🗓15 April 2024
MELIHAT MOBIL DENGANÂ Farraz yang terlihat tampan menyandar di sana, Sherly tahu, seharusnya ia memarkirkan saja sepeda kayuhnya di dekat bandara. Tidak sedikit orang yang melirik ke arah Farraz, bahkan sudah ada 4 gadis yang mengajak pemuda itu berbincang. Jujur saja, ia sudah melihat Farraz di sana sejak 30 menit lalu. Jeni sialan, kenapa wanita pirang itu harus menyuruh Farraz menjemputnya di bandara. Lihat saja pemuda itu, rambut rapi yang disisir ke belakang, mata setajam elang yang entah bagaimana bisa terlihat lembut, hidung bangir yang sempurna dengan kacamata yang tersampir apik, hingga bibir tebal yang- "Sialan! Apa yang aku pikirkan!?" umpatnya, "terlebih lagi, kenapa dia memakai mobil!? Tahu begitu aku menyewa becak saja!" imbuh Sherly geram.
Tak ingin berlama-lama lagi berada di bandara setelah mengintai si calon sopir selama setengah jam, ia pun keluar menyeret koper hijau di belakang tubuhnya, berjalan ke arah Farraz yang sudah tersenyum senang menyambut kedatangannya. "Miss!!!" teriak Farraz sembari melambaikan tangan agar Sherly menyadari keberadaannya. Sherly pun berhenti, tepat di depan pemuda yang sudah senang tidak karuan akan kepulangannya. "Waaaah... Biasanya orang akan terlihat segar saat liburan, kenapa Anda malah terlihat kusut begini?" Seru Farraz yang membuat beberapa gadis menahan tawa mengejek mendengarnya.
"Meskipun aku duduk di First class, kalau aku memang takut dengan pesawat, aku tidak akan tenang. Dan lagi, Jeni tidak bilang kalau aku tidak suka mobil? Kenapa tidak menjemputku dengan sepeda kayuh saja? Kalau begini aku lebih memilih naik becak di luar sana!" Oceh Sherly tidak peduli dengan tawa gadis yang kini makin terdengar.
"Sepeda kayuh? Miss, Anda yakin menyuruh saya mengayuh sepeda dari kantor Anda kemari? Itu jauh sekali!" Keluh Farraz.
"Aku pernah mengayuh sepeda sampai Bandung. Apa ini? Ternyata kau lebih lemah dariku?" Ejek Sherly dengan senyum sinisnya. "Dan lagi, apa yang dilakukan para goblin di sini?" sahutnya menatap satu persatu gadis yang sudah kesal mendengar ejekannya.
Gemas, sembari tersenyum Farraz pun mengambil penutup mata yang ia bawa atas perintah Jeni. "Sherly tidak suka berada di dalam mobil. Jadi tutup matanya saat menyuruh dia masuk ke dalam mobil,"  itulah yang ia ingat saat Jeni menyuruhnya menjemput Sherly.
Seolah tahu, Sherly hanya diam. Jelas sekali bahwa Jeni yang menyuruh Farraz membawa penutup mata itu. Ia bahkan tak menolak ketika Farraz memasangkan penutup mata padanya. Mendengar pintu mobil yang terbuka, ia perlahan masuk ke dalam. Beruntung tangan Farraz melindungi kepalanya, ia tak harus menjadi bodoh karena benturan. Tidak peduli meskipun hanya gelap yang ia lihat, itu lebih baik daripada mengetahui apa saja yang ada di sekitarnya. Mendengar mesin yang dinyalakan, Sherly hanya menghembuskan napas pasrah. "Farraz, bisa kau carikan penutup telinga di dalam ranselku?" Serunya.
Melihat Sherly yang tampak tak nyaman, ia hanya menurut. Mencarikan penutup mata di tas punggung milik Sherly dan memberikan benda kecil berwarna oranye itu pada gadis yang entah kenapa terlihat gugup di sampingnya. "Miss, apa anda menderita Mechanophobia?" Tanyanya.
Sherly terkekeh sembari menggeleng. "Aku bukan penderita Mechanophobia. Aku hanya tidak suka dengan kemajuan teknologi. Kalau boleh, aku lebih memilih hidup di jaman Yunani kuno daripada berada di jaman ini," Jelas Sherly menambahkan informasi tambahan yang tidak dibutuhkan. "Aku juga takut kalau-kalau melihat sebuah kecelakaan di hadapanku" Lanjutnya.
"Anda juga menutup mata dan telinga di pesawat?"
"Ya. Sekarang cepat antarkan aku dan diamlah!" Ketus Sherly yang hanya bisa di patuhi oleh Farraz.
***
Tak jauh dari TKP, tepatnya di kompleks perkampungan, mobil yang dikendarai oleh Farraz itu pun akhirnya berhenti. Keluar lebih dulu, Farraz pun memutari mobil dan membuka pintu untuk Sherly setelah membantu gadis itu melepas sabuk pengaman. "Anda bisa keluar Miss" ucapnya pada Sherly. Singkat, ia merasa kasihan dengan kerepotan yang di hadapi gadis itu. Jelas makhluk genius itu memiliki alasan yang membuatnya merasa takut berada di dalam sebuah transportasi. Hanya saja Farraz sadar, orang seperti Sherly tidak akan mau menyebarkan kelemahan yang ia punya.
Mendengar ucapan Farraz, Sherly mengangguk. Keluar dari mobil secara perlahan sebelum akhirnya membuka penutup matanya sendiri. "Jadi? Mana rumah Aryan Bagaskara?" Tanya Sherly setelah mengedipkan mata berkali-kali untuk membiasakan penglihatan.