SHOGANAI

L DARMA
Chapter #3

KAWAH CANDRADIMUKA

Jalanan yang kami tempuh seolah hilang ditelan kabut tebal dan jelaga. Sisa kebakaran hebat di perkebunan sawit pinggiran kota itu menyisakan bau hangus yang menyusup ke dalam kabin. Di bangku paling belakang mobil sedan pinjaman tetangga ini, aku meringkuk. Bahuku terjepit di antara tumpukan kardus dan tas-tas besar berisi perlengkapan kuliah, sementara jarak 448 kilometer masih membentang di depan sana.

Duduk di posisi ini selalu menarik ingatanku pada Lebaran bertahun-tahun lalu. Aku ingat bagaimana Ayah dan Ibu harus tersenyum sungkan saat meminta izin menumpang mobil pribadi tetangga untuk sekadar plesiran ke pusat kota pada hari kedua atau ketiga Idulfitri. Saat itu, aku hanya anak kecil yang kegirangan bisa naik mobil bagus, tanpa menyadari apa pun.

Namun, keceriaan itu perlahan memudar sejak aku masuk SMP dan adikku lahir. Tradisi plesiran itu berhenti begitu saja. Baru sekarang, dengan kedewasaan yang kupunya, aku menyadari betapa sesaknya pemandangan dari bangku belakang ini. Jika saja aku punya pola pikir yang sekarang, aku tidak akan sanggup melihat Ayah dan Ibu duduk di kursi paling belakang, berusaha mencuri pandang ke arah jalan di sela-sela kepala pemilik mobil dan keluarganya yang duduk nyaman di kursi depan.

Ada rasa kelu yang menghimpit dada tiap kali melihat mereka harus menengok ke kanan-kiri demi melihat pemandangan yang terhalang. Itu memang bukan hal hina, tapi ada rasa perih yang sulit kutemukan padanannya dalam kamus mana pun setiap kali momen itu terlintas.

Suara lembut Anun memecah sunyi dari arah kursi depan. Ia memutar tubuhnya sedikit, mencoba menangkap mataku yang tersembunyi di balik tumpukan barang bawaan. “Mikirin apo, Yung?”

Aku menyandarkan kening pada kaca jendela. Pandanganku luruh ke jalanan yang berkelebat, namun pikiranku justru tertinggal jauh di belakang, memunguti serpihan peristiwa yang menyusun kisah keluarga kami. Meski kursi tengah masih lowong, aku sengaja tetap meringkuk di sudut paling belakang ini—di antara tumpukan tas dan ruang yang sempit.

Aku membiarkan punggungku merasakan setiap guncangan mobil, seolah ingin merekam tekstur jok kusam ini ke dalam ingatan sebelum jarak memisahkan kami untuk waktu yang lama. Di depanku, bahu orang tuaku bergerak seiring tarikan napas mereka, pemandangan yang sebentar lagi hanya bisa kukenang dalam kerinduan.

Semua sesak, tawa yang getir, dan peluh yang pernah kami bagi, kini kukumpulkan satu per satu. Kusimpan rapi di balik dada sebagai bekal. Kelak, saat tubuhku mulai limbung di perantauan dan langkahku terasa berat, aku hanya perlu memejamkan mata membayangkan wajah mereka yang penuh harapan. Sebab bagiku rasa perih yang kami lalui bersama adalah api yang paling awet untuk menyalakan kembali semangat yang nyaris padam.

***

Jalanan lurus, panjang, serta berlubang. Di seberang kanan ada sungai besar dengan warna air kecokelatan, sementara di sebelah kiri terhampar hutan gambut yang cukup luas dan beberapa rumah warga yang jaraknya renggang. Ini suasana pinggiran kota, namun setahuku dari cerita yang pernah kudengar, pinggiran kota biasanya identik dengan gang sempit, rumah kumuh, dan gang-gang tikus dengan bermacam aroma yang berkumpul jadi satu.

Tapi, suasana pinggiran kota yang satu ini bertolak belakang dengan stigma yang selama ini tertanam dalam pikiranku; lebih mirip sebuah perkampungan yang baru saja ditinggalkan. Ada beberapa bangunan industri di daerah itu, jalanan berdebu, dan truk-truk yang lalu lalang membawa komoditas sawit serta batu bara. Sekilas seperti lingkungan yang cukup keras dan rawan begal.

Setelah melewati perjalanan panjang melintasi daerah antah-berantah menuju kampus, kami pun akhirnya tiba. Beberapa tentara dengan wajah sangar berpakaian loreng mengarahkan mobil masuk ke parkiran yang jaraknya lumayan jauh dari gerbang. Pagi itu, sudah ramai calon taruna-taruni dengan seragam kemeja putih polos serta celana dasar berwarna hitam.

Rata-rata calon taruna sudah memangkas habis rambut mereka hingga nyaris plontos licin, dan para calon taruni yang tidak berhijab tampil dengan potongan rambut pixie cut ala polwan. Semua tampak sudah siap betul untuk menjalani pendidikan dan berpisah sementara waktu dengan keluarga mereka. Sedangkan aku? Aku masih dengan penampilan kusut ala berandal anak SMA; rambut panjang yang acak-acakan, serta kumis dan jenggot yang tumbuh tidak rata seperti gulma di sekitaran empang pamanku.

“Kau tidak berniat memangkas rambutmu seperti kawan-kawanmu itu?” Ibu bertanya sambil matanya menyapu kerumunan pemuda berkepala plontos di kejauhan. Tangannya bergerak ke depan ingin merapikan helai rambutku.

“Seingatku, tidak ada instruksi tertulis di surat dari kampus, Bu,” jawabku pelan.

Ibu menghela napas panjang, tatapannya beralih menatapku dalam-dalam. “Ada-ada saja alasanmu. Coba kau perhatikan sekeliling, memangnya ada calon taruna lain yang rambutnya masih urak-urakan sepertimu?”

Aku hanya bisa menggaruk tengkuk yang tidak gatal sambil melempar senyum kecut. Di hari sepenting ini, aku masih saja teledor. Pantas saja dua malam lalu Ibu menangis sesenggukan, terang-terangan meragukan kesiapanku menghadapi dunia baru ini. Pagi itu, aku memilih menunduk, membiarkan setiap teguran Ibu masuk ke telinga tanpa sekali pun mencoba menyanggah.

Ada sesak yang menghimpit dada saat menyadari bahwa dalam hitungan menit, hidupku akan berbelok tajam. Ruang makan, aroma kopi pagi di rumah, kamar tidur Anun, ocehan Anun, akan segera menjadi kenangan. Aku mulai membayangkan masa depan yang samar; tentang penempatan kerja di antah-berantah, tentang kepulangan yang jarang di dapatkan selain harus ambil jatah cuti 12 hari dalam setahun. Hingga sebuah kenyataan pahit yang terlalu cepat untuk ku sadari: bahwa suatu saat nanti, aku akan pulang ke rumah orang tuaku bukan lagi sebagai penghuni, melainkan hanya sebagai tamu yang singgah sejenak sebelum kembali untuk pengabdian di tanah rantau.

***

“PERHATIAN! CALON TARUNA, SILAKAN BERBARIS!”

Lengkingan suara itu memantul di dinding-dinding kaca bangunan, disusul lengkingan trompet dari pengeras suara yang sember. Udara mendadak terasa tipis. Ada sesuatu yang ganjil merayap di tengkukku—sebuah ambang pintu yang memisahkan dunia lamaku dengan ketidakpastian di depan mata. Sedih, asing, sepi, dan gaduh berebut tempat di dalam dada, menciptakan suasana liminal.

“Selamat, para Calon Taruna. Kalian adalah seratus orang yang tersisa setelah menumbangkan dua ribu lebih peserta lainnya,” suara Direktur berwibawa menyapu lapangan. “Selamat datang di Kawah Candradimuka. Di sinilah kalian akan ditempa menjadi perwira transportasi.”

Tepuk tangan membahana, memecah keheningan pagi. Di sekelilingku, wajah-wajah kawan senasib tampak bersinar. Ada senyum sumringah yang merekah, bahu-bahu yang tegak karena bangga, dan hembusan napas lega karena telah berhasil menginjak titik ini. Namun bagiku, gemuruh ini terdengar seperti lonceng keberangkatan yang terlalu cepat.

“Kami berikan kesempatan terakhir untuk menemui keluarga kalian” tandas seorang panitia dengan nada yang tidak menerima tawar-menawar. “Sebab, selama empat tahun ke depan, rumah adalah kemewahan yang tidak bisa kalian sentuh. Akses komunikasi kalian akan dipangkas, hanya tersedia sebulan sekali itupun setelah resmi jadi taruna. Itu aturan asrama. Gunakan sisa waktu kalian sebaik mungkin.”

Kalimat itu jatuh seperti vonis. Aku menoleh ke arah parkiran, mencari sosok Ibu dan Anun di antara kerumunan, menyadari bahwa pelukan berikutnya mungkin baru akan terjadi setelah ribuan matahari terbit dan tenggelam.

Lalu semua orang bepencar mencari keluarga mereka- masing-masing yang sedari tadi berdiri di tepi lapangan merah, begitupun juga Aku yang bergegas menemui keluarga kecilku untuk mengucapkan salam perpisahan karena selama empat tahun kedepan mungkin tidak akan ada pertemuan. Kulihat mata sayu dari Ibu yang lebam yang sudah lelah menangis dari semalam —belum siap melepaskan anak pertamanya untuk jauh dari rumah. Melihat itu, pertahanan yang kubangun perlahan runtuh. Untuk pertama kalinya, air mata jatuh di hadapan mereka; sesuatu yang belum pernah kulakukan lagi sejak terakhir kali aku menangis saat masih berseragam sekolah dasar. Tembok yang selama bertahun-tahun kuyakini kokoh, ternyata tak lebih dari sekadar tumpukan bata yang rapuh. Kini aku mengerti, pada akhirnya pria mana pun akan menangis pada waktu yang tepat.

Setiap bab baru dalam hidup terasa seperti melangkah di tengah gurun. Rasa hampa dan keterasingan membentang begitu luas, memeras hati hingga kering—sampai akhirnya, di cakrawala yang jauh, kita akan menemukan oasis itu.

***

Sisa air mataku mengering di bahu kemeja. Aroma khas minyak angin dari tubuh Anun perlahan memudar seiring waktu di lapangan luas berwarna merah itu. Mobil terakhir yang keluar dari parkiran menjadi tanda bahwa seluruh keluarga telah meninggalkan kampus ini.

Begitu mobil itu luput dari pandangan, suasana berubah drastis. Para panitia dan pensiunan tentara yang tadinya bersikap ramah, mendadak meninggikan volume suara dengan raut wajah yang mengeras.

“Woi, kambing! Tiarap semua!” bentak salah satu dari mereka. “Dari tadi sudah diingatkan, tidak ada suara dalam barisan! Merayap kalian!”

Belum sempat kami saling mengenal, perintah itu sudah memaksa kami menggeliat di atas permukaan lapangan merah yang panasnya serasa mengigit. Pagi itu matahari mulai menyengat— saat itu sekitar pukul 10.00 WIB. Mirisnya Kami merayap dengan kemeja putih. Persetan bagi tentara-tentara tua itu, mereka tak peduli seberapa kotor atau compang-camping baju kami di hari pertama. Bagi mereka, perintah tetaplah perintah.

Di tengah deru napas yang memburu, samar-samar terdengar seseorang mengeluh di sebelahku. “Aih, Cuk. Baru hari pertama sudah disuruh merayap.” Suara hati yang bocor itu rupanya tertangkap oleh telinga salah satu pengawas yang berdiri tak jauh dari kami.

“Dongkol? Berdiri kau! Oi, kau! Lelaki di ujung sana. Aku tahu itu kau!”

Seorang pria berbadan kurus bangkit dengan gerakan patah-patah. Kulitnya yang lebih putih dibanding calon taruna yang lain. Rahangnya tegas tampak menonjol ketika ia telah berdiri dari posisinya. Bahunya merosot, kepalanya tertunduk menatap tanah, menghindari tatapan mata yang tajam dari sang pelatih. Itulah kali pertama aku melihat Fay.

“Belum sehari kamu di sini sudah berani membangkang! Awalnya saya cuma mau hukum sebentar, tapi karena kamu ngedumel, durasinya saya tambah. Kalian semua merayap sampai baju putih itu berubah warna jadi baju pramuka. Depan, belakang, semuanya harus coklat secoklat-nya!” bentak pensiunan tentara itu.

“Huuuu, siapa sih cowok itu? Bikin susah saja.”

 “Kampus apalah ini, aneh sekali. Baru tahu ada tentara begini, Cok.”

“Asu-asu, celeng. Kotor kabeh klambiku.”

Suara hati calon taruna lain ikut bocor di tengah lapangan merah, walaupun tak lebih keras dari gunjingan ibu-ibu di pasar. Namun, justru suara itulah yang ditunggu-tunggu oleh panitia dan para tentara. Mereka diam-diam menyeringai sebab, semakin dongkol calon taruna, semakin bergairah mereka memberikan hukuman.

“Oke, berdiri semuanya!” Tentara tua dengan perawakan seram itu memberikan instruksi.

“Baiklah, seperti inilah gambaran ke depan kehidupan kalian di sini. Satu salah, berarti semua salah. Maka dari itu, jangan pernah langgar aturan jika mau hidup tenang. Dari bangun tidur sampai dengan tidur kembali, semua diatur dan terjadwal dengan terstruktur. Masa orientasi kalian dilaksanakan selama tiga bulan; kalian akan mendapatkan materi di luar kelas untuk mengenali lebih dalam sistem pendidikan ikatan dinas. Biasanya, selama tiga bulan, selalu ada yang kabur karena tidak sanggup. Bagi yang kuat akan bertahan selama empat tahun, dan yang lemah, Wassalam. Maka dari itu, jika kalian ragu-ragu lebih baik kembali.” ujar tentara itu.

Namanya Subarun. Dia punya mata yang kerap menipu setiap kali berbicara dengan kami—dalam artian matanya belong. Suaranya serak dan berat setiap kali membentak, urat lehernya keluar bagaikan akar pohon kelapa. Daripada seorang tentara perawakannya yang demikian lebih layak disebut bajak laut yang seram. Mungkin Flying Dutchman atau Kapten Barbossa. Jika dari kejauhan kemungkinan akan berpapasan dengannya, para taruna lebih baik mengambil jalan memutar demi menghindarinya. Sebab, selalu ada saja ide kreatifnya untuk menghukum taruna.

***

           Kabut asap dan jelaga semakin pekat, menggantung rendah saat kami digiring kembali ke asrama untuk membilas sisa keringat dan mengganti kemeja putih yang telah menjelma jadi baju pramuka. Di dalam ruangan itu, tempat tidur tingkat besi sudah menunggu. Aku menemukan namaku tertempel di ranjang atas, sementara nama Fayassir—atau Fay—tertera di ranjang bawah. Tas berukuran besar milik Fay sudah tergeletak di sana, menempati hampir seluruh ruang kasur bawah. Di ranjang terdapat sebuah lemari kayu dua sekat yang di bagi secara vertikal khusus untuk dua orang.

“Permisi, namamu Darmawan?”

Aku menoleh. Seorang pria berdiri di belakangku—lelaki yang tadi pagi suaranya bocor di lapangan merah.

“Iya, aku Darmawan. Panggil saja Wawan,” jawabku sembari memaksakan senyum. “Dan kamu pasti...”

“Yap... namaku Fay,” potongnya cepat. Ia menunjuk ranjang bawah dan lemari di sampingnya. “Kita satu ranjang, dan kalau kamu tidak keberatan, kita juga berbagi lemari.”

“Oh, tentu,” sahutku pelan.

Usai percakapan singkat itu, kesunyian mendadak terasa pekat. Kalimat terakhirku seolah mengambang di antara kami berdua. Aku berdehem, mencoba memecah kekakuan. Sejak lambaian terakhir pada keluarga di lapangan merah tadi, lidahku kelu karena belum sempat bertukar kata dengan siapa pun.

“Fay, ini sebenarnya kampus apaan? Baru hari pertama saja sudah begini,” keluhku, mencoba berbasa-basi sambil terus merapikan isi lemari. “Mana banyak tentara lagi. Apakah kita akan dijadikan prajurit perang? Perasaan, aku tidak mendaftar untuk itu. Ya, walaupun dari awal seleksi para tentaralah yang menilai kita, tetap saja tujuan utamaku jadi pegawai negeri sipil.”

Fay menghentikan gerakannya sejenak, lalu menatapku. “Kamu belum tahu kalau kampus ikatan dinas itu semi-militer? Sederhananya, salah sedikit, fisik yang bicara.”

Ia duduk di tepi ranjang bawah yang berderit. “Perlu kamu tahu, kalau salah satu dari kita berbuat salah, semua bakal kena getahnya. Itu namanya jiwa korsa. Satu merasa sakit, semua harus merasakan sakit. Satu senang, semua harus senang. Begitulah sistemnya.”

Sepertinya, sistem jiwa korsa itu menarik. Seumur-umur, baru kali ini aku mendengar istilah tersebut. Menurutku, jika doktrin jiwa korsa dijalankan dengan benar, kampus ini bisa menjadi tempat yang aman; sebuah wadah di mana rasa persaudaraan tumbuh subur. Tidak ada lagi diskriminasi atau pembulian yang sering terdengar di luar sana. Tidak ada kasta—kaya, miskin, pintar, bodoh, senior, maupun junior—semuanya melebur dalam satu keselarasan yang saling menghormati.

Untuk sementara, semua terlihat indah. Namun, itu tak bertahan lama. Hingga tiba pada titik nadir, kami semua sepakat untuk berkata jika tempat ini adalah penjara berkedok kampus.

Satu-satunya alasan kami tetap menapakkan kaki di sini bukanlah kenyamanan, melainkan janji manis masa depan: Jadi PNS. Jika bukan karena itu, mungkin pada hari kedua pun, salah satu dari kami sudah melarikan diri dari tempat ini.

***

“Rumahmu di mana, Wan?” tanya Fay. Tangannya sibuk menjejalkan tumpukan baju ke dalam sekat lemari.

“Aku dari Provinsi sebelah. Rumahku di pelosok Bukit Barisan. Kemungkinan besar kamu tidak akan pernah dengar nama daerahnya,” jawabku.

Fay terkekeh, lalu menoleh dengan raut percaya diri.

“Wah, wah... Sebutkan saja seluruh pelosok negeri ini, pasti aku tahu. Aku ini mantan peserta OSN Geografi tingkat provinsi sewaktu SMP. Perkara nama daerah itu masalah sepele bagiku,” ujarnya sembari menepuk dada dengan bangga.

“Nama daerahnya Tanjung Sunyi, Kabupaten Benteng. Pernah dengar?”

Fay terdiam sejenak, keningnya berkerut seolah sedang memutar memori peta di kepalanya. “Hehe, kamu benar. Seumur-umur aku belum pernah dengar daerah itu,” jawabnya dengan senyum simpul yang sedikit malu.

“Kapan-kapan, nanti aku ajak kamu ke sana.”

Tepat setelah kalimat itu terucap, sebuah bunyi melengking membelah sunyi. Iramanya berbeda dari bunyi yang pertama kali kami dengar tadi pagi. Di kampus ini, setiap nada memiliki perintah yang berbeda: ada nada yang memanggil kami untuk apel, nada riang untuk pesiar di hari libur, nada yang memerintah untuk makan dan tidur, hingga tiupan darurat yang membuat jantung berdegup.

Kami memang belum hafal jenis-jenis nada itu, tapi insting kami tahu bahwa itu adalah perintah untuk segera berkumpul. Kami pun bergegas keluar barak, di mana para panitia dan tentara sudah berdiri tegak menunggu dengan tatapan tajam.

Sebutan “bel” sebenarnya kurang pas untuk mendeskripsikan bunyi itu. Suaranya lebih mirip tiupan trompet marching band yang direkam dalam piringan kaset—masing-masing diberi label sesuai jenis kegiatan. Setiap hari, ada Taruna piket yang berjaga di ruangan Pusbangkar, siap memutar piringan kaset itu untuk menggerakkan seluruh isi kampus.

Kami berbaris sesuai jurusan. Di kampus ini, garis barisan terbagi tiga: Teknologi Nautika, Studi Nautika, dan Manajemen Kelautan. Jurusan terakhir adalah yang paling banyak pasukannya, sekitar 60 Taruna, sementara dua jurusan lainnya hanya diisi masing-masing 20 kepala.

Suara riuh merayap di antara barisan. Bermacam bahasa dan logat daerah saling bertabrakan—beberapa orang tampak sudah akrab, terlihat dari cara mereka tertawa dan gestur tubuh yang santai ketika bercakap. Orang Indonesia memang terkenal ramah; saking ramahnya, suasana barisan pagi itu tak ubahnya seperti pasar kaget. Aku hanya bisa membatin, firasatku mengatakan sebentar lagi akan ada siksaan gelombamg kedua.

Tiba-tiba—

“Woi, monyet! Ini bukan pasar!” bentakan Pak Subarun memutus keriuhan itu seketika.

“Ambil posisi push-up! Taruni ambil posisi push-up juga tanpa terkecuali!”

Mata julingnya melotot tajam. Urat di lehernya menonjol keluar bak akar kepala, pemandangan yang sanggup membuat bulu kuduk merinding. Kami semua jatuh ke tanah.

“Hadeh. Kena lagi, kena lagi. Wajib militer ini namanya kalau begini.” gerutu Fay dengan suara layaknya desis kekesalan.

“Iya, Boi. Baru juga ganti baju, sudah keringatan lagi,” sahutku membalas keluhnya.

“Nah, kalian berdua! Berdiri!”

Lihat selengkapnya