🗓22 April 2024
Jam menunjukkan pukul setengah 7 pagi ketika Farraz memarkirkan sepeda Jeni di basement apartemen Sherly. Mengingat Pak Sum adalah orang yang begitu tegas, Farraz sengaja berangkat lebih awal ketika Jeni memberikan informasi bahwa pria terhormat itu ingin bertemu dengannya. Melepas helm miliknya setelah mencabut kunci sepeda motor, ia menghembuskan napas panjang mencoba menenangkan jantungnya yang entah kenapa tidak bisa berdegup secara normal seperti biasa. Meskipun ia pernah bertemu dengan Pak Sum sebelumnya, tapi mengetahui fakta dari Jeni jika pria paruh baya itu merupakan mantan jenderal membuatnya kembali meratapi nasib.
Melihat jam tangan yang menunjukkan 10 menit sebelum pukul 7, ia pun turun dari sepeda motor setelah melamun cukup lama. Berjalan menuju tangga seolah lupa jika di sana juga tersedia lift untuk ke atas. Tidak butuh waktu lama untuk sampai di depan pintu apartemen mewah milik gadis itu. Kembali melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 7 tepat, ia pun mengetuk pintu dan menunggu seseorang membuka pintu.
Awalnya, ia pikir Jeni yang akan membuka pintu untuknya, namun melihat pria yang dulu pernah ia temui di rumah Pak Sum ketika ia menjemput Sherly, Farraz menangis dalam hati. Bukan karena akan bertemu dengan Pak Sum, tapi karena butler yang bernama James itu sangat sinis terhadap dirinya. Tidak harus mengenal dekat untuk tahu jika James tidak menyukainya, dari mata saja Farraz sudah bisa melihat dengan jelas. Daripada Pak Sum, James adalah orang yang paling tidak suka jika ia dekat dengan Sherly.
"Let him in, James. Don't scare our guest."Â suara Pak Sum terdengar dari sofa.
Melihat James yang membuka memberi jalan, Farraz pun tersenyum tipis mencoba untuk ramah. Meskipun yang ia dapat hanya wajah James yang datar seperti biasa. Terkadang ia merasa jika James tidak memiliki banyak ekspresi yang bisa ia tampilkan. Namun jika di ingat kembali, sosok itu selalu tersenyum hangat pada Sherly. Membuatnya sering kali berpikiran buruk.
"Duduklah, Farraz. Saya yakin kamu belum sarapan, kita akan sarapan bersama setelah Sherly bangun nanti. Saya juga harap kamu bisa bekerja sama sesuai dengan apa yang dijelaskan oleh Jenifer!" Pak Sum kembali berbicara, tanpa mengalihkan pandangan dari koran yang ia baca.
Melihat Jeni yang duduk berhadapan dengan Pak Sum yang membelakangi dirinya, Farraz mengangguk singkat ketika wanita muda itu memberikan gestur padanya untuk ikut duduk di sofa. "Saya ingin minta maaf, Pak." Farraz berucap pelan.Â
"Hm? Minta maaf untuk apa?" Pak Sum melipat koran, menatap Farraz yang kini menunduk tidak berani melihat ke arahnya. "Saya tidak menyalahkan kamu karena tidak bisa menjaga anak saya. Pada dasarnya kamu juga anggota kepolisian yang memiliki tugas juga urusan. Tidak perlu merasa bersalah. Tidak sekali dua kali Aileen bertindak ceroboh seperti ini. Dia merasa berani karena semua pelatihan yang ia dapat, tidak sadar dengan perbedaan kekuatan fisik manusia. Saya hanya akan merasa marah jika setelah kamu bekerja dengan Aileen, tapi tetap tidak bisa menjaganya. Untuk sekarang, saya bisa memaklumi hal ini." Pak Sum menjelaskan dengan hangat.
Farraz hanya diam mendengarkan. Jujur saja ia tidak tahu harus berbicara apa saat ini selain meminta maaf. Banyak yang ia pikirkan, mulai dari dirinya yang harus bisa membohongi Sherly demi kebaikan gadis itu, dan juga tanggung jawab yang ia dapat ketika mulai bekerja dengan Sherly. Takut jika ia tidak bisa menjaga Sherly seperti saat ini. Meskipun Pak Sum mengatakan jika semua itu baik-baik saja, dan pria paruh baya itu tidak menyalahkannya, namun tatapan yang diberikan James sejak tadi seolah membunuhnya.