Ketukan itu datang pelan, tapi cukup untuk memotong tidur.
Bukan ketukan panik. Bukan pula ketukan ragu. Tiga kali, dengan jeda yang rapi—seperti orang yang tahu bahwa kabar di balik pintu ini penting, tapi tidak ingin membuat seluruh lantai hotel terbangun bersamanya.
Sheen membuka mata perlahan.
Gelap di kamar hotel tidak sepenuhnya gelap. Lampu tidur di sudut ruangan masih menyala temaram, membuat bayangan lemari, koper, dan kursi di dekat jendela tampak lembut dan asing. Beberapa detik pertama ia hanya menatap langit-langit, belum sepenuhnya sadar apakah ini masih malam atau sudah terlalu pagi untuk disebut malam.
Lalu ketukan itu datang lagi.
“Sheen,” suara Sania terdengar dari balik pintu. Rendah, tenang, tapi jelas. “Bangun. Jalurnya terbuka.”
Rasa kantuk yang tadi masih menahan tubuhnya langsung patah.
Sheen duduk terlalu cepat sampai selimutnya jatuh ke pangkuan. Rambutnya terlepas acak di bahu, wajahnya masih menyimpan bekas tidur, dan untuk satu detik ia hanya menatap pintu seperti seseorang yang paham bahwa satu kalimat sederhana barusan baru saja mengubah arah hari ini.
“Sekarang, Tante?” suaranya serak.
“Iya,” jawab Sania dari luar. “Kita punya waktu sedikit. Siap-siap. Lima belas menit.”
Sheen mengembuskan napas pendek, lalu memaksa tubuhnya bergerak. “Iya.”
Tak ada jawaban lain dari luar. Hanya suara langkah Sania yang menjauh pelan ke koridor.
Kamar kembali hening. Tapi kini keheningan itu berbeda. Tidak lagi lembut. Tidak lagi aman. Segalanya mendadak punya hitungan.
Sheen menyingkirkan selimutnya dan berdiri. Lantai kamar terasa dingin di telapak kaki. Ia bergerak cepat—mencuci muka, merapikan rambut sekadarnya, menarik pakaian lapangan yang sudah disiapkan sejak malam sebelumnya, lalu meraih jilbabnya.
Tangannya bekerja lebih cepat daripada pikirannya. Atau mungkin justru itu satu-satunya cara agar pikirannya tidak sempat keburu membentuk semua kemungkinan buruk yang sudah dua hari ini menunggu di belakang kepalanya.
Bana Mateung. Nama itu belum juga kehilangan bobotnya.
Saat jilbabnya sudah terpasang rapi, Sheen menatap dirinya sendiri sekilas di cermin dekat lemari. Wajahnya masih pucat oleh tidur yang dipotong terlalu cepat. Matanya belum benar-benar hidup. Tapi semuanya sudah kembali di tempat yang dikenalnya: kain yang membingkai kepala, rompi lapangan, sepatu boots, sarung tangan yang diselipkan ke saku samping, ponsel, notes kecil, dan pulpen. Ia meraih tas kecilnya, lalu berhenti sepersekian detik.
Di luar jendela, langit belum berubah warna. Kaca hanya memantulkan bayangan dirinya sendiri. Hotel Boram di jam seperti ini terasa seperti kapal besar yang sedang menahan napas.
Sheen menarik napas panjang sekali, lalu membuka pintu.
Koridor lantai itu hampir kosong. Lampu-lampu dinding menyala redup. Karpet hotel meredam langkah dengan sangat baik sampai dunia terasa terlalu sunyi. Di ujung lorong, dekat lift, Sania berdiri dengan map plastik dan HT di tangan. Ia sudah siap penuh—rompi, jilbab, sepatu, wajah yang tak lagi menyimpan sisa tidur sedikit pun.
Begitu melihat Sheen keluar, Sania mengangguk satu kali. “Bagus. Cepat.”
Sheen berjalan mendekat. “Yang lain?”
“Sudah bangun. Akbar di bawah. Tim kendaraan juga siap.” Sania mulai melangkah lagi, dan Sheen otomatis mengikutinya. “Kita turun sekarang. Brief akhir sambil jalan.”
Suara langkah mereka berdua tenggelam dalam karpet.
“Status jalur?” tanya Sheen, suaranya masih sedikit serak tapi lebih hidup.
“Baru terbuka sebagian. TNM darat berhasil buka akses dari sisi barat daya. Belum stabil penuh, tapi sudah cukup untuk satu konvoi ringan masuk. Hujan dari hulu sejauh ini aman, tapi mereka minta tim pertama jangan terlalu lama di dalam kalau kondisi lereng berubah.”
Sheen mengangguk.
“Tujuan kita masih sama,” lanjut Sania. “Baca kebutuhan, bukan distribusi penuh. Begitu masuk, fokus awal tetap penduduk, air bersih, medis, dan kondisi akses keluar.”
“Iya.”
Mereka sampai di depan lift. Sania menekan tombol turun. Lampu kecil di atas pintu berkedip pelan.
“Bang Redho?”
“Sudah di bawah,” jawab Sania. “Tim relay masuk bersama kita.”
Sheen mengangguk lagi. Lalu, tanpa benar-benar berniat, satu nama lain muncul di kepalanya lebih dulu daripada bisa ia tahan.
“Eiden?”
Sania melirik cepat. “Tetap di garis belakang. Bukan inti tim.”
Pintu lift terbuka. Mereka masuk. Udara dingin dari dalam kabin terasa lebih kering daripada koridor. Cermin besar di dinding memantulkan dua perempuan dengan wajah siap yang terlalu tenang untuk jam seawal ini. Sania menekan lantai dasar. Lift mulai bergerak turun.
Beberapa detik hening. Cukup lama untuk membuat Sheen akhirnya sadar bahwa jantungnya berdetak terlalu cepat. Ia menunduk sedikit, menatap angka digital yang turun satu per satu.
Sania melihat pantulan itu di cermin. “Takut?” tanyanya.
Sheen tidak langsung menjawab. Lalu, sangat pelan, ia mengangguk. “Iya.”
Sania tidak memberi kalimat penghibur yang manis. Tidak bilang itu akan baik-baik saja. Tidak bilang semua orang juga takut. Ia hanya menjawab dengan suara datar yang justru terasa paling bisa dipercaya.
“Bagus.”
Sheen mengangkat wajah.
“Orang yang tidak takut di medan seperti ini biasanya justru yang paling berbahaya.” Sania menoleh sedikit, cukup untuk membuat tatapannya tertangkap di cermin. “Yang penting bukan menghilangkan takutnya. Yang penting tahu caranya tetap jalan sambil membawanya.”
Lift berhenti. Pintunya terbuka ke lobby kecil hotel yang nyaris kosong. Hanya ada satu staf resepsionis, seorang petugas keamanan, dan meja kopi yang lampunya masih menyala sendirian di pojok.
Di luar pintu kaca utama, gelap masih utuh. Beberapa kendaraan sudah berjajar dengan lampu redup. Sosok-sosok dalam rompi lapangan bergerak singkat, cekatan, dan tidak banyak bicara.
Sheen baru hendak melangkah ke luar ketika suara dari sisi lounge menghentikannya. “At this hour?” Nada itu tidak keras. Tapi cukup akrab untuk langsung dikenali.
Sheen menoleh.
Eiden duduk sendirian di salah satu kursi dekat jendela, satu siku bertumpu di sandaran, jaketnya masih terbuka, rambutnya sedikit berantakan seperti orang yang belum benar-benar tidur atau mungkin memang tidak tidur sama sekali. Di atas meja kecil di depannya ada botol air mineral yang tinggal separuh dan ponsel yang layarnya redup.
Ia tidak tampak terkejut melihat Sheen. Justru seperti orang yang sudah menunggu seseorang lewat.
Sania menoleh ke arahnya, lalu ke Sheen. Sorot matanya cepat, menilai. “Kita masih punya tiga menit,” katanya pada Sheen. “Jangan lama.”
Sheen mengangguk.
Sania melangkah keluar lebih dulu, membiarkan pintu kaca tertutup lagi di belakangnya. Dari luar, bayangan tubuhnya masih terlihat bergerak ke arah kendaraan.
Di dalam lobby, hening kembali menyebar.
Sheen berdiri beberapa langkah dari lounge itu, tidak terlalu dekat, tidak juga terlalu jauh. “Kak Eiden belum tidur?”
Eiden tertawa kecil, tapi tanpa rasa lucu yang utuh. “Kurasa aku sempat tidur. Tapi otakku bangun duluan.”
Sheen tidak menjawab.
Eiden menatapnya dari ujung kepala sampai kaki. Kali ini bukan tatapan yang lancang, tapi juga tidak benar-benar netral. Ia melihat rompi lapangan yang sudah dikenakan, jilbab yang dipasang tergesa tapi rapi, sepatu boots, dan wajah yang jelas masih menyimpan kantuk di bawah kesiapan.
“Jadi kamu benar-benar berangkat.”
Bukan pertanyaan. Lebih seperti sesuatu yang masih ia uji meski jawabannya sudah jelas di depan mata.
Sheen mengangguk. “Iya.”
Eiden menyandarkan punggung sedikit lebih jauh ke kursi, memandanginya beberapa detik terlalu lama.
“Boleh aku jujur?”
Sheen mengangkat alis tipis. “Kak Eiden biasanya tidak jujur?”
“Biasanya aku memilih versi yang lebih aman.” Sudut bibir Eiden bergerak kecil. Lalu hilang lagi. “Sekarang aku benar-benar tidak mengerti kamu.”
Sheen tetap berdiri di tempatnya. “Bagian mana?”
“Semua ini.” Eiden mengangkat satu tangan, menunjuk samar ke arah luar hotel—ke gelap, kendaraan, dan jalan yang sebentar lagi akan membawa mereka ke Bana Mateung. “Kenapa kamu harus sekeras ini? Kenapa kamu harus seserius ini?”
Sheen diam.
Eiden melanjutkan, kali ini lebih rendah, lebih telanjang daripada biasanya. “Kamu bisa duduk tenang di jalur hidup yang sangat cerah. Semua sudah ada. Orang tuamu membangun dunia yang bahkan tidak dimiliki kebanyakan orang. Masa depanmu jelas. Bersih. Terarah.” Ia berhenti sebentar. “Kamu tinggal hidup di dalamnya.”
Sheen tidak bergerak.
“Banyak orang akan mati-matian untuk dapat satu persen dari apa yang kamu punya,” kata Eiden. “Tapi kamu justru berdiri di sini, jam segini, bersiap masuk ke desa yang bahkan tentara pun belum yakin aman.”
Kalimat-kalimat itu tidak dilontarkan dengan nada menghina. Justru itulah yang membuatnya lebih tajam. Karena di dalamnya ada sesuatu yang lebih dekat dengan kebingungan daripada ejekan.
“Aku benar-benar tidak habis pikir,” lanjut Eiden. “Kenapa kamu tidak tinggal saja di tempat amanmu?”
Untuk beberapa detik, Sheen hanya menatapnya.
Di luar, salah satu mesin kendaraan dinyalakan sebentar lalu dimatikan lagi. Suara itu terdengar jauh, seperti berasal dari dunia lain.
Ketika Sheen akhirnya bicara, suaranya sangat tenang.
“Karena kalau aku tinggal di situ sekarang, aku tidak akan bisa hidup tenang di dalamnya lagi.”
Eiden tidak langsung menjawab.
Sheen melangkah satu langkah lebih dekat. Tidak agresif. Hanya cukup untuk membuat kalimat berikutnya tidak perlu dibuang terlalu jauh.
“Kakak pikir jalur itu aman karena terlihat indah dari luar.” Matanya tidak goyah. “Padahal buatku, jalur yang aman tapi membuat aku meninggalkan diriku sendiri… itu bukan aman. Itu cuma rapi.”
Lobby kembali hening. Eiden memandanginya seolah baru mendengar bahasa yang sudah lama ada tapi belum pernah benar-benar ia pelajari.
Sheen melanjutkan, kini lebih pelan. “Aku tahu aku beruntung. Aku tahu aku punya lebih banyak pilihan daripada banyak orang. Justru karena itu aku tidak mau hidup seolah semua itu cuma untuk membuatku nyaman.”
Wajah Eiden nyaris tidak berubah. Tapi ada sesuatu di matanya yang bergeser sedikit.
“Kakak tanya kenapa aku sekuat dan seserius ini.” Sheen berhenti sebentar. “Jawabannya bukan karena aku kuat. Aku justru datang ke sini sambil takut.”
Eiden menatapnya lurus.
“Bedanya,” kata Sheen, “aku tidak mau rasa takut itu memilihkan hidupku.”
Sunyi jatuh lagi. Kali ini lebih penuh dari sebelumnya.
Lalu Eiden menunduk sebentar, menggosok wajahnya satu kali, dan tertawa sangat kecil—bukan karena lucu, tapi seperti orang yang baru sadar bahwa jawaban yang ia dapat justru lebih berat dari yang ia siapkan.
“Kamu tahu?” katanya akhirnya. “Ini yang paling membuatku kesal dari kamu.”
Sheen menyipit sedikit. “Apa?”