Sherly Seeker - The Mortal Demon

Eliase Alfarz
Chapter #29

Sosok Sang Lucifer

Membuka pintu ruang interogasi, Farraz mengepalkan tangannya ketika melihat senyuman simpul dari wajah Aryan yang menyambut dirinya. Seolah laki-laki itu bangga dengan segala kejahatan yang ia lakukan. Meskipun ingin menghajar wajah bajingan itu, Farraz tetap tidak bisa melakukannya, mengingat di ruang sebelah Inspektur Janardana tengah mengawasi. Belum lagi 2 anggota lain yang berdiri di belakang Aryan untuk jaga-jaga.

Meletakkan malas dokumen yang ia bawa di atas meja, Ia pun duduk di hadapan Aryan. "Aku tidak ingin basa-basi lagi denganmu, jadi kenapa kau melakukan pembunuhan itu?" Farraz bertanya malas, tidak berminat berhadapan dengan Aryan di depannya.

"Bukankah seharusnya kau tahu? Lalu untuk apa kau menangkapku? Memaksaku untuk jujur dan mengakui pembunuhan itu?" Aryan menjawab ketus.

"Aku sudah lelah, Aryan-"

"Bukankah kau dulu penggemarku?" Aryan menyahut cepat, tersenyum sombong melihat wajah lelah Farraz di hadapannya. "Bagaimana bisa kau menangkap idolamu sendiri?" imbuhnya.

"Jika kau tidak mau memulai, maka aku yang akan memulai lebih dulu!" Farraz berucap lelah. Membuka berkas dokumen di meja, Farraz pun membaca satu persatu baris sembari tersenyum ramah. "Aryan Bagaskara. Ditangkap atas tuduhan pembunuhan pada 9 orang. Mengaku sebagai Lucifer dan merupakan kakak dari korban pelecehan yang dilakukan oleh almarhum Ganendra. Aku akan menjelaskan dari awal, koreksi jika aku salah." jelasnya. "Bagaimana adikmu dilecehkan? Apa Ganendra membawanya ke gudang di tengah acara? Atau membawanya ke kamar? Karena bagaimanapun juga, kau tidak akan membunuh semua pelayan itu jika mereka tidak tahu apa yang terjadi. Memangnya di mana kau saat itu? Tidak bisa menjaga adikmu sendiri. Apa kau tidak mau bunuh diri? Bukankah itu salahmu juga karena tidak bisa menjaganya?" Farraz mengoceh, mencoba menarik emosi Aryan yang sepertinya berhasil ia lakukan.

"Jika kau tidak bisa membuat seseorang berkata jujur, hina saja dia sampai dia marah. Ucapannya pasti tidak terkontrol." dengan senyuman lebar, Sherly mengatakan hal itu. Metode liar yang dikatakan Sherly memang tidak pernah salah. Terbukti dari wajah tegang dan kepalan tangan yang semakin erat.

Meletakkan kembali kertas yang ia baca di atas meja, Farraz mengubah posisi duduknya. Menyangga kepala dengan punggung tangan di atas meja sebelum memberikan senyum remeh miliknya. "Katakan padaku, apa kau tidak berniat membunuh dirimu sendiri?" lanjutnya.

Gebrakan di meja dan kursi yang terlempar ke belakang kini mengejutkan semua orang. Beruntung dua anggota di belakang Aryan dengan sigap menahan gerakan laki-laki itu, jika tidak, Farraz pasti sudah terluka. Masih menyangga kepalanya dengan wajah santai, Farraz tersenyum tampan menatap mata Aryan yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya. Laki-laki itu terlihat marah dengan mata yang melotot tajam menatap lurus ke arahnya.

"Santai dan tenanglah. Aku bahkan tidak melakukan apa pun yang bisa membuatmu marah. Kita akan melanjutkan interogasi ini dengan tenang, seperti saat kau melaporkan bahwa kau mungkin saja menyerang pelaku malam itu." seru Farraz dengan senyum tampan. Ia menggerakkan tangannya, memberi gesture untuk mengambil kursi yang terlempar dan membiarkan Aryan untuk duduk kembali. Melihat semua sudah kembali tenang, kini Farraz melanjutkan. "Kenapa kau membunuh semua pelayan itu? Dan aku harap kau mau menjawab jujur, seperti yang dilakukan oleh ayahmu."

"Kau mau aku jujur? Baiklah. Aku membunuh mereka semua karena mereka tidak jujur saat menjadi saksi di pengadilan!" geram Aryan. "Mereka tahu kalau Ganendra membawa adikku! Tapi tidak ada yang mau mengakui kejadian itu! Mereka melindungi Ganendra hanya demi uang! Membiarkan ADIKKU MENGGILA DI RUMAH SAKIT JIWA!!!" Aryan menjawab, membentak di akhir sembari memukul meja dengan kuat. "Kau tahu apa yang kurasakan saat membunuh mereka!? Rasanya puas sekali! Aku menusuk Ganendra berkali-kali setelah membiarkan dia melihatku membunuh seluruh keluarganya! Aku bahkan memberikan dia simulasi neraka sebelum dia benar-benar memasukinya. Bahkan aku masih bisa berbaik hati padanya sebelum dia mati." imbuhnya.

Lihat selengkapnya