Sherly Seeker - The Mortal Demon

Eliase Alfarz
Chapter #28

Fakta Si Jenius

Farraz menutup pintu apartemen Sherly. Mendengar penjelasan Jeni mengenai masa lalu gadis itu benar-benar membuatnya lemas. Penculikan yang terjadi 12 tahun lalu cukup membuat gempar mengingat korban baru berusia 9 tahun. Namun hanya itu yang diketahui oleh semua orang. Pihak media tidak memberikan informasi lebih mengenai korban dan pelaku. Bahkan jika di ingat, tidak ada informasi mengenai bagaimana nasib pelaku pada akhirnya. 

"Pelakunya ada dua orang, mereka meminta tebusan yang cukup besar pada Pak Sum saat itu. Sherly diculik selama 4 hari, selama itu pula dia mengalami pelecehan yang bisa dibilang cukup mengerikan." penjelasan yang diberikan Jeni begitu singkat namun terasa begitu lama ketika ia mendengarkan. "Dia tidak diperkosa atau lain sebagainya yang menyakiti fisik. Mengingat para pelaku menderita impotensi. Tapi mereka memotret Sherly dengan berbagai kostum tidak senonoh hingga memotretnya tanpa busana. Setelah apa yang terjadi, bersama dengan Sherly mereka melihat foto itu di komputer milik pelaku. Dari situ trauma Sherly dimulai."

Memukul tembok di sampingnya, Farraz tak ada henti mengeratkan kepalan tangannya setiap kali mengingat penjelasan yang diberikan Jeni. "Saat Sherly ditemukan, pelaku sudah kabur terlebih dahulu. Pak Sum mengatakan, keadaan di mana Sherly ditemukan tidak bisa hilang dari kepalanya. Kostum anak-anak yang hanya menutupi dada dan bagian bawahnya, wajah Sherly penuh dengan make up, dia hanya diam dengan pandangan kosong di dalam ruangan gelap penuh pakaian itu. Selama hampir satu tahun Sherly akan mengalami histeria jika dia bangun dari tidurnya. Itu juga salah satu alasan yang mendukung Pak Sum untuk mengundurkan diri dari jabatannya sebagai seorang Jenderal. Dia memilih untuk belajar dan mengambil gelar doktornya. Sherly menjalani rehabilitasi meskipun hasilnya tidak begitu memuaskan. Dia tidak mau bertemu dengan laki-laki, bahkan ada kalanya dia mengamuk jika Pak Sum menemuinya. Sherly akan menghancurkan segala benda yang memiliki layar juga kamera di dalamnya. Semakin lama, pikirannya semakin kacau jika melihat alat-alat elektronik, tidak peduli itu memiliki layar atau kamera."

Berhenti di tangga lantai 2, Farraz pun terdiam. Mengusap wajahnya kasar membayangkan betapa hancurnya Pak Sum saat itu. Anak tunggal yang bisa dibilang jarang ia temui karena tugas diculik selama 4 hari dan mengalami kejadian yang membuat mentalnya benar-benar rusak. "Pak Sum menggunakan hipnoterapi untuk menekan ingatan Sherly. Untungnya perlahan itu berhasil. Namun bagaimanapun juga ingatan itu tidak akan bisa hilang. Ada kalanya Sherly mendapat kejadian yang tanpa sadar memicu ingatan itu kembali. Dan reaksi yang diberikan adalah antara mati rasa seperti tadi, hingga histeria yang kadang terjadi. Saat ini dia bisa tenang karena obat yang aku berikan, tapi aku tidak bisa menanganinya sendirian ketika ia bangun nanti. Aku harap kau bisa menyembunyikan hal ini dari Sherly, Farraz. Karena bagaimanapun juga, Pak Sum akan terus melakukan hipnoterapi setiap kali ingatan itu muncul di kepala Sherly."

"Sampai kapan hipnoterapi itu akan berhasil?" gumamnya pelan. Tanpa sadar, satu bulir air perlahan mengalir menuruni pipinya. Tidak butuh waktu lama hingga isakan itu terdengar. Farraz tidak tahu tentang perasaannya, yang ia tahu hanyalah dia yang ingin melindungi Sherly setiap kali melihat gadis itu melakukan hal bodoh di hadapannya. Tidak peduli meskipun gadis itu menguasai bela diri, tangan yang lebih kecil darinya itu bahkan tidak memiliki tenaga. Setiap kali Sherly menyerangnya, Farraz akan berpura-pura kesakitan hanya agar gadis itu senang. Dan itu berhasil, terbukti dari sifat sombong yang dikeluarkan Sherly selanjutnya. Siapa yang akan menyangka gadis garang yang suka sekali memukulinya itu memiliki penderitaan sebesar ini. 

Mendengar handphone miliknya yang berdering, Farraz menyeka air mata itu secepat mungkin. Melihat nama Inspektur Janardana yang tertera, ia pun dengan cepat menerima panggilan itu. "Ya Inspektur?" serunya masih dengan suara yang sedikit serak.

"Bagaimana keadaan Sherly? Apa dia baik-baik saja?" Inspektur Dan bertanya dari seberang.

"Dia hanya mengalami syok berat, Inspektur. Sherly baik-baik saja." jawabnya, berharap jika itu adalah kenyataan yang akan ia hadapi besok pagi.

"Baguslah, jika selesai kembali ke kantor sekarang. Interogasi Aryan akan dilakukan ketika tim lapangan selesai menginvestigasi rumahnya." balas Inspektur Dan sebelum mengakhiri panggilan.

Menghembuskan napas panjang, Farraz tidak tahu bagaimana cara ia akan menghadapi Sherly besok hari. Emosinya tidak bisa ditulis dengan sebuah kalimat. Marah, kasihan, kecewa menjadi satu terhadap dirinya sendiri. Ia bahkan tidak bisa membayangkan keadaan Sherly selama 4 hari itu. 9 tahun, usia di mana anak-anak harusnya bisa bersenang-senang, Sherly justru harus menjalani rehabilitasi. Alasan mengapa Sherly tidak suka sentuhan, benci pada teknologi, ia mengerti sekarang.

Melihat sepeda motor Jeni setelah membuka pintu basemen, ia pun dengan pikiran kosong menaiki sepeda itu. Terdiam sejenak menatap tanpa minat kunci yang baru ia pasang. Lagi-lagi Farraz menghembuskan napas panjang. Dia ingin marah, dia juga ingin menangis. Sosok yang ingin dia jaga nyatanya sudah hancur sejak lama. Yang bisa dia lakukan sekarang hanyalah ikut berkontribusi untuk menjaga ingatan itu tetap terpendam.

"Sherly akan kembali seperti biasa setelah sesi hipnoterapi dilakukan. Seperti yang biasa aku lakukan, aku harap kau bisa mengatakan padanya jika dia mengalami syok dan pingsan setelah salah seorang wartawan tanpa sengaja memotret dirinya. Itu satu-satunya alasan masuk akal yang bisa aku berikan setiap kali dia mengalami hal ini." itulah yang dikatakan Jeni sebelum ia pergi. Lalu bagaimana dengan Inspektur Janardana? Apa Jeni sudah menjelaskan hal ini pada pria botak itu?

Lihat selengkapnya