Sherly Seeker - The Mortal Demon

Eliase Alfarz
Chapter #17

Pria Masa Kini

MEMPERSILAKAN FARRAZ MASUK ke dalam apartemen miliknya, Sherly tak ada henti menghina pemuda tampan itu akibat fisik lemahnya. Membawa koper besar dan menaiki tangga menuju lantai 3 bukanlah hal yang sulit ia lakukan. Bahkan ketika ia mengangkat vas besar antik yang dibeli, Sherly menaiki tangga dengan begitu mudah

Namun berbeda dengan Farraz. Pemuda itu tampak sangat kesusahan sejak berada di lantai pertama. Ia bahkan berkali-kali memohon untuk menggunakan lift saja. Protes akan kelakuan Sherly yang begitu egois menyuruhnya untuk ikut menaiki tangga. Dengan dalih berolahraga, Farraz pun kalah debat dengan mulut gadis gila yang kini sudah duduk santai di sofa berwarna hitam.

Ruangan yang ia lihat saat ini tak ada bedanya dengan kantor milik gadis itu. Tidak ada TV, AC, CCTV, maupun barang elektronik lainnya. Ia bahkan heran tentang bagaimana Sherly menyimpan makanannya. Hingga pintu apartemen kembali terbuka, ia melihat wanita paruh baya masuk dengan santai. Seolah tidak peduli jika ada dirinya sebagai tamu di tempat itu.

"Kau bisa mengikutinya jika penasaran dengan rumahku. Panggil saja dia Bu Ani, dia orang yang tinggal sekaligus orang yang mengurus apartemenku jika aku tidak ada. Tenang saja, dia ramah terhadap orang tampan," seru Sherly membaca gerak-gerik Farraz yang terlihat bingung di hadapannya.

Dari apa yang dikatakan Sherly, dengan apa yang dia lihat benar-benar berbeda. Bu Ani tidak terlihat ramah padanya. Wanita paruh baya itu bahkan tidak tersenyum apalagi melihatnya. Namun Farraz menurut, berdiri dan mengikuti Bu Ani yang sudah berjalan menuju ke salah satu ruangan. Pintu itu berwarna hitam, entah kenapa hanya pintu itu yang berwarna hitam. Dari sejak masuk ke dalam apartemen luas Sherly, setiap pintu ruangan semua berwarna kelabu. Mungkin memang gadis itu ingin membuat kesan monokrom untuk tempat tinggalnya.

Tidak ada barang elektronik apa pun selain kipas dan radio, penataan ruang di apartemen ini benar-benar mengagumkan. Lampu gantung berwarna putih bergaris emas dengan cahaya kuning temaram. Jendela lebar dengan gorden yang memberikan 100% penerangan pada ruang. Farraz benar-benar tidak heran jika Sherly kaya. Dari penataan saja sudah sangat jelas jika Sherly hampir tidak membutuhkan lampu selain untuk meja dapur dan kamarnya.

Hingga ia masuk ke dalam pintu bercat warna hitam itu, kini ia dibuat kagum oleh semua barang elektronik yang ada di dalam ruangan. Entah itu lemari es, TV sebesar layar bioskop, laptop, dan lain sebagainya. Hanya ada barang elektronik di sana dengan satu sofa besar yang di tata begitu apik. Ruangan yang seharusnya menjadi kamar utama justru menjadi koleksi barang elektronik milik Sherly.

Melihat Bu Ani yang memasukkan berbagai macam bahan pangan pada plastik, ia pun menawarkan diri untuk membawa tas plastik putih besar yang sebelumnya tergeletak di lantai. "Apa anda selalu mengambil bahan pangan dari sini sebelum memasaknya di dapur? Apa tidak bertambah lelah?" tanya Farraz penasaran.

"Miss Sherly menolak kehidupan modernisasi. Karena itu beliau meletakkan semua barang elektronik di sini," jelas Bu Ani singkat. "Saya bisa membawanya sendiri, anda bisa kembali duduk bersama beliau!" imbuhnya.

Menurut, Farraz pun kembali menuju Sherly yang kini justru membawa banyak tumpukan kertas dengan mudah. Jika di pikir lagi, ia terlalu meremehkan gadis itu. Menaiki tangga ke lantai tiga setiap hari, hingga mengayuh sepeda ke Bandung daripada menaiki taxi dan kereta. Alasan Sherly menolak kehidupan modernisasi, ia tidak tahu.

"Duduklah! Aku akan memperjelas banyak hal di antara kita!" Sherly berucap tegas. Melihat Farraz yang menurut dan duduk di hadapannya, tepat di seberang meja, ia pun mulai memberikan kontrak yang di tanda tangani Farraz beberapa hari lalu. "Kau jelas tahu risiko dari kontrak itu, kenapa tetap menyetujuinya?" lanjut Sherly bertanya.

Farraz pun terdiam. Entah kenapa ia setuju untuk tanda tangan. "Saya tidak tahu-"

"Itu masalahmu. Kau tidak punya pendirian, Farraz Chanakya. Lakukan apa pun yang tertulis di kontrak itu," sahut Sherly tiba-tiba. Membuat Farraz yang sebelumnya merasa baik-baik saja kini justru kembali gundah.

Lihat selengkapnya