Sheen, Bunga Matahari yang Merunduk

Iqne zakiah
Chapter #22

Sebelum Hujan Selanjutnya

Redho sudah menyiapkan perangkat kecil itu di sisi meja data, dekat titik relay yang baru stabil beberapa menit lalu. Sinyalnya belum kuat, tapi cukup untuk suara kalau percakapannya tidak terlalu panjang.

Sheen berdiri sedikit menjauh dari kerumunan balai, tepat di dekat dinding kayu yang masih utuh separuh. Dari situ ia masih bisa melihat meja data, Sania yang sedang merapikan urutan laporan awal, Akbar yang berbicara dengan salah satu personel TNM, dan sudut kiri tempat anak perempuan dengan ember ikan itu masih duduk seperti sebelumnya.

Redho menyerahkan perangkat itu ke tangannya. “Jangan lama. Jalurnya masih tipis.”

Sheen mengangguk. “Iya.”

Ia menekan nomor Kyu. Nada sambungnya tidak lama. Mungkin karena Kyu memang sudah bangun. Mungkin juga karena orang seperti Kyu tidak pernah benar-benar tidur penuh dalam situasi seperti ini.

“Ya.” Suara itu tenang, datar, dan langsung membuat sesuatu di dada Sheen turun sedikit dari tegang menjadi sesuatu yang lebih akrab.

“Assalamu’alaikum, Bang…”

Ada jeda pendek di ujung sana. Cukup untuk menangkap bahwa Kyu langsung membaca keadaan adiknya hanya dari satu kata.

“Wa’alaikumussalam. Kamu di Bana Mateung?”

“Iya.”

“Bagaimana?”

Sheen menoleh ke dalam balai. Pada ibu-ibu yang duduk terlalu diam. Pada jeriken yang tinggal sedikit. Pada bungkus bantuan udara yang nyaris habis. Lalu ke sudut kiri lagi.

“Bang…” suaranya turun, lebih dekat ke keluhan daripada laporan. “Kita harus kirim bantuan lebih banyak ke sini.”

Kyu tidak langsung menjawab.

“Sheen serius, Bang.” Kini katanya lebih cepat, seperti takut kalau tidak segera diucapkan semuanya akan kehilangan bentuk. “Air hampir habis. Formula tinggal sedikit. Anak-anak belum makan dengan benar. Mereka memang sudah dapat bantuan udara TNM, tapi itu cuma cukup buat bertahan. Abang tolong kirim lagi. Tolong cepat.”

Di ujung sana terdengar bunyi keyboard disentuh beberapa kali. Kyu jelas tidak mendengarkan sambil kosong; otaknya langsung bekerja.

“Aku tahu,” katanya akhirnya.

“Kalau tahu, kenapa belum—”

“Sheen.” Nada itu tidak keras, tapi cukup membuat Sheen berhenti. “Dengar dulu.”

Sheen menutup mulut rapat-rapat. Wajahnya menegang.

Kyu melanjutkan, tetap dengan suara tenang yang justru terasa paling sulit dibantah saat Sheen sedang emosional. “Berdasarkan laporan yang masuk ke command, prioritas utama untuk Bana Mateung sekarang tetap medis dan akses jalur keluar masuk.”

Sheen langsung mengerutkan dahi. “Tapi makanan dan air—”

“Penting,” potong Kyu cepat, tapi tidak tajam. “Sangat penting. Aku tidak mengecilkan itu. Tapi kalau akses belum bisa menopang suplai masuk secara stabil, semua bantuan tambahan tetap akan datang dalam jumlah terbatas. Dan kalau medis tidak diprioritaskan, yang masih bisa diselamatkan bisa hilang duluan sebelum pasokan besar benar-benar masuk.”

Sheen memalingkan wajah sedikit, menahan napas. Ia tahu perbedaan dua hal itu. Ia hanya tidak suka bahwa keduanya sama-sama benar.

“Aquin sudah menggelontorkan dana prioritas ke jalur itu,” kata Kyu. “Bukan untuk menunda makanan. Justru supaya jalurnya bisa menopang lebih banyak hal setelah ini.”

Sheen menunduk. Suaranya melemah, tapi belum menyerah. “Tapi mereka lapar, Bang.”

Di seberang sana, suara Kyu turun sedikit. Masih tetap datar, tapi lebih lembut di lapisan bawahnya. “Aku tahu.”

“Dan airnya hampir habis.”

“Aku tahu.”

Ada jeda.

“Makanya kita tetap dorong suplai dari luar,” lanjut Kyu. “Tapi kalau kamu mau bantu mereka bertahan hari ini, jangan cuma pikirkan apa yang harus dikirim. Pikirkan juga apa yang masih bisa dipakai di sana.”

Sheen mengangkat wajah sedikit. Kalimat itu membuat arah pikirnya bergeser. “Maksud Abang?”

“Temukan sumber air lokal. Wadah yang ada. Cara pakai yang paling hemat. Cara pisahkan mana untuk minum, mana untuk masak, mana untuk bersih-bersih.” Kyu berhenti sebentar. “Kalau semua menunggu kiriman, desa itu akan selalu satu langkah di belakang.”

Sheen menoleh ke sudut kiri balai lagi. Pada ember kecil itu. Pada dua ikan yang tetap hidup di air keruh. “Maksud Abang…” katanya perlahan. “Ada cara lain untuk mendapatkan air?”

Kali ini Kyu tidak menjawab secepat tadi.

“Ada,” katanya akhirnya. “Tapi kita harus lihat datanya.”

Sheen langsung meraih notes kecilnya. “Data apa?”

“Pertama, sumber air yang masih ada. Sungai, tampungan hujan, sumur gali, sumur bor, mata air, apa pun. Kedua, kondisi visual airnya. Keruh biasa, lumpur berat, berminyak, berbau, atau ada bangkai dan limbah di sekitarnya. Ketiga, wadah yang tersedia. Jeriken, drum, ember, panci besar, kain bersih, terpal, jaring, apa saja. Keempat, siapa warga yang paling tahu titik air paling aman.”

Sheen menulis cepat. “Kalau datanya sudah ada?”

“Aku bantu baca mana yang bisa dipakai paling cepat dan efisien.”

Sheen menggigit ujung bibir bawahnya sebentar. “Kalau ternyata airnya tetap jelek?”

“Kalau sangat jelek, jangan pakai untuk minum langsung. Pisahkan fungsi. Air yang kualitasnya paling baik gunakan untuk minum dan bayi. Yang di bawahnya untuk masak setelah treatment. Yang lebih jelek lagi buat cuci dan kebutuhan darurat.” Kyu berhenti sebentar, lalu menambahkan, “Jangan campur semuanya jadi satu.”

Sheen menulis lagi. Tangannya mulai bergerak lebih mantap.

“Dan kalau betul-betul sempit sekali,” lanjut Kyu, “cari juga cara panen air dari udara.”

Sheen berhenti menulis. “Dari udara?”

“Iya.” Kini nada Kyu berubah sedikit—bukan lebih hangat, tapi lebih masuk ke wilayah yang sangat dikenalnya. “Embun atau kelembapan pagi. Kain bersih, jaring, atau permukaan tipis bisa dibentangkan vertikal di area yang terbuka angin. Airnya sedikit, tapi lebih aman daripada langsung minum dari genangan keruh.”

Sheen mengerutkan alis. “Bisa?”

“Bisa.” Suara Kyu tetap tenang. “Tapi itu bukan solusi utama untuk satu desa. Jumlahnya kecil. Tapi untuk kebutuhan minum yang sangat terbatas—obat, anak kecil, atau kondisi darurat—itu tetap berarti.”

Sheen menoleh ke luar balai. Langit kini memang mulai memutih. Subuh yang basah seperti ini pasti menyimpan embun lebih banyak daripada yang selama ini ia sadari.

“Kain bersih…” gumamnya sambil menulis. “Jaring… terpal tipis…”

“Dan wadah penampung di bawahnya,” kata Kyu. “Kalau ada tali, tiang, atau rangka yang masih bisa dipakai, itu sudah cukup buat mulai percobaan kecil.”

Sheen terdiam beberapa detik. Lalu ia tersenyum. “Mahasiswa terbaik SITS memang lain.”

Kyu tidak langsung menjawab. Tapi di seberang sana, seulas senyum terbit dan dagunya terangkat beberapa senti.

“Em…” Kyu berdeham. “Itu cuma teknik konvensional biasa. Bukan hal baru.”

Sheen mengangguk.

“Tapi…” lanjut Kyu, “dari yang kamu ceritakan, masalahnya sekarang bukan cuma kurang pasokan. Masalahnya juga tidak ada cukup banyak waktu untuk menunggu pasokan jadi cukup.”

Kalimat itu membuat Sheen menelan ludah.

“Jadi…” suaranya kecil, tapi lebih jernih, “selama suplai besar masih susah masuk, kita cari apa yang masih bisa dibuat untuk bertahan hidup dari dalam?”

“Iya,” jawab Kyu. “Bukan untuk menggantikan semuanya. Tapi untuk menolong waktu.”

Di dalam balai, Sania menoleh ke arah Sheen dari jauh, memberi tanda bahwa laporan awal hampir siap dikirim. Akbar sudah kembali bicara dengan personel TNM. Waktu mereka tidak banyak.

“Kamu yang kepikiran soal air?” tanya Kyu tiba-tiba.

Sheen menoleh ke sudut kiri balai lagi. Anak perempuan itu masih menjaga embernya. Dua ikan kecil itu masih hidup.

“Iya,” jawab Sheen pelan.

Kyu diam sepersekian detik.

“Bagus,” katanya akhirnya. “Berarti kamu mulai lihat masalahnya dari dalam.”

Sheen menggenggam notes kecilnya sedikit lebih erat.

Di dalam balai, suara cipratan kecil dari ember itu terdengar lagi.

“Tapi aku tetap mau minta Abang dorong suplai pangan dan air,” katanya cepat. “Bukan nanti. Sekarang.”

“Sudah pasti.” Kali ini Kyu menjawab lebih cepat. “Kamu bahkan tidak perlu telepon untuk itu. Yang bisa dipercepat, sedang dipercepat. Yang bisa dipaksa masuk, sedang dicari caranya. Tapi sampai jalurnya benar-benar stabil, jumlahnya tetap terbatas.”

Sheen mengangguk, meski Kyu tidak bisa melihatnya.

“Jadi kerjakan dua hal sekaligus,” lanjut Kyu. “Dorong dari luar. Bangun dari dalam.”

Sheen menutup notes-nya pelan. Arah di kepalanya kini jauh lebih jelas daripada tadi.

“Aku paham.”

“Bagus.”

Ada jeda.

Lalu, seperti biasa, justru di ujung percakapan Kyu meletakkan hal yang paling ia maksud.

“Kamu sendiri gimana?”

Pertanyaan itu datang begitu biasa sampai justru membuat dada Sheen mengencang.

Sheen menarik napas pendek. “Baik.”

“Tidur?”

Sheen diam.

“Berarti enggak,” kata Kyu datar.

Sheen mendesah pelan. “Abang ini kadang menyebalkan.”

Lihat selengkapnya