🗓19 April 2024
Berita terkini:
"Diketahui bahwa korban dari pembunuhan berencana yakni Bapak Ganendra selaku mantan Menteri Keuangan Negara. Merupakan tersangka dari kasus pelecehan yang dengan sengaja dirahasiakan. Opini publik mengatakan jika Sherly Seeker dengan sengaja mengundurkan diri dari penyelidikan mengenai pembunuhan keluarga Bapak Ganendra setelah mengetahui, bahwa korban merupakan pelaku kejahatan seksual. Korban dari kebejatan beliau sendiri merupakan anak dari salah satu pelayan yang sudah lama bekerja untuk Bapak Ganendra. Bersamaan dengan itu, Inspektur Janardana telah mengkonfirmasi bahwa pelaku pembunuhan telah ditahan. Namun karena permintaan pribadi Sherly Seeker, Inspektur Janardana memilih untuk merahasiakan identitas pelaku pembunuhan. Sekian berita pagi ini, selanjutnya merupakan robohnya jembatan-"
Sosok itu melepas earphone yang terpasang. Berita Live yang menampilkan mengenai kabar terbaru tentang tertangkapnya pelaku pembunuhan Ganendra menjadi topik terhangat saat ini. Tidak sedikit ia melihat hujatan para netizen pada postingan tentang informasi kasus tersebut. Entah karena sifat bejat Ganendra, atau karena fakta bahwa polisi merahasiakan identitas pelaku, ia tidak peduli.
"Aku sudah menang, tapi anehnya aku merasa tidak puas," gumamnya, meletakkan smartphone yang ia genggam di atas nakas. "Sudah bertahun-tahun kau dirawat, dan selama itu juga kau masih takut dengan orang itu!?" imbuhnya, "aku bahkan sudah mengambil nyawanya! Membakarnya hanya agar kau senang dan dendammu terbalas! Tapi apa!? Kau hanya diam di tempat tidur dan menjadi gila setiap kali aku menyebut namanya!?"
"Hentikan, Aryan!"
"APA!? Ayah tidak tahu seberapa lelah aku melihat anak ini terus menerus menggila setiap kali aku menyebut Ganendra! Aku ingin membunuhnya berkali-kali bahkan saat dia sudah mati!" Aryan meluap, menekan setiap kata yang ia ucap pada sang ayah.
"Ayah tahu apa yang kamu rasakan. Alice juga anak ayah! Bukankah kamu seharusnya senang Ganendra sudah mati? Kita sudah bisa tenang sekarang," Khadiran menjawab lembut, berusaha meredakan emosi anak laki-lakinya tersebut.
"Apa menurut ayah aku bisa senang? Melihat anak ini saja rasanya emosiku meluap dalam sekejap!" Aryan menyahut, menunjuk Alice yang masih diam melamun di atas tempat tidurnya. "Aku lelah selalu mengurus dan merawat dia di saat ayah harus melayani bajingan gila itu! Dendam bertahun-tahun itu, apa ayah pikir akan hilang bahkan setelah aku membunuh semua orang itu!?" lanjutnya. "Sherly bahkan menjebakku dengan uang dan dompet mahal itu hanya agar tahu jejak sepatuku! Perempuan satu itu benar-benar gila!" serunya.
Tertawa singkat, Khadiran pun menepuk-nepuk tempat tidur Alice di depannya. "Ayah juga masih lucu dengan kejadian itu!" serunya masih dengan kekehan kecil. "Jebakan sesederhana itu untuk menangkapmu-"
"Beruntung aku masih memakai sepatu milik Haris!" sahut Aryan. "Setidaknya Tuhan pasti mengampuni dosaku setelah mengambil uang itu dan memasukkannya ke dalam kaleng masjid-"
"Jika itu yang kamu pikirkan-"
"Aku tahu aku melakukan dosa besar! Tapi bukankah dengan membunuh bajingan itu sama saja aku membantu banyak orang!? Lagi pula aku juga sudah melakukan Shalat Taubat setelah membunuh mereka semua!" Aryan menyahut kesal.