Sherly Seeker - The Mortal Demon

Eliase Alfarz
Chapter #22

Harta Berharga Milik Ganendra

🗓18 April 2024

Bagi Sherly, kasus paling sulit yang ia tangani adalah kasus yang berhubungan dengan pelecehan seksual. Tidak peduli korban masih waras atau sudah gila, tetap saja itu menakutkan untuk ia tangani. Bahkan tak jarang ia menyuruh Jeni untuk menolak jenis kasus itu itu tidak peduli berapa banyak bayaran yang akan ia dapat. Pasalnya, setiap jenis kasus yang ia tangani akan dipantau oleh sang ayah. Siapa yang memberitahu? Jelas sekretaris pribadinya. Terkadang yang membuat Sherly bingung adalah, siapa atasan Jenifer sebenarnya?

Memarkirkan sepeda kayuh di tempat parkir, Sherly kini masuk ke dalam rumah sakit jiwa, kembali menemui perawat kenalannya, Elly. Melihat gadis muda yang terlihat lesu sembari duduk menjaga salah satu pasien, ia pun berjalan mendekat tanpa menyapa. Toh, gadis itu sudah melihatnya.

"Kau terlihat tidak bersemangat sama sekali," serunya tanpa basa-basi.

Mendengar komentar itu, Elly pun mendengus singkat. "Sepertinya ucapan psikiater yang kau bawa benar-benar membuatku berpikir ulang untuk tetap melanjutkan pekerjaan atau tidak." Elly membalas dengan nada lelah. Kentara sekali jika ucapan ayahnya memberikan damage yang tinggi untuk perawat di depannya.

"Ucapannya memang pedas. Karena itu kadang aku mengatakan padanya bahwa Psikiater bukanlah profesi yang tepat untuk ditekuni olehnya. Mengingat sebelumnya dia menjabat sebagai Jenderal di kemiliteran." jelas Sherly terkekeh pelan. Lama-lama bisa saja Elly yang menjadi pasien di rumah sakit ini jika masih terus memendam perkataan yang di ucapkan ayahnya.

"Aku tahu, dia pernah bercerita hal itu di salah satu wawancaranya. Semalam aku melihat banyak sekali video tentang beliau. Rasanya sangat menginspirasi, tapi juga membuat sesak di hati." jelas Elly masih dengan wajah lesu miliknya. "Kenapa kesini lagi?" imbuhnya.

"Aku mengajak keluarga Alice berkunjung, tapi sepertinya mereka belum datang." balas Sherly singkat.

"Kenapa kau perhatian sekali dengan Alice, Anne?" Elly bertanya lagi.

"Mau bagaimana lagi, tuntutan kerja." Sherly menjawab singkat. Menggeleng pelan ketika ia hampir lupa dengan nama yang ia pakai ketika baru datang ke rumah sakit jiwa untuk pertama kali. Seperti yang sudah diketahui, Sherly sangat malas jika orang lain tahu tentang dirinya. Membuat KTP palsu bukanlah masalah besar bagi Jeni, toh ia tidak menggunakan kartu itu untuk hal ilegal.

"Kalau di ingat lagi, aku belum tahu apa pekerjaanmu."

"Hm? Aku hanya dibayar untuk melakukan sesuatu yang klienku minta. Seperti orang suruhan." jelas Sherly singkat.

"Aku tidak tahu kalau ada pekerjaan jenis itu di dunia nyata. Apa kau akan membunuh orang jika dibayar?" tanyanya dilanjutkan dengan tawa candaan.

"Aku ini manusia baik-baik kalau kau mau tahu!" Sherly menjawab ketus, menambah tawa lebar dari Elly.

Hanya 10 menit bercengkerama, mobil merah yang ia kenal pun akhirnya tiba. 4 orang keluar dari sana bersamaan, siapa lagi jika bukan Khadir dan anaknya, juga Rayan yang membawa pengacara pribadi keluarganya. Ia pun berdiri, setidaknya menunjukkan sopan santun dan menyambut klien tampannya itu. Sedangkan Elly di sampingnya, sudah melamun sendiri melihat Aryan yang terus saja memasang senyum tampan.

"Aku pikir kau hanya akan tinggal di hotel-"

"Dan melewatkan kesempatan bertemu pujaan hati? Itu tidak akan terjadi." sahut Rayan, tak lupa mengecup punggung tangan Sherly menggoda. "Aku membawa Pak Hakhem, seperti permintaanmu. Kau tidak tahu betapa sulitnya meluluhkan hati orang kolot satu itu!" imbuhnya berbisik tepat di telinga Sherly.

"Dia salah satu orang penting di sini, jika ada dia, kunci itu akan segera di temukan!" Sherly pun ikut berbisik.

"Katakan padaku, Chéri. Apa kau merindukanku sampai memaksaku untuk datang?"

Melirik malas ke arah Rayan, Sherly pun mengibaskan tangannya singkat. Membuat kekehan terdengar dari bibir pemuda tampan satu itu. "Jujur saja, yang aku butuh kan di sini adalah anda, Pak Hakhem. Ada beberapa hal yang perlu aku bicarakan dengan anda mengenai liontin milik Alice!" seru Sherly dengan suara sedikit keras. "Elly, kau bisa menemani Pak Khadir dan anaknya ke kamar Alice. Aku dan Rayan bersama dengan Pak Hakhem akan berbicara di taman belakang!" lanjutnya memerintah.

Lihat selengkapnya