Jam menunjukkan pukul 3 sore setelah Sherly bangun dari tidurnya. Meskipun menjadi detektif terkenal, entah kenapa keseharian yang ia punya masih terasa membosankan. Yang ia lakukan saat ini adalah berjalan menaiki tangga, menuju lantai 3 di mana apartemennya berada. Berita mengenai Haris yang mengakui perbuatannya pun sudah dipastikan. Saat ini, mungkin pemuda dari Shanghai itu tengah berada di dalam penjara. Jika manusia baik masih ada, Sherly tidak tahu bagaimana cara melihatnya sebelum tindakan orang itu yang membuktikan. Sebelum itu terjadi, ia akan menganggap semua manusia itu tak berbeda dengan binatang buas.
Bu Ani juga ijin libur 3 hari untuk mengunjungi anaknya yang ada di Bandung, kini apartemennya sepi, dan dia harus bisa berusaha serapi mungkin agar wanita paruh baya itu tidak marah melihat apartemen yang ia tinggal berantakan. Mengingat Bu Ani pernah protes ketika ia mengacak-acak seisi rumah untuk mencari salah satu dokumen kasus yang lupa ia letakkan di mana. Pada akhirnya yang menemukan juga wanita paruh baya itu.
Naik di tangga paling akhir, Sherly hanya bisa tersenyum tipis melihat apa yang ada di depannya. "Oh, aku pikir aku melihat gelandangan tidur di depan pintu rumahku. Aku harus memanggil polisi!" serunya.
"Tidak perlu, polisi sudah ada di sini!" Farraz menjawab pelan, menunjukkan lencana polisi miliknya tanpa mau mengangkat wajah lebih dulu. Jujur saja, perasaan tak tenang setelah membentak gadis polos yang kini perlahan berjalan mendekatinya itu tak bisa hilang.
"Oh... Tapi kalau aku pikir lagi, sepertinya gajimu tidak sedikit sampai harus tidur di depan rumah orang lain." balas Sherly sembari memasukkan kunci yang ia bawa sebelum membuka pintu. "Apa kau akan tetap tidur di sana?" lanjutnya.
"Aileen, kau tidak marah?"
"Marah?" Sherly bertanya, "aku hanya terkejut. Aku juga mengalami hal yang sama saat setiap orang yang bekerja padaku meluapkan emosinya. Jeni, Bu Ani, James, ayahku tidak masuk hitungan karena dia memang selalu tegas dan terkesan penuh emosi. Tapi aku rasa alasan kalian marah semua sama saja, semua karena aku yang membawa topik sensitif untuk di bahas." jelas Sherly. Ia pun masuk ke dalam apartemen diikuti oleh Farraz yang masih diam mendengarkan. "Aku juga punya topik sensitif sendiri untuk dibahas. Penyebab aku menderita Technophobia itu, tentu saja. Kau belum tahu kan?"
Mendapat gelengan singkat dari Farraz, Sherly pun terkekeh pelan. "Kau bisa bertanya hal itu pada ayahku, atau Jeni. Mereka sengaja tidak memberitahu aku apa alasan aku menderita Technophobia, yang aku tahu aku hanya pernah memiliki foto yang sangat memalukan untuk dilihat, sampai-sampai aku takut menyentuh barang elektronik lagi." jelas Sherly, sembari menaikkan kedua alisnya tanda ia tidak tahu pasti dan memilih tidak peduli. "Aku lupa, jadi tidak terlalu tertarik, toh lebih baik hidup seperti ini. Kau tahu apa yang membuat manusia lupa dengan kebahagiaan?" imbuhnya bertanya.
"Apa? Karena mereka bersembunyi dari hujan?" tanya Farraz sebelum akhirnya terkekeh pelan melihat lirikan tajam dari Sherly.
"Itu hanya salah satu faktor. Kebanyakan manusia lupa dengan kebahagiaan mereka karena media sosial. Mereka berlomba-lomba ingin menunjukkan kebahagiaan mereka. Namun tanpa sadar, mereka justru melewatkan momen penting yang bisa mereka nikmati dengan orang sekitar. Sedangkan aku? entah aku berada di mana, aku selalu bisa menikmati suasana tanpa harus memikirkan bahwa orang lain tahu kalau aku bahagia." jelas Sherly.
"Lalu bagaimana kalau mereka memotret momen itu untuk dikenang?" Farraz bertanya.
"Akan aku beritahu satu hal. Saat kau berlibur ke suatu tempat yang menakjubkan, dan kau mulai mengeluarkan handphone atau kamera untuk mengabadikan, perasaan yang akan kau rasakan selanjutnya hanyalah kehampaan. Kau tidak akan tertarik ke tempat itu untuk kedua kalinya karena merasa kau sudah cukup menghabiskan waktu di sana. Setiap kali aku mengunjungi gunung Fuji, bahkan setelah tiga kali aku ke sana, aku tetap merasa takjub dengan pemandangannya. Tanpa harus mengabadikan momen itu dalam foto, aku bisa mengingat semua memori ketika nama tempat itu disebutkan." jelas Sherly tak lupa dengan senyum sombong, meremehkan Farraz yang bahkan keluar dari Ibukota saja belum pernah. "Oh ya, kau bisa memasak kan? Buatkan aku makan malam untuk permintaan maaf! Dan lagi, aku vegan intolerant! Kalaupun kau ingin memberi aku sayuran, aku tidak akan memakan sayuran berwarna kecuali hitam!" imbuhnya dengan senyum remeh.
Melihat wajah menjengkelkan itu, Farraz hanya bisa tersenyum sembari menggelengkan kepalanya pelan. Mengingat untuk apa ia susah-susah membentak Sherly, toh meskipun ia berbicara 1000 kali pun kepala gadis itu tetap keras. Sifatnya yang begitu berani, kurang memiliki rasa simpati dan empati, namun bisa begitu lembut ketika bertemu dengan orang yang keadaan ekonominya berada jauh di bawah gadis itu. Farraz tahu, meskipun semua yang Sherly perlihatkan hanyalah sisi negatif, gadis itu hanya mencoba melindungi dirinya sendiri. Ia bahkan masih ingat ketika Sherly menangis selama 7 hari karena berita tentang pemuda yang memasukkan kucing ke dalam blender hanya diberikan hukuman ringan. Sherly akan selalu menangis jika hal itu berurusan dengan hewan. Namun jika sudah berurusan dengan manusia, Sherly tidak akan terlalu peduli.