Malam turun pelan di atas area pengungsian.
Langit masih kelabu, hanya sedikit lebih gelap dari sore tadi. Lampu darurat yang digantung di beberapa titik memantulkan warna kekuningan yang lemah di atas terpal basah, genangan lumpur, dan wajah-wajah letih yang untuk pertama kalinya malam itu tampak sedikit lebih hidup. Sambungan komunikasi yang akhirnya stabil belum benar-benar kuat, tapi sudah cukup untuk mengirim kabar, menghubungkan suara, dan membuat orang-orang percaya bahwa dunia di luar sana masih bisa dijangkau.
Di salah satu sisi tenda koordinasi, sebuah perangkat layar portabel diletakkan di atas meja lipat yang ditopang peti logistik. Kabelnya menjulur ke aki cadangan dan router darurat yang masih berkedip hijau. Akbar berdiri di sebelahnya dengan tangan terlipat. Sania ada di sisi lain, memeriksa kestabilan suara sambil sesekali melirik layar.
“Sudah masuk,” ujar salah satu staf teknis.
Sheen yang sejak tadi berdiri beberapa langkah di belakang langsung maju.
Layar itu sempat berkedip sekali. Gambar pecah sepersekian detik. Lalu perlahan wajah Inara muncul.
Ada tanda-tanda lelah yang gagal sepenuhnya ia sembunyikan. Ia mengenakan pakaian rumah berwarna lembut dan duduk tegak di kursi ruang kerja kecil di Scrubel. Lampu di belakangnya hangat. Semuanya tampak tenang, bersih, dan sangat jauh dari bau lumpur yang kini menempel di mana-mana.
Begitu melihat wajah itu, sesuatu di dalam dada Sheen langsung melunak.
“Mama…” Suaranya berubah begitu saja—lebih kecil, lebih manja, lebih dekat dengan suara seorang anak yang akhirnya pulang, meski tubuhnya masih berdiri di tengah wilayah bencana.
Tapi reaksi Inara justru tidak mengikuti nada itu.
“Sheen.” Singkat. Datar. Tepat sasaran.
Alis Sheen langsung naik sedikit. Ekspresinya nyaris tidak berubah, tapi cukup jelas untuk mengatakan: apa?
Inara menatap layar beberapa detik tanpa berkedip. “Berdiri.”
Sheen masih menatapnya.
“Mundur sedikit.”
Sheen menoleh cepat ke Akbar dan Sania, seolah mencari pembelaan. Tidak ada. Akbar justru menahan senyum. Sania menunduk sebentar, pura-pura sibuk merapikan map.
Sheen mendesah sangat pelan, lalu menurut. Ia mundur dua langkah sampai tubuhnya tampak lebih utuh di layar.
“Sekarang putar.”
Sheen berputar sekali—cepat, asal, seperti orang yang jelas-jelas merasa ini berlebihan.
“Pelan-pelan,” kata Inara.
Sheen menahan napas sejenak, lalu berputar lagi dengan wajah terpaksa yang hampir membuat Akbar tertawa di tempat.
Di layar, Inara mengamati dari atas sampai bawah. Sepatu boots kotor. Ujung rompi terkena lumpur. Celana lapangan kusam. Ada bekas debu tipis di pipi Sheen yang mungkin belum sempat ia sadari sendiri.
Sania mendengar tarikan napas kecil dari balik tenggorokan Inara. Tapi seperti biasa, perempuan itu menyembunyikannya di bawah bentuk emosi lain.
“Kenapa kamu lusuh sekali?”
Sheen kembali mendekat ke layar, masih dengan sisa ekspresi tidak terima. “Mama…”
“Jilbabmu berantakan. Bajumu seperti habis dilempar ke selokan. Wajahmu juga kusam. Kamu sempat lihat kaca tidak?”
“Mama…”
“Dan kenapa pipimu kotor begitu? Di sana tidak ada air?”
“Sheen tadi—” Akbar baru mau bicara, tapi satu tatapan dari Inara langsung membuatnya memilih diam.
Sheen justru tersenyum kecil. Bukan karena ocehan itu lucu. Bukan juga karena ia tidak lelah. Tapi karena untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir, ia mendengar ibunya khawatir dengan cara yang sangat Inara. Bukan tangisan. Bukan pelukan. Bukan kalimat manis panjang. Melainkan keluhan-keluhan kecil yang lahir hanya kalau hati seseorang sedang sangat tidak tenang.
Inara masih belum selesai. “Kamu pakai pelembap tidak? Sudah ganti baju berapa kali? Kamu tidur benar atau tidak? Dan itu rompi kenapa bisa berwarna begitu?”
Sheen mengangguk kecil di sela-sela ocehan itu, senyumnya makin terasa.
Lalu Inara berhenti sebentar dan bertanya, nadanya masih seperti orang yang sedang mencari-cari kesalahan:
“Apa kamu sudah makan, Sheen?”
Sheen diam satu detik. Lalu menggeleng.
Wajah Inara berubah seketika. “Apa?”
Sheen masih tersenyum kecil, tapi kini sedikit waspada.
“Kamu belum makan?”
“Sheen tadi mau, tapi—”
Inara menutup mata sebentar, seperti sedang memohon kesabaran dari langit. “Sheen Alghani.”
Nada itu membuat Akbar langsung membuang muka sambil menahan tawa. Sania menunduk, bibirnya juga bergerak tipis.
“Kamu sudah beberapa hari di sana dan masih belum belajar bahwa kamu tidak bisa kerja dengan perut kosong? Kamu pikir tubuhmu terbuat dari apa? Angin?”
Sheen menghela napas kecil, lalu mendekat lagi ke layar.
“Iya, iya,” katanya, masih dengan nada manja yang setengah meredakan dan setengah memperparah. “Sheen makan sekarang deh.”
Inara belum sempat menjawab ketika Sheen sudah benar-benar berbalik, mengambil satu kotak makanan dari meja belakang, lalu berjalan ke bangku plastik terdekat.
“Sekarang,” kata Inara tegas dari layar.
“Iya, Mama.”
Akbar akhirnya tertawa kecil.
Sheen duduk sambil membuka kotak makanan itu, lalu mulai makan seperti anak sekolah yang diawasi ibunya dari kejauhan. Sesekali ia masih melirik layar, tapi tidak kembali mendekat. Tak lama kemudian, seorang anak kecil dari tenda sebelah memanggilnya. Sheen menjawab pendek sambil masih mengunyah, dan anak itu tertawa.
Kini yang tersisa di depan layar hanya Sania dan Akbar.
Akbar menggeleng sambil masih tersenyum. “Mau sampai kapan kamu marah ke putrimu, Yuk?”
Inara membuang muka sedikit. “Dia menyebalkan.”
Akbar tertawa lebih jelas. “Iya. Karena dia mirip denganmu.”
Sania ikut tertawa kecil.
Inara langsung mendelik ke arah layar. “Kalian berdua sangat lucu.”
Lalu ia menarik napas, merapikan dirinya sendiri, dan wajah Direktur Yayasan Insan Alghani perlahan kembali muncul di atas wajah seorang ibu yang baru saja mengomeli anaknya.
“Bagaimana situasinya?”
Sania langsung menjawab dengan nada profesional, tenang, dan ringkas. Ia melaporkan distribusi logistik, kestabilan titik pengungsian, perkembangan jalur komunikasi, kondisi stok darurat, serta fakta bahwa hingga malam itu area mereka masih dalam kondisi aman dan terkendali meski beberapa dusun di lereng atas tetap harus dipantau ketat.
Inara mendengarkan tanpa menyela. Saat laporan selesai, bahunya turun sedikit. Lega yang tipis, tapi cukup terlihat bagi orang-orang yang mengenalnya baik.
“Baik,” katanya pelan. “Besok Rafid juga akan turun langsung ke lokasi lain. Tim 3.”
Akbar mengangguk. “Sudah kuduga.”
“Wilayah mereka lebih berat dari sini. Tapi kalau jalur komunikasi tetap stabil, koordinasi akan jauh lebih mudah.”
Sania mengangguk. “Kami akan jaga titik ini tetap rapi.”
Inara diam sebentar. Lalu matanya bergerak melewati bahu Akbar, ke arah Sheen yang masih duduk di bangku plastik sambil makan. Seorang anak kecil kini berdiri di depannya, berbicara cepat sambil memperagakan sesuatu dengan tangan. Sheen mendengarkan, mengangguk, lalu menjawab dengan mulut masih penuh sedikit, membuat anak itu tertawa lagi.
“Bagaimana Sheen?” tanya Inara pelan.
Sania dan Akbar saling melirik singkat.
Sania yang menjawab lebih dulu. “Awalnya dia syok,” katanya jujur. “Dan dia kesulitan. Banyak hal di lapangan yang terlalu cepat datang sekaligus. Tapi dia belajar sangat cepat.”
Akbar menimpali dari samping, “Dia juga tidak sok tahu.”
Sania mengangguk. “Kalau tidak paham, dia tanya. Kalau ragu, dia cari data. Beberapa hari terakhir dia sudah jauh lebih mampu mengatur ritme distribusi, memahami prioritas, dan mengarahkan relawan di titik-titik kecil.”
Akbar tersenyum tipis. “Hari ini dia juga mulai berani ambil komando suara.”
“Benarkah?” kata Inara cepat.
Sania tersenyum. “Iya.”
“Sungguh?”
“Dia belum sempurna,” lanjut Sania, “tapi dia memimpin dengan baik.”
Akbar menambahkan, “Dan orang-orang mau mendengarnya.”
Untuk pertama kalinya sejak panggilan itu dimulai, senyum Inara muncul tanpa ia tahan. Kecil. Hangat. Sangat bangga. Matanya kembali mencari Sheen di belakang Akbar. Beberapa detik ia diam, seolah sedang menimbang sesuatu di dalam dirinya sendiri.
Lalu ia berkata pelan, tapi tegas. “Kalau begitu, biarkan Sheen yang terus memimpin.”
Sania terdiam. Sedikit terkejut.
Akbar justru hanya mengangguk sekali, seolah sudah sampai pada kesimpulan yang sama bahkan sebelum Inara mengucapkannya.