🗓17 April 2024
JAM MENUNJUKKAN PUKUL 8 pagi ketika Farraz sampai di alamat yang dikirimkan oleh Sherly. Melihat rumah besar yang didominasi warna putih juga halaman rumah luas dengan pepohonan rapi, Farraz tidak habis pikir bagaimana bisa Sherly sampai di tempat ini. Lihat saja, tukang kebun yang menata dedaunan, sopir yang tengah membersihkan mini limosin, hingga pelayan yang terlihat lebih berkelas darinya berdiri menunggu Farraz untuk mendekat.
"You must be Miss Aileen's friend. She's already waiting for you in the living room" Seru pelayan itu dingin ketika Farraz sampai di hadapannya.
Tersenyum kikuk, Farraz memberikan helm yang sedari tadi ia bawa kepada si pelayanan saat tangan itu memberikan gesture untuk membawakan barangnya. "Thank you-" gumamnya yang hanya dibalas anggukan oleh pelayan di hadapan. Meskipun ia tidak terlalu pandai dalam bahasa Inggris, namun ia tidak sebodoh itu. Sherly sudah menyuruhnya belajar bahasa Inggris bahkan sejak pertama kali mereka bertemu. Bahkan ketika ia belum tahu nama gadis itu, dengan kurang ajarnya Sherly menyuruh agar Farraz kembali belajar bahasa Inggris.
Mengikuti pelayan itu masuk ke dalam rumah megah berwarna putih tersebut, Farraz begitu takjub melihat desain interior di dalamnya. Lampu yang menggantung dengan tangga yang membelah ke dua arah menjadi sambutan utama. Sekejap, Farraz merasa bahwa ia kini masuk ke dalam rumah mewah di sinetron yang biasa ibunya lihat. Entah bagaimana bisa Sherly terjebak di dalam sini, yang ia tahu, kalaupun gadis itu di culik, perutnya pasti tetap kenyang.
"Can I ask you something?" Farraz berucap pelan. Melihat pelayan yang berhenti dan berbalik arah melihatnya, Farraz pun berdeham pelan sebelum berbicara. "What exactly Aileen doing in this place?" tanyanya.
"This was her house. Her father's house to be exact" pelayan itu menjawab singkat. Melihat Farraz yang hanya diam mendengar jawabannya, ia pun kembali bertanya, "Is there anything else you want to ask about?" tambahnya. Mendapat gelengan singkat serta senyum tampan yang terpasang, ia pun melanjutkan perjalanan menuju ke ruang tamu.
Tak butuh waktu lama hingga ia melihat satu sosok pria paruh baya duduk membaca koran di sofa berwarna putih di ruang tamu. Bisa Farraz simpulkan, sosok itu adalah ayah kandung gadis genius yang akan ditemui olehnya. Sosok itu terlihat begitu berwibawa, tidak peduli dari segi mana saja, orang yang pertama kali melihatnya pun pasti berpikir sama.
"Sir, Miss Aileen's guest has arrived!" seru pelayan di depannya.
"Thankyou, James. You can go now!" balas pria paruh baya yang kini melipat koran di tangannya.
Sepeninggal pelayan bernama James, kini perasaan Farraz semakin gugup. Sherly tidak pernah bercerita apa pun mengenai keluarganya. Apa pekerjaan ayah gadis itu, ia juga tidak tahu. Bahkan aura itu terasa lebih mencekam daripada milik Inspektur Janardana ketika marah. Menunduk, Farraz hanya bisa menunduk ketika sosok itu berdiri dan berjalan dengan tongkat menuju ke arahnya.
"Kamu pasti Farraz Chanakya. Jika Aileen menyuruhmu datang kemari, itu berarti kamu salah satu orang penting untuknya." sosok itu berbicara ramah.
"Saya hanya rekan kerja anak Anda..."
"Kamu bisa memanggil saya Pak Sum saja. Dan lagi, tidak mungkin kamu dianggap hanya sebagai rekan kerja. Seperti Jenifer, Aileen menganggap wanita itu sebagai kakak perempuan. Tak jarang dia datang kesini untuk mengunjungi saya atas perintah si genius gila itu." Pak Sum menjawab, "Duduk dulu, Aileen masih ada di dalam kamarnya. Nanti juga keluar sendiri." imbuhnya.
Menurut, Farraz pun duduk di samping Pak Sum. Membiarkan pria itu lanjut membaca koran, Farraz kini justru sibuk dengan pikirannya. Bukan rekan kerja? Lalu Sherly menganggap dirinya siapa? Gadis itu juga tidak terlalu menyukainya. Kalaupun suka, pasti dalam artian dia merupakan orang favorit yang mudah untuk dibodohi. Apa Sherly menganggapnya sebagai seorang kakak? Tapi tidak mungkin jika adik bersikap kurang ajar terhadap kakaknya. Bahkan pada Jenifer pun, Sherly lebih seperti anak daripada adiknya.
Hingga 10 menit keduanya diam, suara langkah kaki yang menuruni tangga pun terdengar. Rambut pendek berantakan seperti tersengat aliran listrik, daster kebesaran yang memperlihatkan bahu sebelah kirinya, hingga mata yang bahkan belum terbuka sempurna. Jujur saja, melihat Sherly yang seperti ini terdapat rasa senang namun juga ingin mengejek dalam waktu bersamaan.
"Tidak sarapan?" Sherly berucap malas, tidak lupa mengusap sisa air liur di pipinya.
"Kau yakin mau sarapan dengan penampilan seperti itu di hadapannya?" Pak Sum menjawab dingin.
Menaikkan sebelah alisnya, Sherly mengedipkan mata beberapa kali. Hingga mata itu bisa terbuka dan pandangannya tampak lebih jelas. Ia terkejut bukan main melihat Farraz yang sudah menahan senyuman di samping sang ayah. "APA YANG KAU LAKUKAN DISINI!? FUCK!!!" Teriaknya sebelum berlari kembali menaiki tangga.
"Maaf atas tindakan anak itu," ucap Pak Sum menahan tawanya. Melihat pemuda yang juga ikut tertawa pelan, Ia pun mengajak teman anaknya ini untuk menuju ke meja makan.