Pagi kelulusan itu datang jauh lebih ribut daripada pagi ujian. Bukan karena ada yang panik, justru karena terlalu banyak orang merasa harus hadir.
Sejak selepas subuh, lantai bawah Kediaman Rahkafina sudah dipenuhi suara yang saling susul: bunyi langkah di kayu, pintu yang dibuka-tutup, suara peralatan makan, nada bicara Inara yang terdengar tegas dari ruang tengah, lalu sesekali disusul suara Key yang selalu berhasil terdengar paling tidak perlu.
Sheen yang baru selesai mengenakan jilbab berdiri di ambang tangga lantai dua dan menatap ke bawah dengan ekspresi datar yang sudah separuh pasrah.
“Ada apa?” tanyanya, nyaris berteriak ke arah bawah.
“Pasti kehebohan keluargamu yang sudah sangat antusias sepagi ini,” kata Hira dari balik layar ponsel di tangannya.
Sheen menoleh. Hira sedang video call, wajahnya sudah sangat cantik dengan rambut yang tersanggul rapi.
“Terima kasih, Hira. Informasi yang sangat menolong.”
“Sama-sama. Aku tahu kapasitas intelektualmu sedang turun karena ini hari kelulusan.”
Dari bawah, suara Rafid terdengar tenang namun tegas. “Key, Papa sudah bilang, Alphard cukup. Kita berangkat bersama, lebih praktis.”
Lalu suara Key langsung menyambar, penuh keyakinan yang tidak diminta siapa pun.
“Papa, ini bukan acara kontrol proyek. Ini hari kelulusan adikku. Tidak masuk akal kalau kita datang pakai mobil yang auranya rapat bulanan.”
Sheen memejamkan mata sebentar.
Dari layar, Hira tertawa kering. “Aku belum lihat siapa pun, tapi aku sudah tahu itu Kak Key.”
“Ingin kututup telepon ini sekarang juga,” gumam Sheen.
“Jangan. Aku ingin dengar chaos-nya.”
Sheen menuruni tangga sambil masih memegang ponsel. Begitu sampai di ruang tengah, pemandangan yang menyambutnya memang persis seperti yang ia bayangkan.
Rafid berdiri dekat pintu depan dengan kemeja rapi dan jam tangan yang sudah terpasang, satu tangan masuk saku, tangan lain memegang kunci mobil. Wajahnya tenang seperti biasa, tapi sorot matanya menunjukkan bahwa pagi ini ia sedang memilih jalur diplomasi. Inara berdiri tidak jauh darinya, mengenakan pakaian yang elegan namun sederhana, satu tangan terlipat, satu tangan memegang tas kecil, ekspresinya jelas sedang menahan komentar agar tidak berubah jadi pidato.
Di sisi lain ruang tengah, Kyu duduk santai di sofa sambil menatap layar ponselnya, tampak seperti orang yang secara sadar memilih tidak terlibat selama belum benar-benar diperlukan.
Dan tentu saja, pusat keributan itu berdiri di dekat jendela dengan sunglasses tergantung di kerah kausnya, memegang kunci Ferrari seolah benda itu adalah argumen final.
Key.
“Lihat adik bungsuku yang sudah cantik ini,” katanya begitu Sheen masuk ruangan, langsung berbalik seolah baru menemukan sekutu moral. “Cucu bungsu keluarga Rahkafina ini lulus SMA hanya sekali.”
“Sheen bukan cucu bungsu, Key,” kata Kyu tanpa mengangkat kepala dari ponselnya. “Biar aku ingatkan. Putri Paman Bungsu, Aini, adalah cucu bungsu keluarga ini.”
Key mengibas tangan. “Intinya bukan itu.”
Rafid menatap Sheen. “Papa hanya ingin semuanya naik satu mobil. Oma, Mama, kamu, Papa, Kyu, dan Key. Selesai. Lebih efisien.”
“Efisien bukan selalu berarti benar,” sahut Key cepat.
“Dalam urusan transportasi keluarga, biasanya iya,” balas Rafid.
Inara akhirnya ikut bicara. “Key, kita datang ke sekolah, bukan membuat parade otomotif.”
Key menoleh pada ibunya dengan ekspresi sangat sungguh-sungguh. “Mama. Tolong jangan kecilkan arti artistik dari sebuah kedatangan.”
“Kedatangan ke halaman SMA negeri di Ranumbang tidak butuh arti artistik,” kata Inara datar.
“Justru butuh,” kata Key. “Sheen sudah terlalu sering dijemput dalam keadaan dunia berantakan. Sekali-sekali biarkan dia turun dari mobil yang indah untuk menghormati momen puncaknya.”
Kyu mendengus kecil. “Kalimatmu panjang sekali untuk sesuatu yang sebenarnya cuma berarti kamu ingin bawa Ferrari.”
“Fitnah,” kata Key cepat.
Kyu hanya mengangkat bahunya tenang.
Hira di layar ponsel Sheen langsung berbisik keras, “Aku suka abangmu yang dingin.”
Sheen menutup mikrofon ponselnya sebentar. “Kamu diam.”
Oma Ruindah keluar dari ruang makan tepat saat itu, jilbabnya sudah terpasang rapi, tangan kirinya membawa kipas kecil, tangan kanannya membetulkan ujung lengan baju.
“Masih ribut juga?” tanyanya.
“Oma Mama... coba bantu bilang ke mereka,” kata Key, berbalik cepat. “Hari kelulusan itu butuh mobil yang punya karakter.”
Oma Ruindah menatapnya dari atas ke bawah. “Karaktermu saja sudah cukup bikin pusing, tak usah ditambah mobil.”
Kyu tersenyum tipis tanpa suara.
Sheen menunduk menahan tawa.
Key mengembuskan napas. “Oma tidak adil. Dari tadi tidak ada satu pun pihak yang menghargai visi saya.”
“Visi kamu itu bikin orang telat,” kata Inara.
“Enggak akan telat. Aku sudah cek semuanya.” Key mengangkat kunci Ferrari sedikit lebih tinggi. “Mobilnya siap, bensin penuh, bersih, wangi, dan—”
“Cuma muat dua orang dengan nyaman,” potong Rafid.
“Tiga kalau saling mencintai,” jawab Key ringan.
Rafid menatapnya datar. “Kita bukan sardines.”
Hira yang masih mendengarkan dari video call sampai terbatuk menahan tawa.
Sheen akhirnya duduk di pinggir sofa, menyerah untuk beberapa detik, lalu berkata, “Sebenarnya kita bisa berangkat pakai dua mobil, kan?”
Semua menoleh padanya. Ia langsung merasa seperti orang yang tanpa sengaja menyalakan lampu di ruangan gelap.
Rafid mengangkat alis sedikit. “Dua mobil?”
Sheen mengangguk. “Papa, Mama, aku, dan Oma naik Alphard. Kak Key dan Abang Kyu naik Ferrari kalau memang mau. Atau sebaliknya. Yang penting tidak perlu debat lagi.”
Key menunjuk Sheen cepat. “Nah. Nah. Lihat? Anak ini visioner.”
“Anak ini hanya ingin kita semua berhenti bicara,” kata Inara.
“Dan itu juga visioner,” sahut Key.
Kyu akhirnya mengangkat kepala dari ponselnya. “Aku ikut Alphard.”
Key langsung menoleh. “Pengkhianat.”
“Aku cuma tidak ingin duduk satu jam mendengar kamu menganggap knalpot sebagai bentuk ekspresi batin.”
“Itu kalimat yang sangat mungkin aku ucapkan,” kata Key, lalu berpikir sebentar. “Dan aku benci karena kamu benar.”
Rafid memandang Sheen beberapa detik. Lalu sudut bibirnya bergerak sedikit, nyaris seperti senyum. “Baik,” katanya akhirnya. “Dua mobil.”
“YES,” seru Key dengan kemenangan yang terlalu besar untuk keputusan yang sebenarnya kecil.
“Tapi,” lanjut Rafid tanpa mengubah nada, “Ferrari hanya untuk kamu. Sendiri. Tidak ada aksi pamer di depan gerbang sekolah. Tidak ada bunyi-bunyian berlebihan. Tidak ada drama.”
Key menegakkan badan. “Papa. Saya tersinggung. Sejak kapan saya identik dengan drama?”
Serempak, empat suara menjawab: “Sejak lahir.”
Bahkan Kyu ikut.
Key meletakkan tangan di dada, ekspresi terluka dibuat-buat. “Aku tinggal di rumah yang tidak aman bagi jiwa seniman.”
Oma Ruindah mengibas kipas kecil ke arahnya. “Kalau jiwa senimanmu selesai, sana pakai sepatu. Jangan sampai kelulusan adikmu batal cuma karena kau mau tampil estetik pakai sandal.”
Sheen tertawa lebih dulu kali ini.
Dan di tengah ruang tengah yang dipenuhi suara-suara keluarga itu—Papa yang tetap praktis, Mama yang sudah hampir habis kesabarannya, Oma yang selalu punya kalimat pemungkas, Kyu yang menusuk justru saat tampak tidak ikut campur, dan Key yang tidak pernah bisa mencintai sesuatu dengan diam—Sheen berdiri beberapa detik tanpa mengatakan apa-apa.
Ada masa ketika keramaian seperti ini mungkin akan membuatnya ingin mundur. Hari ini tidak. Hari ini semuanya terasa... penuh, tapi baik.
“Hira,” katanya pelan ke ponsel, menoleh sedikit menjauh dari keluarga. “Kalau kamu terus dengerin, nanti kamu terlambat siap-siap sendiri.”
Dari layar, Hira masih menyeringai. “Aku siap lebih cepat daripada seluruh keluargamu mengambil keputusan.”
“Kurasa itu benar,” gumam Sheen.
“Oke, aku tutup dulu. Nanti ketemu di sekolah.” Hira berhenti sebentar, lalu menyipitkan mata. “Tapi kalau Kak Key benar-benar datang pakai Ferrari, aku mau lihat.”
Rafid memeriksa jam tangannya. “Sepuluh menit lagi kita berangkat. Tidak ada diskusi tambahan.”
“Siap, Komandan,” kata Key ringan.
Oma Ruindah mulai berjalan ke arah pintu. “Sudah, sudah. Hari orang lulus jangan dimulai dengan terlalu banyak ngomel. Biar nanti kalian semua masih punya tenaga buat foto.”
Key langsung mengikuti dari belakang. “Nah, ini baru kalimat yang benar. Foto. Persis. Itu sebabnya Ferrari penting.”
“Bukan begitu maksud Oma,” kata Inara.
“Benarkah? Kukira Oma menyarankan foto di depan Ferrari,” balas Key.
Inara hanya menggeleng.
Sheen berdiri, membetulkan ujung lengan bajunya, lalu menarik napas pelan.
Hari itu baru mulai, dan rumah sudah penuh oleh cinta yang ribut, tidak efisien, dan mustahil disederhanakan. Anehnya, itu justru membuat semuanya terasa tepat.
Di luar, cahaya pagi jatuh hangat ke halaman depan. Dan di sisi tembok garasi, siluet putih Ferrari F12 Berlinetta warna bianco avus sudah tampak berkilau memantulkan matahari—berdiri seperti ancaman kecil yang sangat sesuai dengan kepribadian Key.
Sheen menatapnya sebentar, lalu menoleh ke Alphard hitam yang sudah siap di bawah pohon. Satu mobil praktis. Satu mobil dramatis. Sangat keluarga Alghani, pikirnya.
Lalu, sambil menahan senyum kecil yang datang begitu saja, ia melangkah ke luar rumah menuju hari kelulusannya.
***
Begitu acara selesai dan barisan siswa mulai tumpah ke halaman sekolah, suasana langsung berubah jadi jauh lebih riuh.
Suara tawa, panggilan dari kejauhan, bunyi ponsel yang dipakai bergantian untuk berfoto, guru-guru yang mulai longgar setelah acara resmi selesai, serta langkah kaki yang berseliweran di bawah pohon flamboyan bercampur jadi satu keramaian yang hangat dan penuh.
Langit terang. Angin siang bergerak pelan. Di halaman depan sekolah, murid-murid, keluarga, dan guru-guru berbaur dalam kelompok-kelompok kecil yang sibuk saling memanggil nama, menepuk bahu, dan mengabadikan momen yang sudah mereka tunggu berbulan-bulan.
Sheen berdiri bersama Hira dan Rerose di dekat taman samping gedung utama. Di tangan mereka masih ada map tipis dan beberapa lembar kertas yang sejak tadi berpindah-pindah posisi karena terlalu sering dipakai untuk kipas dadakan.
“Jadi,” kata Hira sambil menatap sekeliling yang makin ramai, “resmi sudah. Kita berhasil keluar hidup-hidup.”
Rerose tersenyum kecil. “Bahasamu seperti habis perang.”
“Secara emosional, iya.”
Sheen tertawa kecil.
Hira menoleh padanya. “Kamu dari tadi senyum-senyum sendiri.”
“Masak sih? Emang iya?” tanya Sheen sambil menyentuh pipinya.
“Sedikit,” kata Rerose pelan.