Sheen, Bunga Matahari yang Merunduk

Iqne zakiah
Chapter #27

Hari yang Indah

Pagi itu datang dengan cara yang sangat pelan.

Cahaya matahari belum sepenuhnya masuk ke kamar, baru sebatas menyusup tipis dari sela tirai dan menempel lembut di lantai kayu. Udara Ranumbang masih sejuk, dengan sisa dingin malam yang belum benar-benar pergi. Dari kejauhan, suara motor sesekali melintas di jalan depan perumahan, samar, lalu hilang lagi. Di luar jendela, dedaunan belakang rumah bergerak pelan terkena angin pagi.

Sheen masih terbungkus selimut ketika pintu kamarnya diketuk dua kali. Tidak keras. Tidak tergesa.

Lalu suara itu datang, hangat—tapi kali ini ada sedikit nada yang tidak biasa. “Sayang.”

Sheen membuka mata perlahan. Pandangan pertamanya jatuh ke langit-langit kamar yang sudah akrab, lalu ke jendela di samping meja belajar, lalu ke sosok yang berdiri di dekat pintu dengan daster rumah warna gading, rambut tergerai seadanya, dan ekspresi yang... sedikit lebih hidup dari biasanya.

Inara.

Untuk sepersekian detik, Sheen hanya menatap ibunya tanpa bicara. Ada sesuatu yang berbeda. Bukan hanya karena Inara ada di Ranumbang pagi-pagi begini—yang sudah cukup langka—tapi karena ibunya terlihat seperti seseorang yang baru saja melewati pagi dengan cara yang... tidak efisien.

“Sudah jam lima lewat,” kata Inara.

Sheen mengerjap. “Hm.”

“Bangun pelan-pelan. Hari ini bukan hari untuk mulai dengan panik.” Lalu, setelah jeda kecil, ia menambahkan dengan nada setengah menghela napas, “Walaupun jujur saja, sangat melelahkan harus membangunkanmu tanpa bantuan siapa-siapa.”

Sheen berkedip, masih belum sepenuhnya tersambung.

“Tanpa siapa-siapa?”

“Ingatkan Mama nanti,” lanjut Inara sambil melangkah masuk, “untuk tidak lagi meremehkan keberadaan Byghani.”

Sheen langsung menurunkan tangannya dari wajah, menatap ibunya lebih fokus sekarang.

Inara duduk di pinggir ranjang dengan gerakan tenang, tapi ada sisa-sisa “ketidaknyamanan ringan” yang masih menempel di cara ia mengatur posisi.

“Sehabis subuh tadi,” katanya, “Mama refleks bilang, ‘Byghani, panaskan air untuk teh.’”

Sheen menatap.

“Dan tidak ada yang menjawab,” lanjut Inara datar. “Tidak ada notifikasi. Tidak ada suara. Tidak ada apa-apa.”

Sheen mulai menahan senyum.

“Jadi Mama berdiri di dapur selama beberapa detik, menunggu sistem yang tidak ada,” tambah Inara, kini sedikit menggeleng. “Baru kemudian sadar... di sini harus nyalakan kompor sendiri.”

Sheen terkekeh pelan. Suara tawanya masih tipis, tapi cukup untuk membuat pagi itu terasa lebih hidup.

“Aku tidak pernah membayangkan Mama akan ‘error’ seperti itu.”

“Ini bukan error,” jawab Inara cepat. “Ini adaptasi.”

“Adaptasi yang butuh waktu, sepertinya.”

“Adaptasi yang membutuhkan kamu bangun sekarang juga,” potong Inara ringan. “Karena di rumah ini tidak ada sistem yang bisa memastikan kamu siap tepat waktu selain Mama sendiri.”

Sheen tersenyum, lalu mengangkat tangan sedikit seperti menyerah.

“Aku bangun.”

“Aku tahu.”

Inara mengulurkan tangan, merapikan rambut Sheen yang kusut di pelipis, lalu menyelipkannya ke belakang telinga dengan gerakan yang sangat sederhana—dan sangat akrab.

“Masih ngantuk?” tanyanya.

Sheen mengangguk kecil.

“Takut?”

Kali ini Sheen diam sedikit lebih lama.

“Sedikit,” katanya akhirnya.

Inara tidak langsung menjawab. Tangannya tetap di dekat wajah Sheen beberapa detik, lalu turun pelan ke atas selimut. “Bagus.”

Sheen menoleh. “Bagus?”

“Sedikit takut itu bagus. Berarti kamu sadar ini penting.” Inara menatapnya lembut. “Yang tidak boleh itu kalau kamu membiarkan rasa takut duduk di kursimu, pegang pulpenmu, dan ikut menjawab soal.”

Sheen tersenyum kecil.

Kalimat itu terasa sangat Inara—aneh dalam cara yang tepat.

“Aku harap takutku tidak sejago itu.”

“Kalau sejago itu, dia sudah minta kartu peserta dari tadi malam.”

Sheen tertawa pelan. Kali ini sedikit lebih jelas.

Inara ikut tersenyum, lalu menepuk pelan sisi selimut.

“Ayo. Bangun. Mandi air hangat.” Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan, “Airnya sudah Mama panaskan manual, jadi sebaiknya kamu tidak menyia-nyiakan usaha itu.”

Sheen mengangguk sambil masih tersenyum. Ia bangkit pelan, duduk di tepi ranjang. Lantai yang dingin menyentuh telapak kakinya. Dunia terasa mulai kembali utuh—tidak besar, tidak juga kecil. Hanya… berjalan.

Di meja belajar, kartu peserta ujian masih terletak rapi di samping pulpen dan botol minum.

Sheen memandangnya sebentar.

Hari ini benar-benar datang. Bukan hari dengan gemuruh. Hanya satu pagi, satu ujian, satu langkah kecil lagi. Aneh sekali, pikirnya, bagaimana hidup bisa kembali tampak biasa setelah sebelumnya terasa begitu besar.

“Kamu kenapa?” suara Inara menariknya kembali.

Sheen menoleh. “Tidak apa-apa.”

“Versi ‘tidak apa-apa’ yang mana?”

Sheen tersenyum tipis. “Versi yang benar-benar tidak apa-apa.”

Inara mengangguk, tapi tetap menunggu.

Sheen memandang jendela sebentar. “Cuma… rasanya aneh saja.”

“Aneh bagaimana?”

“Seperti… dulu aku pikir setelah sesuatu yang besar terjadi, semua hal lain akan ikut terasa besar. Ternyata tidak.”

Inara diam.

“Pagi tetap pagi,” lanjut Sheen pelan. “Ujian tetap ujian. Perut tetap lapar.”

Sudut bibirnya bergerak sedikit.

“Aku tidak tahu kenapa itu terasa menenangkan.”

“Itu karena hidup memang tidak selalu menyambut luka dengan terompet,” kata Inara lembut. “Kadang hidup justru menyembuhkan orang lewat hal-hal biasa yang tetap datang tepat waktu.”

Sheen menunduk, membiarkan kalimat itu masuk tanpa perlawanan.

Dari bawah terdengar bunyi peralatan dapur—halus, tidak terburu. Rumah ini sudah hidup sejak tadi.

Inara berdiri. “Setelah mandi, turun ya.”

Sheen mengangguk.

Inara berjalan ke pintu, lalu berhenti sebentar. “Oh ya.”

Sheen mengangkat wajah.

“Hira tadi subuh kirim pesan ke Mama.”

Sheen langsung curiga. “Ke Mama?”

“Dia bilang, tolong pastikan Sheen bangun. Jangan biarkan dia terlalu santai hanya karena habis melewati bencana nasional.”

Sheen menutup wajahnya sebentar. “Itu pasti Hira.”

“Dan Rerose titip bilang,” lanjut Inara tenang, “‘kalau Sheen gugup, suruh dia ingat setelah ini ada mie ayam.’”

Sheen tertawa lebih jelas sekarang.

“Mie ayam Mang Sas,” gumamnya.

“Tujuan hidup yang mulia.”

Setelah Inara keluar dan pintu tertutup, kamar itu kembali hening.

Sheen duduk beberapa detik, lalu menempelkan telapak tangan ke dadanya. Detaknya tenang. Masih ada sedikit gugup, tapi tidak menguasai.

Ia bangkit. Mengambil handuk. Dan pagi itu pun bergerak maju bersamanya.

***

Saat Sheen turun dari lantai dua, rumah itu sudah benar-benar bangun.

Aroma teh hangat bercampur dengan wangi bawang yang baru ditumis naik pelan dari dapur. Dari ruang makan terdengar bunyi piring disentuhkan ke meja, suara kursi yang sedikit bergeser, dan percakapan dua orang yang—bahkan sebelum kata-katanya terdengar jelas—sudah cukup untuk memberi tahu Sheen bahwa pagi ini berjalan dalam mode yang cukup hidup. Ia menapaki anak tangga terakhir sambil mengeringkan ujung rambutnya dengan handuk kecil.

“...itulah kenapa Inara bilang rumah ini butuh sistem dasar, Ma.”

Itu suara Inara.

Sheen belum sepenuhnya masuk ke ruang makan ketika suara Oma Ruindah terdengar menyusul, tenang tapi penuh daya tahan yang sudah terlatih puluhan tahun.

“Rumah ini tidak butuh sistem dasar. Rumah ini butuh orang yang mau bergerak.”

Sheen menahan senyum.

Ia melangkah ke ambang ruang makan dan menemukan keduanya sudah duduk berhadapan di meja panjang kayu. Inara di sisi kiri, dengan secangkir teh di dekat tangan dan ekspresi yang rapi seperti biasa, meski ada sesuatu yang tampak seperti sisa protes. Oma Ruindah di sisi seberang, mengenakan baju rumah sederhana warna lembut, dengan piring kecil berisi potongan timun dan tomat di dekatnya, tampak sepenuhnya tenang seperti orang yang tahu dirinya sedang benar.

Di atas meja sudah tersaji sarapan sederhana: telur dadar iris, tumis buncis wortel, sambal di mangkuk kecil, nasi hangat, dan teko teh.

Sheen baru menarik kursi ketika Inara menoleh padanya seolah menemukan saksi yang bisa diajak berpihak.

“Nah. Bagus. Sheen turun. Tolong jelaskan ke Oma Mama bahwa rumah seperti ini sangat tidak efisien.”

Oma Ruindah mendengus kecil. “Lihat? Baru dua hari di sini sudah ingin membongkar rumah orang.”

“Aku bukan ingin membongkar rumah,” kata Inara cepat. “Aku sedang menawarkan peningkatan kualitas hidup.”

“Peningkatan kualitas hidup versi kamu itu apa? Semua harus bicara sama mesin?”

“Tidak semua. Hanya hal-hal dasar.” Inara mengangkat satu jari. “Misalnya air panas. Notifikasi waktu. Pengingat kegiatan. Sistem pengamanan perimeter. Kontrol lampu. Sensor gerak. Integrasi—”

“Integrasi kepala kau,” potong Oma Ruindah santai.

Sheen menunduk, pura-pura sibuk mengambil piring agar tidak tertawa terlalu cepat.

Inara menarik napas, lalu menoleh ke Sheen lagi. “Sheen, bantu Mama. Tadi subuh Mama refleks bicara pada Byghani.”

“Sheen sudah dengar,” kata Oma Ruindah, rupanya tanpa kesulitan mengikuti arah pembicaraan. “Kau berdiri di dapur, diam saja, macam orang habis lupa niat.”

Lihat selengkapnya