Subuh di Bana Mateung turun dingin dan bening.
Langit masih berwarna biru tua yang tipis, belum benar-benar terang, tapi juga tidak lagi gelap. Sisa embun menempel di ujung rumput dan pagar-pagar kayu yang baru dibetulkan. Dari mushola kecil di sisi barat desa, gema salat Subuh baru saja surut. Udara membawa wangi tanah yang mulai kering, asap kayu yang sangat tipis, dan sesuatu yang sulit dijelaskan—seperti desa itu sendiri sedang menahan napas untuk satu perpisahan.
Di depan balai, kendaraan lapangan sudah disiapkan. Mesinnya belum dinyalakan. Pintu-pintunya masih terbuka. Beberapa tas dan boks perlengkapan sudah dinaikkan malam tadi, tinggal sisa barang pribadi dan peralatan kecil yang akan dibawa terakhir. Lampu depan kendaraan masih padam, hanya memantulkan cahaya subuh yang pucat di permukaan logamnya.
Kepala Desa, beberapa personel TNM yang bertugas di titik balai, dan dua orang relawan lokal yang sejak semalam membantu membereskan perlengkapan turut hadir untuk mengantar kepulangan Tim 1.
Akbar berdiri dekat kendaraan pertama sambil memeriksa daftar barang terakhir. Sania merapikan jilbabnya sekali, lalu menutup map tipis yang kini lebih banyak berisi dokumen serah terima daripada daftar darurat. Redho menaikkan tas ransel ke bahunya dan memastikan satu kotak perangkat komunikasi cadangan sudah benar-benar terkunci. Eiden berdiri dengan tangan di saku jaket, diamnya pagi itu jauh lebih jujur daripada semua diamnya yang dulu.
Sheen berdiri sedikit terpisah, menghadap desa.
Rompi lapangannya sudah tidak ia pakai lagi. Pagi itu ia hanya mengenakan pakaian sederhana, jilbab yang rapi, dan sepatu yang masih menyimpan sedikit warna tanah Bana Mateung di sela-sela solnya. Dari tempat ia berdiri, balai tampak seperti yang pertama kali ia kenal dan yang sama sekali berbeda sekaligus. Tempat itu masih dinding kayu, tangga pendek, dan halaman yang sederhana. Tapi di dalam dirinya, balai itu kini menyimpan terlalu banyak hal untuk bisa kembali jadi sekadar bangunan.
Kepala Desa yang pertama mendekat. Ia tidak membawa pidato. Tidak juga kalimat yang panjang. Wajahnya tampak lebih tua daripada saat pertama mereka datang, tapi ada sesuatu yang lebih lurus di bahunya sekarang.
“Terima kasih,” katanya pelan, menyalami Akbar lebih dulu, lalu Sania, Redho, Eiden, dan akhirnya berhenti di depan Sheen. “Desa kami tidak akan lupa.”
Sheen menunduk sopan, menerima genggaman tangannya dengan kedua tangan. “Kami juga terima kasih sudah diterima di sini, Pak.”
Kepala Desa mengangguk, seolah itu saja yang sanggup ia pegang tanpa membuat tenggorokannya lebih berat.
Lalu satu orang datang. Seorang ibu membawa bungkusan kecil kain, wajahnya masih setengah mengantuk, tapi matanya sudah merah. Ia menyerahkan bingkisan itu ke Sania dengan kedua tangan. “Ini cuma ubi rebus sama pisang yang ada di rumah,” katanya lirih. “Buat di jalan.”
Sania yang dari awal selalu paling rapi menahan diri justru menjadi orang pertama yang matanya langsung basah. Ia menerima bungkusan itu dengan hati-hati, seolah isinya benda paling mahal di dunia. “Terima kasih, Bu.”
Setelah itu, seperti sesuatu yang tidak lagi bisa ditahan, warga mulai berdatangan.
Dua orang bapak turun dari jalur utara sambil masih mengenakan jaket tipis. Lalu tiga ibu-ibu dari sisi timur. Lalu sepasang lansia yang datang pelan-pelan dibantu cucunya. Lalu anak-anak, sebagian masih mengucek mata, sebagian lagi dibungkus selimut atau sarung, tapi tetap keras kepala ingin berdiri di sana.
Awalnya hanya beberapa kelompok kecil.
Lalu semakin banyak.
Hingga tanpa perlu diumumkan, halaman balai yang tadi hanya berisi sedikit orang perlahan penuh.
Bukan penuh sesak. Tapi penuh dengan cara yang membuat dada orang yang melihatnya langsung tahu: hampir seluruh desa datang.
Sheen berdiri diam memandangi mereka satu per satu.
Orang-orang yang dulu menyambut mereka dengan mata lelah dan hati yang terlalu capek untuk cepat percaya, pagi itu berdiri di hadapan mereka dengan sesuatu yang tidak lagi perlu diterjemahkan.
Seorang bapak yang rumahnya dulu tinggal separuh menyalami Redho lama sekali tanpa banyak bicara. Dua ibu yang sempat sering membantu di dapur darurat memeluk Sania bergantian, membuat perempuan itu akhirnya tertawa sambil menangis sekaligus. Seorang pemuda desa memukul bahu Eiden ringan, malu-malu mengucapkan terima kasih, lalu buru-buru mundur sebelum wajahnya sendiri berubah. Anak-anak bergerombol di sekitar Akbar dengan campuran takut dan akrab, seolah belum memutuskan apakah pria itu lebih menyerupai komandan atau paman.
Dan Sheen—
Sheen didekati lebih banyak orang daripada yang ia sangka bisa ia tahan dengan wajah tetap tenang.
Seorang ibu muda menggenggam kedua tangannya sambil terus mengucap syukur. Seorang nenek mengusap lengan bajunya dan berdoa pendek dalam bahasa Maradovira Kuno yang membuat tenggorokannya langsung sempit. Seorang bapak menunduk hormat lebih dalam daripada yang terasa perlu, dan Sheen justru makin bingung harus membalas seperti apa.
Lalu Semestari datang.
Gadis kecil itu berjalan di samping bibinya. Langkahnya masih sedikit hati-hati, tapi jauh lebih baik dari pertama kali Sheen melihatnya di balai. Pagi itu ia tidak membawa ember ikannya. Tangannya kosong. Untuk sesaat, hanya itu saja sudah cukup membuat hati Sheen tersentuh—karena artinya, sedikit demi sedikit, hidup memang bergerak.
Semestari berhenti tepat di depannya.
Bibinya menatap Sheen dengan mata yang kembali basah hanya dengan berdiri sedekat ini. “Terima kasih,” katanya lirih. Tidak panjang. Tidak puitis. Tapi cukup untuk memuat lebih banyak hal daripada yang sanggup diucapkan.
Sheen menunduk. “Tolong jaga kesehatan, Bi.”
Perempuan itu mengangguk cepat.
Lalu Semestari melangkah maju satu langkah. Wajah kecilnya berusaha sangat serius, seolah ini pertemuan penting yang harus ia hadapi dengan benar.
“Kakak jadi pulang hari ini?”
Sheen tersenyum tipis. “Iya.”
Semestari mengangguk kecil, seperti sedang menerima sesuatu yang sudah ia tahu akan datang, tapi tetap tidak terasa ringan.
“Ikannya sudah masuk kolam,” katanya pelan. “Tadi pagi Semesta lihat dulu sebelum ke sini.”
Sheen menahan napas sebentar. “Bagus.”
Bibinya mengusap puncak kepala Semestari pelan. Gadis kecil itu tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya berdiri dekat kaki bibinya, menatap Sheen dengan cara yang membuat segala kalimat terasa terlalu besar dan terlalu kecil sekaligus.
Di sekitar mereka, semakin banyak suara terima kasih, doa, dan pamit saling bertukar. Tidak ada yang rapi. Tidak ada pula yang terlalu keras. Tapi justru itu yang membuat pagi itu terasa penuh sampai ke ujung langitnya.
Dan tepat ketika Akbar mulai melihat jam dan TNM memberi tanda halus bahwa rombongan harus benar-benar berangkat sebelum jalur bawah ramai, seorang anak laki-laki kecil tiba-tiba berlari dari sisi kiri halaman.
Ia datang dengan napas terburu, rambut sedikit berantakan, dan satu tangan terangkat tinggi-tinggi seolah takut terlambat.
“Kak! Kak!”
Beberapa orang menoleh. Anak itu berhenti tepat di depan Sheen, membungkuk sebentar untuk menangkap napas, lalu mengulurkan sesuatu dari tangannya.
Setangkai bunga.
Putih, ramping, dengan kelopak panjang yang terbuka tipis seperti jari-jari halus. Beach Spider Lily.
Anak itu menatap Sheen dengan mata yang terlalu sungguh-sungguh untuk usianya. “Ini buat Kakak.”
Sheen menerima bunga itu dengan kedua tangan, sangat pelan, seolah takut merusak sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar tangkai bunga.
“Terima kasih,” katanya lirih.
Anak itu mengangguk cepat, lalu dengan suara kecil tapi mantap berkata, “Sampai jumpa lagi, Kak. Dan… terima kasih.”
Kalimat itu begitu sederhana. Justru karena itu, ia menghantam tepat ke tempat yang paling rapuh.
Mata Sheen langsung panas.
Ia tersenyum sebaik yang ia bisa, lalu mengangguk. “Sampai jumpa lagi.”
Anak laki-laki itu lari kembali ke kerumunan, mungkin malu karena sudah bicara terlalu banyak. Tapi bunga itu tetap tinggal di tangan Sheen, putih dan sangat ringan, seperti sesuatu yang tidak semestinya sanggup menampung perasaan sebanyak itu.
Akhirnya, waktunya benar-benar tiba.