Jam menunjukkan pukul 6 pagi ketika Farraz berada di kantor kepolisian. Inspektur Janardana jelas belum datang, sedangkan Haris Ardiansyah masih harus dikurung di penjara untuk 12 jam mendatang. Mendekati sel pemuda yang tengah lesu tak bertenaga itu, Farraz pun membuka kunci sel sebelum mengajak Haris Ardiansyah menuju ke ruang interogasi sekali lagi. Tanpa penolakan, Haris Ardiansyah menuruti perintahnya. Benar-benar tipe yang pasrah dengan keadaan. Melihat latar belakangnya yang bekerja di Bar seperti Rayan terkadang membuat Farraz berpikir jika Haris Ardiansyah adalah manusia yang sama tidak jelasnya seperti Rayan. Kaya, flamboyan, hingga berlaku seenak jidat, bahkan dengan gamblang menggoda Sherlynya.
Keduanya pun duduk berhadapan setelah masuk ke dalam ruang interogasi. Melihat Haris Ardiansyah yang kembali menunduk, Farraz hanya bisa menghela napas. Ia pun mengeluarkan buku catatan dan pena miliknya, membuat Haris Ardiansyah pada akhirnya tersenyum simpul. "Apa ada yang lucu? Pak Haris?" ia bertanya singkat, tidak lupa memberikan senyum tampan yang biasa.
"Kenapa kau menggunakan buku catatan di saat lebih mudah menggunakan smartphone dan laptop?" Haris kembali menjawab dengan pertanyaan.
"Oh, ini kebiasaan. Sherly tidak menyukai suara ketikan laptop, dan jika saya menggunakan smartphone, itu terkesan tidak sopan. Melihat layar handphone di saat orang lain berbicara." jelas Farraz bohong. Farraz tahu fakta jika Sherly menderita Technophobia, dan ia tidak mau menyebarkan kelemahan orang lain, terutama calon atasannya sendiri. "Baiklah, kita harus cepat karena saya tidak ingin Inspektur Janardana tahu kalau saya menginterogasi Anda tanpa ijin pasti!"
"Terima kasih sudah mau membantuku, aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Aku juga merasa jika semua ini adalah salahku!" Haris Ardiansyah berucap pelan.
Tersenyum ramah, Farraz pun memulai interogasi yang disarankan oleh Sherly. "Ada satu hal yang membuat saya ragu jika Anda adalah pelaku. Bisa Anda ceritakan sekali lagi apa yang Anda lakukan saat insiden terjadi?" seru Farraz siap untuk menulis dan merekam penjelasan Haris Ardiansyah di smartphone yang ia letakkan di atas meja.
Menurut, Haris pun mulai bercerita. Apa yang ia lakukan sejak pagi hingga malam saat insiden itu terjadi. Di mana dia disambut hangat oleh mantan keluarganya dan digiring untuk ikut makan malam sederhana. Bahkan permintaan maaf yang begitu menenangkan hatinya, semua ia ceritakan. Saat ia bertemu dan berpisah dengan Aryan pun ia ceritakan dengan rinci. Hingga suara ledakan dan sirene yang bersahut-sahutan terdengar, juga saat kepulangannya.
Mendengar itu, Farraz pun menghela napas panjang, mencoba untuk mengatur pikirannya. "Saya ingat jika pak Abbas juga ikut dalam acara makan malam itu. Dan ketika beliau di interogasi, ia memilih menyembunyikan fakta tentang keberadaan Anda. Bisa Anda jelaskan kenapa?" Farraz bertanya, sebisa mungkin mendapat informasi yang begitu rinci.
"Saat masih berada di keluarga ayah, Aku cukup dekat dengan Paman Abbas. Saat aku di buang, paman bilang dia mencari keberadaanku meskipun hasilnya nihil. Bahkan ketika dia berada di Jakarta, paman cukup jarang kembali ke hotel dan memilih untuk menginap di rumahku. Saat acara makan malam itu, sebenarnya aku berniat pulang bersama paman, namun karena Aryan ingin bertemu, aku menolak ajakan pulang dari paman. Aku dan Aryan bertemu di minimarket depan gang rumah Aryan. Berjalan-jalan sebentar di taman dan bernostalgia, kami bahkan menelepon Rayan, namun tidak di angkat olehnya. Akhirnya kami menelepon pak Khadir, dari situ kami tahu kalau ternyata Rayan tengah mengadakan pesta besar-besaran di bar miliknya. Setelah itu kami berpisah, karena Aryan bilang harus mempersiapkan kepergiannya untuk ke Surabaya." jelas Haris panjang lebar.
"Itu! Saat itu! Anda bilang jika kalian sempat bertukar sepatu. Tepatnya kapan?" seru Farraz mulai menemukan titik terang.
"Itu? Sebelum insiden terjadi, setelah jalan-jalan dari taman dia bilang akan pergi ke Surabaya. Saat itulah aku menyarankan untuk memakai sepatu karena dia berniat ingin memakai sandal saja. Dia tidak suka memakai sepatu, karena itu aku memaksa agar dia memakai sepatuku saja. Rayan pulang dari New York 2 hari setelah insiden terjadi, sedangkan Aryan pergi ke Surabaya 5 hari setelah insiden terjadi. Dia tinggal di Surabaya selama 4 hari dan pulang tanpa pemberitahuan. Aku pikir dia di Surabaya selama satu minggu."
"Di sela antara insiden dan keberangkatan Aryan Bagaskara, apa ada waktu di mana kalian bertemu lagi?" Seru Farraz.
"Iya, kami bertiga sempat berkumpul bersama di rumahku. Hanya membahas insiden dan masa lalu. Saat itulah Rayan meminta maaf pada Aryan atas kelakuan ayahnya beberapa tahun lalu pada adik perempuannya, Alice."