Sherly Seeker - The Mortal Demon

Eliase Alfarz
Chapter #21

3 Aturan Tak Tertulis

MELETAKKAN RANSEL SEMBARANGAN di sofa apartemen, Sherly pun segera merebahkan tubuhnya di sana. Sembari memeluk bantal sofa, ia pun bergumam, "Aku merindukan Watson." ucapnya. Melihat Farraz yang masih diam duduk di hadapannya, ia pun menghela napas kasar. "Kau tahu kekuranganku apa. Jadi sebagai gantinya, akan aku traktir ramen di kedaiku!" serunya dengan senyum lebar.

"Ramen di kedai? Tidak terima kasih!" Farraz menjawab ketus. "Jika tidak ada hal lain yang Anda perlukan, apa saya bisa pulang sekarang?" lanjutnya dengan raut wajah yang sama, datar.

Melihat itu, Sherly lagi-lagi menghembuskan napas. "Terserah kau saja," gumamnya. Pasalnya pantang bagi Sherly mengatakan maaf kecuali untuk klien. Meskipun acuh, dia jelas masih paham tentang tata krama. Ia bahkan berpakaian serba lebar karena itu. "Oh, aku akan pergi menemui Aryan Bagaskara setelah ini!" serunya sebelum Farraz beranjak dari sofa.

"Lalu?"

"Ck, bukankah kau menyukainya? Teman macam apa yang akan mengajakmu menemui idolamu untuk permintaan maaf?" ucap Sherly dengan senyum bangga.

"Maaf saja, Aileen. Tapi aku juga bisa menemuinya sendiri!" Farraz membalas tak sopan. Melihat wajah Sherly yang melotot kaget mendengar jawabannya, ia pun menampilkan senyum remeh khas yang biasa ia pakai. "Apa?" imbuh Farraz cepat.

Berdeham singkat untuk menjernihkan tenggorokannya. Sherly pun tersenyum manis, "Tidak ada. Aku akan memaafkanmu kali ini," balasnya.

"Memaafkan apa? Dengar, terkadang aku juga lelah harus bersikap sopan padamu yang jelas masih 4 tahun lebih muda dariku. Bukankah seharusnya kau yang lebih sopan padaku? Aku tahu memang uangku tidak sebanyak uangmu, tapi kau sendiri bilang kalau sopan santun itu kesadaran diri dan bukannya kewajiban. Jadi untuk apa aku berperilaku sopan pada orang yang tidak tahu diri? Selama hampir 3 tahun pula!" oceh Farraz panjang lebar, tidak lupa menyandarkan punggungnya santai seolah ia pemilik rumah.

Reaksi Sherly? Yang bisa dia lakukan saat ini hanya diam sekaligus heran dengan kelakuan pemuda di hadapannya. Pasalnya Farraz adalah pemuda baik yang memiliki rasa sopan dan tata krama. Ia bahkan jarang dan hampir tidak pernah melawan perintah.

"Aku akan memulai aturan baru di antara kita." seru Farraz. Melihat Sherly yang menegakkan tubuhnya, ia pun mulai berbicara. "Pertama, aku akan memanggil namamu tanpa embel-embel lain jika tidak dalam kondisi kerja. Kedua, sebagai partnermu nanti, aku tidak ingin seperti Miss Jeni yang harus mengikuti seluruh perintahmu. Ketiga, ke mana pun kau pergi, aku akan ikut. Dan itu adalah 3 peraturan tak tertulis yang harus kau setujui setelah menjebakku dengan kontrak sialan itu!" jelasnya.

"Farraz!" Sherly menyahut cepat. Menatap pemuda itu lekat, ia pun melanjutkan, "Kau bisa berkata kasar?" tanyanya.

"Aku sedang serius sekarang!" Farraz berucap malas, tak lupa merotasikan bola matanya singkat.

"Aku tahu, aku sih setuju-setuju saja. Toh tidak ada ruginya untukku. Tapi tadi kau benar-benar berkata kasar?" seru Sherly dengan mata bulat penasaran.

"Aku masih laki-laki..." Farraz berhenti sejenak. Rasanya tidak enak memanggil Sherly dengan nama asli tanpa embel-embel Miss seperti yang biasa ia pakai. Ia bahkan awalnya main-main saja karena Sherly sering kali memang bersikap semena-mena padanya. Namun mendengar persetujuan Sherly, ia tidak tahu harus apa. Farraz pikir Sherly akan marah jika ia tidak memanggil gadis itu Miss seperti biasa. Ternyata tidak, tahu begitu ia lakukan sejak dulu.

"Kenapa? Tidak terbiasa?" sahut Sherly seolah mengerti perasaannya bagaimana. "Jeni juga biasa melakukan itu. Memanggilku tanpa embel-embel Miss. Saat dia tahu alasan sebenarnya kenapa aku ingin di panggil Miss, dia jadi berubah." imbuh gadis itu.

"Memang apa alasan Anda ingin di panggil Miss?"

Melihat Farraz yang memberikan tatapan penasaran, ia pun tersenyum nakal sebelum berbicara. "Ya sebenarnya aku ingin dipanggil Princess. Tapi karena terdengar aneh jadi aku ingin agar di panggil Miss saja. Toh daripada aku di panggil Mam atau Madam di usia 21 tahun? Lebih baik dipanggil Miss. Kan kan?" ocehnya dengan tawa yang dibuat-buat.

"Sudahlah, malas aku bertanya!" sahut Farraz kesal. Tanpa peduli dengan Sherly yang masih tertawa, ia pun memilih merebahkan diri dan tidur di sofa menunggu sore. Mengingat gadis itu bilang akan menuju ke rumah salah satu tersangka, tidak lucu kalau ia biarkan gadis itu sendirian.

Lihat selengkapnya