SHOGANAI

L DARMA
Chapter #4

SELAMAT DATANG ADIKS

Pukul sepuluh lampu barak telah padam; tidak ada lagi aktivitas di sana. Samar-samar terdengar dari bawah tempat tidurku suara orang menyesap ingus berulang kali. Sedu-sedan di malam pertama itu membikin penasaran—apakah ini berasal dari seseorang atau justru suara jurig penunggu kampus?

Lalu, kuintip ke bawah ranjang. Meskipun lampu sudah dimatikan, berkas cahaya dari luar barak masih menerangi raut mukanya walaupun agak remang. Tak salah lagi, seorang pria malang tertangkap sedang memandangi pasfoto berukuran 4x6 berlatar merah. Foto seorang gadis yang lumayan manis senyumnya, berkulit putih, dan mengenakan hijab pasmina. Barangkali si pembangkang kecil ini bisa cengeng juga bila jauh dari pujaan hati.

Tidak ada gawai, jam tangan pintar, maupun laptop. Rutinitas kehidupan sehari-hari berubah total di sini. Kami menerka waktu hanya dari bunyi bel yang di setel setiap kegiatan, mulai dari bangun pagi, makan, hingga serangkaian apel dari pagi hingga malam. Di barak itu pun hanya terdapat satu jam dinding yang terpajang berada di lorong tengah serami. Bahkan untuk melihat waktu saja kami harus sedikit melakukan usaha untuk beranjak dari tempat tidur kami.

Tak seorang catar pun diperkenankan mengenakan jam tangan. Kami hidup tanpa mengetahui waktu dan informasi dari dunia maya, yang pada era sekarang tentu telah menjadi ikhwal pokok dalam menjalani hidup.

Awalnya terasa aneh. Kami terpaksa untuk mengikuti alur hidup yang monoton hingga akhirnya kami pun terbiasa hidup dalam aturan yang sekaligus membuat kami merasakan atmosfer kehidupan di era 90-an ketika teknologi belum secanggih saat ini. Hal ini secara tidak langsung mengajarkan kami untuk selalu ‘hadir’ dan bersungguh-sungguh dalam dialog antar manusia tanpa distraksi digital. Begitulah pada akhirnya seni dalam hidup ini. Akan selalu ada sisi baiknya meski kita berada dalam ketidaknyamanan.

Aku biarkan Fay tenggelam sendiri dalam kerinduan dan sedu-sedannya selagi ia tidak mengganggu waktuku untuk berlayar ke pulau kapuk. Mata mulai sayu, lalu aku pun terlelap.

Singkat sekali rasanya jam tidurku malam itu, aku terlelap tanpa satu pun mimpi yang datang. Saat tiba-tiba aku merasakan dingin pada betis kakiku—sentuhan kulit telapak tangan yang terasa agak basah dan lembap. Tangan itu berulang kali menggoyangkan kakiku, namun aku masih gamang membedakan antara sentuhan nyata atau sekadar mimpi dibangunkan ibu seperti hari-hari biasa.

“Bangun, Wan. Ada kakak.”

Wajah yang membangunkanku hanya berupa siluet di balik remang barak. Aku tak bisa mengenali siapa dia, namun napasnya yang memburu dan terputus-putus—seperti orang yang dikejar hantu—memaksa kesadaranku pulih seketika. Aku melompat dari ranjang.

Lampu tetap mati. Di balik jendela, bayangan-bayangan manusia bergerak mengendap di bawah deretan tiang jemuran. Belasan orang berjalan beriringan dengan punggung sedikit membungkuk, persis kawanan itik yang menyeberangi jalan di kegelapan. Kaus putih polos yang mereka kenakan sebagai dalaman seragam PDH itu tampak kontras di balik gelapnya  malam, membuat pergerakan mereka terlihat janggal sekaligus mengancam.

Inilah perkenalan yang sesungguhnya. Dini hari pukul 02.00 bukan lagi waktu untuk jabatan tangan ramah. Jam segini lebih pantas untuk adegan penculikan dalam film-film kriminal.

Kami digiring tanpa alas kaki. Dinginnya tanah menusuk telapak, namun kami dipaksa melangkah senyap bak barisan hantu menuju lapangan kosong di belakang kampus. “Ssttt... Berisik, anjing! Jalan saja!” desis sebuah suara dari kegelapan, disusul tarikan kasar pada barisan.

Kami melewati rumah-rumah dinas yang tampak mati. Gulma dan ilalang setinggi pinggang meranggas liar di pekarangan, sementara rongsokan perabot yang tergeletak di teras menciptakan kesan angker yang mencekam. Langkah kami akhirnya terhenti di sebuah lapangan aspal yang permukaannya dipenuhi kerikil tajam bebatuan gunung.

“Tahan atas, semua!” Perintah itu menggelegar, membelah kesunyian malam.

Posisi tahan atas itu layaknya posisi push-up, bedanya kami tidak perlu menggerakkan anggota tubuh ke atas dan ke bawah, cukup bertahan di posisi atas. Namun, yang menyakitkan adalah kedua tangan harus mengepal, menghujam aspal tajam berkerikil yang permukaannya tidak rata itu selama mungkin. Jika ketahuan melepaskan kepalan, tangan akan ditendang sedikit demi sedikit hingga kulit pada buku jari melepuh, bahkan terkelupas.

“Jangan ada yang main watak! Satu kepal, semua kepal. Satu kuat, semua kuat!”

Suara senior itu mengiris kesunyian, datang dari kegelapan di ujung lapangan. Di bawah langit yang buta tanpa bulan dan bintang, sosok-sosok yang berdiri di sekitar kami hanyalah bayangan hitam yang mengancam. Aku bahkan tak bisa membedakan mana kawan seangkatanku dan mana pencabut nyawa yang sedang memberikan perintah. Di malam pembukaan ini, identitas kami telah lebur menjadi satu: sekumpulan manusia yang sedang diuji kadar ketahanannya.

“Kami ingin kalian kuat! Dan yang paling utama: Jangan Ngadu!” teriaknya lagi. “Dari angkatan satu sampai angkatan kami, tidak ada sejarahnya pengadu. Jangan jadi pecundang yang mencoreng almamater.”

Buuugh!

Bunyi itu seperti bantal yang dihantam rotan dengan tenaga penuh. Sunyi sejenak, lalu disusul raungan serak yang pecah di udara malam.

“Oii... menangis kau? Badan besar, muka sangar, tapi tenaga ayam!” ketus seorang senior yang berdiri tepat di samping pria yang baru saja dihantam itu. “Meraunglah lebih keras! Tak bakal ada yang dengar. Makin kau menangis, makin kubuat kau sengsara!”

Beberapa orang sudah gemetaran menahan sakitnya kepalan tangan di atas aspal, begitu pun aku. Sambil mendengarkan doktrin yang dilontarkan oleh senior yang bagiku tak lebih semacam ocehan yang isinya hanya ingin bilang, ‘Jangan mengadu’ dan kalimat andalan yang sering kali mereka ucapkan: “Dari angkatan 1 sampai dengan angkatan 39, tidak ada satu pun alumni yang mengadu.”

Doktrin ini membuat raga dan mental teraniaya setiap hari. Mulutpun dibungkam serapat-rapatnya. Kehidupan macam ini akan kami jalani selama empat tahun, bagaikan menjaga rahasia yang tak pernah benar-benar kami ketahui untuk apa sebenarnya rahasia itu kami jaga. Yang kami tahu, menjadi pengadu adalah aib almamater, perusak budaya, dan pecundang di antara para perwira yang akan lahir dari kampus ini.

Terlepas dari risiko bayangan kematian hingga cacat permanen, nyatanya hingga sekarang masih saja ada kasus kekerasan yang menimpa taruna di setiap kampus ikatan dinas. Tidak ada yang bisa kami lakukan untuk saat ini, walaupun kami punya niat untuk sedikit saja dapat berbisik kepada dunia luar betapa kerasnya kehidupan di sini. Tidak ada celah bagi kami untuk menyuarakan semuanya. Tidak ada satupun peralatan komunikasi yang kami pegang saat ini. Tidak adanya CCTV yang terpasang di sudut-sudut barak membuat hal tersebut menjadi perihal gampang untuk melestarikan budaya kekerasan tanpa sepengetahuan dunia luar. Semuanya seolah sengaja dibungkam agar tidak ada bukti kuat untuk memberikan kesaksian pada dunia luar bagaimana beratnya para taruna menjalani kehidupan ini selama empat tahun. Orang hanya tahu betapa gagahnya seragam itu dengan gemerlap lencana dan pin yang senantiasa dibersihkan dengan brasso. Gagah memang, namun di balik itu semua tersirat jejak gelap tentang sebuah tradisi kekerasan yang berpuluh tahun diwariskan kepada tiap generasi baru. Bagaikan kepingan koin, selalu ada sisi gelap dan terang. Ada untung dan ada rugi. Begitu juga mungkin sistem ini.

Gelapnya, secara tidak langsung menimbulkan dendam antara junior kepada senior, bahkan hingga sampai dunia kerja. Lebih gelapnya lagi, risiko jadi korban cacat seumur hidup dan bayang kematian lebih dekat di sini.

Bagaimana dengan sisi baiknya? Sepertinya tidak ada. Mungkin jika maksudnya baik untuk orang-orang berkuasa di atas sana, aku bisa setuju. Faktanya, pendidikan semi-militer bukan memprioritaskan untuk melahirkan taruna yang cerdas dan pintar, melainkan untuk membentuk manusia yang patuh pada tiap perintah atasan tanpa mempertanyakan lebih lanjut perintah itu. Sepertinya cukup sampai di sini saja pembahasan terkait sistem ini. Khalayak umum di negara ini pun tahu bahwa orang-orang berkuasa di atas sana takut terhadap generasi yang pintar, sebab orang pintar tidak mudah untuk di kendalikan.

 

Lihat selengkapnya