Pagi di Bana Mateung datang dengan cahaya yang nyaris terlalu bersih untuk desa yang masih penuh bekas luka.
Langit biru muda terbuka lebar di atas lereng. Kabut tipis yang semalam menggantung di pucuk-pucuk pohon kini sudah naik pelan dan pecah oleh matahari. Di bawah sinar pagi, tanah yang longsor terlihat lebih jelas, dinding-dinding rumah yang miring tampak lebih telanjang, dan sisa lumpur di sela jalan tanah memantulkan warna cokelat pucat yang tidak lagi bisa disembunyikan oleh gelap.
Tapi pagi itu, ada sesuatu yang berbeda di udara. Bukan karena Bana Mateung tiba-tiba menjadi lebih ringan. Bukan juga karena masalahnya selesai. Justru semua orang di desa itu tahu betul bahwa satu kiriman bantuan tidak akan menghapus delapan atau sembilan hari bertahan seadanya, tidak akan menutup bekas longsor, dan tidak akan membuat lereng tiba-tiba jadi jinak.
Namun tetap saja, sejak sebelum matahari benar-benar tinggi, ada semacam tegang yang bergerak lebih hidup di antara orang-orang.
Menunggu.
Di dekat balai, beberapa drum kosong sudah disusun lebih rapi dari biasanya. Jeriken-jeriken dibilas ulang. Ember-ember dibalik untuk ditiriskan. Dua orang warga laki-laki memperbaiki papan penyangga seadanya di dekat area tampung, sementara ibu-ibu yang sejak beberapa hari terakhir bergerak dengan tenaga seperlunya pagi itu tampak sedikit lebih cepat. Bahkan anak-anak pun seperti menangkap sesuatu, walau mungkin belum mengerti seluruh artinya.
Sheen berdiri di sisi depan balai bersama Sania dan Akbar. Notes kecilnya masih ada di tangan, tapi pagi itu ia tidak terlalu sering melihat ke bawah. Matanya lebih banyak tertuju ke jalur masuk sempit yang dua hari lalu bahkan belum mungkin dipakai kendaraan apa pun.
Redho berdiri tidak jauh dari mereka, memeriksa titik relay dan radio lapangan sekilas sebelum akhirnya ikut menoleh ke arah yang sama. Eiden, yang pagi itu baru selesai membantu memindahkan beberapa wadah ke area tampung, berdiri dengan kaus sederhana dan celana lapangan yang sudah tak lagi punya jejak “artis” sedikit pun. Wajahnya masih lelah, tapi matanya ikut menunggu.
Sania melihat jam tangannya sekali, lalu mengembuskan napas pelan. “Kalau jalurnya tidak jebol lagi, harusnya sudah dekat.”
Akbar menatap jalan tanah itu tanpa berkedip. “Mereka akan masuk pelan. Tikungan bawah terlalu sempit.”
Sheen mengangguk kecil. Tangannya tanpa sadar mengencang pada notes di tangannya. Bukan takut. Lebih seperti tubuhnya belum sepenuhnya percaya bahwa sesuatu yang semula masih berupa hitungan, tanda tangan, dan daftar kebutuhan itu kini benar-benar akan muncul dalam bentuk nyata.
Dari bawah lereng, suara mesin terdengar lebih dulu. Tidak keras. Justru berat dan tertahan, seperti kendaraan besar yang dipaksa sabar oleh jalan yang belum sepenuhnya layak disebut jalan. Beberapa kepala langsung menoleh ke arah yang sama. Seorang anak kecil yang sedang duduk di anak tangga balai berdiri. Dua ibu yang tadi sedang membilas wadah ikut berhenti dan menyeka tangan basah mereka ke kain sarung.
Lalu truk itu muncul. Pelan-pelan. Hidung depannya lebih dulu terlihat dari tikungan, diikuti badan besar berwarna kusam yang sisinya penuh bekas lumpur kering. Di belakangnya, satu kendaraan lebih kecil menyusul dengan muatan yang diikat rapat terpal. Tidak ada musik kemenangan. Tidak ada teriakan besar. Hanya suara mesin, batu-batu kecil yang tergilas ban, dan puluhan pasang mata yang tiba-tiba terasa terlalu diam.
“Masuk…” gumam seseorang pelan.
Truk utama naik lebih dekat ke balai, bergerak nyaris merayap sampai akhirnya berhenti di area yang sejak pagi sudah dibersihkan seadanya. Mesin masih hidup beberapa detik sebelum benar-benar dimatikan.
Dan justru pada detik sunyi setelah suara mesin itu padam, sesuatu di desa seperti ikut turun dari tegang yang terlalu lama ditahan.
Seorang ibu menutup mulutnya dengan tangan. Seorang bapak yang berdiri paling dekat dengan drum kosong langsung mengucap, “Alhamdulillah…” dengan suara yang pecah di tengah. Dua anak laki-laki kecil bertepuk tangan sebelum tahu apakah orang dewasa akan memarahi mereka. Tidak ada yang memarahi.
Sheen tidak langsung bergerak. Ia hanya menatap truk itu beberapa detik, dan entah kenapa dadanya mendadak terasa penuh dengan cara yang tidak mudah dijelaskan. Bukan bangga. Bukan lega sepenuhnya. Lebih seperti satu simpul besar di dalam tubuhnya akhirnya sedikit longgar.
Akbar yang pertama melangkah maju. Suaranya langsung kembali ke ritme kerja. “Jangan bergerombol. Drum dan wadah besar di depan dulu. Lansia dan ibu dengan anak kecil diprioritaskan setelah itu. Semua tetap satu jalur.”
“Iya!”
Sania sudah membuka map distribusinya bahkan sebelum sopir turun penuh dari kabin. “Kita bagi dua alur,” katanya cepat pada Sheen. “Satu untuk tampung utama, satu untuk jatah rumah tangga terbatas.”
Sheen mengangguk. Tidak ada ragu. “Tante Sania pegang data rumah tangga. Aku di tampung utama dulu.”
“Baik.”
Akbar menoleh ke dua relawan lokal. “Buka ruang di sisi kiri. Yang kuat angkat selang dan pengunci dulu. Jangan semua orang naik ke bak.”
Redho langsung bergerak membantu personel teknis yang turun dari kendaraan kedua. Satu tangan memegang ujung kabel komunikasi, satu lagi memberi isyarat singkat ke teknisi lokal agar radio titik distribusi tetap hidup. Ia tidak mengambil alih. Hanya masuk tepat di celah yang dibutuhkan.
Di sisi lain, Eiden sudah ikut mengangkat pengikat terpal bersama dua pemuda desa tanpa banyak bicara. Wajahnya penuh keringat pagi itu, dan untuk pertama kalinya Sheen melihatnya benar-benar larut ke dalam kerja tanpa sisa pose sama sekali.
Truk dibuka. Di dalamnya, deretan tangki air sementara, galon-galon besar, dan wadah distribusi tambahan tertata rapat. Tidak cukup untuk membuat Bana Mateung aman selamanya. Tapi cukup untuk membuat desa itu bisa bernapas lebih panjang dari sekadar satu hujan ke hujan berikutnya.
Suara orang-orang mulai hidup lagi. Bukan gaduh. Lebih seperti napas yang kembali ke paru-paru.
Sheen bergerak ke sisi tampung utama, mengarahkan beberapa warga untuk menata antrean wadah besar. “Pelan-pelan, semua kebagian,” katanya. “Yang di depan jangan dorong. Ibu, yang itu bisa ditaruh di sisi kiri dulu. Iya, benar. Yang ember besar ke sini.”
Tangannya bergerak menunjuk, memindahkan, menahan, membantu. Dan pagi itu orang-orang menurutinya bukan karena ia anak Alghani, bukan karena ia datang dengan rompi yayasan, tapi karena selama beberapa hari terakhir ia sudah cukup lama berada di sana untuk tidak lagi terdengar asing.
Seseorang memanggil dari sisi balai. “Kak Sheen!”
Sheen menoleh.
Di sudut yang sudah sangat dikenalnya, anak perempuan kecil itu berdiri sambil memeluk ember plastiknya dengan kedua tangan. Ember itu masih sama. Warnanya kusam. Di dalamnya dua ikan kecil bergerak lemah di air yang keruh kecokelatan.
Untuk beberapa detik, semua suara di sekitar Sheen seperti mundur sedikit.
Anak itu tidak tersenyum. Belum. Tapi sorot matanya pagi itu berbeda dari hari-hari sebelumnya. Ada sesuatu yang lebih dekat dengan berharap.
Sheen menatapnya, lalu berjalan ke sana.
Ia berjongkok perlahan sampai sejajar dengan tinggi anak itu. Kini ia bisa melihat lebih jelas wajah kecil yang sejak pertama kali ia lihat selalu terasa terlalu tenang untuk usianya. Rambutnya diikat seadanya. Bajunya kebesaran. Di satu sisi pipinya ada bekas lumpur lama yang mungkin sudah dibersihkan tapi tak benar-benar hilang.
“Ikannya masih hidup,” kata Sheen pelan.
Anak itu mengangguk kecil. “Masih.”
Sheen menatap ember itu. Airnya keruh, tapi kedua ikan kecil itu memang masih bertahan.
“Kamu jaga terus ya?”
Anak itu mengangguk lagi.
“Kamu siapa namanya?” tanya Sheen, suaranya tetap pelan. Tidak tergesa. Tidak seperti orang yang sekadar ingin tahu untuk formalitas.
Anak itu menatap Sheen sebentar, seperti sedang memastikan pertanyaan itu sungguh ditujukan padanya.
“Semestari,” jawabnya lirih. “Semestari Rahayu.”
Nama itu membuat sesuatu di dada Sheen bergerak halus.
“Semestari…” Sheen mengulanginya perlahan, membiarkan nama itu benar-benar tinggal. “Nama yang cantik.”
Anak itu menunduk sedikit. Bukan malu, tepatnya. Lebih seperti seseorang yang belum terbiasa diperlakukan lembut.
Sheen menoleh ke arah drum air dan wadah bersih yang mulai ditata. “Kalau airnya sudah datang,” katanya, kembali menatap Semestari, “kita ganti air buat ikanmu, ya?”
Untuk pertama kalinya sejak ia mengenal wajah itu, mata Semestari benar-benar berubah. Bukan sekadar menoleh. Bukan sekadar hadir. Tapi menyala.
“Boleh?”
“Boleh.”
“Beneran?”
Sheen mengangguk. “Iya. Tapi pelan-pelan. Jangan bikin ikannya kaget.”
Semestari menatap embernya dulu, lalu menatap Sheen lagi, seperti sedang berusaha memastikan bahwa dunia memang kadang bisa memberi sesuatu yang kecil tapi baik.
Di belakang mereka, distribusi air mulai bergerak lebih lancar. Orang-orang mengangkat wadah. Suara air mengalir ke dalam drum kosong terdengar berat, penuh, dan anehnya indah—seperti bunyi sesuatu yang terlalu lama ditunggu.
Sheen melirik ke samping. “Tunggu sini sebentar.”
Semestari mengangguk cepat, memeluk embernya lebih erat.
Sheen berdiri, lalu mengambil satu gayung kecil dan wadah bersih dari sisi distribusi. Ia sempat menoleh ke Sania yang sedang mencatat, dan perempuan itu langsung mengerti hanya dari satu pandang.
“Tolong ambilkan sedikit yang paling jernih,” kata Sheen.
Sania melihat ke arah Semestari dan ember ikannya, lalu tanpa banyak tanya langsung mengangguk. “Iya.”
Beberapa menit kemudian, Sheen kembali jongkok di depan Semestari dengan satu wadah kecil berisi air baru yang jauh lebih bersih daripada air di ember itu.
“Kita pindahkan pelan-pelan,” katanya.
Semestari mengangguk cepat, kali ini benar-benar seperti anak kecil pada umumnya—tegang, serius, dan terlalu berharap.
Sheen tidak langsung menyentuh ember itu. “Kamu mau pegang sendiri, atau aku bantu?”
Semestari ragu sepersekian detik. Lalu berkata kecil, “Sama-sama.”
Sheen tersenyum. “Oke.”
Mereka melakukannya pelan-pelan. Air lama dibuang sebagian. Air baru dimasukkan sedikit demi sedikit. Dua ikan kecil itu bergerak lebih cepat saat permukaan air mulai jernih. Tidak ada musik. Tidak ada kalimat besar. Hanya satu ember plastik kusam, dua ikan kecil, dan satu anak yang napasnya terdengar lebih ringan setiap beberapa detik.
Begitu selesai, Semestari menatap embernya lama sekali. Lalu, seperti baru sadar sesuatu yang amat penting, ia mendongak ke arah Sheen. Wajahnya untuk pertama kali benar-benar tampak seperti anak kecil yang seharusnya.