5 September 2019. Aku, seorang anak desa yang seumur hidupnya belum pernah menjejakkan kaki melewati batas kota, kini tengah menimang keputusan besar, merantau ke luar kota demi melanjutkan pendidikan. Namaku Darmawan, tapi orang-orang cukup memanggilku Wawan. Aku adalah sulung dari dua bersaudara dalam rumah sederhana yang dihuni lima kepala—Ayah, Ibu, Luzi, Anun, dan aku sendiri.
Suasana dapur mendadak pengap oleh uap kopi hitam dan kecemasan. Ibu dan Anun sudah duduk di meja kayu, wajah mereka kaku.
“Wan? Sini dulu, Nak. Ibu sama Anun mau bicara,” panggil Ibu. suaranya rendah, tipis oleh keraguan.
Aku menyeret langkah, mendekat dengan firasat yang mulai berisik. “Ahhh, seperti biasa, akan ada perdebatan lagi.” batinku kecut.
Ibu melipat tangannya di atas meja, sementara Anun atau sebutan khas suku rejang untuk seorang nenek —yang biasanya tak pernah kehabisan kata-kata hanya menatap kosong ke arah teko siul yang bertengger di atas perapian.
“Wan, apa tidak ada kampus lain yang lebih dekat?” tanya Ibu. Matanya menelusuri wajahku dengan penuh harap. “Ibu belum yakin kamu jauh dari kami. Kamu bangun saja masih kesiangan. Kamar tidurmu saja masih Anun yang membereskan, tutup pasta gigi pun selalu kau biarkan menganga setelah dipakai. ”. Aku berusaha memahami bahwa kesembronoan kecil tersebut membuat semuanya seakan aku belum layak untuk merantau jauh.
Ibu menjeda kalimatnya, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja. “Hal-hal kecil saja masih berantakan Nak. Bagaimana nanti kalau kamu di kota orang? Pikirkan lagi. Cari kampus dalam kota saja, supaya kami masih tetap bisa menjengukmu.”
Ucapan Ibu menghantam tepat di ulu hati. Aku terdiam. Semua yang dikatakannya berhasil menelanjangiku —aku si anak lelaki sulung yang kerap menyisakan remah nasi di meja makan dan sering lupa menutup penanak nasi setelah makan. Di mata Ibu, setinggi apa pun badanku tumbuh, aku tetaplah pria kecil yang belum terlalu pandai mengurus diri sendiri.
Namun, di balik rasa bimbang itu, ada ego lelaki yang memberontak. Aku sudah membayangkan seragam itu dengan lencana dan pin-pin kuningan yang mengkilap, membayangkan masa depan yang gemilang di mana aku tak perlu repot lagi mencari lapangan pekerjaan sebab pemerintah telah memberikan kami tugas untuk mengabdi kepada negeri. Lelaki bodoh mana yang mau membuang tiket masa depan hanya karena takut jauh dari rumah.
Dapur mendadak lengang, hanya suara jangkrik di luar yang terdengar makin nyaring.
“Kalau tidak kuambil, untuk apa aku begadang sampai jam tiga pagi selama setengah tahun ini, Bu?” suaraku meninggi, ada kesal yang ingin kusembunyikan. “Ibu lihat sendirikan? Aku belajar sampai mataku merah tiap malam. Bagaimana bisa aku melepas sesuatu yang sudah kuperjuangkan dengan jerih payah?”
Anun yang sedari tadi hanya menyimak akhirnya mendongak. Sorot matanya yang keruh menatapku dalam-dalam.
“Wan,” suara Anun parau nan tipis. “Anun sama Ibumu bangga sekali punya cucu pertama yang mau menimba ilmu di kota orang lain. Tapi, Wan...kalau kamu pergi siapa yang mau menemani Anun di kamar?”
Kalimat itu lebih tajam dari omelan mana pun. Hatiku mencelos. Aku teringat ritual malam kami di kamar yang remang. Betul kata Anun bahwa aku adalah penjaga tidurnya. Semenjak kakek meninggal beberapa tahun silam aku mulai menggantikan tugas kakekku untuk menemani Anun. Demikianlah yang membuat kami memiliki keterikatan yang erat.