🗓20 April 2024
Duduk di sofa hijau kantornya, Sherly pun merebahkan tubuh ketika melihat Watson berjalan mendekati dirinya. Benar saja, kucing belang jantan itu langsung naik ke atas perutnya hanya untuk tidur. "Kau pasti kenyang, kan kan? Apa Jeni memberi makan terlalu banyak? Lihat perutmu, makan sekali lagi kau pasti sudah meledak seperti bom waktu!" ocehnya tidak lupa memainkan pipi Watson yang hanya diam mendapat perlakuan darinya. Pintu diketuk, menampilkan 2 pemuda yang sudah membuat janji temu dengan dirinya beberapa waktu lalu. Menyuruh 2 orang itu masuk, Sherly tidak mengubah posisinya, mengingat Watson masih mengedipkan matanya layu.
"Masuk saja dan buat dirimu nyaman. Dan jangan berharap maaf dari kelakuanku! Karena Watson akan membenciku jika aku mengganggu tidurnya." serunya ketika Farraz dan Rayan duduk di 2 sofa tunggal yang ada tepat di seberang meja. "Jangan pikirkan aku, kalian berbicara saja!" imbuhnya dengan senyuman.
Memutar bola matanya malas, Farraz pun sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Rayan yang masih tersenyum gemas melihat kelakuan Sherly. Jika saja ia tidak profesional dalam pekerjaan, ia yakin pemuda itu pasti sudah babak belur dibuatnya. "Jadi, Sherly bilang padaku jika kau menyimpan sesuatu atau hal penting yang bisa diberikan padaku." seru Farraz meninggalkan sopan santunnya entah di mana. Melihat mata 2 orang di depannya yang sama-sama terbuka lebar seolah terkejut, ia pun mendengus singkat. "Apa aku harus memakai bahasa baku juga hanya untuk pertemuan tidak resmi seperti ini?" lanjutnya yang ditujukan untuk Sherly.
"Ha? Itu bukan masalah untukku." Sherly menjawab kikuk, berusaha keras untuk tidak menunjukkan senyuman. Pada akhirnya ia mengangkat tubuh Watson, meletakkan perut gemuk kucing itu tepat di atas wajahnya hanya untuk menyembunyikan ekspresi yang ia buat.
Melihat Farraz yang sudah memberikan tatapan sopan, dingin, dan benci menjadi satu, Rayan hanya bisa mengangguk-angguk singkat setelah menelan ludahnya sendiri. "Ya? Itu ada di sini." jawabnya memberikan alat perekam suara yang ia bawa. "Itu bisa menjadi bukti kuat untuk pengadilan." imbuhnya singkat.
Menekan salah satu tombol, ketiga orang di dalam ruangan itu pun diam mendengarkan rekaman suara dengan fokus. Berisi pembicaraan Aryan Bagaskara dan Khadiran di kamar tempat Alice dirawat. Bukan tanpa alasan Sherly mengajak Rayan untuk datang bersama Pak Hakhem untuk mengunjungi Alice hari itu. Tujuan utamanya bukanlah bertemu pak Hakhem, melainkan misi Rayan untuk meletakkan alat penyadap di bawah ranjang yang digunakan Alice. Dengan sengaja Sherly mengajak Khadiran dan Aryan untuk berbicara berdua di luar ruangan Alice dan membiarkan Rayan berada di dalam mengurus tugasnya.
Rayan bahkan terkejut ketika ia mendengar percakapan Aryan dan pak Khadir ketika ia tengah asyik mendengarkan alat penyadap di hotel melalui earphone miliknya. Itu adalah bantuan yang diminta oleh Sherly. Memasang alat penyadap untuk menjebak Aryan mengakui perbuatannya ketika mereka menangkap Haris untuk pancingan. Awalnya Rayan menyarankan untuk memasang alat penyadap di rumah Aryan, namun ide itu ditolak mentah-mentah oleh detektif genius di hadapannya. Meskipun alasan yang di buat cukup masuk akal, tidak ada hentinya ia merasa gugup ketika bertemu dengan Alice. Tidak peduli meskipun gadis itu tidak peduli dengan kehadirannya.Â
Tidak, bukan karena merasa kasihan atau takut Alice akan menggila jika melihatnya. Namun rasa bersalah yang terlalu besar membuat niat untuk mengunjungi sosok yang pernah ia anggap adik itu sirna. Setiap kali melihat Alice, entah kenapa rasa benci pada ayahnya semakin besar. Rayan bahkan terus mengumpati sang ayah yang sudah mati ketika berada di ruangan gadis itu. Wajah yang dulu selalu tersenyum lebar kini hanya menampilkan wajah datar dengan kantong mata yang menghitam. Ia tidak peduli meskipun Aryan membunuh keluarganya, semua itu pantas mereka dapat. Sang kakak, Jarvin yang sama bejatnya bahkan pernah memperkosa seorang gadis dan lolos dari hukum karena dana milik sang ayah. Begitu juga untuk adiknya, Fauzan yang lolos dari kasus kematian seorang pria akibat mengendarai mobil dalam keadaan mabuk. Ibunya? Jangan tanya. Wanita itu bahkan lebih cocok dipanggil monster daripada seorang ibu.