ditutup terpal. Tidak banyak pada pandangan pertama. Tiga. Lalu lima. Lalu saat matanya benar-benar fokus, lebih banyak dari yang tubuhnya siap hitung. Sebagian diletakkan berjejer di bawah tenda darurat. Sebagian lain masih menunggu identifikasi. Di dekat salah satu meja lipat, seorang laki-laki paruh baya duduk dengan bahu penuh lumpur, menunduk, memegang kartu kecil seperti itu satu-satunya benda yang menahan dirinya tetap utuh.

Sheen berhenti. Dunianya seolah mengecil pada satu titik.

Ia tahu akan ada korban jiwa. Tahu. Tentu tahu. Semua orang tahu. Tapi mengetahui dari kata “korban” dan melihat sesuatu yang dibungkus terpal dengan ukuran tubuh manusia adalah dua pengetahuan yang berbeda. Yang satu masuk ke kepala. Yang satu lagi menghantam tulang.

“Sheen.” Kali ini Sania berdiri di sisi kirinya. “Kita harus lanjut.”

Sheen menarik napas, tapi yang masuk justru bau lumpur, solar, dan kematian yang samar itu lagi. Untuk sesaat ia takut tubuhnya akan mundur sendiri. Takut kakinya menolak. Takut semua keberanian yang begitu utuh di Scrubel ternyata hanya cukup untuk ruangan hangat dan kalimat-kalimat yang terdengar benar.

Tapi lumpur di sepatunya sudah telanjur ada. Bau ini sudah telanjur masuk ke dadanya. Pemandangan ini sudah telanjur menjadi bagian dari matanya.

Ia mengangguk sekali. Langkah berikutnya terasa lebih berat daripada langkah pertama.

Di kejauhan terdengar suara mesin genset meraung tidak stabil. Ada teriakan meminta tandu. Dua orang relawan lokal sedang menggeser drum air kosong. Seorang perawat duduk sebentar di pinggir bak mobil, menunduk, lalu berdiri lagi sebelum benar-benar sempat istirahat.

Seorang anak kecil berdiri di dekat tiang tenda, tubuhnya penuh lumpur kering. Mulutnya terbuka lebar seperti sedang menangis. Tapi suaranya nyaris tidak terdengar—ditelan oleh bunyi mesin, percikan radio, dan sepatu-sepatu yang menghantam lumpur.

Sheen menoleh ke arahnya lebih lama dari yang seharusnya.

Semua bergerak. Tidak ada musik. Tidak ada kemuliaan. Tidak ada keheningan dramatik seperti yang biasa lahir di kepala orang-orang yang belum pernah datang ke tempat seperti ini.

Hanya kerja yang terburu-buru, tubuh yang kotor, wajah yang letih, dan kehilangan yang bahkan belum sempat dicerna.

Sheen memandang sekitar, pelan, seperti sedang memaksa dirinya memahami bahwa ini nyata. Bahwa ia sungguh ada di sini. Bahwa pilihan yang ia ucapkan di Scrubel kini sudah punya bau, punya suara, punya lumpur yang menarik betisnya ke bawah setiap kali ia mencoba melangkah.

Sania menunduk sedikit ke arahnya. “Kita ke pos data dulu. Setelah itu baru ke tenda distribusi dan titik medis.”

Sheen membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar. Ia membersihkan tenggorokannya sebentar.

“Tante…” suaranya serak, nyaris asing di telinganya sendiri. “Ini bukan yang paling parah, ya?”

Sania diam sepersekian detik sebelum menjawab.

“Belum.” Satu kata itu jatuh tanpa dramatisasi, tanpa niat menakut-nakuti. Justru karena itulah bobotnya terasa lebih kejam.

Sheen menoleh lagi ke arah deretan terpal di bawah tenda. Di Scrubel, ia mengatakan bahwa jika ia diam saat tahu ia bisa turun, itu bukan dirinya.

Kini, untuk pertama kalinya sejak pesawat mendarat, ia memahami harga sebenarnya dari kalimat itu. Bukan pujian. Bukan keberanian yang tampak indah. Bukan rasa bangga karena telah memilih jalan sulit.

Melainkan ini. Lumpur setinggi paha orang dewasa. Puing-puing hidup yang tercerabut dari pemiliknya. Tubuh-tubuh yang belum selesai dipanggil pulang. Dan sebuah desa yang bahkan belum termasuk yang paling hancur.

Sheen menegakkan punggungnya perlahan. Lalu, tanpa berkata apa-apa lagi, ia berjalan mengikuti Sania ke dalam wilayah bencana yang sesungguhnya.

***

Tenda pengungsian itu lebih bising daripada yang Sheen duga.

Bukan bising yang utuh, melainkan bising yang bertumpuk—suara panci logam beradu, sendok jatuh ke wadah plastik, tangis bayi yang datang sebentar lalu hilang, instruksi yang diteriakkan setengah, batuk orang tua, langkah kaki di atas terpal basah, dan suara generator dari kejauhan yang seperti tidak pernah benar-benar berhenti.

Di bawah tenda utama, meja lipat berjajar memanjang. Di atasnya, kotak-kotak makanan ditumpuk dalam dua baris yang terus berkurang. Beberapa relawan lokal bergerak cepat dari satu sisi ke sisi lain. Ada yang mencatat jumlah keluarga. Ada yang membagikan selimut. Ada yang memeriksa daftar pengungsi baru. Ada yang sekadar duduk membungkuk di kursi plastik, seperti tubuhnya perlu diingatkan dulu cara berdiri lagi.

Sheen berdiri di salah satu meja distribusi dengan rompi lapangannya yang bagian bawahnya sudah terkena cipratan lumpur kering.

Tangannya bergerak otomatis—mengambil satu kotak, menyerahkannya, lalu satu lagi, lalu satu lagi—sementara matanya berusaha tetap hadir di tiap wajah yang datang. Seorang anak laki-laki kecil menerima makanan dari tangannya, lalu berlari kecil ke sudut tenda sambil memanggil kakaknya. Di dekat tiang, tiga anak lain duduk melingkar sambil membuka kotak makanan mereka seperti sedang membuka hadiah. Salah satu dari mereka tertawa kecil saat melihat potongan telur rebus di atas nasi. Tawa itu tipis. Kecil sekali. Tapi entah kenapa justru terasa aneh di tempat seperti ini.

Sheen menoleh sebentar ke arah mereka, dan tanpa sadar sudut bibirnya bergerak tipis.

“Tadi distribusi sisi barat telat tiga puluh menit,” ujar Sania di sampingnya, membuka map plastik yang sudutnya sudah lembap. “Mobil dari jalur bawah sempat tertahan karena dua titik lumpur belum cukup padat. Tim medis juga minta tambahan oralit dan antibiotik ringan. Persediaan air minum kemasan di pos tiga tinggal empat krat. Kalau pengungsi tambahan dari desa lereng jadi masuk malam ini, kemungkinan hanya cukup sampai besok siang.”

Sheen menoleh. “Hm?”

Sania mengangkat mata, lalu mengulang lebih singkat, “Pos tiga mulai kekurangan air minum kemasan.”

Sheen mengangguk cepat, seolah paham, walau sebenarnya kepalanya sudah penuh oleh terlalu banyak istilah, jalur, titik, dan angka sejak pagi. Dari tadi Sania terus memberi laporan—tentang logistik, distribusi, status jalur, jumlah keluarga, akses kendaraan, kebutuhan medis, dan kebutuhan tenda tambahan—dan Sheen merasa semua itu masuk ke kepalanya dalam bentuk potongan-potongan yang belum benar-benar menyatu. Ia bisa mendengar. Bisa menangkap. Tapi belum sepenuhnya bisa memegang.

Di belakang meja, seorang ibu hamil menerima dua kotak makanan dan satu botol air, lalu pergi pelan sambil menggandeng anak perempuan kecil yang terus memeluk boneka kain basah. Sheen menyerahkan kotak berikutnya, lalu menoleh lagi ke Sania.

“Tante, yang pos tiga tadi…” katanya pelan. “Itu artinya kita harus kirim ulang hari ini, atau nunggu distribusi malam?”

Sania belum sempat menjawab ketika seorang relawan lokal memanggilnya dari sisi kanan tenda.

“Mbak Sania! Daftar keluarga dari jalur atas sudah masuk!”

Sania menoleh cepat, lalu kembali pada Sheen. “Saya cek itu dulu. Setelah ini saya balik lagi.”

Sheen mengangguk. “Iya, Tante Sania.”

Sania bergerak menjauh dengan langkah cepat, meninggalkan Sheen bersama suara tenda yang terus berputar tanpa menunggu siapa pun benar-benar siap.

Sheen menyerahkan lagi satu kotak makanan. Lalu satu lagi.

Di ujung meja sebelah, seorang anak perempuan bertanya apakah besok masih akan ada telur. Salah satu relawan tertawa kecil dan bilang mereka akan usahakan. Di belakang tenda, seseorang memanggil nama dokter. Di luar, sebuah truk berhenti dengan suara rem berat, lalu disambut beberapa orang yang langsung berlari untuk membantu bongkar muatan.

Sheen menarik napas pendek. Lalu, ketika sela di depan mejanya kosong sesaat, matanya langsung mencari satu sosok yang dari tadi beberapa kali ia lihat bergerak di antara tenda dan meja koordinasi.

Akbar Rakhafina

Paman bungsunya — adik Inara — berdiri tidak jauh dari pintu samping tenda, celana lapangannya penuh bercak lumpur sampai lutut. Di tangannya ada radio komunikasi dan lembar daftar yang sudah dilipat dua. Wajahnya tampak lebih tajam dari biasanya; bukan dingin, tapi fokus yang terlalu lama dipakai. Satu orang dari Divisi Internal baru saja selesai melapor padanya, lalu pergi ke arah kendaraan.

Sheen meninggalkan mejanya sebentar dan berjalan cepat ke sana.

“Paman Bungsu...”

Akbar langsung menoleh. Tatapannya sempat turun ke kotak makanan di tangan Sheen, lalu ke wajah keponakannya.

“Capek?”

Sheen menggeleng kecil. “Bukan itu.”

Lihat selengkapnya