Sheen, Bunga Matahari yang Merunduk

Iqne zakiah
Chapter #23

Gaung

Perangkat layar portabel itu diletakkan di atas meja lipat dekat sisi dalam balai. Redho sudah memeriksa sambungan dua kali sebelum mundur beberapa langkah. Kabel kecil menjulur ke aki cadangan dan relay yang sejak pagi bekerja lebih stabil. Di luar, cahaya matahari masih terang, tapi tidak lagi terasa hangat. Setelah melihat gudang alat yang tertimbun dan jaring-jaring yang rusak, Bana Mateung seperti menyimpan jenis dingin yang lain.

Sania berdiri di sisi kiri meja. Akbar di sisi kanan. Tidak ada warga di sekitar titik itu. Tidak ada anak-anak. Hanya ruang yang cukup agar percakapan ini bisa berlangsung tanpa mata lain ikut masuk.

Layar sempat berkedip dua kali. Lalu gambar muncul. Rafhan room tampak tenang dalam cahaya siang Averaya yang lembut. Rak buku, lampu warm white, meja kayu yang rapi, dan dinding yang terlalu bersih untuk dibandingkan dengan apa pun di Bana Mateung. Inara duduk lebih dekat ke layar. Rafid di sampingnya, sedikit mundur, tapi cukup dekat untuk terbaca jelas.

Begitu wajah Sheen muncul di layar, mata Inara tidak langsung bicara. Ia hanya melihat. Terlalu saksama. Dari jilbab yang tidak lagi rapi di bagian pelipis, warna kulit yang lebih kusam dari biasanya, bibir yang sedikit kering, sampai cara bahu putrinya menahan diri tetap tegak.

“Assalamu’alaikum,” kata Sheen lebih dulu.

“Wa’alaikumsalam,” jawab keduanya.

Rafid yang membuka percakapan. Suaranya tenang, rendah, dan sangat Rafid. “Bagaimana situasinya, Sheen?.”

Sheen mengangguk kecil. Notes tipis masih ada di tangannya.

“Bana Mateung masih bertahan, Pa,” katanya. “Tidak ada korban jiwa baru setelah hujan semalam. Longsor susulan kecil terjadi di sisi gudang alat. Beberapa peralatan tertimbun, tapi belum dianggap hilang. Titik air lokal masih ada dua yang bisa dipakai, walaupun satu kualitasnya turun setelah hujan. Penampungan air hujan penuh, jadi untuk jangka sangat pendek kami punya napas.”

Rafid mendengarkan tanpa memotong.

“Komunikasi stabil,” lanjut Sheen. “Bang Redho bilang justru lebih baik pagi ini. Jalur teks, suara, dan video singkat aman.”

Rafid mengangguk pelan. “Lereng?”

“Masih harus dipantau. TNM belum izinkan penggalian gudang karena tanah belum stabil.”

“Warga?”

Sheen berhenti sepersekian detik, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih pelan. “Letih. Tapi masih kooperatif.”

“Air?”

Pertanyaan itu datang dari Inara. Bukan nada strategis. Bukan nada formal. Satu kata itu terdengar seperti sesuatu yang sudah terlalu lama berputar di kepalanya sejak panggilan ini belum disambungkan.

Sheen menoleh ke layar. “Masih kurang.”

“Seberapa kurang?”

Sheen menelan napas. “Cukup untuk bertahan. Belum cukup untuk hidup dengan layak.”

Di sisi layar, tangan Inara yang tadi diam di atas meja bergerak sedikit. Jemarinya saling bertemu, lalu terpisah lagi.

“Reaksi warga terhadap air kotor?”

Sheen tidak langsung menjawab. Dan jeda sekecil itu rupanya sudah cukup.

“Jadi ada,” kata Inara pelan.

Sheen memalingkan wajah sedikit. “Beberapa.”

“Beberapa bagaimana?”

“Reaksi alergi. Iritasi kulit. Gatal. Ruam.” Suaranya tetap rapi, tapi jelas lebih hati-hati sekarang. “Belum ada yang berat.”

Rafid masih diam, membiarkan percakapan itu bergerak ke arah yang hanya bisa dibaca Inara.

Inara menatap lebih lama. “Dan kamu?”

Pertanyaan itu jatuh terlalu cepat, terlalu tepat.

Sheen mengangkat alis kecil, mencoba terdengar biasa. “Sheen baik-baik aja.”

Inara tidak langsung menyahut. Matanya turun sekilas ke tangan Sheen yang memegang notes. Ke jari-jari yang, tanpa sadar, baru saja bergeser seperti menahan keinginan menggaruk sisi pergelangan.

“Jangan bohong,” kata Inara.

“Sheen enggak bohong.”

“Kamu juga tidak sedang jujur sepenuhnya.” Suara Inara tetap rendah. Itu justru yang membuatnya lebih tajam. “Tadi kamu menahan tanganmu.”

Sheen tidak bergerak.

“Dan kamu beberapa kali menggeser bahu kiri sejak layar tersambung,” lanjut Inara. “Cara kamu berdiri juga tidak seperti biasanya. Kamu sedang menahan tubuhmu sendiri supaya tidak terlihat tidak nyaman.”

“Ma…”

“Air untuk MCK bermasalah. Warga mulai kena reaksi alergi. Kamu ada di sana berhari-hari. Aku tidak perlu melihat kulitmu untuk tahu tubuhmu juga mulai bereaksi.”

Sunyi tipis jatuh di antara mereka.

Rafid tidak menengahi. Ia hanya memandang Sheen dengan sorot yang jauh lebih tenang, tapi sama-sama tidak bisa dikelabui.

Sheen menunduk sebentar. Saat mengangkat wajah lagi, suaranya lebih kecil. “Sedikit.”

Mata Inara langsung berubah. “Sedikit itu berapa?”

“Belum parah.”

“Sheen.”

“Belum parah, Ma.” Kini Sheen menegaskan, tetap lembut, tetap sopan, tapi jelas tidak mau dibiarkan masuk ke wilayah panik. “Masih bisa ditangani. Aku hanya harus lebih hati-hati.”

Inara memejamkan mata satu detik. Hanya satu. Lalu ketika membukanya lagi, nada suaranya berubah. Bukan meledak. Justru lebih tenang dari sebelumnya, dan itu lebih berbahaya.

“Pulang.”

Sheen menatap layar. “Ma—”

“Pulang, Sheen.”

Sania yang berdiri di samping meja menunduk sedikit. Akbar membuang pandangannya ke luar balai. Tak satu pun dari mereka masuk. Tapi kehadiran mereka terasa sebagai saksi yang sengaja dibuat senyap.

“Sheen, kamu sudah cukup membantu,” kata Inara. “Kamu sudah turun. Kamu sudah melihat. Kamu sudah bekerja. Sekarang pulang.”

Sheen menarik napas panjang. “Enggak.” Kalimat itu keluar pelan sekali. Namun justru karena itu ia tidak bisa disalahpahami.

Inara menatap lurus ke layar. “Apa?”

“Sheen enggak akan pulang.”

“Tubuhmu sudah mulai bereaksi.”

“Sheen tahu.”

“Air untuk MCK saja belum aman. Kamu pikir itu hal kecil? Kulitmu sensitif sejak kecil, Sheen. Kamu tahu itu.”

“Sheen tahu.”

“Berarti jangan paksa aku mengulang lagi.” Suara Inara pecah sedikit di ujungnya, lalu segera ia rapikan kembali. “Pulang.”

Sheen menunduk sebentar, lalu mengangkat wajah lagi. Sorot matanya tetap lembut. Tidak melawan dengan tajam. Tapi tidak bergeser juga.

“Kalau Sheen pulang sekarang,” katanya pelan, “Sheen akan meninggalkan mereka di titik yang belum selesai.”

“Itu bukan tugasmu seorang diri.”

“Aku tahu.”

“Kalau tahu, pulang.”

Sheen menggeleng kecil. “Ma, aku enggak bisa.”

Sunyi.

Lalu Rafid akhirnya bicara. Tidak memotong istri atau anaknya. Hanya masuk di celah yang paling perlu. “Kenapa?” tanyanya.

Sheen menoleh sedikit ke arahnya di layar. Pertanyaan itu berbeda. Bukan tekanan. Bukan larangan. Pertanyaan yang meminta ia menaruh seluruh isi kepalanya dengan jujur di meja. Karena itu, Sheen menjawab tanpa berputar lagi. “Karena masalahnya sudah bergeser, Pa.”

Rafid diam.

“Ini bukan lagi soal bertahan dua hari atau tiga hari. Air hujan memang membantu. Pendataan sumber lokal juga membantu. Panen embun bisa menolong waktu. Tapi itu semua rapuh.” Ia menelan napas. “Satu hujan lagi, satu longsor lagi, semua bisa berantakan lagi.”

Rafid mengangguk sangat tipis. Tanda bahwa ia mendengar, bukan bahwa ia setuju.

Sheen melanjutkan, kini lebih jelas. “Bana Mateung butuh sistem air yang lebih layak. Minimal yang bisa membuat warga enggak terus-terusan pakai air kotor untuk hidup sehari-hari.”

Inara langsung menyahut, “Dan karena itu justru kamu harus keluar dari sana. Biar tim logistik dan pembelian yang bekerja.”

Sheen memandang ibunya lama. Lalu berkata, sangat hati-hati. “Aku sudah membuat keputusan, Ma.”

Rafid tidak bergerak, tapi seluruh perhatian di wajahnya berubah. Sementara Inara menatap putrinya tanpa berkedip.

“Sheen akan pakai dana pribadi Sheen.”

Untuk pertama kalinya sejak panggilan itu dimulai, bahkan udara di antara mereka seperti berhenti.

Sheen melanjutkan sebelum siapa pun sempat memotong. “Bukan saham.” Suaranya tegas sekarang, sangat jelas. “Sheen tahu saham itu bukan untuk dijual. Sheen enggak akan menyentuh itu. Yang aku pakai adalah dana yang Mama dan Papa kasih waktu aku tujuh belas tahun.”

Rafid masih diam. Inara baru akan membuka mulut, tapi Sheen sudah lebih dulu bicara lagi.

“Sheen mau pakai dana itu untuk beli fasilitas air bersih. Air minum tambahan, pompa, alat filtrasi, penampungan, dan semua yang bisa dipasang cepat untuk Bana Mateung.”

“Sheen—”

“Sudah Sheen pikirkan.” Suara Sheen tetap sopan, tapi tak memberi ruang untuk dianggap impulsif. “Sheen tahu dana itu seharusnya jadi pondasi hidup. Sheen juga tahu itu untuk biaya hidup dan kuliah. Sheen juga tahu kalau dipakai sekarang, kemungkinan besar harus merelakan kuliah.”

Kalimat itu jatuh sangat tenang. Justru itu yang membuatnya berat. Di layar, Inara benar-benar membeku. Bukan karena tidak mendengar. Karena terlalu mendengar.

Rafid menatap putrinya lebih lama dari sebelumnya. “Kamu paham konsekuensinya?”

“Iya.”

“Paham penuh?”

Sheen menelan napas. “Sejauh yang aku bisa pahami sekarang, iya.”

Inara akhirnya bergerak. Tangannya menekan meja sedikit lebih keras dari sebelumnya. “Kamu mau menukar masa depanmu untuk satu desa?”

Sheen tidak menjawab cepat. Ia justru memandang ibunya dengan sesuatu yang lebih tenang daripada pembelaan. “Ma,” katanya lembut, “masa depanku bukan hilang. Masa depanku berubah.”

Inara membuang wajahnya sepersekian detik, seperti butuh ruang dari kalimat itu sebelum bisa kembali menatap anaknya. “Kamu bahkan belum masuk kuliah.”

“Sheen tahu.”

“Kamu belum tahu hidup akan membawamu ke mana.”

“Sheen tahu.”

“Lalu bagaimana kamu bisa begitu yakin menyerahkan sesuatu yang bahkan belum sempat kamu jalani?”

Sheen menarik napas dalam. Di balai belakangnya, suara warga terdengar sangat samar. Di layar, Griya Baytara begitu tenang sampai nyaris terasa tidak adil.

“Karena kalau Sheen simpan dana itu sekarang,” katanya pelan, “aku akan tahu bahwa ada satu desa yang bisa kubantu lebih cepat, tapi aku memilih menyelamatkan jalur amanku sendiri.” Ia berhenti sebentar. Matanya tidak goyah. “Aku enggak yakin aku bisa hidup tenang setelah itu.”

Sunyi kembali jatuh.

Sania menunduk lebih dalam. Akbar menatap lantai sebentar, lalu ke luar lagi. Di layar, Rafid menyandarkan punggungnya perlahan ke kursi. Wajahnya tidak melembut. Tapi juga tidak menutup.

“Angkanya sudah kamu hitung?” tanyanya akhirnya.

Inara menoleh cepat ke arah Rafid. Jelas tak menyangka ia akan masuk ke pertanyaan itu secepat ini.

Sheen mengangguk. “Belum sempurna. Tapi sudah.”

“Yang dibutuhkan sekarang?”

Sheen menurunkan notes-nya, membuka lembar yang paling baru. “Tahap pertama: suplai air minum tambahan sambil alat utama bergerak. Tahap kedua: pompa, unit filtrasi, penampungan, dan jalur distribusi sederhana. Bukan sistem permanen besar. Tapi cukup buat warga berhenti bergantung pada air kotor.”

Rafid mendengarkan dengan tenang. “Dananya habis?”

“Hampir.”

“Hampir atau habis?”

Sheen menatap lembar itu. Lalu jujur. “Kalau semua berjalan seperti hitungan paling realistis, sangat mungkin habis.”

Inara tertawa pendek. Bukan karena lucu. Lebih seperti suara seseorang yang baru saja kehabisan cara menahan sesuatu.

“Kamu benar-benar anakku,” gumamnya, nyaris ke dirinya sendiri.

Lalu ia mengangkat wajah lagi. Matanya kini tidak lagi hanya berisi marah atau takut. Ada sesuatu yang lebih rumit dari itu—bangga yang menyakitkan, mungkin. Atau pengakuan yang datang pada saat yang paling tidak ia inginkan.

“Mama benci keputusan ini,” katanya jujur.

Sheen mengangguk kecil. “Sheen tahu.”

“Mama benci karena Mama mengerti kenapa kamu mengambilnya.”

Kali ini Sheen tidak menjawab.

Rafid memandang keduanya bergantian. Lalu suaranya masuk, rendah dan sangat tenang. “Dana itu milikmu.”

Inara langsung menoleh.

Rafid tetap bicara pada Sheen. “Sejak hari kamu menerimanya, itu milikmu. Kami memberi tanpa syarat penggunaan. Yang kami minta hanya satu: kalau kamu memilih, kamu tanggung konsekuensinya.”

Sheen menahan napas.

“Dan sepertinya, kamu sedang memilih dengan sadar.”

“Pa—” suara Inara hampir memotong, tapi tertahan sendiri.

Rafid menoleh padanya sebentar. Sorot matanya lembut. Lalu kembali ke Sheen.

“Papa tidak akan melarangmu menggunakan dana itu,” katanya. “Tapi Papa ingin satu hal jelas.”

Sheen mengangguk cepat. “Iya, Pa.”

“Kamu tidak melakukan ini untuk menebus rasa bersalah. Tidak untuk membuktikan apa pun. Tidak untuk jadi martir. Kamu lakukan ini karena kamu membaca kebutuhan lapangan dan memutuskan bahwa ini penggunaan yang layak untuk milikmu sendiri.”

“Iya.”

“Kalau suatu hari setelah ini kamu tidak bisa kuliah tepat waktu, kamu tidak boleh menyalahkan Bana Mateung. Tidak boleh menyalahkan kami. Tidak boleh menyalahkan siapa pun.”

Sheen menelan ludah. “Iya.”

“Karena itu akan jadi keputusanmu.”

“Iya, Pa.”

Rafid mengangguk satu kali. Persis seperti saat ia menutup keputusan bisnis yang sudah bulat.

Di sampingnya, Inara menutup mata. Lama. Ketika membukanya lagi, suaranya jauh lebih pelan. “Kalau kamu tetap di sana,” katanya, “setidaknya jangan buat Mama menebak-nebak lagi tentang tubuhmu.”

Sheen diam.

“Kalau reaksinya memburuk, bilang. Kalau kulitmu makin parah, bilang. Kalau kamu enggak bisa tidur, bilang. Aku tidak mau mendengar semuanya dari cara kamu berdiri di depan layar.”

Sheen mengangguk. Kali ini lebih patuh dari sebelumnya. “Iya, Ma.”

Inara memandang wajah putrinya lama sekali, seolah mencoba menghafalnya dari jarak sejauh itu. “Dan makan.”

Sheen hampir tertawa kecil, tapi yang keluar hanya embusan napas. “Iya, Ma.”

“Dan jangan pakai air sembarangan.”

“Iya.”

Lihat selengkapnya