Sheen, Bunga Matahari yang Merunduk

Iqne zakiah
Chapter #25

Air yang digenggam

Pagi di Bana Mateung datang pelan, seolah desa itu sendiri masih berhati-hati menerima hari baru.

Kabut tipis masih menggantung rendah di antara lereng dan atap-atap yang belum sepenuhnya pulih. Di belakang balai, beberapa warga sudah mulai bergerak lebih awal—menyapu tanah yang masih lembap, memeriksa wadah air, mengangkat karung bahan makanan yang semalam ditutup rapat dengan terpal. Tidak ramai. Tapi tidak lagi setegang hari-hari pertama.

Sheen berdiri di sisi belakang balai, menghadap lereng yang menurun ke arah jalur air. Di tangannya ada daftar distribusi pagi yang baru saja selesai ia periksa bersama Sania.

Dari arah samping, langkah kaki terdengar mendekat.

Sheen menoleh.

Eiden berhenti beberapa langkah darinya. Pagi itu ia tidak membawa gitar. Wajahnya tampak lebih letih dari biasanya, seperti seseorang yang sudah tidur, tapi belum sepenuhnya ringan.

“Aku mau bicara sebentar,” katanya.

Sheen menunggu.

“Soal Scrubel,” lanjut Eiden. “Soal gazebo. Soal sikapku waktu itu.”

Sheen memandangnya tenang. “Iya.”

Eiden menarik napas pendek. “Waktu itu aku datang ke kamu bukan dengan cara yang jujur.” Ia berhenti sebentar. “Aku datang karena aku mau sesuatu. Dari Mama kamu. Dari proyek itu. Dan aku pakai kamu untuk menekan arah ke sana.”

Sheen diam.

“Aku tahu itu salah,” lanjut Eiden. “Dan aku tahu aku bikin kamu enggak nyaman.”

“Kak Eiden bukan cuma bikin Sheen enggak nyaman.” Suara Sheen tetap lembut, tapi jelas. “Waktu itu Kak Eiden bicara seolah hidup orang lain bisa dipakai untuk mendorong hidup Kak Eiden sendiri.”

Kalimat itu membuat Eiden menunduk sedikit. “Iya. Itu yang paling salah.”

Angin pagi bergerak tipis di lereng.

“Aku enggak cari alasan,” katanya lagi. “Waktu itu memang ukuranku salah. Aku pikir semua hal bisa dibuka, dinegosiasikan, atau diarahkan asal aku cukup tahu caranya.”

Sheen tetap diam.

“Dan di sini…” Eiden memandang balai sebentar. “Aku baru sadar enggak semua hal pantas diperlakukan begitu.”

Untuk beberapa detik, tak ada yang bicara.

Lalu Sheen berkata, “Kak Eiden berubah.”

Eiden menggeleng kecil. “Belum tahu itu berubah atau baru mulai sadar.”

“Itu sudah lumayan,” jawab Sheen.

Eiden tertawa kecil. “Lumayan?”

Sheen mengangguk. “Iya. Untuk orang yang dulu datang dengan niat cari muka ke Mama, sekarang bisa sampai sini dan benar-benar bantu orang… itu lumayan.”

Eiden menutup mata satu detik, menerima sindiran halus itu tanpa membantah. “Pantas.”

Lalu ia memandang Sheen lagi. Kali ini lebih jujur.

“Aku minta maaf.”

Sheen menunggu.

“Bukan cuma karena aku bikin kamu enggak nyaman,” lanjut Eiden. “Tapi karena aku datang ke hidupmu dengan ukuran yang salah.”

Pagi itu terasa sangat sunyi setelah kalimat itu.

Sheen mengembuskan napas pelan. “Maafnya diterima.”

Eiden menatapnya.

“Tapi bukan berarti Sheen lupa,” lanjut Sheen.

Eiden mengangguk. “Iya. Itu adil.”

“Dan bukan berarti Kak Eiden bisa balik seenaknya lagi.”

“Wah.” Eiden mengangkat dua tangan sedikit. “Itu ancaman yang sangat elegan.”

“Itu peringatan.”

“Lebih serem lagi.”

Sudut bibir Sheen bergerak tipis.

Dari depan balai terdengar suara anak kecil berebut sesuatu—mungkin gitar Eiden yang sudah ketemu lagi.

Eiden menoleh sebentar ke arah suara itu, lalu kembali pada Sheen. “Satu hal lagi. Aku enggak akan ganggu urusan peran Zhiriu lagi. Kalau suatu hari aku dapat kesempatan, biar itu datang dengan cara yang benar. Bukan lewat kamu.”

Sheen mengangguk kecil. “Itu lebih baik.”

“Iya.” Eiden tersenyum miring. “Ternyata hidup yang enggak dimanipulasi rasanya lebih sehat.”

“Syukurlah kalau akhirnya tahu.”

“Sedang belajar,” koreksi Eiden.

Kabut di lereng makin tipis. Matahari mulai masuk lebih jelas di sela pepohonan.

Eiden melangkah setengah mundur. “Aku cuma mau bilang itu.”

Ia baru berbalik satu langkah ketika suara Sheen menahannya.

“Kak Eiden.”

Eiden menoleh.

“Terima kasih,” kata Sheen pelan, “karena sekarang sungguh membantu.”

Wajah Eiden berubah sangat tipis mendengarnya. Lalu ia mengangguk.

“Iya.”

Ia pergi ke arah depan balai, ke arah suara anak-anak yang makin ribut.

Sheen memandang punggungnya beberapa detik, lalu menurunkan mata ke daftar di tangannya lagi.

Tidak ada akhir yang besar. Tidak ada penyelesaian yang dibuat indah. Hanya satu kejadian lama yang akhirnya diletakkan di tempat yang lebih benar.

***

Menjelang siang, Bana Mateung tidak lagi terasa seperti desa yang sepenuhnya terputus dari dunia.

Musim mulai bergeser pelan. Hujan besar yang beberapa hari lalu masih datang tiba-tiba kini mulai jarang turun, seolah langit sendiri akhirnya mundur satu langkah dari lereng-lereng Maradovira Utara. Udara tetap lembap, tapi cahaya matahari lebih sering tinggal lebih lama di atas atap-atap seng yang miring, di dinding rumah yang belum sempurna diperbaiki, dan di jalur tanah yang kini mulai mengering di beberapa titik.

Tim TNM darat, yang selama berhari-hari bekerja nyaris tanpa bentuk kemenangan yang jelas, akhirnya berhasil membuka satu akses jalan yang cukup aman untuk lalu lintas terbatas. Belum sempurna, belum layak disebut pulih, tapi cukup untuk membuat kendaraan kecil, motor lapangan, dan orang-orang yang membawa barang bisa keluar masuk dengan ritme yang tidak lagi sepenuhnya bergantung pada udara.

Sejak pagi, gerak di Bana Mateung berubah. Ada warga yang mulai ikut membantu memindahkan muatan dari kendaraan bantuan kecil ke balai. Ada relawan yang bolak-balik ke titik air dan jalur distribusi tanpa harus selalu menoleh ke lereng seolah menunggu tanah jatuh lagi. Di sisi utara balai, dua unit alat filtrasi sederhana yang akhirnya sampai semalam sedang dicoba dipasang oleh tim teknis bersama Redho dan dua pemuda desa. Di dekatnya, beberapa pipa, wadah tampung, dan lembar terpal digelar di atas tanah, membentuk sesuatu yang untuk pertama kalinya mulai terlihat seperti sistem, bukan sekadar cara bertahan.

Sheen berdiri di sisi depan balai bersama Sania, memeriksa daftar kebutuhan yang mulai berubah bentuk. Kini beberapa nama barang sudah bisa dicoret. Beberapa prioritas bergeser. Beberapa permintaan warga tidak lagi terdengar seperti permohonan darurat, melainkan seperti kehidupan yang pelan-pelan ingin kembali punya bentuk.

“Kalau unit ini jalan stabil sampai sore, beban distribusi air minum bisa turun sedikit,” kata Sania sambil melihat catatan di tangannya.

Sheen mengangguk. “Berarti fokus bisa pindah ke penyimpanan dan pemakaian yang lebih rapi.”

“Iya.”

Dari sisi lain balai, suara Akbar terdengar sedang memberi arahan singkat pada dua relawan baru yang datang dari jalur bawah. Tidak keras. Tidak perlu. Ritme desa itu sendiri sudah cukup teratur untuk membuat banyak hal bergerak tanpa teriak.

Di dekat salah satu tiang, Semestari duduk di atas bangku pendek. Ember plastik berisi dua ikan kecil itu diletakkannya di lantai, rapat di samping kakinya. Sesekali ia menunduk melihat permukaan air yang jernih, lalu mengangkat wajah lagi ke arah halaman, seperti seseorang yang masih ingin memastikan semua yang sudah datang benar-benar akan tetap tinggal.

Untuk sesaat, Sheen berdiri diam memandangi semua itu.

Desa ini belum pulih. Tapi pagi itu, Bana Mateung untuk pertama kalinya tidak hanya tampak bertahan. Ia tampak mulai mencoba hidup lagi.

Lalu seseorang berlari.

Bukan langkah cepat biasa. Bukan juga langkah relawan yang sedang membawa laporan rutin. Dari sisi jalur timur, seorang relawan laki-laki datang dengan napas terputus-putus, sepatu penuh debu merah, wajahnya menegang dengan cara yang langsung mengubah udara di sekitar balai.

Akbar yang pertama menoleh. “Ada apa?”

Relawan itu berhenti beberapa langkah sebelum tangga balai, membungkuk sedikit untuk menangkap napas, lalu mengangkat wajah. Matanya langsung mencari Akbar, lalu bergerak ke Sania, lalu berhenti pada Sheen.

“Di jalur bawah…” Napasnya masih berat. “Ada tim evakuasi yang baru naik.”

Tak seorang pun bergerak.

Relawan itu menelan ludah. “Mereka menemukan satu jenazah laki-laki. Dari arah tepi sungai lama.”

Sunyi jatuh begitu cepat sampai suara angin yang tadi bergerak di sisi atap balai tiba-tiba terasa terlalu jelas.

Akbar yang turun satu langkah dari beranda. “Identitas?”

Relawan itu membuka kertas lipat yang basah di sudutnya. “Rahayu Seotagung.”

Nama itu jatuh pelan. Tetap saja, rasanya seperti sesuatu yang berat dijatuhkan dari tempat terlalu tinggi.

Sheen tidak langsung bernapas.

Di dekat tiang balai, Semestari masih duduk di bangku pendeknya. Ember berisi dua ikan kecil itu tetap di lantai, sangat dekat dengan ujung sepatunya. Gadis kecil itu sedang memandangi air di dalamnya, sama sekali belum tahu bahwa beberapa langkah dari sana, dunia sedang memilih satu nama untuk mengubah hidupnya.

Akbar menutup mata satu detik, hanya satu, lalu membukanya lagi. “Di mana sekarang?”

Lihat selengkapnya