PROLOG
Malam ini terasa lebih kelam dari biasanya. Malam memaksa manusia menemui malaikat penjaga mimpi demi membalaskan dendam indah atas luka dan harapan yang menderu sepanjang siang. Mentari telah berbaik hati. Ia bersedia menepi dan berbagi waktu dengan bulan yang cahayanya lebih temaram, sebuah isyarat bahwa raga dan jiwa butuh rehat dari realitas pahit.
Seluruh manusia berhak bahagia lewat mimpi-mimpi dalam tidurnya. Namun terkadang manusia tak mampu menerima kebaikan itu. Malam hari yang harusnya damai dan tenang, seketika berubah jadi hening yang membawa resah dalam labirin kepala. Pertanyaan-pertanyaan yang selalu tak memiliki jawaban “Apa alasan sebenarnya aku untuk tetap hidup?” mencegat batin dan nalar untuk selalu menaruh harapan pada masa depan yang selalu abu-abu.
***