🗓21 April 2024
Farraz berlari, dengan cepat menuju kantor Inspektur Janardana yang dengan tiba-tiba menyuruhnya datang. Melihat beberapa anggota yang sudah berkumpul di ruangan sempit itu, Farraz mengucapkan kata maaf hanya untuk keterlambatan yang ia perbuat. Tidak peduli meskipun beberapa pasang mata melihatnya sinis, Farraz maju ke depan, mendekati Inspektur Janardana yang sudah menunjukkan surat penggeledahan yang ia minta beberapa hari lalu.
"Aku setuju karena berharap besar pada kemampuan deduksi milikmu, Farraz. Dan kau beruntung atasan memberikan ijin untuk surat penggeledahan ini. Bagaimanapun juga, bagi mereka kasus ini sudah berakhir dengan Haris Ardiansyah yang mengaku sebagai tersangka." ucap Inspektur Janardana dengan wajah tegasnya. Melihat bawahan yang siap mengambil perintah, Inspektur Janardana pun memberikan surat penggeledahan itu pada Farraz.
"Aku ingin semua tempat digeledah sesaat setelah aku menangkap bajingan itu! Kalian paham!? Jangan menyisakan satu hal meskipun itu rumah semut! MENGERTI!?" seru Inspektur.
"SIAP MENGERTI!!!" jawab Farraz sekaligus anggota Reskrim lainnya.
***
"Apa maksudnya itu?" Aryan bertanya dengan senyum hangat, berusaha agar detektif wanita di hadapannya ini cepat diam dan segera pergi dari rumahnya. "Anda datang pagi-pagi begini untuk mengatakan jika saya adalah pelaku? Bukankah Haris Ardiansyah sudah mengakui perbuatannya?" imbuhnya masih dengan senyuman ramah
"Ayolah, jujur saja padaku. Aku benar-benar tertarik dengan kisah pembunuhan itu, Lucifer"
Tersenyum manis, Aryan pun menyandarkan tubuhnya di punggung sofa. "Anda pasti salah, saya bukan pelakunya, Miss Sherly. Untuk apa saya membunuh sosok yang saya anggap ayah kandung sendiri?"
"Oh! Bukankah itu hal yang sama seperti untuk apa Ganendra melecehkan orang yang ia anggap putri kandung sendiri?" sahut Sherly dengan senyum remeh khas miliknya. "Kau tahu kalau tidak semua manusia itu baik, kau adalah contoh yang sempurna. Kau pikir hanya dengan bertobat semua dosa itu hilang?" imbuh Sherly.
"Saya tidak mengerti dengan apa yang Anda katakan, Miss." Aryan menjawab tenang, lanjut meminum teh yang ada di hadapannya. "Saya tidak tahu kenapa Anda menuduh saya seperti ini, namun bukankah kasus sudah selesai dengan pengakuan Haris?"
"Kasus belum berakhir jika pelaku tidak tertangkap, Aryan." balas Sherly cepat. "Apa kau tahu tentang Paracelcus?" imbuh Sherly bertanya, melihat Aryan yang hanya diam tak menjawab, ia pun tersenyum manis. "Dia pernah bilang bahwa, penting bagi seseorang untuk belajar hal jahat demi kebaikan karena siapa yang bisa mengetahui kebaikan tanpa belajar tentang keburukan. Dan setelah aku memberitahu hal ini, kau tahu apa yang aku maksud, bukan begitu?"
"Hal baik tidak harus diketahui dengan mempelajari sebuah keburukan Miss Sherly."
"Oh itu perlu. Justru karena keburukan itulah akhirnya kebaikan ditemukan. Orang pada akhirnya akan tahu jika membunuh itu sebuah keburukan setelah dia membunuh orang lain. Aku yakin pembunuhan pertama yang dilakukan anak Adam hanyalah karena cemburu semata. Ia belum tahu jika pembunuhan itu tindakan yang salah sebelum dia membunuh saudaranya. Bukan begitu?"
"Apa yang terjadi adalah takdir yang diberikan Tuhan, Miss-"
"Membunuh seseorang bukanlah takdir yang diberikan Tuhan. Itu adalah sebuah pilihan!" sahut Sherly kesal. "Aku akan menjelaskan dengan cepat, Aryan. Aku mulai lelah berada di sini dan berbicara dengan otak agamismu itu. Lucifer adalah pemilik dari simbol yang kau gambar, kenapa menggambarnya? Kenapa kau tidak menggambar simbol Azazil saja?"