Sheen, Bunga Matahari yang Merunduk

Iqne zakiah
Chapter #29

Penutup

4 Tahun Kemudian

Pintu kamar Sheen di lantai satu terbuka pelan.

Sheen melangkah keluar dengan jilbab yang sudah terpasang rapi, ujungnya disemat sederhana di bawah dagu. Cahaya siang masuk dari jendela tinggi di sisi rumah, memantul lembut di lantai dan panel kayu.

Begitu pintu di buka, Sunken Area langsung terlihat. Di sana, suasana jauh dari sepi.

Beberapa manekin berdiri menghadap sofa, masing-masing mengenakan set pakaian berbeda. Kain-kain jatuh rapi, warna-warna lembut bercampur dengan beberapa aksen berani yang tetap terasa elegan. Di atas meja kayu tengah, beberapa sketsa dan sampel kain terbuka, disusun tanpa benar-benar rapi—tanda diskusi yang sudah berjalan cukup lama.

Inara duduk di sudut sofa dengan jilbab warna netral yang serasi dengan pakaiannya. Di pangkuannya, seorang anak perempuan kecil berusia sekitar tiga tahun duduk tenang, memegang ujung kain sambil sesekali menggerakkannya seperti mainan.

Eshal.

Di sisi lain, Sania berdiri dengan tablet di tangan, sesekali mencatat sesuatu. Di dekat manekin, Ayu sedang membetulkan jatuhnya salah satu kain dengan ekspresi sangat fokus.

Sheen menuruni satu anak tangga kecil menuju area itu.

“Wah, baju-baju ini bagus banget. Sheen suka.”

Ayu langsung menoleh. Saat hendak menjawab, matanya membulat sebentar memperhatikan Sheen dari ujung kaki hingga ujung kepala. Wajahnya berubah cerah.

“Ya ampun, kamu terlihat cantik sekali hari ini.”

Sheen mengangkat alis sedikit, senyum tipis muncul. “Tante memujiku atau memuji baju desain Tante yang aku gunakan?”

Ayu tidak butuh waktu lama untuk menjawab. “Kamu,” katanya mantap. “Tapi jadi lebih cantik karena gaun yang Tante buat.”

Inara mendengus pelan, tapi sudut bibirnya terangkat. “Iya dong. Tante Ayu yang bikin, pasti bagus.”

Ayu tersenyum, jelas tersanjung.

“Pilih dua set yang kamu suka, Sheen,” lanjut Inara.

Sheen menoleh ke arah enam set pakaian yang berjajar. Ia memandang satu per satu—memperhatikan potongan, warna, detail kecil di bagian lengan, jatuhnya kain, dan harmoni keseluruhan.

Beberapa detik berlalu.

Lalu lebih lama.

Sheen akhirnya mengembuskan napas kecil. “Tidak bisa.”

Inara langsung melirik. “Ha?”

“Semuanya bagus.”

Sania menahan senyum. Ayu terlihat seperti ingin mengatakan memang, tapi memilih diam.

Inara menyandarkan punggung, jelas sedikit lelah dari diskusi yang berputar di tempat. “Dari tadi juga begitu.”

Sheen menoleh, lalu mengangkat kedua tangan kecil sebagai tanda menyerah. “Kalau begitu Sheen tidak membantu ya. Maaf.”

“Tidak membantu sama sekali,” kata Inara datar.

Sheen tertawa kecil, lalu melangkah mundur. “Kalau begitu Sheen pergi dulu. Biar diskusinya fokus lagi.”

Ia baru berbalik ketika suara kecil memanggilnya.

“Mama.”

Sheen menoleh refleks.

Eshal sudah mengulurkan tangan ke arahnya.

Inara tanpa banyak kata langsung menggeser tubuh kecil itu ke arah Sheen. “Nih.”

Sheen mengangkat alis. “Ma—”

“Titip sebentar.”

“Sheen mau ke atas, mau ambil buku.”

“Ajak saja,” jawab Inara ringan. “Atau kasih ke bapaknya kalau kamu tidak mau jagain. Mama mau lihat baju kita dulu.”

Sheen menatapnya beberapa detik.

Tidak ada celah untuk negosiasi.

Akhirnya ia menghela napas kecil, lalu menggendong Eshal. “Ayo.”

Eshal langsung melingkarkan tangan kecilnya ke leher Sheen dengan nyaman, seolah itu memang tempatnya.

Sheen berjalan menuju tangga utama di sisi kanan ruang keluarga.

Tangga melengkung itu membawa mereka ke lantai dua.

Saat hendak menuju area perpustakaan, Sheen melihat pintu Rafhan Room terbuka sedikit. Ia mengetuk ringan sebelum masuk.

Di dalam, Rafid berdiri di dekat meja kerja, beberapa dokumen terbuka di hadapannya. Layar tablet menyala, menampilkan data yang tampak terlalu serius untuk siang hari yang cerah.

“Permisi.”

Rafid menoleh. Pandangannya langsung turun ke Eshal, lalu kembali ke Sheen.

“Eh, ada cucu Kakek. Ayo masuk.”

Sheen melangkah mendekat. “Papa lagi apa?”

Tangan Rafid terangkat sebentar, mengusap lembut kepala kecil Eshal.

“Lagi lihat dokumen AREH Ranumbang,” jawabnya tenang. “Papa mau pantau dulu kinerja kakakmu.”

Sheen memperbaiki posisi Eshal dalam gendongannya. “Memangnya kalau kinerjanya buruk mau Papa pecat?”

Lihat selengkapnya