Sherly Seeker - The Mortal Demon

Eliase Alfarz
Chapter #18

Psikiater Yang Menakutkan

🗓16 April 2024

SHERLY MENGHELA NAPAS PASRAH. Masuk ke dalam mobil yang baru saja berhenti di depan bukanlah pilihan pertamanya. Tidak peduli semewah apa mobil itu, rasanya masuk ke dalam benar-benar menjadi siksaan batin baginya. Jika boleh, ia lebih memilih mengayuh sepeda ke Depok daripada harus masuk ke dalam mini limosin milik psikolog terkenal itu.

"Tidak masuk?" Seru pria paruh baya yang baru saja menurunkan kaca jendela. "Aku sudah bilang akan membantumu, Aileen. Yang perlu kau lakukan hanya harus menuruti ucapanku!" imbuhnya.

Sherly memutar bola matanya malas. "Apa aku boleh memakai penutup telingaku lebih dulu?"

"Kau bisa mendengarkan musik!" Pria paruh baya itu menyahut. Melihat mulut Sherly yang hampir kembali terbuka, ia pun dengan cepat menyela. "Kau tidak perlu penutup mata! Sekarang cepat masuk ke dalam!"

Menurut, Sherly pun masuk ke dalam mobil dengan perasaan kesal juga pasrah. Yang berada di sampingnya saat ini adalah Mr. Sum, mantan jenderal yang dengan rela hati mengundurkan diri demi menjadi Psikiater. Ia mengambil gelar Doktor di usianya yang ke 45 tahun. Bukan main hebatnya, sosok tersebut berhasil mengambil jabatan sebagai jenderal bahkan di usianya yang ke 35. Tegas, memiliki watak keras, berwibawa dan disiplin tinggi. Sosok ini adalah alasan utama mengapa Sherly tidak pernah mau pulang ke rumah.

"Jarang-jarang kau meminta bantuanku, apa yang terjadi kali ini?" Mr. Sum memulai topik pembicaraan. Meskipun mata itu fokus membaca buku, namun setiap gerak-gerik yang dikeluarkan Sherly tak pernah luput dari penglihatannya. Jelas sekali jika gadis itu terlihat gugup bukan main.

Namun bagi Sherly, berhadapan dengan psikopat berkelas lebih baik dari pada berurusan dengan Mr. Sum di sampingnya. Ia tidak pernah bisa tenang jika sudah berhadapan dengan pria tua yang menjadi Psikiater pribadinya sejak kecil. Jika ada keburukan yang ia miliki, Mr. Sum pasti tahu. Lihat saja caranya membaca buku, posisi tubuhnya saja terlihat begitu tegas tak terkalahkan. Mantan jenderal memang memiliki aura yang berbeda.

"Alice, salah satu kunci kasus yang aku tangani sedang berada di rumah sakit jiwa sekarang. Aku tidak tahu bagaimana cara mencari tahu pelaku pelecehannya. Dia tidak mau berbicara sama sekali, karena itu aku meminta bantuan..."

"Meminta bantuanku?" Mr. Sum menjawab. Gadis ini benar-benar tidak tahu cara benar memanggil dirinya. Melihat gadis itu mengangguk pelan, ia pun tersenyum nakal. "Kau hampir tidak pernah pulang, Aileen. Apa kau tidak rindu dengan ayahmu?" tanyanya singkat.

"Rindu? Ah, ya tentu saja aku rindu. Tapi pekerjaanku masih banyak, jadi sulit memilih waktu untuk pulang ke rumah." balas Sherly. Apa dia berbohong? Tentu saja. Ayahnya adalah sosok yang entah kenapa selalu menggodanya. Tidak jarang pria tua yang selalu memakai tongkat berjalan itu memukul dirinya pelan jika ia membuat kesalahan. Dari pada hidup tidak tenang di rumah sendiri, lebih baik ia tinggal di apartemen atau tempat kos sesuai ke mana arah sepedanya berbelok.

"Sangat menyedihkan menjadi ayahmu."

Sherly menaikkan sebelah alisnya bingung. Dari semua putri yang berbakti, Sherly yakin tidak ada yang sepertinya. Meskipun faktanya memang ia jarang pulang, bahkan hampir tidak pernah. Tidak akan ada seorang anak yang rela menghamburkan uang agar sang ayah bisa pergi keliling dunia. Sejauh ini, negara paling jauh yang pernah di kunjungi Sherly adalah Singapura, mungkin Swiss bulan depan nanti. Sedangkan sang ayah sudah menjelajah ke Jepang, Inggris, Australia, Italia dan lain sebagainya. Tidak peduli meskipun sang ayah sudah kaya raya, Sherly masih menggunakan rekening sang ayah untuk gaji yang ia terima.

"Sangat menyedihkan menjadi ayahku? Yang benar saja! Jelas-jelas lebih menyedihkan aku! Hidup sebagai putrimu!" ketus Sherly menutup kepalanya dengan tote bag hitam yang biasa dibawa sang ayah untuk belanja. Tidak peduli meskipun kekehan rendah terdengar begitu renyah di sampingnya.

***

Mobil berhenti begitu sampai di tempat parkir sederhana milik rumah sakit jiwa yang tampak begitu tenang, dari luar. Keluar lebih dulu, Sherly sudah tidak tahan berada di dalam mobil. Tidak peduli meskipun sepanjang perjalanan sang ayah sekaligus psikiater pribadinya itu mengoceh karena ini termasuk proses penyembuhan. Namun jika dipikir lagi, proses penyembuhan macam apa jika si psikiater hanya mengomel dan menarik-narik tote bag yang melindungi kepalanya.

Lihat selengkapnya